Di usianya yang baru menginjak usia tujuh belas tahun, Renzela Oskar harus di hadapkan dengan permasalahan rumit keluarga, keserakahan sang Papi yang tengah menguasai seluruh aset warisan dari sang Kakek untuk menghidupi wanita selingkuhannya membuatnya memilih jalan yang paling dia benci; Menikah di usia muda.
Demi mengambil kuasa atas semua aset yang Papinya kuasai, Renzela rela mengubur dalam-dalam kebahagiaannya dan menikah dengan seorang lelaki yang tidak pernah dia kenal. Hanya sebatas nama yang dia ketahui, yaitu Darrel Bastian Baskara; pengusaha mapan yang Om nya pilihkan.
Siapa sangka, saat pertemuan pertamanya dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya, Renzela malah di kaget kan dengan sebuah kontrak pernikahan yang harus dia tanda tangani.
Bagaimana perjalanan pernikahan mereka?
Mampukah Renzela memanipulasi hak walinya untuk menyadarkan sang Papi? Dan akankah Renzela mendapatkan kebahagiaan nya sendiri?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TPK Bab 21 : Tragedi Pagi Hari.
"Kerjakan dengan rapih, aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya kau harus membereskan tugas mu." Clarissa menyeringai, menatap pantulan dirinya di cermin sambil menghubungi seseorang, penampilan nya yang begitu sempurna membuat dia begitu percaya diri kalau dia lah sang Dewi yang pantas untuk di cintai.
"Baik Non Clarissa, tidak perlu khawatir, itu hanya urusan mudah." Orang di sebrang sana mengiyakan dengan yakin, iya hanya sekedar merusak gaun pengantin saja bukan hal yang susah, terlebih Nona Clarissa sudah memberikan alamat di mana dia harus mengeksekusi nya.
"Jangan mengecewakan, aku tidak mau tahu di acara resepsi nanti aku lah yang seharusnya menjadi pusat perhatian orang-orang." Clarissa kembali bicara, meyakinkan apa yang sudah di jelaskan. Meski ratu dalam acara resepsi nanti adalah seorang wanita yang bernama Renzela, dia akan memastikan wanita itu akan terasingkan dan ia akan menggiring opini publik kalau senior Darrel lebih pantas bersama dirinya bukan dengan wanita itu. "Jangan lupa bawa awak media untuk menyempurnakan semuanya!"
"Iya, Nona tidak perlu khawatir. Anda juga tahu kan saya dapat di percaya." Orang di sebrang sana sampai tertawa kecil, pasalnya ini bukan kali pertama Non Clarissa meminta bantuan nya, dan beberapa kali pun tugasnya selalu berjalan dengan lancar. "Siapkan saja bayaran yang setimpal dengan apa yang akan saya lakukan, Non." timpalnya lagi.
"Lakukan saja, jika hasilnya memuaskan, bayaran nya akan ku berikan lebih tinggi dari perjalanan awal." Clarissa meyakinkan dengan tegas, baginya yang seorang model terkenal dengan bayaran yang tinggi, uang bukanlah apa-apa. Dia hanya ingin orang yang dia sayangi benar-benar bisa ia miliki.
...***...
Bi Sumi masih terlihat mondar mandir di depan pintu kamar Renzela, sedikit tidak enak dengan posisinya sekarang, di sisi lain dia harus membangunkan Nona Renzela karena waktu sudah semakin siang terlebih pagi ini majikan nya harus lekas menuju gedung untuk melangsungkan resepsi, tapi di sisi lain dia begitu tidak tega jika harus membangunkan Nona Renzela dengan cara yang tegas karena sedari tadi Nona nya tidak kunjung bangun juga meski dia mengetuk pintu kamar nya.
"Non, Renzela!" Berusaha memanggil kembali, tapi nihil. Di dalam sana tidak ada tanda-tanda pergerakan ataupun suara sedikitpun. Sepertinya Nona Renzela benar-benar masih tertidur pulas.
"Kenapa, dia masih belum bangun?" Darrel yang baru keluar kamar sampai gelang kepala, ini sudah kedua kalinya dia melihat bi Sumi membangunkan Renzela, jika tadi dia menyuruh bi Sumi untuk membiarkannya karena masih pagi buta, tapi sekarang beda ceritanya, ini sudah setengah jam tujuh pagi tapi gadis itu masih belum bangun juga.
"Iya, Tuan. Maaf." Bi Sumi sampai menunduk malu. Padahal Tuan Darrel sendiri sudah terlihat rapi. Tapi dia masih belum bisa mengerjakan tugasnya untuk membantu Nona Renzela bersiap-siap pagi ini. "Pintunya di kunci jadi saya tidak bisa masuk, Tuan." ucapnya lagi.
Darrel sampai menghela nafas sambil memijat pelipisnya, dia kira kemarin Renzela kesiangan karena memang kelelahan, tapi sepertinya bangun kesiangan adalah bakatnya. "Ambilkan kunci serep kamarnya. Biar aku yang membanggakan nya!"
Bi Sumi langsung mengangguk dan pergi, setelahnya terlihat Pak Martin menghampiri Tuan nya itu.
"Segala persiapan nya sudah siap, Tuan." Pak Martin langsung menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, bahkan melaporkan kalau para petugas makeup dan busana sudah menunggu pasangan pengantin nya dari dua jam yang lalu untuk melakukan tugasnya. "Apa harus saya perintahkan kalau acaranya sedikit di undur saja?" ucapnya lagi setelah melihat pintu kamar Renzela yang masih tertutup rapat. Dia sudah mengira membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk sampai di gedung saja.
"Tidak usah. Lima menit lagi kita langsung berangkat. Segera siapkan sarapan! Kita akan sarapan di mobil." Darrel langsung melepas kancing kemeja tangan nya dan ia lipat sampai siku, memang pekerjaan baru yang begitu mengganggu, baru kali ini dia harus membangunkan seorang gadis, apalagi harus mendesaknya untuk buru-buru. "Mana kuncinya?" tanyanya setelah melihat bi Sumi yang sudah kembali.
"Ini Tuan."
Pintu kamar terbuka, Darrel lekas masuk di ikuti bi Sumi, sedangkan Pak Martin sendiri lekas kebawah menjalankan tugasnya.
"CK....." Darrel sampai berdecak, melihat Renzela yang masih terbaring di atas ranjang terbalut selimutnya. "Dalam masa pertumbuhan banyak tidur memang baik, tapi tidak harus sampai sepulas ini kan. Dia bahkan tidak sadar ada orang yang masuk kamarnya." hanya bisa membatin. Darrel kini semakin mendekat menghampiri Renzela. "Renzela!" panggilnya setelah berdiri persis di samping ranjang Renzela sambil menyilang kedua tangannya di dada. Kalau saja tidak ada bi Sumi dia benar-benar akan menggusurnya.
Bi Sumi yang peka akan keadaan yang begitu canggung langsung berjalan menuju kamar mandi, "Biar saya menyiapkan air hangat untuk Nona." pamitnya pergi.
"Heh, Renzela!" Bukan hanya suaranya yang semakin tinggi, Darrel kini memberanikan diri menarik selimut gadis itu, "Bangun, sudah ku bilang jangan sampai kesiangan kan?" ucapnya lagi. Terus bicara padahal jelas gadis itu belum ada tanda-tanda tersadar dari alam mimpinya. "Aisst, Renzela, kau tidur atau mati hah?" Dia bahkan langsung menyentuh pundak Renzela dan menggoyangkan nya.
"Emmm...." Renzela perlahan menggeliat, ada apa ini, dia benar-benar mengantuk jadi jangan ganggu tidurnya. "Sebentar lagi, Mih. Aku tidak akan kesiangan kok." bibirnya bicara, tapi matan masih terpejam sempurna. Bahkan kesadarannya masih entah ada di alam mana.
"Aisst, dia malah mengigo. Aku suami mu bukan Mami mu, Renzela. Bangun!" Saking kesalnya Darrel kini semakin mendekat, berusaha menarik guling yang tengah di peluk istrinya itu, bisa-bisanya sudah berapa kali dia membangunkan nya gadis itu malah memposisikan tidurnya dengan lebih nyaman. "Renzela!"
"Mih, sebentar lagi." Masih belum sadar juga, Renzela malah semakin keras memeluk guling itu saat merasa ada yang menariknya, "Lima menit saja!" gumamnya dengan mata yang masih terpejam sempurna.
"Heh, kau akan terus begini?" Darrel semakin jengah, yang awalnya berdiri tegak kini dia mengangkat satu kakinya ke atas ranjang, duduk di samping Renzela masih berusaha menarik guling itu. Tidak habis pikir, kenapa gadis ini begitu susah untuk di bangunkan. Haruskah dia menggendong nya dan langsung menceburkan nya ke bak mandi. "Aisst, kalau aku tidak mengingat luka di kaki mu, aku pasti akan melakukannya."
Tarikan Darrel semakin kuat, guling itu pun kini benar-benar lepas dari pelukan Renzela, tapi naas, saat dia melempar guling itu dan keadaannya sedang lengah, tubuhnya malah di tarik Renzela sampai terbaring di atas ranjang dan lebih naas nya lagi ia menjadi sasaran pelukan gadis itu.
"Saat tidak sadarkan diri, rupanya kau seperti moster ya." Entah terjebak dalam situasi macam apa, Darrel serasa gila, gadis kecil ini benar-benar memeluknya dengan erat, bahkan kepala mungil itu malah menyelusup bersandar di dada bidang nya. "Heh, bangun!" Antara kesal, bingung dan kasihan, haruskah dia mendorong tubuh itu untuk menjauh dari pelukannya, tapi nihil, hatinya benar-benar tidak tega, apalagi wajah polos yang tengah terlelap itu, rasanya dia enggan sekali mengganggunya.
Di saat posisi yang membuat Darrel tidak bisa berbuat apa-apa, tiba-tiba bi Sumi keluar kamar mandi, dan tentunya pemandangan di atas ranjang membuat pelayan itu semakin canggung, "Akh, maaf Tuan. Saya akan menunggu di luar." pamitnya pergi. Ingin tertawa tapi takut dosa, padahal katanya ingin membangunkan Nona Renzela, ekh Tuan nya malah ikut berbaring di sana, mana berpelukan dengan merasa pula, membuat matanya ternoda saja saat tak sengaja melihatnya.
"Aisst, dasar bocah ini." Darrel sampai mengangkat sudut bibirnya, tidak bisa di pungkiri, situasi ini memang terlihat kalau mereka memang sepasang suami istri yang saling mencintai. "Heh, baru juga dua hari di sini kau sudah merindukan Mami mu?" dia kembali bergumam, telunjuknya kini bergerak menekan kening dan menjauhkan kepala itu dari tubuhnya, "Bangun, aku bukan guling yang bisa seenaknya kau peluk."
"Mih, aku lelah. Bisakah berikan aku waktu lima menit saja." Renzela kembali bergumam, kembali memposisikan tubuhnya dengan nyaman meski Maminya terus saja mengganggu tidurnya. Jika tadi guling yang dia peluk terasa begitu empuk, sekarang berbeda, terasa begitu hangat dan nyaman, tapi kenapa ada yang janggal, bukannya tubuh Mami nya tidak sekokoh ini. "Mami?" bibirnya kembali bergumam. Dengan susah payah dia berusaha terbangun dari alam mimpinya, setelah mulai tersebar di baru mengingat sesuatu. "Tunggu, bukannya aku di Indonesia?" Hatinya mulai tak enak. Dengan cepat melepaskan pelukannya dan mengucek kedua matanya.
"Arrrgh.... Maaf, Om."
kasian renzelanya dong Thor,kok dapet yg udah GK perjaka