Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. ibu menghilang
Dimalam yang sunyi disertai bulan terang William dan Golern saling duduk berhadapan. Meski garis muka William terlihat santai, namun Golern dapat bertaruh jika saat ini William sedang kesal.
Sekitar 3 minggu yang lalu, William sepakat untuk membantu usaha Golern dan Dita yang pada awalnya berasal dari 'hak kepemilikan' Seren kini merambat kepada kerja sama.
kata lebih pas diutarakan adalah William seorang Donatur tetap dengan syarat ia bisa menyalurkan narkotika miliknya dengan lancar, dan jika Golern berhasil menjual banyak narkotika William tidak akan segan untuk memberi bonus pada Golern, namun hal yang tak terduga terjadi.
"Bagaimana kemajuan tempat ini? Meski aku tidak terlalu perduli si."
"Aaa... itu-anu tuan,"
"Tidak usah terbata-bata, langsung saja ke intinya.Kau tau bukan jika aku ini tipe orang pembosan." Tanggapan William seraya menyamankan posisi duduknya.
Sementara itu Rasyid sebagai asisten William di usaha ini masih berdiri tegap ditempatnya menyimak dengan khidmat pembicaraan sang bos dengan sekutu.
"Sebenarnya, tempat ini sudah mulai mengalami penurunan klien."
"Sejak kapan?!"
"Gulp... Itu semenjak 3 bulan yang lalu tuan. Para customer mulai mengeluhkan pelayanan anak-anak terhadap mereka. Selain itu, banyak dari mereka yang melakukan cancel saat anak-anak kita memulai pekerjaan mereka." Terang Golern sedikit takut.
"Hmmmm... aku tau pasti itu karna para kupu-kupu itu sudah keriput dan tidak nikmat lagi. Kau tau bukan, para kolega tidak suka daging busuk menjadi hidangan utama."
.......
.......
.......
.......
...SADNESS ...
...21...
...Ibu menghilang...
.......
.......
.......
.......
William melirik Golern yang semakin gemetar.
"Lalu, bagaimana dengan barang selundupan di Club?"
"Itu juga mengalami penurunan tuan."
"Kau tau bukan konsekuensinya Golern,"
Golern mengangguk kaku.
"Aku tidak suka kerugian. Jika aku ingin, aku bisa membuat mereka semua membayar hutang mereka dengan cara yang lebih hina daripada menjual lubang busuk pada pria brengsek. Terlebih lagi narkoba, bukankah seharusnya itu mudah bagimu?"
Sambung William mendesis, bahkan pegangan pada gelas semakin erat.
Trankk..
Beling kaca berserakan, waktu serasa berhenti berputar kala William sudah berdiri di hadapan Golern dan dengan cepat mencengkram lehernya dan membuat Golern tak lagi bertapak pada lantai.
"Dan aku paling benci ketika babi serakah memberikan aku barang cacat. Kau tau, dia benar-benar membuatku ingin menghukumnya. "
Seketika Golern terkesiap, mungkinkah yang ia maksud adalah Seren?
"Te-tapi,"
'Sial, leherku. Dia mencengkram kerah bajuku terlalu kuattt.'
"Aku memerintahkanmu untuk mengganti Seren, aku bosan berurusan dengan bocah!"
......Flashback......
Golern POV
Hari ini berjalan seperti hari-hari lainnya, sepi, hampa, dan bau asing yang sudah terbiasa kucium. Aku mulai melangkah memasuki bangunan 5 lantai itu, meski sudah termakan usia dan ketinggalan zaman.
Hari ini mobil-mobil mewah masih bertahan untuk tetap parkir ditempat kami. walau banyak orang mengatakan bahwa tempat maksiat ini penuh dosa dan kotor, namun bagiku ini adalah surga tempat aku bisa menyambung hidup.
Saat sudah memasuki bagian dalam bangunan, seluruh anak-anak berlalu lalang dengan membawa konsumen, entah itu sudah mabuk, sadar ataupun ingin kelantai atas.
aku tersenyum simpul saat kulihat seorang customer memberikan penilaian baik terhadap pelayanan salah satu anak terbaikku.
"Ririn."
Ririn menoleh, matanya sembab, bibirnya kering dan sedikit berdarah, sementara tubuhnya bergetar.
"A-aku tidak ingin Seren melihatku seperti ini lagi." Ucapnya gemetar.
ia memegang tubuhnya yang gemetar seolah ingin menghangatkan diri. Aku menatapnya, dalam benakku hanya terucap 'Ada apa dengan dia?'
"Tuan Golern, bolehkah saya membuat satu permohonan?"
aku menghela nafas "Apa itu?"
Ririn menyatukan kedua telapak tangannya, memohon tepat di hadapanku.
"Kumohon, jika suatu saat aku sudah tidak dapat menyembunyikan semua ini, aku mohon kepada anda untuk menyembunyikan Seren. Jangan sampai ia bernasip seperti saya tuan."
...Flashback Off...
'Maafkan aku Ririn, sepertinya anakmu juga bernasib sama.'
Brak!!!
"TUANNN! I-IBUKUU"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
William hanya memeperhatikan polisi yang tengah melakukan investigasi tempat kejadian. Seren berdiri dibelakang William dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. sementara Golern dan Dita dimintai keterangan.
"Ibumu kenapa?" Tanya William.
"Khukhu... Jangan hiks... jangan mengajakku berdebat disaat seperti ini dasar tol*l." Jawab Seren.
"Hmmm..." Balas William.
William melirik kekiri dan kanan, ia mulai mengamati setiap sudut dan mulai berjalan pada satu titik di tempat ibu Seren tinggal.
Polisi yang hendak menahan hanya dapat berdiri di tempat saat William berbalik dan memberikan sebuah barang.
"Sepertinya ini ulah rentenir."Ucap William.
"Kenapa anda beranggapan begitu?" Tanya Seren.
"Sekarang kau yang bodoh, makanya perhatikan sekitar saat kau sedang mencari informasi. Bukannya menangis histeris, kau pikir menangis bisa menyelesaikan masalah?"
Perkataan pedas William sukses membuat Seren kesal. Ia sangat benci melihat makhluk ini. Jika bisa, gantikan saja ibunya dengan setan ini.
"Ini pasti Siska, lintah darat yang selalu meminjamkan uang kepada para Pelacur." Gumam Dita menerawang jauh.
"Lalu, kenapa dia membawa ibuku?" Tanya Seren cepat.
"Itu pasti karna hutang, dan yang paling penting dia adalah orang yang berbahaya. Bahkan ia tidak segan-segan membunuh dan menjual organ tubuh setiap penghutang yang tak dapat membayar. Maaf, tapi aku takut itu terjadi pada Ririn Ren." Jawab Dita panjang lebar.
Seketika wajah Seren pias. Ia terperosot jatuh kelantai dingin. Anggota tubuh seakan mati rasa saat membayangkan kalimat Dita menjadi kenyataan.
Lidah Seren seketika kelu, kalimat yang ingin ia lontarkan-pun tak dapat ia utarakan lagi.
Golern yang menatap tepat kearah Seren merasa tidak enak hati. Ia mengutuk Dita dengan mulutnya yang terlalu licin. Bisa-bisanya Dita membeberkan kemungkinan terburuk disaat seorang anak setengah mati khawatir pada satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki.
Golern menyikut lengan Dita dan langsung diberi tatapan sini oleh sang lawan.
"Apa?" Bisik Dita sepelan mungkin. Ia melirik Golern yang sudah menatapnya sinis.
Dita terkesiap saat mengartikan gerakan bibir Golern padanya dan cepat-cepat mencari kalimat lain saat pria itu semakin menatapnya sinis.
"Yah, meskipun begitu kita juga harus berfikir positif. Mungkin saja ibumu beruntung, siapa yang tau bukan?" Ucap Dita mencoba menenangkan hati Seren.
Namun hati Seren seolah sudah beku.
"Jika semua ini sudah tak berarti, aku izin untuk undur diri terlebih dahulu." Kata William mencoba memecah suasana.
ia melangkah menjauh meninggalkan Seren bersama Dita dan Golern. Namun saat ia teringat satu hal, William seketika berbalik.
"Saat kau sudah selesai disini maka kembalilah ketempatku." Ucap William, setelah itu ia pergi begitu saja.
Sementara Seren hanya dapat melihat ditempatnya, ia mencoba mengusap bekas air mata dipipinya dan mencoba bangkit.
"Istirahatlah terlebih dahulu di salah satu room Seren, nanti Dita akan datang membawa air." Suara Golern menuntun Seren ke salah satu room.
Namun saat sudah dua langkah, suara notifikasi dari smartphone Seren berbunyi. Lekas gadis itu mengeceknya.
"Nomor siapa ini." Ucap Seren membuka isi pesan.
Tuukk..
"Ada apa?" Tanya Golern penasaran.
Ia lekas mengambil Smartphone Seren yang terjatuh, dan saat ia melihat isinya seketika ia syok saat melihat foto Ririn yang sudah meninggal mengenaskan dengan tangan dan kaki yang sudah terpisah.
Tak lama setelahnya, muncul notifikasi yang menyatakan bahwa...
'Meskipun aku mengambil organ Ririn, hutangnya masih tetap menumpuk.'
'Dan aku berharap anak yang ditinggalkan mampu untuk menanggung berkah ini.'
"I-ibuu..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa? Ada masalah apa?" Tanya William saat ia telah sampai.
Tanpa duduk ataupun berbasa-basi William malah langsung memberikan pertanyaan.
"Masih angkuh seperti biasanya." Balas sang lawan bicara menurunkan gelas winenya dengan anggun.
"Kau tau aku tidak suka mengulur waktu jadi cepatlah bicara!"
"Upss... ok, tenang. Tunggu dulu, apa tadi? Apa aku salah dengar atau kau baru saja bilang mengulur waktu?"
Brakkk!!!
Prankkk..
Prannkkk...
Semua piring dan gelas berserakan dilantai, emosi mencuat deras keluar dari diri sang wanita saat mendengar kalimat tidak berdasar yang dikeluarkan William untuknya.
"Bukankah kau yang mengulur waktu untuk pernikahan kita!!!? Kau kabur meninggalkan aku sendirian di atas altar dan sekarang kau bilang aku mengulur waktumu? Dasar pria bejat!"
.........
..........
......................
...TBC...