Ansel terikat cinta masa lalu hingga membuatnya tak kunjung menikah meski usianya sudah 27 tahun.
Keluarganya pun memaksanya menikah dan akhirnya perjodohan pun dilakukan. Ansel dijodohkan dengan sahabatnya sejak kecil bernama Clara yang diam-diam menaruh rasa padanya.
Namun, Ansel yang masih berada di bawah bayang-bayang cinta masa lalunya, yaitu Aruna tidak bisa mencintai Clara seperti keinginan wanita itu.
Clara akhirnya mengalah dan ikut membantu Ansel mencari Aruna. Hingga akhirnya, Aruna pun ditemukan.
Lantas, apa yang akan terjadi setelah Aruna masuk ke kehidupan pernikahan Clara dan Ansel?
Mampukah Clara menerima Aruna menjadi madunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan lagi
Satu bulan kemudian.
Lagi-lagi, hari ini Clara diminta sang mertua mengantarkan bekal untuk Ansel. Clara memasak makanan kesukaan Ansel dan membawanya dalam bekal kecil.
Dia pun meminta diantar oleh sang sopir agar saat pulang, dia bisa bersama Ansel.
Sebelum ke kantor, dia sempat membeli banyak makanan di toko roti langganannya. Rencananya, semua makanan itu akan diberikan kepada seluruh staf dan pegawai di lantai bawah.
Setelah selesai berbelanja, Clara langsung pergi kantor. Di sana, dia membagi-bagikan makanan ringan yang telah dibawanya. Tampak seluruh pegawai berterima kasih padanya.
"Bagaimana tidak kagum, dia saja baik sekali."
"Betapa beruntungnya Tuan Ansel mendapatkan istri seperti Nona Clara."
"Aku ingin seperti dia. Sempurna seperti malaikat."
Beragam pujian pun terlontar untuk Clara. Wanita itu memiliki pesona yang luar biasa bagi mereka.
"Hai, sedang apa?" Clara masuk ke ruangan Ansel. Namun, dia masih menutup pintu dan belum melihat sosok Ansel.
Setelah dia berbalik, barulah dia melihat Ansel yang sangat mengejutkan mata.
"Hei, kenapa? Apa kau sedang sakit?" tanya Clara saat Ansel terlihat sedang berbaring di sofa sambil memegangi kepalanya.
"Aku pusing," ucapnya pelan.
"Pusing kenapa?" Clara mendekati Ansel duduk duduk duduk di lantai agar sejajar dengan posisi Ansel.
"Entahlah, rasanya berkunang-kunang."
Clara menempelkan telapak tangannya ke dahi Ansel untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Tidak panas, sepertinya hanya pusing saja. Tunggu! Apa kau minum kopi?"
Clara seperti menyadari sesuatu. Dia tahu bahwa Ansel tidak bisa minum kopi sejak dulu. Jika dia meminumnya, maka dia akan merasa pusing.
"Iya, tadi office boy datang dan memberikan aku minuman. Karena aku terlalu fokus pada pekerjaanku, aku tidak memperhatikan dan meminumnya begitu saja. Setelah aku meminumnya seteguk, aku baru menyadari bahwa itu kopi." Ansel masih memegangi kepalanya.
"Astaga, makanya jangan terlalu memikirkan pekerjaanmu. Lihat hasilnya." Sambil bergerutu, Clara langsung mengeluarkan bekal dan dan memberikan Ansel sebotol minuman yang dia bawa. Minuman itu adalah minuman kesehatan yang sengaja dia buat untuk Ansel konsumsi setiap hari. Sebenarnya Clara lulusan kedokteran. Namun, dia pernah mengalami insiden di rumah sakit sehingga tidak mau lagi bekerja di sana. Dia memantapkan hati untuk menjadi dokter pribadi keluarganya saja. Hanya ketika mereka sakit, maka Clara yang akan merawat mereka.
Setelah Ansel meminum minuman kesehatan itu, dia pun merasa lebih baik. Perlahan mengangkat kepalanya dan duduk dengan bantuan Clara.
"Bagaimana bisa ada office boy yang salah memberimu minuman."
"Entahlah, aku juga tidak memesan teh atau minuman. Sepertinya dia salah dengar. Karena aku sibuk, aku tidak mengingat bahwa aku tidak memesannya."
"Pasti ada yang tidak beres. Tetaplah di sini, aku akan segera kembali."
Clara buru-buru pergi meninggalkan Ansel yang hanya mengangguk lemah.
Clara berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke pentry tempat dimana office boy berada. Orang-orang yang melihatnya pergi ke arah pentry tentu merasa bingung karena tidak biasanya ada bos besar yang datang ke sana.
"Siapa yang tadi mengantarkan minuman kepada Tuan Ansel?" tanya Clara kepada beberapa office boy yang sedang duduk di sana.
Mereka semua terlihat saling bertatapan dengan perasaan bingung. "Kami tidak tahu, Nona. Tapi, setahu kami, tidak ada yang mengantarkan minuman pada Tuan Ansel."
"Baiklah, jika tidak ada yang mengaku, maka saya akan memeriksa CCTV." Clara pun segera keluar dari pentry dan berjalan kembali ke ruangan Ansel.
Namun, saat dia melewati persimpangan, tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang cleaning service hingga membuat mereka sama-sama jatuh ke lantai.