Baca novelnya .
Ini novel mengandung sedikit bawang , merica , cabe cabean .. eaaaaa .. bukan ya .
Cerita dalam novel ini bikin greget dan bikin gemes .
Baca novelnya .. Harus .. nggak boleh enggak .
tinggalkan jejak ya . karena setiap dukungan kalian adalah semngat ku .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tyas Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
E.U.A 21
Hari ini Embun pulang agak larut malam . Karena dia datang agak siang . Dan juga ada pasien yang harus dia periksa sehingga membuatnya memperpanjang jam kerjanya . Rekannya saat itu harusnya Mutia tapi seperti biasa .Dia akan bertindak sesuka hati . Tapi biarlah . Embun menyukai pekerjaannya . Keluarganya juga pasien pasien yang dia obati . Di rumah sakit dia bisa memiliki teman untuk bicara , sedangkan di rumah dia pasti hanya akan merasakan sendiri . Dan memikirkan hidup yang sedang seang tidak ramah terhadapnya . Tapi Embun srlalu bersyukur karena selalu di kelilingi orang orang yang baik yang selalu menyayanginya . Meskipun bukan dari papanya .
" Kenapa ini ?" ucap Embun ketika merasakan mobilnya sedikit aneh .
Embun menepikan mobilnya supaya tidak menghalangi jalan mobil lain .
" Ya elah . Bannya malah kempes lagi " Embun menendang ban mobil itu dengan kesal .
" Ada apa ?" tanya seorang pria tinggi tegap yang melihat mobil Embun berhenti . Mobil yang di tumpangi Allan berada sedikit jauh di depan mobil Embun . Setelah melihat gadis itu Embun , Allan segera menepikan mobilnya dan menghampiri Embun .
" Ban aku kempes sepertinya " ucap Embun tanpa menoleh ke arah sumber suara .
Allan menunduk melihat ban mobil Embun .
Embun menatap pria tampan di hadapannya dengan terkejut .
" Lo ngapain di sini ?" tanya Embun setelah tahu jika pria di depannya itu adalah Allan .
" Nolongin bidadari " jawab Allan mendekat ke arah Embun .Hingga tubuh Embun menempel ke badan mobil .
" Sepertinya ban kamu bocor . Bareng aku aja aku antar pulang " ucap Allan menatap manik cantik milik Embun .
Embun segera memalingkan wajahnya .
" Gue bisa naik taksi " ucap Embun .
Jarak antara keduanya terlalu dekat menurut Embun .
" Taksi di jam segini tidak ada lagi " ucap Allan melihat jam tangannya . Mata Allan tetap menatap wajah ayu di depannya .
" Ya udah kalau nggak mau . Gue pergi , tunggu aja taksinya sampai lumutan " ucap Allan .
Embun tampak menimbang-nimbang ucapan Allan . Jika dia tidak ikut dia juga takut karena ini jalanan cukup sepi .
Allan sudah berjalan menjauh dari Embun .
Embun segera mengambil tasnya dan mengejar Allan .
" Tunggu " ucap Embun lalu menabrak dada bidang Allan . Saat itu Allan ingin melihat Embun ikut dengannya atau hanya diam di sana .
Tangan Allan dengan sigap memegangi Embun yang nampak hampir jatuh kebelakang . Tatapan kefuanya saling terkunci sesaat .
" Maaf " lirih Embun segera menjauhkan tubuhnya dari Allan .
" Oke " ucap Allan dengan tersenyum gemas melihat tingkah Embun .
Embun lalu mengikuti Allan dari belakang dengan jarang yang cukup jauh .
" Gue nggak bakal makan lo atau per ...
" Stoppp ... " teriak Embun memotong perkataan Allan .
" Hahaha ... Kamu menggemaskan sekali " ucap Allan melihat wajah panik Embun . Allan mengacak acak rambut Embun .
Embun mengerucutkan bibirnya .
Allan lalu mendekat ke wajah Embun dengan sedikit menunduk . Dengan sigap Embun memundurkan wajahnya .
" Mau di cium ?" ucap Allan tepat di depan Embun .
" Dasar mesum " teriak Embun lalu mendorong tubuh Allan . Dan masuk ke dalam mobil Allan .
Tawa Allan pecah melihat tingkah Embun . Padahal baru saja Embun mengatakan jika dirinya mesum tapi sekarang dia justru masuk ke dalam mobil pria yang dia sebut mesum.
" Padahal bilang mesum tapi malah masuk ke dalam kandang pria mesum " goda Allan .
" Sudah malam . Jalankan mobilnya aku lelah " ucap Embun bersungguh-sungguh dan juga waspada sepenuhnya dengan pria di sebelahnya .
" Jangan khawatir aku bukan penjahat wanita " ucap Allan .
" Tapi ......." Allan menjeda ucapannya
" Kalau mau juga nggak papa " goda Allan lagi . Melihat gadis di sebelahnya merasa takut membuat Allan bersemangat untuk menjahilinya .
" Jangan ngadi ngadi deh " ucap Embun memukul lengan Allan brutal .
" Stop.. Gue hanya bercanda . Gila tubuh kecil tapi tenaga kayak singa betina " ucap Allan mengelus lengannya .
" Mau di pukul lagi " ucap Embun .
Allan hanya tersenyum samar melihat gadis di sebelahnya . Biasanya jika gafis lainnya akan menggoda Allan terlebih dahulu tapi gadis di sampingnya ini berbeda . Bahkan tidak terlihat tertarik kepada Allan sedikit pun .
Mona dulu saja dan Allan adalah teman kuliah . Jika bukan karena kegigihan Mona untuk mendekati Allan , Mona tidak akan mendapatkan Allan .
Memikirkan semua itu mengingatkan dirinya dengan Mona . Gadis itu dulu sempat mengisi hati Allan tapi saat ini Allan sendiri tidak tahu .
Tidak terasa Embun tertidur di mobil Allan . Allan yang menyadari itu merasa kagum dengan gadis di sampingnya . Dia melihat kinerja Embun melalui cctv di ruangannya . Embun terlihat begitu peduli dengan pasiennya . Embun juga akrab dengan rekan kerjanya begitu juga dengan sepupunya . Keduanya terlihat dekat satu sama lain .
Allan merapikan anak rambut Embun yang menutupi wajahnya .
" Kalau kamu tidur , Gue harus antar lo kemana ? " tanya Allan seakan Embun bisa mendengar apa yang dia katakan .
Allan menepikan mobilnya . Dia ingin membawa pulang ke apartemennya tapi di sebelah sudah ada sepupunya . Jika ke hotel menurut Allan itu kurang baik . Apalagi Embun bukanlah gadis seperri gadis yang ia temui .
" Tio tolong beli apartemen di dekat jalan ...... " pinta Allan kepada asistennya .
" Semalam ini ? Bukannya bos sudah punya apartemen ya ?" tanya Tio penasaran . Apalagi ini sudah jam 10 malam .
" Segera Tio . Jangan banyak tanya kalau masih mau kerja " tegas Allan .
" Oke bos " ucap Tio lesu .
Dengan sigap Tio mencari apartemen terdekat dengan tempat Alkan saat ini .
" Mahal juga biarin yang penting dapat " ucap Tio ...
Allan memberikan jasnya untuk menyelimuti tubuh Embun .
" Kamu cantik " ucap Allan .
drt drt drt
" Dimana lo ?" tanya Ryan kepada Allan .
" Gue nggak bisa pergi " ucap Allan apa adanya .
" Gue udah di sini sama Roki dan Gio . Lo yang buat acara lo yang nggak jadi " ucap Ryan .
" Gue lagi jagain aset negara " ucap Allan seraya memandang wajah Embun yang terlihat polos .
" Gayaan bahasa lo ngab " ucap Roki .
" Udah kalian senang senang nanti gue yang bayar " ucap Allan lalu menutup sambungan ponselnya . Allan tidak ingin jika Embun terganggu dengan obrolannya .
Sedangkan ketiga pria tampan itu merasa bersyukur . Allan selalu begitu . Bagi mereka Allan aset mereka .
Tak berselang lama Tio menghubungi Allan dan memberitahu jika apartemen yang di minta sudah siap di tempati .
Allan segera melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah dia terima dari Tio .
Ketika sudah sampai Allan mengangkat tubuh Embun dengan hati hati . Tio yang berada di sana dengan sigap membukakan pintu untuk bosnya .
Pemandangan berbeda yang di lihat Tio . Gadis dalam gendongan Allan terlihat berbeda dari sebelum sebelumnya . Dari cara berpakaian juga lainnya .
" Cantik " kata itu lolos dari bibir Tio .
Allan menatap tajam Tio .
" Jaga mata mu " ketus Allan . Padahal Allan tidak pernah seperti itu .
" Siapa bos ?" tanya Tio setelah Allan merebahkan Embun ke dalam kamar .
" Bonus bulan ini tambah 10 % " ucap Allan .
" Terima kasih bos . Saya pamit dulu " jika menyangkut bonus Tio paling semangat .
Allan menuju kamar di sebelah Embun untuk membersihkan diri terlebih dahulu .
udh bulukan ini nungguin lanjutan nya
niat ga sih?
aku suka gaya penulisannya kakak , jadi nyaman bacanya
semangat terus berkarya kak 🫶🏻