Cerita ini sangat panjang dan menakutkan bagiku. Jika ditanya apa penyesalan terbesarku, maka aku akan menjawab tanpa ragu. Aku menyesal meninggalkan Negeri Bintang untuk belajar ilmu kebatinan.
Buruknya, giliran itu semakin mendekat padaku. Aku tak bisa menghindar darinya, karena dia selalu bersamaku. Begitu juga kalian. Dia selalu mengikuti kalian.
Jika cerita ini sampai pada kalian, berarti giliranku telah sampai. Setidaknya, aku bisa memberitahu kepada orang-orang Negeri Bintang, ada seseorang bernama Algol Perseus.
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI KEDUA PULUH SATU: DOSA ALNI
Algol menghela napasnya melihat pecahan di antara kelompok mereka.
Alni tengah duduk sendiri di samping api yang dibuat Sadir, sedangkan Sadir malah mengasah pedangnya, duduk sangat jauh dari Alni. Alphard masih dengan tingkah lakunya yang biasa, membaca dalam gelap.
Algol memperhatikan Hamal yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Kapan pria ini akan bangun?
Algol yakin Hamal mengetahui sesuatu yang seharusnya tak ia ketahui. Oleh karena itu, ia diserang. Namun karena kemampuannya untuk bertahan hidup, dia masih bisa berada di sini. Walau pun tak ada bedanya dengan mayat.
Hari sudah menjelang sore, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Mizar. Untuk sekarang, mereka masih aman.
Algol memperhatikan di sekelilingnya untuk memastikan.
Baru satu hari yang lalu ia terbebas dari hutan ini, dan sekarang ia harus kembali lagi di sini. Juga...
Algol mencengkeram lengannya sendiri.
Sebelum Algol menyadari tentang kehadiran bekas memar itu, dia bertemu dengan makhluk besar bermata merah di hutan ini.
Apa makhluk itu ada hubungannya dengan memar itu?
Bagaimana jika Algol sudah mendapatkan memar ini sejak pertama kali ia datang ke lereng bukit Kota Dubhe? Lalu, bagaimana bisa Algol tidak menyadarinya?
Jejak di sini adalah hasil perbuatanku.
Kalimat itu yang diucapkan sang gadis ketika burung membujuknya untuk keluar dari ruangan yang memenjarakannya. Ia merasa setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu memiliki makna yang sangat luas.
Algol mendongakkan kepalanya untuk menarik napas, "Bukankah cerita TALI ini terinspirasi dari cerita penyihir yang mengutuk Kaisar Sirius?"
Alphard menutup buku yang dibacanya. Mendadak Alphard memasang senyum yang sangat tipis. Persis seperti senyum yang pertama kali dilihat Algol dari Alphard.
"Katakan alasanmu."
Algol menerawang ke pepohonan yang bergoyang karena sapuan angin, "Sama-sama dipenjara dalam sebuah ruangan."
"Itu saja?"
Entah mengapa Algol kehilangan kekuatannya untuk berdebat dengan Alphard. Ia hanya mengangguk begitu saja.
"Apa kau percaya jika itu benar-benar penyihir?" tanya Alphard dengan retoris.
Algol mendadak tertawa, "Percaya atau tidak, itu adalah rumor. Itu terus beredar, meskipun kau tidak percaya."
"Semua rumor pasti memiliki awal kan? Rumor tak akan beredar, jika tidak ada yang menyebarkannya pertama kali."
Itu benar.
"Begitu juga dengan cerita TALI, itu tak akan muncul begitu saja jika tak ada imajinasi dari penulisnya. Darimana asalnya cerita ini?" tanya Algol dengan nada menyelidik.
Alphard membuka kembali buku yang ada di pangkuannya, "Bukankah kau yang mengatakan cerita TALI ini hanya dongeng?"
"Kau pernah mengatakan, gadis itu pada akhir cerita menolak untuk keluar dari ruangan yang memenjarakannya. Ia mengatakan, jejak di sini adalah hasil perbuatanku."
Mengapa Algol merasakan nostalgia di sini?
"Aku rasa jejak itulah yang membuat dia tak bisa keluar," lanjut Algol dengan cepat, sambil memperhatikan wajah Alphard yang tak berubah sedikit pun ekspresinya.
Sadir berkaca dengan pedangnya, "Aku tak tahu cerita itu, tetapi aku merasa cerita itu searah dengan cerita penyihir yang dipenjarakan Kaisar Sirius."
Algol kali ini menolehkan pandangannya pada Sadir.
"Saat aku masih berusia empat belas tahun, ayahku mengatakan bahwa Kaisar Sirius memenjarakan seorang penyihir. Aku tentu saja tak percaya tentang itu, tetapi banyak yang mengatakan jika penyihir itu hanyalah seorang gadis kecil."
Gadis kecil?
Dalam mimpinya, ia juga melihat gadis kecil dalam ruangan. Seorang gadis dengan rambut yang sangat panjang, dan tubuh yang kurus. Ia tak melihat wajahnya, sehingga dia tak tahu apakah gadis itu benar-benar manusia atau bukan.
"Hanya karena dia penyihir, gadis itu dipenjarakan?" tanya Algol heran.
Sadir menggelengkan kepalanya, "Entahlah. Akan tetapi, kutukannya benar-benar terjadi. Bukankah Pangeran Pertama, keponakanmu, sedang sakit sekarang?"
Algol nyaris menepuk kepalanya sendiri, dia lupa bahwa dia adalah Paman Kekaisaran Negeri Bintang. Dia lupa jika keponakannya itu sebentar lagi akan mati.
"Kau yakin Pangeran Pertama itu sakit karena kutukan?" tanya Alphard lagi.
Baru saja Algol mengerti maksud dari Alphard, Alni sudah berlari untuk meraih pedang milik Sadir. Dengan mata membara, gadis itu menghampiri Alphard yang tengah tersenyum tipis.
"Kau takut akan dosamu sendiri, Alni."
***
CRASH
Alni terpaku saat melihat Sadir yang berdiri di hadapannya. Matanya fokus pada lelehan darah yang mengalir di bilah pedang.
Tangan Sadir yang menggenggam pedang terlihat bergetar. Tentu sangat tidak mudah untuk menggenggam mata pedang dengan tangan kosong. Darah mengalir dari luka di tangan Sadir.
"Sudah cukup, Alni," bisik Sadir.
Alphard dengan senyum penuh kemenangan bangkit dari duduknya. Ia mengitari Sadir dan Alni yang masih saling menatap.
"Seorang selir yang dibuang oleh kaisar. Mengapa hal itu bisa terjadi?"
Algol menghela napasnya saat mulai bisa mengerti arah pembicaraan ini. Seperti yang ia duga, mereka dibuang dengan berbagai macam alasan. Ini tidak seperti kekaisaran yang bertindak tanpa alasan.
Alni yang melihat darah Sadir, langsung terduduk di tanah. Ia segera menangis sambil memendam wajahnya ke lutut, "Aku hanya mengikuti perintah dari dia. Mengapa aku dibuang karena ini?"
"Kau dibuang setelah melakukan perintah. Itu sudah jelas. Seorang mayat tak akan bisa berterus terang."
Algol mendekat ke arah Alni, "Jadi, tidak ada yang namanya kutukan. Kau yang membuat Pangeran Pertama melemah setiap harinya?"
"Aku memberikan parasit iblis itu pada Pangeran Pertama, karena katanya itu bisa membuatnya menjadi orang yang tak berguna.
Parasit iblis?
Algol tak menyangka jika parasit iblis benar-benar ada. Parasit iblis ialah sejenis hewan yang hanya bisa hidup di dunia iblis.
Katanya, jika parasit iblis diberikan pada manusia, maka dia akan memakan kehidupan dari inangnya. Sekali melekat, makhluk itu akan menyerap kehidupan inangnya sampai mati.
Bagaimana bisa Alni memberikan hewan seperti itu pada Pangeran Pertama?
Algol jarang bertemu dengan keponakannya itu. Setiap kali ia melihat wajah keponakannya, ia akan teringat tentang masa depan anak itu yang akan jadi alat peraih kekuasaan. Oleh karena itu, ia tak perduli dengan keadaan Pangeran Pertama.
"Apa kau tahu bagaimana rakusnya parasit iblis itu?" tanya Algol pelan.
Alni dengan lugu menggelengkan kepalanya.
Algol menghela napasnya. Jika bodoh sekarang telah dilombakan, maka Alni akan memperoleh gelar Ratu Kebodohan.
Mengapa gadis ini tidak sadar bahwa ia sedang dimanfaatkan?
"Itu akan terus memakan inangnya sampai mati. Tidak ada cara untuk melepaskannya."
Alni mengangkat kepalanya untuk menatap Algol tak percaya. Tangannya bergetar tak karuan, mungkin gadis ini baru menyadari betapa buruk hal yang dilakukannya.
"Apa yang akan kau lakukan, Paman Kekaisaran?" tanya Alphard sambil menatap wajah Algol yang tetap datar. Tidak ada emosi seperti yang seharusnya terjadi.
Algol menggaruk kepalanya, "Aku berada di sini, dan parasit itu mungkin sudah perlahan memakan hati dan jantung keponakanku. Apa yang bisa aku lakukan?"
"Paman yang tak berguna," ejek Alphard begitu saja.
"Kau mengetahui banyak hal, tetapi mengapa kau berlagak seperti orang bodoh? Jangan katakan bahwa kau sudah tahu jika Mizar dan yang lainnya mengincar kita," tuduh Algol.
Alphard menghela napasnya, "Seperti yang kau katakan tadi, Algol. Meskipun aku tahu, apa yang bisa aku lakukan?"
Sadir meninggalkan Alni yang masih terpaku dalam dosanya sendiri. Memikirkan betapa buruknya sesuatu yang ia anggap 'hanya' sekadar memakan akal Pangeran Pertama. Itu bukan hanya memakan akal, tetapi seluruh organ dalam Pangeran Pertama.
Kaisar membuangnya karena telah menjadi pembunuh dari Pangeran Pertama.
***
Selamat membaca :D
Jangan lupa letakkan jempol pada tempatnya. Jadikan fav, jika tak ingin ketinggalan cerita ini. Serta, berikan apresiasi vote untuk mendukung cerita ini, agar authornya tambah semangat.
Saya suka membaca komentar, mari berdiskusi.
Tetap jaga kesehatan dan terus semangat. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adhios~
penggambaran setiap karakternya menunjukkan tingkat depresi yang sangat tinggi dalam kehidupan mereka sebagai bangsawan, dimana keidealisan hidup sejatinya memang sulit dicapai.
mungkin akan diadu domba nantinya agar saling membunuh satu sama lain.
Aku balik lagi..
Baca lagi, meski dengan akun baru karena akun lamaku gx bisa login
Cerita yg menarik, bikin penasaran, & seru
👍👍👍👍
😍😍😍😍😍