Tasya Fitra Shakilah Haris, gadis cantik bertubuh mungil itu menjadi korban keegoisan ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya, walaupun menolak berkali-kali Tasya akan tetap dijodohkan dengan pria yang memiliki umur jauh lebih tua darinya bahkan ia tidak mengenalinya dan tidak pernah memikirkan akan berjodoh dengan pria yang di anggapnya tua itu, namun karena suatu kejadian akhirnya Tasya menerima perjodohan itu dengan penuh keterpaksaan.
Akankah pernikahan mereka akan menimbulkan cinta?
Yukk baca kisah Tasya selanjutnya ❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengubah penampilan
Di dalam kamar, Tasya meletakkan tasnya ke sembarang tempat lalu ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan kaki yang masih tergantung di lantai.
"Huh, kenapa aku memiliki banyak sekali masalah semenjak aku bertemu pria tua itu." gumamnya, kemudian Tasya beranjak duduk dan meraih tasnya yang tergeletak di sampingnya, ia merogoh isi tasnya untuk mengambil ponselnya. Kemudian Tasya mulai menelpon seseorang hingga berkali-kali namun tetap sama, Ryo tidak mengangkat telponnya. Entah ada di mana pria itu?.
Tasya menghembuskan napas kasar. Baru kali ini Ryo marah seperti saat ini, biasanya jika mereka memiliki masalah Ryo akan meminta maaf deluan walaupun bukan dia yang bersalah. Namun, sekarang sudah sangat berbeda, Ryo bukanlah pria yang Tasya kenal dulu, pria yang begitu penyanyang, perhatian, dan tidak memperlakukan Tasya dengan kasar, di mana sosok itu sekarang? sudah dua hari belakangan ini Ryo sangatlah berbeda malahan ia berani membentak Tasya padahal selama dua tahun mereka berpacaran Ryo tidak pernah melakukan hal itu. Tak terasa air mata Tasya membasahi kedua pipinya, ia sangat merindukan Ryo yang dulu, Ryo yang selalu memanjakannya.
Tasya menyeka air matanya saat mendengar suara ketukan pintu. Ia beranjak berdiri dan melangkahkan kakinnya untuk membuka pintu kamarnya itu.
"Mamaa." teriaknya saat melihat Kinaya yang berdiri di depan pintu. Tasya langsung memeluk Kinaya erat, ia sangat merindukan mamanya, tempatnya berkeluh kesah, tempatnya berbagi kesedihan setiap kali mengalami masalah.
"Syaa, kenapa nangis?" tanya Kinaya saat merasakan tubuh anaknya bergetar lalu ia merenggangkan pelukannya dan menatap wajah putri cantiknya itu.
"Sayang, kanapa nangis?" tanyanya lagi saat Tasya hanya diam dan mulai terisak-isak. Kinaya menghapus air mata Tasya menggunakan kedua ibu jarinya.
"Maa, aku merindukan mama." Tasya kembali memeluk ibunya, entah sebesar apa rasa rindunya yang jelas Tasya tidak ingin jauh dari ibunya dan ingin memeluk Kinaya setiap saat.
"Syaa, tenanglah. Ayo kita ke depan, kasihan Rey sudah menunggu kita sejak tadi." ujar Kinaya lalu ia mengajak Tasya untuk menemui calon suaminya itu.
***
Di ruang tamu, tampak Rey yang sibuk mengotak-atik ponselnya, sesaat kemudian ia melirik ke arah Tasya dan Kinaya yang baru saja memasuki ruang tamu. Rey segera beranjak berdiri dan menatap Tasya dingin.
"Mm, tante. Aku pamit pulang dulu. Papa sudah menungguku di rumah." Rey mengalihkan pandangannya menatap calon mertuanya itu.
"Kok, cepat pulangnya? padahal kita belum mengobrol."
"Maaf, tante. Nanti besok aku akan ke sini lagi."
"Kenapa tunggu besok? ajaklah om Vino untuk makan malam di sini."
"Um, baiklah. Nanti aku coba membicarakannya dengan papa."
"Kenapa mau membicarakannya lagi? ini perintah!" ujar Kinaya sambil tersenyum ramah.
"Baiklah, Rey permisi dulu." Rey bergegas menghampiri Kinaya yang berdiri di samping sofa lalu menyalami wanita paru baya itu, sejanak Rey dan Tasya bertemu pandang namun Rey cepat mengalihkannya.
"Syaa, antar calon suamimu ke depan. mama mau menemui pak komar dulu." ujarnya seraya memegang bahu Tasya yang berdiri di sampingnya
"Ta-tapi maa---." Tasya memelaskan wajahnya ia begitu enggan mengantar Rey ke depan
"Syaa." Kinaya menggeleng kepalanya, bermaksud agar anaknya itu mau menurutinya. Tasya hanya menganggukan kepalanya lalu ia berjalan keluar diikuti oleh Rey.
*
"Tunggulah, aku akan menyuruh pak komar untuk mengantarmu pulang." Tasya hendak masuk kembali ke dalam rumah namun Rey mencegahnya
"Tidak usah, aku sudah menyuruh sopir papaku untuk menjemputku."
"Ya, sudah. Pulanglah sana." ketusnya
"Kau mengusirku?" Rey menatap Tasya tajam sambil menautkan kedua alisnya.
"Siapa yang mengusirmu, aku hanya menyuruhmu pulang." jawabnya tersenyum tipis.
"Apa bedanya?"
"Entahlah."
Tak berselang lama mobil berwarna silver masuk ke dalam halaman rumah Tasya dan berhenti di depan teras rumah Tasya. Lalu seorang laki-laki setenga baya turun dari mobil dan memberi sapaan sopan kepada Rey seraya menundukkan kepalanya.
"Aku pulang dulu."
"Pulanglah sana! kenapa minta izin padaku." ketusnya. Rey yang hendak menuruni anak tangga tiba-tiba terurungkan dan menatap Tasya dingin lalu ia menghembukan napas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya dan berlalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sopir om Vino.
Sesaat kemudian sopir tersebut melajukan mobilnya meninggalkan rumah Tasya. Setelah mobil Rey sudah tidak dilihatnya lagi, Tasya segera masuk ke dalam rumah lalu berjalan menuju kamarnya.
***
Di kamar Tasya, terlihat Kinaya yang sibuk membuka satu per satu isi paper bag yang di bawa pak komar dari dalam mobil Kinaya.
"Maa, pakaian siapa itu? kenapa banyak sekali?" tanya Tasya melangkahkan kakinya menghampiri mamanya yang berada di atas ranjang. Kinaya menoleh ke arah Tasya lalu tersenyum bahagia.
"Syaa, duduklah di sini." ujarnya sambil menepuk-nepuk tempat yang ada di sampingnya. Tasya mendudukan tubunya di samping Kinaya dan mulai mengambil pakaian yang berserakan di depannya itu.
"Maa, kenapa mama membeli pakaian sebanyak ini?" tanyanya menoleh ke arah Kinaya.
"Syaa, ini pakain untukmu." jawab Kinaya sambil membelai rambut anaknya dengan sayang.
"Kau pernah berjanji pada mama kan? jika nanti kau menikah kau akan memakai hijab?" tanyanya memastikan. Tasya menganggukan kepalanya.
"Lalu?" tanya Tasya masih menatap mamanya
"Kamu kan sudah mau menikah. Jadi mama sudah membelikanmu banyak pakaian dan juga hijab."
"Ta-tapi maa, aku belum menjadi orang yang baik aku belum pantas memakai ini."
"Syaa, memakai hijab itu adalah kewajiban. Baik atau buruknya seseorang itu urusan belakang. Yang penting setelah memakai hijab kau bisa memperbaiki dirimu untuk menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain."
"Tapi maa, bagaimana jika aku tidak bisa mempertahankannya?"
"Syaa dengarkan mama. Kau pernah dengar pepata jika hijrah itu mudah yang susah adalah istiqomah, untuk itu kau harus tetap istiqomah agar kau mampu mempertahankan ini. Dan kau akan segera menikah, maka suamimu akan mempertanggung jawabkan penampilanmu. Jika kau masih mengumbar aurat bukan hanya papa yang akan dimintai pertanggung jawaban nanti tapi juga suamimu" tutur Kinaya. Seketika Tasya berpikir
"Apa selama ini aku sudah sangat berdosa dan juga aku telah membuat papa mempertanggung jawabkan perbuatanku?" gumam Tasya dalam hati.
"Maa, apa selama ini aku telah membuat papa berdosa dengan penampilanku yang seperti ini?"
"Iya sayang, papa sering kali menyuruhmu memakai hijab agar kau tidak menambah pertanggung jawabannya nanti. Tapi kau selalu membantah perkataan papa, dengan alasan kau belum siap, kau belum menjadi orang baik jadi belum pantas untuk memakai hijab." tutur Kinaya sambil tersenyum, ia tidak ingin Tasya merasa bersalah dan juga bersedih karena sudah sering kali membantah perkataan Haris.
"Maa, maafin Tasya. Tasya sudah banyak berbuat dosa kepada mama dan papa." ujar Tasya sambil memeluk mamanya, matanya pun mulai berkaca-kaca. Ia tidak menyangka tujuan papanya menyuruhnya untuk memakai hijab demi kebaikannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading ❤️❤️
sukses selalu buat othor nya