Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menumpang Hidup
Kekasih Bayaran Bagian 21
Oleh Sept
'Ya ampun ... aku gak nyangka dia seperti ini. Pembohong besar, katanya gak kenal lalu ini apa? Kalian malah tinggal bersama. Aku mengerti sekarang, uang sebanyak itu yang dia berikan padaku pasti dari pak Arjun,' pikir Winda saat melihat bos Tourshine Groups telerr di apartment Kavi.
"Pakkk!! Pak Arjun ... kenapa Bapak tidur di sini?" Kavi menepuk pipi Arjuna. Ia pura-pura tidak kenal sang kakak karena ada Winda di dalam sana.
Dasar kakak yang lagi stress berat karena suatu hal. Baik pekerjaan dan masalah pribadi, yang akhirnya memutuskan minum di tempat Kavi. Ya, kalau ada masalah ia suka menganggu dan mengusik adiknya itu, seperti malam ini.
"Pakkk!" panggil Kavi dengan intonasi yang meninggi agar kakaknya bangun.
BRUKKKK ...
"Ya ampun!" pekik Winda yang melihat kaki Arjun malah menendang Kavi sampai terduduk di lantai.
"Sebentar, Win. Aku urusin Pak Arjun dulu. Kamu masuk saja, istirahat di sana. Itu kamarnya!" Kavi menunjuk sebuah pintu dengan tangannya. Agar Winda masuk dulu. Ia akan mengatasi sang kakak yang mabuk parah. Sudah tahu tidak bisa tahan dengan minuman, ini malah minum satu botol. Pasti Arjun punya masalah berat, pikir Kavi.
"Tapi itu pak Arjuna, kan?"
"Nanti aku jelasin, kamu istirahat saja."
Mendengar suara wanita yang terdengar samar-samar, mata Arjun mengerjap.
"Kau di sini?"
Arjuna langsung duduk, meski agak sempoyongan. Jelas ia belum mendapat kesadarannya. Sambil tersenyum lebar, meperlihatkan gigi-giginya yang putih nan rapi, Arjun mencoba berdiri.
Kavi yang melihat sang kakak hampir jatuh, ia langsung spontan memapah kakaknya itu. Tapi brukkkkk .... Sang kakak kembali mendorong dan membuat Kavi jengkel.
'Harusnya jangan sekarang!'
Kavi yang sebal, hanya bisa mendengus kesal. Ia tahu, kalau kakaknya mabukkk pasti berkata yang bukan-bukan. Sebelum itu terjadi ia menatap tajam ke arah Winda.
"Wind, masuklah. Dia sangat berbahaya jika mabukk!"
Winda jadi bengong, ia pun mengangguk meski bingung dan segera berbalik menuju kamar yang sudah dirunjuk Kavi sebelumnya.
"Heiiii!" panggil Arjuna. Gayanya sempoyongan seperti dewa mabukk dari negeri ginseng.
"Udah Win! Masuk aja!" seru Kavi yang melihat sang kakak memanggil Winda.
Winda sekali lagi menurut, ia langsung saja ke kamar karena takut juga melihat tatapan Pak Arjuna yang tidak biasa tersebut. Pria yang biasanya terlihat sangat berwibawa, charismatic, dan dihormati banyak orang itu kini merancau tidak karuan.
"Gadis BODOHHH!"
Ngekkk ...
Winda yang sudah memegang knop pintu langsung menoleh.
"Ish ... apa-apaan lagi ini?" desis Kavi kesal pada abangnya tersebut.
Ia pun memegangi lengan sang kakak, agar duduk kembali sebelum merancau tidak jelas. Tapi sialll bagi Kavi, ia mala ditepi dengan kasar.
"Heiii sini kau! Berani sekali sekarang."
Winda menunjuk hidungnya dengan ibu jarinya. Apakah dia yang dimaksud Pak Arjun? Lalu kenapa dia dikatakan bodohhh?
Winda menatap Kavi penuh tanya. Keduanya saling melempar pandangan.
"Sudah, Win. Masuk saja."
"Jangan ikut campur anak nakal!"
Buuuugh ...
Arjun menonyor lengan Kavi cukup keras, mabukk tapi tenaganya boleh juga. Hingga Kavi meringiss kesakitan.
"Kau tidak apa-apa, Kav?" tanya Winda.
"Ke mari! Jangan pergi. Dan jangan bicara dengan dia!" Arjun menunjuk Kavi dengan marah.
"Jangan pernah bicara pada pria! Jangan pernah! Jangan pernah tidur dengan pria ... jangan!" Arjun terkekeh kemudian berjalan sempoyongan mendekati Winda. Setelah hanya terisa beberapa langkah eh tiba-tiba tubuhnya tumbang, pria itu malah pingsan.
Untung Winda berlari mendekat dan langsung menangkap tubuh bosnya tersebut. Melihat hal itu dari tempatnya berdiri, Kavi hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Kavi kemudian memapah sang kakak dan membawanya ke dalam kamarnya.
Sesaat kemudian
Kavi dan Winda duduk berdua di ruang tamu, Winda tidak bisa tinggal di sana sebelum ia tahu kondisi di sana.
"Maaf sebelumnya, tapi bolehkan aku bertanya sekali lagi."
Kavi seolah paham, apa pertanyaan selanjutnya dari Winda. Ia hanya mengangguk pelan.
"Kenapa pak Arjun ada di sini? Dan ini bukan sekali aku melihatnya di apartment ini. Jangan bohong padaku ... apa selama ini kau menumpang hidup dengan beliau?"
Ngekkk ...
Kavi tersenyum miris dan bersambung.
Eh mbuh Kav ... Hehehe
IG Sept_September2020
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu