Pernikahan yang ia kira karena saling jatuh cinta dan berjanji untuk sehidup semati ternyata itu hanya ilusi semata,sebab dirinya tak menyangka ia harus tertawa dan menangis secara bersamaan.
Tertawa hanya untuk menutupi sakit yang ia rasakan ketika suaminya ternyata lebih menyukai adik nya dan hanya menjadikan dirinya alat,serta menangis karena merasa menjadi orang yang bodoh di saat yang bersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mima ah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terdakwa
Franda yang tadi dihubungi oleh Aida yang menyuruhnya untuk segera pulang tidak peduli dengan segala urusannya yang ada di luar rumah, karena Aida mengatakan bahwa urusan keluarga mereka saat ini lebih penting daripada urusan apapun itu dan juga wanita paruh baya itu tidak peduli.
Adam pun melakukan hal yang sama yaitu pergi menuju ke kediaman mertuanya yang entah ada masalah apa sampai menyuruhnya ke tempat itu, pria itu bahkan sampai melupakan jika sebenarnya dirinya punya masalah yang sangat besar terhadap anak dari wanita yang tadi menyuruhnya datang.
Adam memang memikirkan keberadaan Amira lupa dengan segera tanggung jawabnya dan juga segala kesalahan yang sudah Ia berbuat, sebab menurutnya hubungan terlarang antara dirinya dan juga Franda itu yang mengetahuinya pasti hanya Amira saja tidak ada orang lain lagi.
Sudah begitu orang tuanya tadi juga tidak menyiratkan kalau sebenarnya mereka mengetahui semuanya dan mereka hanya mengancamnya bakal membantu Amira untuk melayangkan gugatan cerai, tetapi tidak pernah membahas soal masalahnya dengan Franda maka dari itu ketika menuju ke kediamannya orang tua Amira terlihat Adam biasa saja tidak ada yang membuat dirinya cemas.
Ketika ia sampai di rumahnya orang tuanya Amira terlihat Franda juga baru turun dari mobil dengan penampilan yang acak-acakan seperti seseorang yang berhabis bertemu, tetapi Entah mengapa Adam hanya menatapnya sekilas Lalu setelah itu memilih untuk masuk ke dalam membuat Franda menatap kesasar ke arah punggung pria itu karena merasa diabaikan.
"kenapa sih Abang seperti begitu sudah susah sekali untuk dihubungi Terus ketemunya juga tidak bisa sekarang sudah ketemu malah mengacuhkan ku, sebenarnya siapa yang salah di sini seolah-olah semua kesalahan dilimpahkan padaku padahal jelas-jelas yang menggodaku adalah dia? " Franda seolah melupakan kesalahan di masa lalunya yang sebenarnya wanita itulah yang lebih dahulu menggoda kakak iparnya.
Adam yang lebih dahulu masuk langsung memberikan salam Tetapi hanya yang menyahut Fadil seorang sedangkan yang lain hanya menatap kesal ke arahnya, tetapi pria itu masih tetap di mode yang sama yaitu tidak peduli dengan semua yang terjadi karena dari tadi ia sudah mensugesti dirinya bahwa dirinya tidak punya kesalahan sama sekali.
Setelah Adam masuk barulah Franda ikutan masuk dengan wajah kesalnya membuat Aida memasang tatapan tajamnya ke arah wanita itu, sebab menurutnya Franda untuk sekarang jangan coba-coba menunjukkan sikap manjanya karena dirinya bakal menghajar anak sambungnya itu habis-habisan karena sudah tidak punya etika.
"Kalian barengan datangnya? "tanya Fadil memastikan karena memang setelah Adam masuk di dalam rumah tidak berselang lama Franda pun ikutan masuk maka dari itu pria itu beramsusi kalau sebenarnya mereka berdua sama-sama datang.
"Maksudnya kamu bertanya seperti tadi itu apa ya Mas? "tanya Aida sambil mengerutkan keningnya karena terlihat salat mata suaminya itu seperti memang mengharapkan kalau beranda dan juga Adam datangnya secara bersamaan bahkan bisa dibilang mungkin sama-sama satu mobil.
Fadel menggaruk kepalanya berusaha untuk tetap tenang dan juga tidak terpancing dengan emosi istrinya, karena terlihat jelas Aida sedang memberikan tatapan kecurigaan kepadanya Dan semoga saja ia tidak salah langkah kali ini.
"Ya kan tadi mereka datangnya secara bersamaan eh maksudnya hampir bersamaan, jadi Aku curiga jangan sampai mereka sama-sama dalam satu mobil ya maka dari itu hanya sekedar bertanya untuk memastikan!"penjelasan Fadil dan sambil gugup tersebut membuat Aida hanya bisa menggelengkan kepala karena akhirnya sepertinya kecurigaannya selama ini berdasarkan bukti dan sekarang bukti itu sudah mulai terungkap secara perlahan.
"kami tadi tidak barengan kok Yah, kebetulan saja ketemunya di depan soalnya aku kan baru dari kantor! "Adam Menjelaskan hal tersebut sambil tidak ada niatan untuk menoleh ataupun menatap ke arah Franda yang tengah memberikan sorotan tajam ke arahnya.
"Oh baguslah kalau begitu Soalnya biar bagaimanapun kalian itu hanya kakak sama adik ipar saja, kalau berduaan dalam satu mobil tanpa Amira itu bisa menimbulkan fitnah dan jangan sampai fitnah itu benar-benar menjadi kenyataan! "sahut Aida sambil tersenyum mengejek ke arah Franda yang kalau Ibunya sudah mulai berkata kasar otomatis wanita itu tidak bisa lagi membantah dan hanya bisa menundukan kepalanya.
Adam hanya menganggukkan kepalanya pertanda paham dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya itu, dan dirinya berharap kalau tidak ada pembahasan yang menyangkut Amira karena memang sekarang keberadaan wanita itu ia tidak tahu sama sekali.
"Jadi kamu datang sendirian terus Amira nya di mana? Jangan bilang dia kabur karena ketahuan kamu yang tidak setia, kalau memang iya saya rasa lebih bagus karena memang saya tidak ingin hidup anak saya hancur karena berhubungan dengan manusia-manusia benalu!"Aida sengaja mengatakan hal itu karena dirinya tahu siapa yang sudah berniat menghancurkan kehidupan putrinya dari dulu dan juga siapa yang selama ini menumpang hidup dari hasil kerja kerasnya tanpa ada seorangpun yang berniat membantu.
pernikahan yang dijalani oleh wanita itu selama ini hanyalah Toxic baginya yang sewaktu-waktu dapat menyerang hidupnya, Tetapi lebih parahnya lagi yang mereka Serang bukan dirinya melainkan Putri satu-satunya yang ia miliki yang dirinya besar kan dengan penuh kasih sayang dan juga keringat sendiri tanpa ada sosok pria yang membantu.
"Ibu kenapa sih dari tadi ngomongnya tidak jelas ? "tanya Fadil tidak terima jika Aida mempermalukan dirinya di depan Dina dan juga Sakti yang dari tadi memilih untuk Diam tidak berani menengah ataupun memotong perkataan dari Aida yang sedang tersulut emosinya itu.
"Memang benar kan? Kalau selama ini aku itu hanya memberi makan kepada orang-orang yang tidak tahu diri, datang ke rumah ini tidak membawa sepeser pun Tetapi malah sekarang menyakiti anak satu-satunya yang selalu menyayangi orang-orang tersebut sepenuh hati ! "Aida tahu sindiran itu pasti tempat mengenal pada Fadil dan juga Franda karena terbukti kedua orang itu tidak bisa lagi menjawab apa yang ia katakan.
Adam sudah tidak fokus lagi dengan Aida yang mau menyindir siapapun sebab menurutnya dirinya sedikit cemas dengan Sikap yang ditunjukkan oleh mertuanya itu, karena sepertinya Aida mendukung jika Amira pergi meninggalkan dirinya Padahal jelas-jelas pria itu merasa tidak pernah melakukan KDRT ataupun sebagainya.
"Kamu tidak bisa jawab kan pertanyaan saya tadi? Karena memang sekarang Amira tidak ada sama kamu, dan kamu juga tidak tahu dia ada di mana?"Aida mengulangi lagi pertanyaan yang sama dan kali ini mau tidak mau Adam harus menjawabnya jika tidak ingin mertuanya itu tambah kecewa.
"Amira tidak enak badan jadi sedang ada di rumah dia hanya titip salam dan menyampaikan permohonan maaf kalau tidak bisa datang! "ujar Adam yang terlihat hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut kebohongannya bakalan terbongkar.