Sanaya Angelina Franca harus terpaksa menikah dengan David Jonathan menggantikan kakanya yang mati karena sebuah kecelakaan.
Padahal Sanaya sudah memiliki seorang kekasih yang sangat Sanaya cintai tapi demi nama baik keluarganya ia terpaksa menerima pernikahan ini.
Derita dan perkelahian datang melanda sili berganti dalam rumah tangga David dan Sanaya karena David belum menerima Sanaya sebagai istrinya pasalnya David masih mencintai Anaya saudara kembar Sanaya.
" Apa kamu pikir hanya kamu yang tersiksa di sini Tuan David, lihat lah saya, hati saya masa depan saya banyak yang saya korbankan demi keluarga saya dan kamu pikir hanya kamu yang tersiksa, " ucap Sanaya lantang dengan tatapan marah pada David.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 " David Jonathan"
Di kamar David menghempaskan semua barang-barangnya ia benar-benar frustasi memikirkan siapa sebenarnya Sanaya apakah dia Anaya atau Sanaya, selama ia tinggal bersama Sanaya entah mengapa semua tingkah laku Sanaya sama persis dengan Anaya yang ia kenal saat di Amerika.
David mencoba membuka kembali semua email saat ia mengirim pesan bersama Anaya saat dirinya di negeri Paman Sam itu.
satu persatu pesan David membaca semuanya, benar-benar sama persis dengan Sanaya, awalannya David berpacaran dengan Anaya ia berbeda jauh dengan apa yang ia jelaskan melalui email namun David berpikir mungkin semua orang akan berubah kesukaan atau tingkah laku saat dirinya sudah dewasa.
David menyandarkan dirinya di kursi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" siapa sebenarnya dirimu, apakah kau Anaya yang sebenernya,?" gumam David.
Ia kembali mengingat lukisan yang Sanaya lukis, sebuah danau yang dulu saat kecil David pergi bersama Anaya, danau yang begitu tenang, di sana David berjanji setelah dirinya kembali dari Amerika David akan menikahi Anaya.
David yang benar-benar frustasi memilih untuk merebahkan dirinya di bathroom kamar mandi, ia mengisi air dan menaruh sabun favorit yang ia sering pakai setelahnya David merendamkan badannya sambil menutup kedua matanya menikmati aroma Sabun, hingga wajah Sanaya terlintas di benaknya saat ia menciumnya dengan paksa.
Spontan David membuka matanya ia merasa bingung kenapa hanya sebuah ciuman bisa membuat Sanaya ada dalama pikirnya.
Namun David berusaha untuk menyingkirkan pikiran tentang Sanaya dan memilih untuk memikirkan pekerjaannya yang akan ia selesaikan makan ini juga.
setalah mandi David membuka laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah pak Albert yang datang tiba-tiba di kantor David dan membuat kekacauan.
Hampir 3 jam David menyelesaikan pekerjaannya, ia merenggangkan otot-otot miliknya dan segera merapikan semua berkas dan laptopnya di tempat semula.
David keluar kamar untuk mencari makan, ia melihat Sanaya sedang memasak dengan talent, melihat gerik gerik Sanaya hingga Sanaya melakukan tindakan ceroboh, tangannya yang terkena siraman air sup saat ia menuangkan sup nya di mangkuk.
David berjalan ke arah Sanaya menarik tangan Sanaya dan membasuhnya di wastafel lama namun ampuh membuat jantung David berdetak tak beraturan.
setelahnya David menarik Sanaya duduk di kursi dan David mengambil kotak P3K untuk membalut luka Sanaya.
David melakukannya dengan talent sementara Sanaya hanya diam menatap wajah David yang begitu tegas, hidungnya mancung dan bibirnya yang begitu seksi namun Sanaya segera menggelengkan kepalanya.
" apa kau tidak bisa bekerja dengan tidak ceroboh ," ucap David membuat Sanaya menatap wajah David
" maaf," lirih sanaya.
setelah menyelesaikan David menaruh kembali kotak P3K nya dan ia yang melanjutkan pekerjaan Sanaya, memasak dam menyediakan hidangan di meja makan.
Sanaya menatap setiap gerak gerik David dengan diam, ia tidak banyak bicara karena takut David akan marah lagi kepadanya.
Suasana makan malam yang begitu sunyi, tidak ada yang berbicara satu kata atau ucapan yang keluar dari bibir mereka berdua.
setelah makan dan membantu Sanaya merapihkan piring David memanggil Sanaya untuk berbicara berdua karena ada satu hal yang sangat David penasaran dan ingin memastikan sesuatu.
" Sanaya," panggil David membuat Sanaya langsung duduk di samping David mereka berbicara di depan jendela yang terbuka dengan lebar.
" ada apa kak David ,?" tanya Sanaya membuat David menatap wajah Sanaya dengan lekat untuk kedua kalinya.
Sanaya menatap bingung David yang memandang wajahnya membuat Sanaya memegang wajahnya apa ada yang salah.
" Sanaya suka makanan apa ,?" tanya David secara tiba-tiba membuat Sanaya bingung.
" kenapa Kak David bertanya seperti itu ," ujar Sanaya.
" Kaka hanya pengen tau, tapi kalau Sanaya enggak mau jawab tidak apa ," ucap David.
" Sanaya suka sate dengan minumannya harus es teh, terus Sanaya juga suka melukis," jawab Sanaya.
mendengar jawaban Sanaya membuat David tersenyum menatap Sanaya, mereka pun cukup lama mengobrol sambil tertawa membuat suasana benar-benar nyaman seakan mereka berdua tidak pernah ada masalah.
" maafkan kak David tadi melemparkan lukisan buatan mu," ucap David tulus memandang wajah Sanaya.
" tidak apa, Sanaya juga bingung kenapa lukisan itu bisa ada dalam ingatan Sa" balas Sanaya sambil memperbaiki anak rambutnya yang mulai berhamburan karena hembusan angin.
David melihat hal itu membuatnya membantu merapikan anak rambut Sanaya namun entah mengapa detak jantung David dan Sanaya saat ini berdetak tak karuan membuat mereka saling memalingkan wajah.
tak ada kata yang keluar dari mulut mereka hanya hembusan angin yang mengisi kekosongan malam itu.
" kalau begitu Sanaya duluan ke kamar ya kak ," pamit Sanaya segera berdiri namun tangan Sanaya di tahan oleh David membuat Sanaya menatap David.
tatapan mereka bertemu, mata Sanaya tiada henti memandang wajah David dan David juga begitu apalagi saat pandangan David memandang ke arah bibir Sanaya yang membuatnya sejak tadi kepikiran.
David menarik Sanaya hingga jatuh ke dalam pangkuan David membuat Sanaya sontak kaget, membulatkan matanya dengan sempurna memandang wajah David.
begitu dekat hingga Sanaya bisa sangat merasakan hembusan nafas David yang begitu harum mengenai kulit permukaan wajahnya.
entah keberanian dari mana atau mungkin dorong hawa dingin dari luar membuat David sedikit mencium leher Sanaya membuat Sanaya meringis sambil menggigit bibir bawahnya.
" kak David....," lirih Sanaya memandang wajah David.
David memegang wajah Sanaya kemudian mendaratkan kecupan bibirnya di bibir Sanaya dengan sangat sempurna membuat Sanaya benar-benar membulatkan matanya untuk kedua kalinya, Sanaya yang terkejut mendorong wajah David dari bibirnya.
" kak David... Sa bukan Anaya ," lirih Sanaya dengan wajah sendu karena Sanaya tau pasti David tadi membayangkan Anaya.
" aku mencium Sanaya bukan Anaya," balas David kembali mencium Sanaya dengan rakus.
ciuman yang begitu panas di tengah hawa malam yang begitu dingin, hingga ciuman tadi mendorong Sanaya ke arah jendela hembusan angin begitu membantu suasana kedua insan itu menjadi sangat romantis.
apalagi saat Sanaya mengalungkan tangannya di leher David, tangan David tidak hanya diam ia mulai masuk ke dalam baju milik Sanaya mencari sesuatu yang kenyal untuk di mainkan di sana.
Sanya benar-benar gila di buat David , dengan cekat David mengubah posisinya dan Sanaya hingga Sanaya terbaring di atas sofa dengan ciuman yang masih menempel dengan setia, David mengeluarkan tangannya dari baju Sanaya , ia mulai dengan pelan membuka kancing baju Sanaya.
satu persatu tapi pasti hingga baju Sanya terbuka dengan sempurna membuat tumpukan dia gunung Fuji milik Sanaya terekspos dengan indah di balik bra hitam miliknya.
David memberhentikan ciumannya menatap wajah Sanaya dengan lekat .
" kak David..." lirih Sanaya yang sudah terbuai dengan sentuhan lembut milik david.
David menatap wajah Sanaya entah mengapa ia ingin dan ingin lagi lebih menyentuh Sanaya, saat bersama dengan Anaya David tidak begitu agresif tapi entah mengapa saat dengan Sanaya hawa agresif David tiba-tiba muncul.
David kembali mencium Sanaya dengan sangat rakus hingga Sanaya dengan spontan membuka baju David menampakan badan David yang begitu kekar dan perutnya yang begitu sixpack sangat menggairahkan Sanaya untuk menyentuh dengan lembut tubuh David.
Namun sesuatu tiba-tiba terlintas dalam benak Sanaya surat yang Anaya yang terbayang-bayang selama ini dalam pikiran Sanaya, ia mendorong tubuh David menjauh darinya membuat David benar-benar bingung.
" maaf kak David, Sa belum siap ," lirih Sanaya segera berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dengan rapat, Sanaya langsung terjatuh di balik pintu sambil memeluk lututnya dan menangis.
" maaf Sa kak, Sa hanya tidak ingin membuat kak David kecewa saat tau kebenarannya," gumam Sanaya di celah tangisnya.
sementara David yang di tinggalkan Sanaya dengan sejuta tanya membuat David memandang ke arah pintu kamar Sanaya yang sudah tertutup rapat.
" sebenarnya ada apa," batin David.
Bersambung....
jangan lupa untuk:
👍 like
💬 komentar
❤️ favorit
🎟️ vote
🥀berikan hadiah jika kalian menyukai novel ini
lanjut kak🙏