Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Alasan
Ryan menarik kerah baju Ilham dengan erat. Dengan tatapan yang tajam, ia bertanya pada Ilham.
"Paman Ilham, katakan yang sejujurnya, siapa yang menyuruh Paman untuk membunuh Ayahku?"
"Menyuruh? Apa maksudmu?" Imam terkejut, dia tidak pernah menyangka jika adiknya hanya menjadi tangan kedua bagi seseorang yang ingin membunuhnya.
"Maafkan Aku Kak, hiks… Aku... Aku terpaksa melakukan semua ini demi biaya pengobatan Indira, hiks…" Ilham terisak dalam penyesalannya.
"Indira? Apa yang terjadi pada Indira?" tanya Imam cepat. Dia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi dengan anak dari adiknya itu.
"Indira terkena Leukemia. Kakak tahu sendiri kan betapa mahalnya biaya Rumah Sakit ST."
Leukemia (Kanker Darah) adalah kondisi kesehatan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih atau disebut juga leukosit yang abnormal.
"Pantas saja Aku jarang melihat keberadaan Indira, jadi selama ini dia ada di Rumah Sakit karena Leukemia," pikir Ryan dengan rasa terkejutnya juga.
"Walau ini demi Indira, tapi Paman tidak berhak merenggut nyawa orang seenaknya saja!" bentak Ryan kesal.
Ryan bertanya kembali dengan nada yang lebih tinggi. "Jadi, siapa yang menyuruh Om? Apakah itu Ammy?!"
"Aku tidak tahu siapa orang itu. Aku hanya pernah bertemu dengannya dua kali di Rumah Sakit ST." Ilham akhirnya mengaku juga, karena dua sudah tidak ada pilihan lain untuk melarikan diri.
"Di Rumah Sakit? Itu artinya orang itu menemui Om duluan di sana?"
Ilham mengangguk atas pertanyaan yang diajukan oleh Ryan.
"Orang itu tiba-tiba datang dengan sebuah penawaran untuk membunuh Kak Imam. Jika Aku menyetujuinya, maka orang itu akan memberikan uang 2 Miliar untukku." Tarikan nafas Ilham terasa berat, sehingga dia harus berhenti sejenak saat memberikan penjelasan tentang orang yang menyuruhnya.
"Orang itu memberiku waktu 2 minggu untuk berpikir. Awalnya Aku enggan menerimanya. Sampai akhirnya, kondisi Indira semakin parah." Ilham berhenti lagi untuk mengambil nafas panjang terlebih dahulu.
"Dokter menyarankan untuk melakukan pengobatan di Rumah Sakit ST Singapura. Di sana, teknologi pengobatan untuk leukemia lebih maju daripada di Indonesia. Tapi, biaya yang dibutuhkan untuk perawatan di sana mencapai 1,5 Milyar! Uang dari mana Paman sebanyak itu? Aset ku saja tidak lebih dari 700 juta." Ilham mulai terlihat geram sendiri.
"Aku pun akhirnya teringat dengan penawaran orang misterius itu. Aku lalu menghubungi nomor yang orang itu berikan dan menyetujuinya, dengan syarat Aku menerima sebagian pembayarannya terlebih dahulu. Orang itu pun setuju dan memberikanku cek senilai 1 Miliar, lengkap beserta racun yang harus Aku gunakan untuk membunuh Kak Imam. Hiks hiks..."
Ilham terisak-isak lagi, mengingat semua yang sudah dia lakukan demi pengobatan anaknya, Indira.
Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Indira, sehingga harus gelap mata dengan yang sebesar 2 milyar yang ditawarkan. Dia lupa diri untuk berpikir secara rasional, jika Imam Jamaludin adalah kakak kandungnya sendiri.
Batin Ryan bergejolak. Di sisi lain Ilham berjuang untuk pengobatan anaknya, sedangkan sisi lainnya, target pembunuhan itu adalah Ayahnya sendiri.
"Bagaimana ciri-ciri orang tersebut?" tanya Ryan ingin tahu.
"Pria itu mengenakan jas serba hitam dan juga sarung tangan hitam. Dia memiliki rambut cepak seperti seorang tentara dengan pandangan mata yang tegas."
Mendengar hal ini, Ryan kembali teringat dengan supir taksi yang membunuhnya. "Bukankah supir taksi yang membunuhku juga memakai pakaian serba hitam? Samar-samar Aku juga melihat dia mengenakan sarung tangan hitam."
"Itu artinya, orang yang membunuhku benar-benar memiliki kaitannya dengan Perusahaan ST."
"Aku tak menyangka akan menemukan petunjuk tentang dirimu, wahai pembunuh berjas hitam. Aku akan membunuhmu dengan cara yang sangat kejam di kehidupan baruku ini," tanpa sadar, Ryan mencengkram lebih erat kerah Ilham hingga ia mengalami sesak nafas.
"Ryan... hentikan! Pamanmu bisa mati!"
Ucapan Imam ini langsung membangunkan Ryan dari pikirannya. Dia lalu melepas kerah baju Ilham dan mendorongnya hingga jatuh.
"Ayah, kita harus melaporkannya ke Polisi. Jika kita membiarkannya begitu saja, maka Paman Ilham tidak akan jera!"
Raut wajah Imam terlihat bingung. Walau sikap Ilham selama ini tidak baik padanya, tapi bagaimanapun juga, dia adalah adik kandungnya sendiri. Terlebih lagi, ia memiliki tanggungan seorang anak yang sedang sakit leukemia. Bagaimana nasib keponakannya nanti di jika Ilham dipenjara.
Melihat ekspresi Imam, Ryan tahu apa yang dipikirkan Ayahnya. "Paman Ilham, jika Paman bersedia dipenjara, Aku berjanji akan membiayai seluruh pengobatan Indira."
Mendengar ini, Ilham yang terkulai lemas di bawah, langsung mendongak ke atas. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ryan barusan. "A-ap-pakah Kamu serius Ryan?" tanyanya terbata-bata.
"Aku serius Paman., Tapi dengan syarat, Paman harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan Paman secara hukum yang berlaku."
Dari sini, Ryan akhirnya sadar, jika alasan Pamannya menipu Ayahnya selama ini semuanya demi Indira, anak satu-satunya Ilham, yang juga umurnya terpaut 3 tahun di bawah Ryan.
"Paman... Paman setuju Ryan. Tap-tapi Indira, Indira tidak boleh tahu bahwa Paman ada di penjara. Paman tidak mau jika dia tahu justru akan membuatnya putus asa. Hiks hiks..."
Ilham kembali terisak-isak, mengingat keadaan anaknya yang saat ini masih tergolek lemah di rumah sakit ST. Dia bermaksud membawa Indira ke Singapura setelah menyelesaikan misi pembunuhan malam ini, tapi pada kenyataannya nasibnya tidak seberuntung dulu, pada saat dia membunuh ibunya Ryan. Kakak iparnya sendiri.
Mengingat semua dosa yang telah dilakukannya, Ilham semakin terisak-isak dalam penyesalannya sendiri.
"Aku memang banyak bersalah. Jika dulu Aku ketahuan, Aku juga sudah masuk penjara sejak dulu. Hiks hiks..." batin Ilham penuh penyesalan, mengingat kematian ibunya Ryan yang telah dia bunuh juga waktu itu.
"Ayo Yah! kita bawa Paman ke kantor polisi sendiri. Tidak perlu melapor pada orang lain atau pihak kelurahan, biar mereka tidak ada yang tahu, sehingga rahasia Paman tetap hanya kita bertiga saja." Ryan mengajak Imam untuk membawa Ilham ke kantor polisi.
"Apa harus?" tanya Imam masih merasa tidak tega pada adiknya.
"Harus Yah! Paman harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia perbuat. Jika hanya mendapat maaf, Paman tidak ada efek jera. suatu saat nanti dia akan melakukannya lagi."
Imam menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan anaknya. Tapi dia tetap tidak tega melihat adik kandungnya dibawa ke kantor polisi, sedangkan yang membawa itu adalah dirinya sendiri bersama dengan Ryan, anaknya.
"Ayah... Ayah tidak tega Ryan," ucap Imam dengan menggelengkan kepalanya.
Rahang Ryan tampak mengeras, mendengar perkataan ayahnya yang dia anggap sebagai seorang kakak yang lemah. Ayahnya terlalu menyayangi adiknya, padahal adiknya setega itu padanya, terlepas apapun alasan yang dikatakan Ilham tadi.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!