Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ujian Cinta 2
What, belut?!
Mataku membulat sempurna, melihat beberapa kolam yang penuh dengan belut.
Huuaaa ... Abah, Ummi, tolongin Ilyas. Hiks.
Hatiku terus menjerit, meratapi nasib yang menyedihkan ini.
Kenapa harus belut sih, Ust? Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi aku urungkan. Melihat tatapannya saja, nyaliku sudah menciut.
Kulirik Kang Yusuf yang sedari tadi tengah menatapku. Kulihat, ada keraguan di sana. Tapi tetap saja dia terlihat gagah berani, sadangkan aku?
Huh! Lebih baik aku juga menatapnya dengan berani, dari pada dianggap remeh oleh dia. Jangan sampai imageku sebagai seorang gus tercoreng, hanya karena belut-belut menyebalkan ini!
Ok, sebaiknya aku mempersiapkan diri dari kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Karena dari yang kulihat sebelumnya, Ayah Aisyah ini orangnya penuh dengan kejutan.
"Ujian pertama kalian berada di sini, menangkap sejumlah belut yang sudah ditentukan waktunya."
Nah 'kan. Aku bilang juga apa, dia ngasih kejutan lagi 'kan?
Aku menelan saliva, menatap belut-belut yang berada di depanku. Mereka menggeliat, seakan-akan melambai ke arahku. Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri semua, menakutkan!
Kulihat, Kang Yusuf juga tampak terkejut. Lalu tatapan kami saling beradu, menantang satu sama lain.
Ustadz Ibrahim terus menjelaskan, sampai tiba pada satu kalimat, yang sukses membuatku ingin pergi saja dari sini.
"Tapi khusus untuk kalian berdua, harus menangkap menggunakan tangan kosong. Kalau ketahuan ada yang curang, aku anggap gugur. Tidak ada kesempatan untuk meminang putriku," tegasnya, mengakhiri kalimat.
Hhuuaaa ... Abah, tolongin Ilyas. Ternyata benar kata Abah, menikah memang tidak segampang itu. Hiks.
Aku menatap beberapa ember yang berada di pinggiran kolam. Rasanya enggan sekali untuk menyentuhnya, tapi tetap saja tangan ini mengambil benda berjasa itu.
Melihat belut-belut di dalam kolam itu, ingin rasanya aku berteriak. Sudahi saja ujian ini! Tapi aku tak seberani itu.
Kututup mataku, merasakan semilir angin menerpa kulit. Merasakan ada kekuatan mengalir dari sana. Demi Aisyah! Ya, demi Aisyah, aku harus bisa melewati ini semua.
Apalah arti belut-belut ini, ular pun akan kulawan demi mendapatkannya!
Mantap, aku menyemangati diri. Bismillah, semoga aku tidak digigit.
Aku pun mencelupkan kaki ke dalam kolam, dan ....
"Hhuuaaa ... hhmmpp," aku segera membekap mulut, saat tak sengaja menjerit. Ada belut yang terinjak oleh kakiku, sedang yang lainnya menggeliat, membuatku merasa semakin geli.
Kulihat Ustadz Ibrahim menoleh, disusul tawa renyah Ibu Aisyah. Sedangkan Kang Yusuf, menatapku penuh keprihatinan.
Aku memang terlihat begitu menyedihkan, hiks.
Menatap belut-belut ini, aku semakin bingung. Bagaimana cara menangkapnya?
Sudah sedikit berkurang rasa takut, tapi berganti dengan kebingungan yang semakin mendera.
Kulirik Kang Yusuf lagi. Dia sedang berusaha menangkap belut-belut itu. Melihat caranya, sepertinya dia juga agak kesusahan.
Tapi tunggu dulu, sepertinya dia berhasil kali ini. Sepertinya aku memang harus mencontoh caranya menangkap belut.
Sekitar tiga jam berlalu, Ustadz Ibrahim memanggil kami untuk makan siang.
Hufftt ... akhirnya makan siang juga.
Sumpah demi Aisyah, ini pertama kalinya aku benar-benar bekerja keras tanpa bantuan Abah. Pertama kalinya juga aku menahan lapar sampai selemas ini, selain ketika puasa tentunya.
Bisa terbayang 'kan, bagaimana dulu Abah mendapatkan Ummi. Tapi sepertinya tidak sesulit aku menginginkan Aisyah.
Ah, Aisyah. Kamu memang wanita yang istimewa.
Usai makan siang, kini saatnya Ustadz Ibrahim mengumumkan siapa yang menang disesi pertama ini.
Sudah bisa kutebak, kalau Kang Yusuflah pemenangnya. Terlihat dari banyaknya belut yang berhasil dia tangkap. Sedangkan aku?
Satu, dua, tiga, empat .... Hanya sebelas ekor belut, yang berhasil masuk ke dalam emberku. Hiks, aku memang tidak bisa diandalkan.
Ummi, maafkan Ilyas. Karena mungkin Ilyas tidak bisa membawa calon menantu yang Ummi idamkan, hiks.
"Ujian pertama sudah terlewat ya. Kalian bisa mengetahui pemenangnya dari melihat isi ember masing-masing," terang Ustadz Ibrahim, sambil pandangannya terus menelisik ember kami, menghitung mungkin.
"Tapi ini belum bisa menentukan siapa yang aku terima, karena masih ada satu ujian lagi. Atau mungkin dua, kalau kalian benar-benar seri." Lanjutnya, membuatku semakin berdebar.
"Sebutkan alasan, kenapa aku bisa memberikan ujian menangkap belut pada kalian, dan bukan ujian yang lainnya. Dalam bentuk tertulis, supaya tidak ada yang mencontek dengan menguping," tegasnya lagi.
Kemudian terlihat Ibu Aisyah mendekat, membawa dua lembar kertas dan juga pena.
Kenapa ini jadi semacam, ujian praktek di sekolah? Ada-ada saja Ayah Aisyah ini. Memangnya apa alasannya?
Aku pun segera berpikir keras, demi mendapat jawaban itu.
Semenit, dua menit, tiga menit, tidak, setengah jam kemudian pun aku belum menemukan jawabannya.
Sebenarnya apa sih? Aku pun segera menulis asal jawabannya, biarlah hanya kami bertiga yang tahu. Aku, Yang Maha Kuasa, dan Ayah Aisyah tentunya. Atau mungkin empat, kalau Ibu Aisyah ikut membaca.
Biarlah salah, biarlah Kang Yusuf yang jadi pemenangnya. Biarlah Aisyah menjadi miliknya.
Aku rasa, lebih baik menyerah saja. Mungkin dia bukan jodohku, karena kalau jodoh pasti dipermudah. Sedangkan ini, dari awal ketemu saja sudah mendapat kesulitan, dan makin kesini malah semakin sulit.
Mungkin aku juga belum terlalu dewasa. Belum bisa memikirkan apa itu hubungan serius, dan apa itu nafsu karena iri.
Benar kata Abah, kalau memang berjodoh, pasti akan didekatkan. Insyaa Allah.
Lebih baik, sepulang dari sini aku shalat istikharah. Meminta petunjuk dari-Nya. Karena aku sadar, cinta tidak bisa dipaksakan.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.