Langit Agam Perkasa, seorang laki laki yang cerdas serta berprestasi terpaksa menjadi badboy karena keadaan yang memaksanya, Langit tidak pernah memiliki hasrat untuk hidup setelah seseorang di hidupnya dan penyemangatnya pergi meninggalkannya hal itu membuat Langit jauh dari Allah dan dari agama ia berfikir bahwa masalah yang ada di hidupnya karena takdir yang Allah berikan padanya. Namun Langit sadar setelah ia bertemu dengan seorang gadis yang Langit sendiri tidak tau namanya tapi dia menyebutnya Bidadari Syurga. Langit tidak tau bahwa dari pertemuan itu lah kehidupannya akan berubah dan Langit juga tidak tau bahwa itu adalah awal dari sebuah perjuangan panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Verra Vidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Suasana pagi ini terlihat sangat cerah,namun tidak secerah wajah Binar hari ini yang terlihat sangat kesal entah apa penyebab kekesalan gadis cantik keturunan arab itu.
"Binarr hei woy tunggu!"
Binar semakin mempercepat langkahnya setelah mendengar panggilan dari Arfan yang berlari di belakang nya dan terus mengejarnya hal itu menarik perhatian para murid perempuan Sma Bukti.
"Eh itu bukannya Arfan ya? Yang anak baru di kelas XI IPA B?"
"Iya bener itu Arfan tapi ngapain dia ngejar ngejar Binar?"
"Alah palingan juga si Binar mau caper sama si Arfan,sok alim banget emang tuh anak!"
Binar yang mendengar itu segera mempecepat langkahnya meninggalkan Arfan yang sedang tebar pesona. Arfan yang sadar kalau Binar kembali mempercepat langkahnya ia pun segera berlari mengejar Binar,namun Arfan menghentikan langkahnya ketika melihat Binar juga menghentikan langkahnya. Dari tempat nya berdiri saat ini Arfan bisa melihat Binar sedang berbicara dengan seorang pria,mereka berdua terlihat sangat akrab sekali dan entah mengapa membuat Arfan merasakan sesuatu mengusik hatinya.
"Assalamu'alaikum" sapa Binar saat berpapasan dengan Petang di koridor kelas.
"Wa'alaikumsalam Binar" jawab Petang ramah.
"Petang aku mau bicara sesuatu sama kamu"
"Mau bicara apa?" Tanya Petang penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Binar,ia melihat Binar nampak gelisah. Petang yang paham dengan kegelisahan Binar pun segera mengajaknya untuk bicara di taman saja daripada Binar tidak nyaman dengan tatapan para siswi yang terang terangan menatapnya tak suka.
"Petang aku mau tanya soal Langit sama kamu" ujar Binar,Petang tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya ia sudah menduga bahwa hal itulah yang akan Binar tanyakan padanya.
"Sudah dua minggu ini Langit gk pernah masuk sekolah lagi,dia kemana? Apa dia baik baik aja?" Tanya Binar pada Petang,Petang pun hanya bisa bungkam.
"Petang? Kenapa diem aja? Kamu pasti tau kan Langit kemana?"
"Maaf Binar aku gk tau Langit kemana."
Berbohong,Binar tau Petang sedang berbohong padanya dan Binar juga tau bahwa Petang sedang merahasiakan sesuatu darinya yang berhubungan dengan Langit.
"Aku pergi dulu ke kelas,bye" kata Petang lalu pergi meninggalkan Binar sendiri di taman.
'Langit sebenarnya kamu kemana? Apa kamu baik baik aja? Langit,kayanya aku mulai khawatir sama kamu'
[]
"Binar! Lo darimana aja? Dari tadi gue nyariin lo tau" kata Raya yang langsung berhambur memeluk Binar.
"Lo kenapa? Kok muka lo kaya orang gk punya semangat hidup sih"
"Nggak kok aku gk apa apa" jawab Binar dengan senyumannya yang di paksakan
"Kalau ada apa apa lo bisa cerita sama gue Insyaallah gue bakalan bantu kalau gue bisa bantu."
Binar menatap Raya yang sedang tersenyum tulus padanya,haruskah? Haruskah ia menceritakan semuanya pada Raya? Haruskah ia menceritakan kekhawatirannya pada Langit?
"Seriusan aku beneran gk apa apa,ayo kita ke kelas" ajak Binar sambil mengengam tangan Raya dan berjalan bersama menuju kelas mereka.
Raya POV
Sedaritadi aku terus memperhatikan gerak gerik Binar,aku yakin bahwa ada yang aneh dengan teman sebangku gue ini. Karna tidak biasanya Binar tampak murung,sejauh aku mengenal Binar dia adalah gadis yang ceria dan tidak pernah murung seperti ini.
"Oy...Nenek Lampir!"
Aku menoleh karna aku seperti mengenali suara ini dan ternyata benar dugaanku itu adalah suara Arfan ia sedang berdiri di samping meja Binar,ia melihatku dan tersenyum padaku Ya ampun senyumannya manis banget gk tahan dede liat nya eh- maap maap terlalu frontal :)
Aku memperhatikan Arfan yang sedang mengoda Binar,namun tidak seperti biasanya setiap kali di goda oleh Arfan Binar akan benar benar kesal dan ia pasti akan pindah ke tempat Anita namun kali ini tidak ia tetap bertahan di posisi nya dan sepertinya Binar tidak memperdulikan oceham Arfan dan menganggapnya mahluk tak kasat mata kasian sekali Arfan ini.
"Woi nenek lampir lo sakit gigi ya? Dari tadi diem aja"
Dan ya lihatlah para pembaca sepertinya Arfan sudah lelah mengoda Binar yang tidak ada responnya sama sekali karna dari tadi Binar yang hanya diam menatap bukunya,namun aku tau walaupun kini matanya sedang menatap buku di hadapannya tapi fikirannya saat ini sedang tidak bersama dengannya.
Author POV
"Lo kenapa sih? Dari tadi diem aja? Lo sehat kan ya?" Tanya Arfan yang sedang menatap Binar yang terlihat sangat berbeda hari ini.
"Raya aku mau ke kamar mandi dulu" pamit Binar yang langsung bangkit dari tempat duduknya sementara Arfan dan Raya hanya bisa menatap kepergian Binar dengan tatapan bingung.
"Kayanya beneran deh" guman Arfan yang masih bisa di dengar oleh Raya.
"Beneran apanya?"
"Iya kayanya beneran deh temen sebangku lo itu lagi ke sambet" ujar Arfan dengan tangannya yang mengelus dagunya dan menganguk anggukkan kepalanya.
Pletakk
"Adaw,sakit ray" ujar Arfan sambil mengelus kepalanya yang menjadi korban pukulan Raya.
"Makannya jangan asal ngomong" ujar Raya yang menatap tajam Arfan,lalu pergi meninggalkan Arfan.
"Ternyata bener ya cewek tuh emang sulit di pahami ck ck" Arfan berujar sambil berdecak dan mengelengkan kepalanya kemudian terkekeh entahlah padahal tidak ada yang terlihat lucu saat ini.
[]
"Binar tungguin gue!" Teriak Raya yang berlari mencoba mengejar Binar yang berada jauh di depannya.
Brukkkk
"Raya!" Pekik Binar saat ia mendengar suara gaduh dari arah belakangnya,dari tempat ia berdiri Binar bisa melihat Raya sudah jatuh terduduk sambil memegangi kaki nya dengan wajahnya yang seperti menahan kesakitan. Binar pun hendak melangkahkan kakinya menghampiri Raya namun ia urungkan saat ada seseorang yang lebih dahulu menghampiri Raya membuat langkah Binar terpaku di tempatnya.
"Sini tangan lo!" Ujar orang itu sambil mengulurkan tangannya pada Raya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya meringis menahan rasa sakit di kakinya.
"Ck ayo"
"Eh lepasin!" Ujar Raya yang tiba tiba saja tangannya di tarik oleh orang tersebut,Raya pun terdiam tidak memberontak lagi saat tau siapa orang yang menarik tangannya itu.
"Ayo gue anter lo ke UKS,luka lo harus di obatin biar cepet sembuh" lagi lagi Raya hanya bisa bungkam sambil menatap wajah seseorang di hadapannya ini yang sedang menyungingkan senyuman padanya,hal itu membuat Raya berfikir apakah ini nyata? Atau mungkin ia sedang bermimpi?
"Eh lepas woi! Heh! Turunin gue!" Raya memberontak dalam gendongan orang tersebut yang tiba tiba saja mengendongnya ala bridal style menuju UKS.
"Diem!" Ujar orang itu dengan suaranya yang memerintah membuat nyali Raya ciut ia pun diam tidak memberontak lagi,ia menatap wajah orang yang sedang mengendongnya saat ini dan tanpa Raya sadari ia pun menyungingkan senyuman entah kenapa berada di gendongan orang ini membuat Raya kesulitan bernafas sekaligus merasa nyaman.
Sementara itu Binar yang sedaritadi hanya diam menjadi penonton dari jarak yang agak jauh hanya bisa terdiam,lidahnya terasa kelu untuk sekedar berucap satu kata pun ia tak mampu,matanya memanas,hatinya terasa nyeri bagai di tusuk ribuan belati. Binar mencoba berpegangan pada tembok untuk menahan tubuhnya yang hampir saja ambruk,ia juga tidak tau kenapa tubuhnya terasa selemah ini yang pastinya itu semua karna ulah seseorang yang tadi ia lihat sedang menolong teman sebangkunya,orang itu berpengaruh besar terhadap hatinya yang terasa sakit saat ini.
"Langit.." lirih Binar hanya kata itulah yang mampu ia ucapkan saat ia melihat seseorang yang selama ini ia nanti berada di hadapannya sedang bercengkrama dengan sahabatnya,ada perasaan sedih sekaligus senang di hatinya saat tau bahwa Langitnya sudah kembali ah ralat bukan Langitnya tetapi hanya Langit ya karna ia tidak punya hak untuk menyebut Langit sebagai miliknya.
"Astagfiruallahaladzim.."lirih Binar mencoba meredakan gemuruh di dadanya yang semakin terasa menyesakkan,setelah merasa tenang Binar pun melangkah perlahan kembali ke kelasnya karna jam pelajaran masih berlangsung.
satgas tni konga unifil 2018
malah curhat gw... wkwkwkwk
ak jd kangen bpk ku thorrr...semoga bpk selalu bahagia di rumah allah..amin...
ak tau rasanya macam mana di tinggal seseorang yg sangat berharga untuk selamanya...
top karyamu thoor
kasian Evelyn,melht dan mendengar orng yg iya cintai mencintai orng lain😭😭
kasian jugaa sama binarrr,,kuatt yaa binarr😭