Ada satu hal yang tidak diketahui para wartawan infotainment dari sang selebriti Elang Samudra Ginting bahwa Samudra sudah menikah. Tapi siapa sangka, sebagai salah satu pria paling digilai di penjuru tanah air, Samudra mendapatkan surat cerai dari sang istri. karena mereka telah hidup terpisah selama tiga tahun.
Sejak menjauh dari sang suami, hidup Lembar Putih Ayunda berubah sepenuhnya. Ia mendapatkan pekerjaan baru, teman-teman baru, dan kehidupan baru. Namun ketika Samudra menemuinya untuk menyelesaikan perceraian mereka, ada sesuatu yang ternyata tak pernah berubah dari Samudra, Samudra tetap menjadi satu-satunya pria yang bisa mengisi hidupnya.
Kesepakatan baru pun dibuat, mereka akan tetap bersama selama sekejap sampai urusan itu selesai, sebelum menyadari bahwa hasrat mereka sungguh tak bisa terbendung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter - 21
Samudra mendorong pintu kediaman Ayunda, kakinya menahan bingkai pintu, Samudra mengacak rambutnya yang kusut dan berkeringat.
Sial, ini gila. Ia sudah gila karena ia membatalkan kontrak kerja sama iklan senilai 2M hanya demi menemui Ayunda. Ini adalah pertama kalinya Samudra lebih memilih seseorang ketimbang bisnisnya.
Setiap hari ia semakin gila, semakin gelisah. Ia ingin menemui Ayunda, tapi jadwal mereka berbenturan. Dan akhirnya, setelah semalam tidak bisa tidur, Samudra menyerah dan memutuskan untuk pergi menemui Ayunda di Jogja meski pun ia harus kehilangan uangnya senilai 2M.
Ayunda kini berada dalam pelukan hangatnya, yang tak ingin ia lepas.
Rengekan pelan terdengar dari bawah dagunya dan Ayunda membenamkan satu tangan di dadanya, syal wol tergantung berantakan di pergelangan tangan Ayunda saat ia menjauh dari pelukan Samudra. Satu kancing pada jaket Ayunda masih terpasang, tapi entah bagaimana Ayunda bisa mengeluarkan tangannya dengan bebas. Roknya terangkat sampai ke batas pinggul, kerah sutra blusnya menggantung terbuka, memamerkan mangkuk bra yang teronggok di bawah payudar*nya.
Samudra sudah melakukannya. Menandainya, meninggalkan bekas merah besar di lekuk lembut payudar*nya.
Samudra seharusnya merasa jijik, tapi rasa puas menjadi pria posesif melebihi segalanya. Samudra tergelak pelan.
Ayunda menatapnya dengan kelopak mata sayu, dan bertanya, “Apa yang lucu?” tanya Ayunda.
Samudra meraba telapak tangan di atas kulit telanjang paha Ayunda dan menangkup bok*ngnya, memeluknya erat agar tubuh mereka tetap menempel. “Sudah hampir tiga puluh menit aku di sini dan kita masih belum melakukan apa-apa selain melangkah masuk ke dalam kediamanmu.”
"Belum melakukan apa-apa? Kau sudah menelanj*ngiku" Ayunda menutup puncak payudar*nya dengan ibu jari, kemudian melihat ke sekeliling ruangan dan pakaian mereka yang berantakan. Senyum kemenangan, meskipun terlihat lelah, menyapu bibirnya dan Ayunda sekali lagi meringkuk ke pelukan Samudra. Rambut gelapnya tersibak ke dada Samudra.
“Aku akan memberikan semuanya yang kamu mau dalam perceraian kita kalau kau bisa membuatku tetap berada di tempat ini," ucap Samudra
Samudra mengumpulkan untaian panjang rambut itu dan merapikannya di punggung Ayunda.
“Tidak akan. Setelah memberikan seluruh hidupku, aku lebih memilih tempat tidur…” sembari memikirkan bagaimana mereka pernah bersama sebelumnya, Samudra menutup pintu dengan kakinya, lalu meminta, “Dan kau.”
Dengan enggan, Samudra beranjak, memisahkan tubuh mereka kemudian menarik Ayunda ke pelukannya, dan membawa Ayunda ke kamar dengan tempat tidur ukuran queen yang satu sisinya menempel di dinding. Kaki Samudra mungkin akan menggantung di sepanjang malam, tapi bersama Ayunda dalam pelukannya, itu tidak masalah.
Dengan lembut Samudra menelanjangi Ayunda dan menariknya ke bawah selimut tebal, dan merangkak masuk ke sampingnya. Ayunda menggeliat di pelukannya, mendesah di tangannya saat tubuh mereka saling menekan. Ayunda akan segera terlelap, tapi Samudra harus tetap memeluknya sedikit lebih lama.
Mulutnya menyapu lekuk mulus bahu telanjang Ayunda. “Ayunda.”
Ayunda kembali mendes*h. Napasnya melambat, semakin berat.
“Ayunda.” Satu gigitan lembut. Kali ini Samudra mendapatkan erangan dan perhatian penuh Ayunda.
“Apa?” sahut Ayunda, sembari mencoba berguling menjauh darinya. Namun Samudra menahan pinggul Ayunda dan menariknya kembali, memeluknya erat.
“Jangan ada lagi kencan dengan pria lain. Tidak sampai kita menyelesaikan perceraian kita.”
Ayunda terdiam di pelukannya, sebelum berkata, “ Aku tidak akan jalan dengan pria mana pun lagi.”
Semakin sukses dalam berkarya
Mungkin kehilangan Galen adalah cara membuatmu menjadi dewasa