Kak.. ih dipeluk kek adeknya!"
"Enggak!"
"Kakak nyebelin!"
"Bodo!"
Apa yang sering kali diharapkan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya?
Rasa ingin dilindungi, disayang bahkan dimanja. Itu sangat wajar bagi seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya.
Sama halnya dengan Binar yang selalu ingin dekat dan dimanja oleh Surya. Layaknya seorang adik kakak pada umumnya.
Namun Surya justru terkesan cuek dan enggan berdekatan dengan Binar, sampai-sampai Surya memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan ingin belajar mandiri.
Ingin belajar mandiri atau justru ingin menjauh dari Binar?
Sampai hari dimana Binar mulai dekat dengan seorang laki-laki, Surya yang awalnya cuek justru berubah posesive.
Hingga sampai pada hari dimana Binar mengetahui sebuah rahasia besar, benang kusut pun perlahan mulai terurai.
Bahkan tanpa disadari oleh keduanya, ada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada.
Lantas bagaimana, apakah keduanya akan bersama? Atau justru sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom alfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Mas sudah wudhu, kamu wudu dulu ya! mas tunggu, nanti kita sholat jamaah." Surya keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sedang duduk di sofa.
"Oke.." Binar pun menurut dan bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil Wudhu.
Setelah Binar kembali, dua sajadah telah di gelar oleh Surya. Pria itupun sudah menyiapkan mukena untuk sang istri, sebuah mukena baru yang ia beli siang tadi.
"Trimakasih Mas.." ucap Binar saat Surya telah berhasil memasangkan mukena untuknya. Pria itu tersenyum dan mengangguk.
Dalam keheningan malam, duq hamba Allah yang telah disatukan dalam sebuah hubungan yang diridhoi oleh Allah melakukan sholat dua rekaat dengan khusyuk.
"Ya Allah.. berkahilah aku pada keluargaku, dan berkahilah mereka padaku ya Allah..satukanlah kami dalam kebaikan jika memang engkau menghendakinya." itulah doa yang Surya baca setelah menjalankan sholat dua rekaat.
Binar mencium punggung tangan Surya, air matanya menetes membasahi punggung tangan Surya. Ia ikhlas memberikan apa yang selama ini ia jaga kepada Surya. Kini Surya berhak memilikinya secara utuh.
"Dek.. kamulah wanita satu-satunya yang kelak akan menjadi ibu bagi anak-anakku." Surya berucap sembari membelai lembut pipi Binar yang basah oleh air mata. "Dan kau pula yang kelak akan menemani hari-hariku hingga kita menua bersama." Pipi Binar bersemu merah mendengar kata-kata manis yang diucapkan oleh Surya.
"Mas.." gumam Binar begitu pelan saat Surya mengecup seluruh inci wajahnya.
Surya menghentikan kegiatanya, kedua matanya kini menatap penuh wajah Binar yang bertambah cantik dengan semburat merah yang menghiasi kedua pipinya.
Surya mengerti apa yang kini membuat Binar gugup sekaligus takut, Surya tidak bisa menahan senyumanya. Sepertinya istri cantiknya itu takut jika ia akan melakukanya dengan kasar. "Aku akan melakukanya dengan lembut sayang.. aku janji tidak akan menyakitimu." ucap Surya meyakinkan Binar.
Binar pun mengangguk malu, hal itu terlihat begitu menggemaskan di mata Surya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Binar memperhatikan wajah Surya yang sedang terlelap. Alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, rahang tegas serta bibir yang tidak terlalu tipis namun tidak juga tebal. Terlihat begitu pas dan sempurna pada porsinya. Sungguh Binar benar-benar mengagumi mahluk ciptaan Allah yang satu ini.
Tanpa bisa ditahan, jari-jari lentik Binar menyentuh alis tebal Surya, wajahnya mengerut nyaman. Ekspresinya sungguh membuat Binar gemas. Jelas terlihat wajah pria itu tidak nyaman saat jari-jari Binar mulai mengabsen setiap inci wajahnya. Namun hal itu sama sekali tidak mengganggu tidur pria yang terlihat kelelahan itu.
Binar menghentikan keisenganya saat Surya mulai melengguh tidak nyaman, pria itu menenggelamkan wajahnya di bantal. Dasar raja tidur, apa yang dilakukan Binar sama sekali tidak membuatnya terbangun.
Binar melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga dinihari. Binar hendak turun dari ranjang namun rasa nyeri di inti tubuhnya membuat Binar merintih kesakitan saat bergerak.
Suara Binar ternyata berhasil membangunkan Surya, pria itu melengguh panjang lalu beryanya, "Kenapa Sayang?.." suaranya terdengar serak.
"Mau ke kamar mandi Mas, sudah jam setengah tiga." jawab Binar.
"Masih sakit ya?" tanya Surya dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya. Pria itu mendekat lalu memeluk tubuh Istrinya.
"Iya.. sedikit." lirih Binar.
Surya tersenyum lalu mengacak pelan rambut Binar. "Maaf.." ucapnya.
Surya menggendong tubuh Binar ke dalam kamar mandi. Mengisi bathup dengan air hangat lalu perlahan memasukkan Binar ke dalamnya.
"Aku bisa sendiri Mas." protes Binar.
"Sudah.. biar aku bantu. Aku kasihan melihatmu berjalan seperti pinguin." ucap Surya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Hati Binar bergetar saat mendengar lantunan Surah Al Mulk yang dibaca oleh Surya. Bacaanya terdengar begitu merdu nan indah.
"Ya Allah.. begitu beruntungnya hamba memiliki suami sepertinya, aku harap engkau selalu menjaga kesucian cintaku dan cintanya.Dan semoga Akupun bisa mencintai-Mu dengan sepenuh jiwa bersamanya."
karya nya bgs bgt sukses trs buat KK ny buat hasil karya yg lebih menarik dan semangat buat KK ny, pasti semua nya gemar cerita nya 👍👍