Elizha gadis berusia 18 tahun, harus rela di nikahi sirih oleh seorang Ceo Cassanova yang egois. Tragedi malam kelam yang berhasil merenggut mahkota indah miliknya itu membuatnya sangat hancur.
Di tambah lagi, Elizha sama sekali tak kenal dengan pria tersebut. Hingga di sebuah pertemuan berikutnya, mereka bertemu dan saling mengikat janji dalam sebuah kontrak pernikanan.
Yakni tertulis, pernikahan resmi akan di gelar setelah anak tersebut lahir.
"Jika anakmu perempuan. Berhentilah berharap, jika anakmu laki-laki... kau akan ku jadikan ratu dalam hidupku" Itulah yang di ucap Gery di sela-sela pranikah.
Akankah ada kebahagiaan dalam hidup Elizha yang terlanjur hancur itu?
Yuk simak...
Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqishe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercahaya dan sangat cantik
***
Gabvin pulang lebih awal setelah percakapan itu. Bahkan ia tak pamit dulu pada Gery, ia pergi begitu saja dan hanya titip pesan singkat pada kepala pelayan Yan.
Pagi pun tiba...
Para pelayan telah berjejer di depan kamar Elizha, Mereka seakan telah siap menunggu mempelai wanita keluar dari kamar yang telah di siapkan Gery untuknya itu.
Kamar Elizha...
Elizha terduduk di depan cermin pagi ini, Ia tampak anggun dengan sebuah gaun pernikahan yang indah dan mewah, bahkan rancangan gaun yang di kenakan Elizha adalah hasil buatan tangan perancang ternama di kota tersebut.
Elizha terduduk di sana selama beberapa menit, wajahnya di rias secantik mungkin olej seorang penata Artistik yang di pesan Gery. Ia memang tampak sangat cantik oleh riasan make up pagi ini, Namun entah kenapa Elizha terlihat tak bahagia. Bahkan tatapan yang terpantul di cermin mengartikan sebuah kekosongan. Elizha tampak tengah melamun di saat para penata itu merias wajahnya sesempurna mungkin.
"Nona. Ayo tersenyumlah... bukankah ini adalah hari bahagia untuk anda?" tanya penata Artistik itu.
Elizha belum menjawab Bahagia? Bagai mana aku bisa bahagia, saat seorang pria yang jelas-jelas telah mengotoriku dan menggores wajah kluarga ku ini menikahiku dengan sebuah pernikahan Siri? Gumam Elizha, terasa peroh di hatinya.
Padahal Elizha ingin menelpon ayahnya, atau bahkan Margaret sahabatnya. Namun semua itu tak bisa ia lakukan atas dasar perjanjian kontrak pra nikahnya bersama Gery. Kini, saat waktu pernikahan itu telah tiba. Hal pertama yang Elizha rasakan adalah kepedihan...
"Nona... apakah anda baik-baik saja? kenapa anda tak menjawab pertanyaan kami?" Tanya kedua penata itu. Elizha hanya bisa tersenyum pahit seraya berusaha menjawab dengan jawaban yang baik "Ya. Saya senang... terimakasih" Jawab Elizha sedikit nggak nyambung.
"Ahahahaha... saya ikut bahagia jika nona mau tersenyum. Sebab anda terlihat sangatlah cantik... Nah, riasan telah selesai. Jadi, ayo silahkan keluar" jelas para penata itu. Para penata itu mulai membantu Elizha untuk berdiri dan mendampingi pengantin tersebut hingga keluar kamar riae itu.
Klek...
"Silahkan nona..." Imbuh para penata Artistik itu. Elizha sungguh di perlakukan layaknya putri hari ini.
Para pelayan amat patuh padanya, dan mendampinginya begitu hati-hati. Elizha tampak seperti bidadari hari ini, dandanan yang ringan dengan polesan bibir merah muda itu. Membuat para pelayan laki-laki tak bisa mengedipkan mata mereka. Setelah berjalan di karpet merah selama beberapa menit menuju ruang tengah, di mana pernikahan sederhana itu di selenggarakan. Sampailah Elizha di tempat tersebut... Gery yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya sama sekali tak sadar jika Elizha sudah selesai berdandan, hingga pak penghulu pun mulai menyeru "Wah. Pengantin wanitanya telah tiba..." Seru penghulu. Barulah Gery mematikan ponselnya dan lekas mendonggakan wajahnya ke arah Elizha yang saat itu masih berdiri di antara para saksi pernikahan.
"Maaf menunggu lama... soalnya kami ingin mempersembahkan hasil riasann yang sempurna" ujar para perias itu. Ketika Gery mendonggakan kepalanya ke arah Elizha. Betapa kaget nya ia, bahkan kedua bola matanya hendak copot dan tak berhenti menatap Elizha, nampaknya kata-kata di bibir Gery hilang begitu saja.
Di-dia... Bathin Gery.
Elizha hanya menatap tanpa banyak bicara, yang jelas dalam hatinya ia merasa sangat kecewa pada pria di hadapannya itu.
Bersambung...