“Aku tempat kamu pulang.”
Rianti yuliani
cinta pada suami yg tidak mencintainya,hingga akhirnya dia lelah dan memilih pergi.. Dan disaat itu suaminya aditya erlangga kusuma sadar bahwa dia kehilangan istrinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Maryuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Johan masuk ke ruangan Aditya sempat melirik HP yang sudah hancur berserakan.
"Bagaimana?" tanya Aditya begitu Johan berdiri di depan mejanya.
"Harus menunggu janin berusia 12 minggu Pak." sahut Johan.
Ya Aditya memang memerintahkan Johan untuk mencari tau kapan janin di kandungan bisa di DNA.
"12 minggu?? lama sekali."
"Memang begitu peraturannya Pak." Johan menatap Aditya yang terlihat cemas.
"Apa tidak bisa di percepat?" tawar Aditya.
"Sepertinya tidak bisa Pak."
"Sekarang usia kandungannya berapa?" pertanyaan aneh yang Aditya tanyakan pada Johan, membuat Johan mengernyitkan keningnya bingung.
Dia sebagai suaminya saja tidak tau berapa usia kandungan istrinya, apalagi aku yang hanya asistennya, begitu mungkin yg ada di pikiran Johan.
"Saya tidak tau Pak." Johan menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Cari tau!"
"Baik Pak."
"Tidak usah. biar saya yang bertanya sendiri padanya." ujar Aditya tiba-tiba membuat Johan menghentikan langkahnya yang sudah mendekati pintu.
"Ri, kantorku mengirim aku keluar kota untuk mengurus proyek penting." ucap Nanda ketika melihat Rianti masuk ke kamarnya sambil ber sungut- sungut kesal.
"Kamu kenapa? wajahmu kesal banget keliatannya."
tanya Nanda kemudian.
"Tidak apa-apa. keluar kotanya kemana?" tanya Rianti.
"Palembang, kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal? ada bibi sih yang akan nemenin kamu, jadi kamu nggak sendiri di rumah."
"Hhmm berapa lama?"
"Mungkin semingguan kayaknya." kata Nanda sambil menutup kopernya yang telah penuh ter isi oleh baju dan perlengkapannya selama seminggu di palembang.
"Nggak apa kan di tinggal?" Nanda mengulangi pertanyaannya lagi.
"Iya nggak apa kok, nggak usah khawatir, hehe."
jawab Rianti seraya terkekeh.
"Aku bisa jaga diri." lanjut Rianti menenangkan Nanda.
"Jaga dirimu juga dari suamimu itu, aku lebih khawatir dengan dia daripada orang lain." Nanda sambil duduk di samping Rianti.
Rianti hanya mengangguk "Nanda benar aku harus hati-hati pada Aditya." batin Rianti.
"Ya udah, aku berangkat sekarang kayaknya." ujar Nanda sambil meraih kopernya dan berjalan keluar.
"Oke." kata Rianti seraya mengikuti Nanda.
"Kamu hati-hati di jalan, lekas kembali kalau pekerjaanmu sudah selesai." ucap Rianti berjalan di samping Nanda.
Rianti mengantar Nanda sampai naik ke mobil yang akan membawanya ke bandara dia melambaikan tangan membalas lambaian tangan Nanda.
Setelah mobil yang membawa Nanda sudah tak terlihat Rianti berjalan masuk setelah sempat melirik pria berpakaian hitam yg masih terus mengawasinya.
"Aditya benar-benar sudah gila." kata Rianti geram.
Sisil yang mendapat pesan dari Rianti merasa tenang, setelah Rianti mengabarkan padanya bahwa dia baik-baik saja saat ini.
"Syukurlah." ucap Sisil saat membaca pesan dari sang teman.
Rama tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Bandung, dia ingin menemui Rianti, setelah sebelumnya bertanya pada Sisil tentang keberadaan Rianti.
"Aditya benar-benar keterlaluan, bukannya mencari istrinya dia malah santai mengerjakan pekerjaannya
tidak ada rasa cemas sama sekali padahal istrinya sedang mengandung anaknya! aaarrggghhh gila kamu Aditya." Rama memukul kemudi sambil mengumpat Aditya.
"Jika saja Rianti tidakk mencintainya aku bisa dengan mudah merebut Rianti dari laki-laki brengsek sepertimu Aditya." Rama terus saja memaki Aditya.
Rama tiba di alamat yg di berikan Sisil dengan cepat, karena dia sengaja melajukan mobilnya denagn sangat kencang.
Lelaki itu turun dari mobil untuk mengecek apakah dia berhenti di alamat yang tepat, tapi begitu melihat Rianti yang tengah menyiram tanaman Rama segera memanggilnya.
Rama tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasinya.
HP Aditya berdering.
"Ada apa?" tanya Aditya begitu mengetahui orang yang di suruh mengawasi Rianti lah yang meneleponnya.
"Ada seorang laki-laki yang datang Pak." ucap anak buahnya melaporkan.
"Kamu yakin laki-laki itu menemui Rianti?" tanya Aditya tajam.
"Yakin Pak, karena orang itu sempat memanggil nama Ibu Pak."
"Di rumah itu ada siapa?"
"Hanya ada Ibu Pak, teman Ibu tadi berangkat pagi-pagi sekali membawa koper, sepertinya akan pergi lama sedangkan pelayan, baru saja keluar Pak." jawab Anto menerangkan situasi di rumah itu.
"Awasi terus saya akan ke sana sekarang." ucap Aditya sambil mematikan HP nya tanpa menunggu jawaban dari Anto.
"Hanya sendiri di rumah tapi berani memasukkan laki-laki lain!" geram Aditya.
"Kamu memang tidak menghargai ku Rianti!"
Rahang Aditya mengeras, tangannya mengepak menunjukkan urat-urat di tangan.
Rama masuk ke dalam setelah di persilahkan masuk oleh Rianti.
"Bagaimana kabar mu Ri?" tanya Rama begitu rianti datang membawakan secangkir teh untuknya.
"Aku baik-baik saja." ujar Rianti sambil kedua tangannya saling meremas cemas takut tiba-tiba Aditya muncul karena mengetahui ada Rama, Ranti yakin anak buahnya pasti sudah melapor pada Aditya.
"Kenapa?" tanya Rama yg melihat wajah Rianti sangat cemas.
"A apa?" tanya Rianti gugup.
"Kamu kenapa?" Rama mengulangi pertanyaannya.
"Oohh tidak apa-apa." jawab Rianti sambil masih terus meremas tangannya.
"Aditya tau kamu di sini?"
"Iya dia tau." jawab Rianti.
"Sudah ke sini?"
"Sudah."
"Kenapa tidak membawamu pulang?" Rama bertanya sambil menatap wanita di depannya.
"Aku yang tidak mau pulang."
Rama menarik nafasnya.
"Apa aditya tidak bersikap baik padamu selama ini."
"Hah kenapa?"
"Ri, kenapa kamu tidak minta cerai pada Aditya, kamu tau kan aku mencintaimu dari dulu."
perkataan Rama membuat Rianti tersentak kaget.
"Ram."
"Aku tau karena kamu mencintainya kan dan sekarang kamu tengah mengndung anaknya, aku mau menjadi Ayah dari anakmu Ri kalau kamu mau meninggalkan Aditya dan menikah dengan ku."
ucap Rama memotong perkataan Rianti.
Rianti memang mengetahui Rama menyukainya sejak dulu, tpi entah kenapa Rianti lebih nyaman menggap Rama sebagai temannya.
Melihat Rianti yang hanya diam tidak menjawab perkataannya Rama pun merasa Rianti memang tidak pernah menyediakan hatinya untuk rama.
Rama menghembuskan napasnya lalu meminum teh yang sudah Rianti buatkan.
"Aku pulang yaa. aku tau kamu cemas dan takut Aditya tau aku di sini." kata Rama lalu berdiri dari duduknya Rianti ikut berdiri, merasa lega akhirnya Rama pulang juga.
"Ya sudah hati-hati." ucap Rianti begitu Rama keluar dan dengan cepat menutup pintu.
****