Lebih dari 10 tahun Haris memendam rasa pada sahabatnya Elena, namun apalah daya rasa itu tak jua hilang meskipun Elena bersikeras menolak nya, bahkan setelah 8 tahun berpisah rasa itu tetap mengendap di hatinya.
hingga suatu kejadian membuat mereka dipaksa menikah oleh kedua orang tua mereka. Hal itu membuat Elena semakin frustasi, karena terus menerus menolak menerima fakta bahwa hatinya mulai lemah pada pesona sang calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
"Bahkan ketika kita sering berinteraksi dulu, kamu gak pernah semanis ini padaku, sakit sekali rasanya, apa istimewanya gadis itu, hingga membuat mu berubah dari sesorang yang dingin tak tersentuh, menjadi sosok yang hangat dan penuh perhatian"
Tak terasa butiran bening meluncur begitu saja dari kelopak matanya, jemari tangannya mengepal kuat pertanda dirinya sedang menahan amarah.
Sekuat tenaga Anita menyembunyikan amarah nya, kemudian dia pun menyudahi pekerjaannya.
"Aku balik duluan yah" pamit Anita, tanpa menunggu jawaban ia pun berlalu, membawa sesak yang tiba tiba menbuncah di dada, di dalam mobil dia keluarkan semua emosi nya.
Air matanya semakin deras tatkala dari dalam mobil dia kembali menyaksikan Haris yang berjalan sembari merangkul pundak Elena, kemudian mereka masuk ke dalam mobil yang sama.
...****************...
"Kita mau kemana nih?"
"Nanti kamu tau" jawab Haris singkat, Elena yang sedang tak ingin bicara pun memilih diam, kemudian pelan pelan matanya terpejam.
Usapan lembut di pipi nya, membuat Elena pelan pelan mengerjapkan kelopak matanya, dan hal pertama yang dilihat nya adalah wajah haris yang hanya berjarak 10 cm dari nya.
"Ayo turun"
Elena pun mengangguk tanpa suara.
Disinilah mereka kini, disalah satu butik ternama yang letaknya di pusat kota.
"Butik?" tanya Elena dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
Haris mengangguk matanya berkedip tanda membenarkan pertanyaan Elena.
"Mau apa ke sini, sejujurnya aku gak pernah ke tempat seperti ini, karena mama yang selalu memilihkan gaun yang akan aku pakai" senyuman canggung nampak di wajahnya.
"Aku tau, Disitulah letak keberuntungan seorang anak, karena memiliki ibu yang mengerti tanpa harus di beri penjelasan" Haris berujar, pandangan matanya mendadak muram karena teringat ibu nya yang telah tiada.
"Ya ... aku tau, sungguh beruntung anak anak yang masih memiliki seorang ibu" Elena pun tersenyum getir.
"Ayo masuk, kamu mau aku memilih baju untukmu?"
Haris mengangguk, senyum lebar tersungging nampak menghiasi wajahnya, ternyata Elena memahami maksudnya tanpa harus di jelaskan, mereka pun berjalan memasuki butik, penjaga pintu menyambut mereka dengan ramah.
"Kamu mau baju seperti apa?" tanya Elena ketika mereka mulai berkeliling.
"Aku butuh jas dan kemeja"
"Hanya itu?"
"iya"
"Kenapa harus aku yang pilih, kamu yang paling tau apa yang kamu butuhkan" Ujar Elena pelan, ketika dia mulai melihat lihat deretan jas pria dengan harga yang fantastis.
"Karena kita yang akan menghadiri acara tersebut" jawab Haris santai, masih mengekor di belakang Elena.
Elena terkejut, kemudian berbalik.
Bruugh ...
Elena terdorong beberapa langkah ke belakang, ketika tanpa sengaja Haris menabraknya, namun dengan sigap Haris menarik lengan Elena. " Huft ... hampir saja" ujarnya lega.
"Apa kamu bilang tadi? kita??"
Haris mengangguk " Jangan bilang kamu lupa, kamu berhutang padaku".
"Hutang?" Elena berfikir sesaat, mencoba mengingat ingat, barang kali ada yg terlewatkan oleh nya. "aaaa ... hutang itu ... "
"Gantian sekarang kamu yang menemani ku, ke acara wedding anniversary big boss nya Bench Family"
"Wow ... " Elena membelalakkan netranya, dirinya semakin curiga terhadap pria di hadapannya ini, bisa menghadiri acara semacam itu, tentu Haris adalah orang berpengaruh yang cukup di perhitungkan.
Siapa kamu sebenarnya?
"Acaranya di kota ini?" tanya Elena lagi, mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Tidak, acaranya di negara singa ZZ" jawab Haris santai
"What's? ... kamu gila ya?... mau ngajakin aku ke sana?" pertanyaan itu reflek terucap.
"Ngga, aku gak gila"
"Kenapa gak sama Bagus aja"
"Pergi ke acara itu, wajib bawa pasangan, kalo perginya sama Bagus, ntar mereka mengira, aku golongan jeruk makan jeruk" Jelas Haris lugas.
"Trus kenapa harus aku? Elena berusaha mengelak.
"Ya masa iya aku bawa tante Marisa, kan mending pinjem anak gadisnya"
"Kenapa gak ngajak Hana aja"
"Dih ... mendingan pergi sendiri daripada ngajak nenek sihir itu" Haris menggidikkan pundaknya.
"Iya iya baik, kamu menang" seru Elena tak ingin memperpanjang perdebatan.
"Yesss" Haris pun tersenyum bahagia,
Kemudian Elena kembali melanjutkan pencariannya.
"ini oke" Elena mengambil jas berwarna coklat terang, kemudian menyerahkannya pada Haris.
"Ini juga" kali ini warna Abu abu gelap
"Trus ini dan ini" kali ini warna maroon dan navy menarik perhatiannya.
Dengan pasrah, Haris menerima semua model jas yang dipilihkan Elena, mungkin beginilah rasanya jika belanja bersama istri, ujarnya dalam hati, tiba tiba desiran hangat mengalir ke dadanya, senyuman bahagia jelas tergambar di wajahnya.
Dan akhirnya 6 buah Jas dia bawa ke ruang ganti, karena Elena kembali menambahkan Warna Hitam dan putih, satu persatu dicobanya, tak lupa meminta pendapat Elena.
Elena terperangah, tak percaya bahwa jas yang dia pilih, nampak pas melekat sempurna di tubuh calon pemiliknya, hingga dia pun kesulitan memilih salah satu, melihat Elena kebingungan, tanpa pikir panjang, Haris pun meminta penjaga butik untuk membungkus semua jas yang tadi dia coba
Elena kembali di buat terkejut, pasalnya jika di total harganya hampir mendekati harga mobil mewah limited edition.
"Kenapa wajahmu aneh begitu?" Tanya Haris, ketika wajah Elena masih pucat tanpa Ekspresi "kamu kaget dengan semua ini?" tebak Haris seraya mengeluarkan Kartu kredit dari dompet nya.
"Entah lah, aku gak tau apa, tapi sepertinya kamu benar benar orang penting, sampai berani membayar mahal hanya untuk beberapa jas" Elena berujar pelan sambil meremat ujung kemejanya, seolah olah dirinya minder berdekatan dengan Haris, padahal dia sendiri putri seorang konglomerat.
"Nanti, belum saatnya kamu tau siapa aku" balas Haris sambil berjalan mendekati deretan gaun wanita, "Lagipula kita tak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan, siapa tau satu atau dua bulan lagi aku menikah, tentu semua ini tidak mubazir kan?" candanya lagi, tentu saja candaannya itu membuat Elena kembali tersenyum.
"Aku mau ketiga gaun itu" Haris menunjuk 3 buah gaun wanita dengan berbagai model, yang sedang di pajang di etalase butik.
Ketiga pejaga butik itu tampak terbelalak kaget "Wah tuan, beruntung nya kekasih anda, ketiga gaun itu baru satu jam yang lalu kami pajang, dan kami hanya membuat 1 buah, karena terbuat dari bahan sutra premium yang langka"
Kekasih, heh alangkah bahagianya kalau gadis ini benar-benar kekasihku. Haris hanya tersenyum samar, sementara Elena hanya diam dalam keterkejutan.
"Cobalah, aku ingin lihat, ketiga nya milik mu"
Elena masih terdiam, bahkan ketika penjaga butik menyeret nya ke ruang ganti, dirinya tak habis pikir, bagaimana mungkin Haris menyuruh nya mencoba bahkan membeli gaun gaun mahal itu untuknya, wah Haris benar tak waras hari ini.
"Silahkan nona" Penjaga butik itu menyerahkan gaun pertama, berwana merah terang yang panjang hingga menyentuh lantai dengan ornamen sulaman bunga berwarna emas dari dada hingga ke pinggang, dibagian pundak dan sebagian dada yang hanya tertutup brokat tipis membuat gaun itu terkesan anggun dan elegan, benar saja ketika penjaga butik membuka tirai ruang ganti, netra Haris membulat sempurna, tentu saja hal itu membuat wajah Elena merona menahan malu.
Cepat cepat Elena meminta penjaga butik untuk menutup tirai nya, padahal dia sedang menutupi wajahnya yang merona menahan malu, "nona, anda lihat tadi, kekasih anda sampai tidak berkedip, anda benar benar cantik" puji penjaga butik itu, tentu saja penjaga butik itu tidak bermaksud menjilat, pasalnya kulit putihnya terlihat makin memukau ketika dipadukan dengan warna gaun yang ia kenakan.
Setelah gaun pertama di lepas, berganti ke gaun kedua, gaun berwarna pastel, panjanya hanya sampai lutut, nampak simpel dan manis, tanpa banyak ornamen, yang lagi lagi memukau siapa pun yang melihat.
Hingga gaun ketiga, rona yang sama masih menghiasi wajah Haris, selama mengenal Elena inilah pertama kali dia benar benar merasa terpesona, Elena yang ia kenal, tak pernah berpakaian mewah, Elena yang selalu sederhana apa adanya, Elena yang selalu tampak manis walau hanya sedang menyunggingkan senyumnya, oh hati semoga kamu masih kuat bertahan.
suka hatimu thor
🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼
☕