Perbedaan strata seseorang selalu dilihat dari beberapa aspek. Harta lebih sering dijadikan alasan untuk menentang hubungan percintaan dua anak manusia. Saras anak seorang pengusaha mencintai Indarto yang hanya seorang guru SMA. Perbedaan ekonomi menjadikan Tuan Haidar sang ayah menjadi murka. Namun berkat hati seorang ibu, akhirnya Saras boleh merasakan kebahagiaan hidup bersama Indarto...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Beatrix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXI
Sementara itu, Nyonya Arifin menatap Alya dengan iba. Lalu dia menatap kedua anak kembar di hadapan. Nyonya Arifin melihat ada wajah Surya saat masih kecil pada wajah Rani.
"Papa ga usah khawatir karena Surya sudah test DNA, karena Surya yakin papa pasti tidak akan pernah percaya." kata Surya sambil menyerahkan surat laporan DNA kepada tuan Arifin.
Lalu Tuan Arifin mengambil surat itu membuka dan mulai membacanya.Di situ jelas tertulis kalau Rangga dan Rani 100 persen anak Surya. Tuan Arifin terdiam. Lalu nyonya Arifin berdiri dan berjalan menghampiri Alya. Lalu dia memegang pundak Alya dan menyuruhnya berdiri, kemudian nyonya Arifin memeluk Alya dan berkata
"Aku merestuimu menjadi mantuku nak. Terima kasih sudah memberi ku cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan." Alya pun menangis mendengar perkataan Nyonya Arifin.
Nyonya Arifin pun menghampiri Rani dan Rangga lalu memeluk keduanya. Surya yang melihat itu meneteskan air mata kebahagian. Melihat kebahagiaan di mana istri nya yang memang sudah lama menginginkan cucu, hati Tuan Arifin pun trenyuh dan ia mencoba menghilangkan rasa ego nya yang tinggi.
Lalu ia bangun dan menghampiri Surya. Lalu Tuan Arifin memeluk Surya dan berkata
"Aku merestuimu Nak. Mari kita menemui wali dari Alya untuk melamarnya menjadi istri mu. Maaf kan papa yang terlalu egois dan hanya memikirkan harta duniawi saja. Papa juga berterima kasih karena kalian sudah memberikan Papa 2 orang cucu sekaligus. Maafkan papa ya Alya, Papa terlalu keras padamu." Tuan Arifin pun memeluk Alya.
"Iya Tuan." kata Alya.
"Hei... kok panggil papa mertuamu dengan Tuan, panggil papa donk Alya sayang." kata nyonya Arifin sambil mengelus pundak Alya.
Mereka pun segera menyiapkan segala keperluan untuk acara lamaran sekaligus pernikahan Surya dan Alya. Semuanya dijadikan satu biar tidak makan waktu lama. Surya pun segera menghubungi pakde Dharmo untuk menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan ijab kabul.
Setelah persiapan yang mereka lakukan hanya dalam waktu 2 hari. Beli baju pengantin yang warna nya sepadan antara Surya, Alya dan kedua anaknya yang mereka beli di butik langganan nyonya Arifin. Beli cincin kawin, juga pakaian untuk seluruh anggota keluarga yang rencananya akan memakai seragam.
Surya juga sudah mengirimkan Pakde Dharmo sejumlah uang untuk membeli dan membayar kebutuhan yang akan digunakan untuk pesta pernikahan Surya dan Alya.
Mereka pun berangkat menggunakan pesawat terbang, sementara barang-barang bawaan mereka dibawa menggunakan mobil yang sudah berangkat satu hari sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan, mereka pun tiba di kota C. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju ke desa tempat acara berlangsung.
Sesampainya di desa, begitu terkejutnya tuan Arifin kalau ternyata Alya adalah keponakan dari pakde Dharmo yang tak lain tak bukan sahabat karibnya teman berangkat sekolah, teman berantem.
"Dharmo!" teriak tuan Arifin.
"Selamat datang di gubug saya Arifin. Saya sudah tahu kalau Surya itu anakmu, tapi aku mdak pernah cerita sama Surya. Aku menunggu kamu datang ke sini, biar Surya tahu kelakuan bapaknya waktu kecil. hahahaha" Pakde Dharmo tertawa.
"Memang kelakuan papa waktu kecil seperti apa pakde?" tanya surya penasaran.
Tuan Arifin mendelik ke pakde Dharmo untuk menyuruhnya diam. Pakde Dharmo pun tertawa terbahak-bahak.
"Sudah to Pak, jangan diledek si Arifin, kasihan kan malu nanti dianya." kata bude Dharmo yang tiba-tiba masuk sambil membawa minuman.
"Santi, apa kabar?" tanya Tuan Arifin.
"Aku baik Fin, semoga kamu sudah berubah ya." kata bude Dharmo.
Sebenarnya tuan Arifin, pakde Dharmo dan bude Dharmo, mereka dulu bersahabat, mereka selalu bertiga. Tapi anehnya bukan bude Dharmo yang selalu dilindungi tapi tuan Arifin yang selalu mereka lindungi dari teman-teman mereka yang nakal-nakal. Mereka bertiga mengobrol tentang masa lalu tanpa mengindahkan orang-orang yang juga hadir di situ.
Tiba-tiba mata Tuan Arifin tertuju pada seseorang yang duduk persis di depannya
"Saras? Apa yang kau lakukan di sini?" Tuan Arifin bertanya pada Saras.
Saras pun terhenyak kaget karena tuan Arifin masih mengenali nya. Melihat gelagat yang kurang baik, Indarto pun memegang tangan Saras dan memberikan ketenangan.
Lalu Indarto pun berkata
"Iya ini Saras, dia sekarang menjadi istri saya. Ada apa dengan istri saya? Saras di sini karena saya, kebetulan kami sedang nyekar ke makam kedua orang tua saya."
"Bagaimana dengan kedua orang tua mu? Apa mereka tahu kamu ada di desa ini? Apa mereka juga tahu kalau kamu menikah pemuda miskin ini? Apa..." kata tuan Arifin tanpa melanjutkan pertanyaan nya karena sudah dipotong oleh Indarto
"Kenapa kalau saya berasal dari keluarga miskin, apa begitu hina kami di mata Tuan Arifin yang terhormat. Semua manusia adalah sama di mata Tuhan, lahir ke dunia polos telanjang tanpa sepotong pakaian pun. Menjadi miskin adalah nasib yang harus dirubah, di mana si miskin harus berjuang supaya bisa hidup.
Sementara menjadi kaya adalah bonus hidup manusia di dunia. Saya memang miskin harta tapi saya tidak miskin hati dan tidak pernah melihat orang lain berdasarkan kasta dan harta.
Saya tidak pernah diajarkan kedua orang tua saya untuk sombong, tapi rendah hati lah yang diajarkan kedua orang tua saya."
"Kamu.. jangan kurang ajar ya, jangan sok menasehati saya yang usianya lebih tua dari kamu." tukas tuan Arifin dengan nada keras karena jengkel mendengar perkataan Indarto. Tuan Arifin mengambil gawai pintar nya lalu melakukan panggilan telepon. Tuuttt...tuuttt...ttuuttt... "Hallo...." terdengar suara menjawab dari ujung panggilan.
"Hallo Haidar..... kam....."
Tiba-tiba panggilan telepon berakhir seiring jatuhnya gawai pintar Tuan Arifin ke lantai, karena ditepis oleh Saras.
"Hentikan! Anda tidak berhak ikut campur dengan urusan saya. Siapa anda, anda bukan siapa-siapa saya. Apa perlu saya ingatkan kepada anda apa yang telah putra anda lakukan kepada saya. Sehingga Mama saya murka dan menarik seluruh saham Mama dari perusahaan anda yang terhormat Tuan Arifin!
Anda bersekongkol dengan Tuan Haidar berusaha menjodohkan saya putra anda dengan harapan bisa mengambil keuntungan dari pernikahan itu. Saya sudah tahu semua Tuan Arifin, apa perlu saya beberkan di sini di depan semua yang hadir di sini." kata Saras dengan lantang.
Tampak terlihat wajah pucat tuan Arifin mendengar perkataan Saras.
Dan kondisi Saras pun setelah mengucapkan kata-kata itu tampak lemah. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak ditahan oleh Indarto. Pakde Dharmo yang sebelumnya berada di belakang buru-buru keluar karena mendengar suara orang teriak-teriak.
Dan dilihatnya Saras tengah berkata dengan suara keras sambil jarinya menunjuk-nunjuk muka Tuan Arifin.
"In, bawa istri mu ke kamar untuk beristirahat." kata pakde Dharmo.
Surya dan nyonya Arifin sangat terkejut mendengar perkataan Saras yang sangat mengagetkan.
"Papa, Surya sungguh tidak menyangka kalau Papa punya pikiran dan niatan serendah itu, bahkan sampai Surya menjadi korbannya.
Surya hampir kehilangan nyawa karena mengikuti sikap egois papa dan rakus papa akan harta." kata Surya berapi-api.
Sementara Nyonya Arifin tampak menunduk malu dan menangis karena sedih suaminya tidak berubah. Tuan Arifin terpekur mendengar perkataan Surya. Tuan Arifin menyesali semua perbuatannya.