NovelToon NovelToon
Kekasih Rahasia Supermodel

Kekasih Rahasia Supermodel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noeryanthi Kusnadii

- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-

Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.

Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Sejak tadi Damar mendengarkan ocehan Rio tentang Zyan yang menyudutkan Damar. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulut Damar, untuk meladeni ocehan Rio.

"Damar, kau tidak mendengarku?" Rio menatap Rio dari kaca spion kecil.

"Aku lapar sekali. Kau tidak memberiku makan?" Selalu saja memgalihkan pembicaraan. Tapi memang untuk apa Damar terbawa emosi karena ucapan Zyan tadi. Biarkan apa yang dikatakan Damar tidak peduli, walau sejak tadi pikirannya terus memikirkan tentang dia dianggap selalu sembunyi di balik orang lain agar aman.

"Kita mampir ke restoran dekat sini. Atau kau ingin makan sesuatu?"

"Apa saja yang penting kau tidak terus membahas Zyan lagi." Tidak ada untungnya buat Damar jika dia mempermasalahkan ucapan Zyan yang tidak menyukainya.

Ketika akan masuk sebuah restoran, Damar melihat seorang anak kecil penjual itu. Usianya mungkin 10 tahunan. Damar menghampirinya dan membeli tisu yang di jual.

"Kau tidak sekolah?" tanya Damar pada anak kecil itu.

"Tidak. Aku harus membantu Ibu berjualan," jawab anak itu dengan polosnya.

"Tapi kenapa tidak mengenakan alas kaki, apa kakimu tidak sakit?"

"Tidak. Kan sudah terbiasa. Kakak mau beli berap tisu?" Anak kecil itu coba menanyakan pada Damar berapa tisu yang dibutuhkan.

"Aku borong semua agar kamu bisa pulang. Bagaimana?" Damar melihat iba pada anak kecil itu. Di usia anak itu, Damar dulu sudah harus mencari uang. Namun, dengan cara yang berbeda. Bedanya jika anak kecil itu tidak di paksa oleh Ibunya, sebaliknya Damar dipaksa bahkan di siksa oleh Ibunya untuk menghasilkan uang.

Dulu jika Damar membawa uang sedikit, dia akan berakhir kesakitan karena Sarita akan sangat marah. Apalagi dengan kondisi mabuk, Sarita memukuli Damar yang masih begitu kecil.

"Terima kasih, Kak." Anak kecil itu terlihat senang saat barang dagangannya habis terjual. Dia bisa pulang lebih cepat.

"Kau tidak ingin bersekolah?" tanya Damar.

"Untuk apa? Aku tidak bisa membantu Ibu jika aku sekolah."

"Tapi apa kau tidak ingin bersekolah?" Anak itu terdiam mendengar pertanyaan Damar. Tentu saja anak kecil itu ingin bersekolah, tapi dia dituntut untuk membantu Ibunya.

"Damar, ayo," panggil Rio, dia sudah menunggu Damar untuk segera masuk.

"Kau sudah makan? Maukah kau makan bersama Kakak?"

"Makan di sini?" tanya anak itu sambil menunjuk ke restoran yang ada di belakangnya.

"Tentu. Ayo," ajak Damar dia juga mengandeng tangan anak itu dengan satu tangan yang lain membawa tisu yang dia beli.

Damar kemudian masuk ke restoran itu. Saat masuk, beberapa orang menatap ke arah Damar. Mereka menatap heran kenapa anak dengan penampilan lusuh dan kotor itu diperbolehkan masuk ke restoran itu.

"Maaf, Tuan. Apa dia datang bersama Anda?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Damar ketika akan duduk di bangku yang sudah Rio pesan.

"Ya, dia bersamaku. Kenapa?" tanya Damar.

"Sepertinya beberapa pelanggan merasa risih dengan anak ini, bisakah--"

"Maksud Anda adik saya ini? Kami tidak boleh makan di sini?" Damar memotong ucapan pelayan itu. Kenapa mereka memandang anak kecil itu sebelah mata, sejahat itu orang-orang memandangnya.

"Dia juga pelanggan di sini. Apa dia tidak boleh makan di sini?" tanya Damar lagi.

"Maaf, Tuan, tapi--"

"Baiklah kalau begitu. Kita tidak jadi makan di sini," ucap Damar memotong ucapan pelayan itu.

Damar kemudian mengandeng anak kecil itu lagi keluar dari tempat makan itu. Memang restoran sedang banyak pengunjungnya, tapi harusnya mereka tidak bersikap seperti itu. Merasa jijik ketika anak kecil itu masuk untuk makan bersama Damar. Rio hanya diam sambil mengikuti Damar keluar restoran itu.

"Mereka jijik melihatku," celetuk anak itu saat mereka sudah di luar.

"Tidak. Sebaiknya kita makan di tempat lain. Tidak apa-apa kan?" Damar membujuk anak kecil itu agar dia mau makan di tempat yang lain.

"Mau makan di mana kita?" tanya Rio.

"Di mana saja asal tidak di tempat seperti ini." Damar kemudian mencari tempat makan yang lain. Dalam perjalanan Damar terus mendengarkan cerita dari anak kecil itu. Hidupnya seburuk itu, tapi Damar masih merasa teraniaya. Padahal masih ada yang jauh lebih sengsara.

Hidup susah sejak kecil dengan orang tua yang tidak mampu membuat anak kecil itu harus membantu kebutuhan sehari-hari. Anak sekecil itu sudah memikirkan kerasnya hidup. Bedanya, dia di sayang oleh Ibunya dan Ayahnya yang sakit-sakitan. Bila Damar, dia hanya dianggap mesin penghasil uang saja.

"Maaf, aku mengajakmu makan di sini. Tidak apa-apa kan?" Damar memilih untuk makan di gerobak kaki lima. Hanya berteduhkan tenda kecil.

"Tidak apa-apa. Dulu aku sering makan lalapan dengan Ayah, tapi itu beberapa tahun lalu," jelasnya.

"Nanti kita bungkus untuk Ayah dan Ibumu di rumah," jawab Damar.

"Tapi apa uangku cukup?" Dia takut jika uangnya akan kurang saat membayar makanannya.

Damar tersenyum mendengar anak itu mengatakannya. "Biar Kakak yang bayar, makan sepuasnya, Kakak yang traktir," tutur Damar. Dia mengusap pelan kepala anak kecil itu, dan dibalas senyum bahagia oleh anak kecil itu.

"Kau tidak apa-apa? Di sini ada asap rokok?" tanya Rio. Karena tendanya tidak begitu besar dan ada beberapa pelanggan, Damar tidak bisa menolaknya.

"Aku baik-baik saja," ucap Damar. Walau terasa sedikit sesak tapi dia tidak ingin membuat senyum anak kecil itu luntur karena penolakan kedua kalinya.

Rio memilih untuk bicara pada orang yang sedang merokok itu, dan untungnya orang tersebut mengerti keluhan Damar.

Saat sedang menikmati makan sambil mendengarkan celotehan anak itu, ponsel Damar berdering. Terlihat itu dari Arundaya. Segera Damar menjawab telepon dari Arundaya.

"Apa kau sudah selesai dengan urusanmu?" tanya Damar setelah Arundaya menyapanya lebih dulu.

"Sudah. Apa kau juga sudah selesai kegiatanmu? Kenapa kau berada di sana," ujar Arundaya.

"Di sana?" tanya Damar bingung.

"Ya, di tempat lesehan. Aku pikir kau tidak akan suka makan di sana," ucap Arundaya lagi. Dia seperti tau jika Damar sedang makan di pedagang kaki lima.

"Bagaimana kau bisa tau?" Damar menatap kesekitar, melihat apa Arundaya sedang berada di dekat tempatnya makan.

"Apa yang kau cari?" Arundaya semakin membuat Damar penasaran. Dia tersenyum senang ketika berhasil mengerjai Damar.

"Apa kau di dekat sini?" tanya Damar.

"Di mana memangnya?" Arundaya masih menggoda Damar.

"Aku serius menanyakannya. Kau di mana?" Kembali Damar menanyakan keberadaan Arundaya. Dia begitu penasaran, dia juga masih menatap sekitar, berharap jika Arundaya memang melihatnya.

"Aku ada di hatimu," jawab Arundaya tiba-tiba. Dia mengatakan terus terang. Membuat Damar terdiam karena terkejut jika Arundaya bisa bercanda seperti itu.

"Apa aku tidak salah dengar?" Damar ingin mendengar lagi apa yang Arundaya katakan.

"Aku ada di hatimu. Bolehkah aku mengisi hatimu?"

1
habibulumam taqiuddin
kok G lnjut2
Nona Lemetd 💜: sudah di lanjut lagi kak 🫡
total 1 replies
habibulumam taqiuddin
selamatkan arundaya
habibulumam taqiuddin
lama sekali g update
ramochaaa
semangat thorrr
ramochaaa
semangatttt
habibulumam taqiuddin
salut sy dg kejujuran damar. menerima kekurangan pasangan masing-masing....
Ameera zie
ya allah bu, tobatt
Ameera zie
ngilu🥲
Nona Lemetd 💜
happy reading ya, jangan lupa tinggalkan komen kalian. terima kasih, follow akunnya juga yaaaa
adilia
keren
adilia
damar
adilia
seru untuk di baca
Yarasary
aku udah mampir tor, mampir juga yuk ke novel aku ~Aswarya genggam aku 😊.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!