Novel ini masih dalam tahap revisi ya, Kak? Jadi maaf kalau tulisan masih berantakan. 🙏 Udah Revisi bab 1-23 ya, Kak. Yuk Cek.....
Andini terpaksa menikah dengan Rico karena di desak oleh Dinda. Itu semua karena Dinda belum bisa memberikan keturuan pada Rico. Pernikahan Rico dan Dinda selama sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan. Dengan terpaksa dan tanpa cinta Rico mau menerima permintaan Dinda untuk menikah dengan Andini.
Akankah Rico bisa menerima Andini dan mencintai Andini, setelah Andini memberikan buah hati untuknya? Atau sampai kapan pun Rico tidak bisa menerima kehadiran Andinni sebagai istri keduanya, sekaligus sebagai pengganti Dinda, setelah Dinda pergi menghadap Sang Khalik karena sakit yang tidak bisa disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Rico duduk bersandar di kursi kebesarannya di kantor. Pekerjaan hari memang sangat menguras tenaga dan pikirannya. Selama satu minggu, dia meninggalkan pekerjaannya di kantor. Laporan menumpuk, untung dia memiliki orang kepercayaan di kantornya. Bayu, dia adalah orang kepercayaan Rico, dan selama dia satu minggu di rumah setelah kepergian Dinda, Bayulah yang mengurus semua laporan kantor. Tapi, tetap saja, kantor juga butuh Rico untuk hal lainnya.
Bayu masuk ke dalam ruangan Rico. Bayu tahu, pasti Rico membutuhkannya, karena tidak mungkin setumpuk laporannya langsung habis dikerjakan Rico sendirian.
“Ada yang belum selesai, Ric?” tanya Bayu.
“Tinggal ini, sebentar lagi selesai, tinggal aku cek, Bay,” jawab Rico. “Kamu sudah selesai kerjanya?” tanya Rico.
“Sudah, sini mau aku bantu?”
“Tidak usah, Bay, ini sudah selesai.”
“Kamu enak ya, Ric? Ditinggal Dinda, masih punya istri lagi?” ujar Bayu.
“Enak apanya? Justru ini menjadi beban untukku, Bay. Ini permintaan Dinda, dia meminta lagi ibunya Arsyad untuk pulang ke rumah,” jawab Rico dengan mendengus kesal, dan memijit keningnya.
“Jangan gitu, Ric. Pilihan istri pertama pasti lebih baik. Aku penasaran sekali sama istri mudamu, Ric? Seperti apa gitu? Sampai-sampai Dinda memilih dia untuk jadi istri keduamu?” Tanya Bayu dengan raut wajah penasaran. Dia memang belum melihat istri kedua Rico. Saat Rico menikah dengan Andini, Bayu memang tidak datang, dan saat Melayat Dinda kemarin, Bayu juga tidak bertemu dengan Andini.
“Dia cantik, cantik sekali ... sama seperti Dinda, dan bahkan persis, dari postur tubuhnya, rambutnya, paras wajahnya, hampir mirip Dinda. Tapi, aku tidak mencintainya, dan aku terpaksa sekali, sekarang dia di rumahku, menggantikan Dinda, yang tidak akan pernah terganti di hidupuku,” jelas Rico.
“Jangan seperti itu, Ric. Kamu harus belajar menerima kehadirannya. Dia juga istri sah kamu, pilihan Dinda lagi? Biarkan Dinda tenang di Surga. Meski aku belum tahu bagaimana istri keduamu, tapi aku percaya dia wanita baik, Ric. Belajarlah mencintai dia, Ric. Kasihan Arsyad juga, kan? Mau dia tumbuh tanpa sosok ibu?” tutur Bayu.
“Teori sih gampang, Bay. Tapi, sulit untuk praktiknya. Aku sudah berusaha, Bay. Selama satu minggu aku berusaha untuk menerima sosok dia kembali di rumahku, tapi aku tetap tidak bisa. Aku malah semakin benci dengan keadaan ini, Bay,” ucap Rico.
“Jangan gitu, Ric. Nanti kalau dia pergi, kamu baru deh ngerasain bagaimana ditinggal dia. Istri yang tidak dianggap, suatu hari bisa pergi, kalau dia merasa ada seseorang yang membuat dia nyaman, Ric,” ucap Bayu.
“Sok tahu kamu, Bay! Gak usah seperti itu, kamu saja selama ini masih jomlo? Sudah tua kapan mau nikah? Mau jadi perjaka tua kamu?!” tukas Rico.
“Gak usah bahas jomlo lah, Ric! Aku masih mencari perempuan yang sangat aku cintai, tapi aku tidak tahu sekarang dia di mana? Dan, aku yakin, aku pasti bertemu dia suatu hari nanti. Dia teman kecilku, Ric,” ucap Bayu.
“Halah ... kamu itu, ngeles saja! Bilang sajalah belum laku, Bay!” kelakar Rico.
“Aku senang, akhirnya kamu tertawa seperti itu. Tapi, ini memang kenyataan, Ric. Aku masih mencari teman kecilku, yang sangat aku cintai. Semoga saja dia belum menikah, Ric,” ucap Bayu dengan pandangan yang menerawang, memikirkan sosok perempuan yang sangat dicintainya.
“Sudah, jangan menghalu! Cari perempuan lain sajalah, masih banyak, kan? Sudah aku pamit pulang, ya? Kamu mau ikut?”
“Kalau bisa, aku sudah cari perempuan lain, Ric, tapi tidak bisa. Sudah sana pulang, aku gak mau ikut, nanti ganggu yang sedang PDKT sama istri muda,” gurau Bayu.
“PDKT kayak anak remaja saja!” tukas Rico.
Rico langsung pamit pada Bayu untuk pulang. Di perjalanan pulang, Rico masih saja memikirkan ucapan Bayu tadi. Benar yang dikatakan Bayu, kalau dirinya harus bisa menerima keadaan sekarang. Toh Andini juga pilihan Adinda untuk melanjutkan menemani dirinya.
“Maafin aku ya, Ndin? Mungkin saat ini, keadaanku belum stabil. Tapi, aku tidak bisa memaksa, aku butuh waktu untuk bisa menerima keadaan ini, Ndin,” gumam Rico.
Rico sampai di rumahnya, dia melihat Andini yang sedang menata makan malam. Memang aku pulang agak malam, karena tadi dia mampir ke makam Dinda, dan mampir ke tempat favorit Rico bersama Dinda dulu saat masih bersama.
“Sudah pulang, Mas?” tanya Andini.
“Hmm ... Iya,” jawab Rico singkat.
“Bersih-bersih, lalu makan malam, Mas. Aku sudah masakin kesukaan mas,” ucap Andini.
“Aku tidak lapar,” jawabnya dengan berlalu.
“Oke,” jawab Andin dengan lirih.
Rico masuk ke dalam kamarnya, dia duduk di tepi ranjang, memijit keningnya. Ada rasa bersalah pada Andini saat dia menolak ajakan Andini untuk makan malam. Padahal Andini sudah capek memasak untuknya. Tapi, melihat Andini, dia semakin sakit hatinya.
^^^
Andini menaruh kembali masakannya ke dalam lemari yang ada di dapur. Sia-sia sudah Anidni memasak untuk Rico, tapi akhirnya Rico tidak mau menyentuh masakannya. Andini mengusap air matanya yang terus mengalir di pipinya. Cinta, bagaimana Andini tidak jatuh cinta pada sosok yang pertama kali mengambil sesuatu yang berharga dari dirinya meski tidak ada cinta. Bagaimana dia tidak jatuh cinta dengan Rico yang sangat tampan dan sangat lembut tutur katanya saat sebelum Dinda meninggal?
“Apa sesakit ini mencintaimu, Mas?” gumam Andini dengan menyeka air matanya.
Andini sudah selesai menata makanannya di dalam lemari. Dia keluar dari dapur, tapi tubuhnya sedikit terpental karena menabrak seseorang yang juga akan ke dapur.
“Aww ...!” pekik Andini.
“Mas Rico? Maaf aku tidak lihat, Mas,” ucap Anidni dengan menundukkan kepalanya.
“Lain kali hati-hati jalannya!” tukas Rico dengan wajah yang dingin.
“Iya, Mas,” jawab Andini.
Andini melihat Rico yang mengambil cangkir dan wadah yang berisi kopi. Andini tahu Rico ingin membuat kopi, dan dia dengan baik menawarkan diri untuk membuatkan kopi.
“Sini aku saja yang buat, Mas,” ucap Andini lembut.
“Tidak usah! Aku bisa sendiri! Pergi dari sini! Aku tidak mau mengulang kata-kataku, Andini! Sudah jelas dan sudah tahu, kan? Kalau kamu di sini hanya untuk Arsyad? Bukan untuk aku! Apa kemarin kata-kata itu belum jelas? Atau kamu sudah lupa? Silakan pergi dari sini!” jawab Rico dengan kasar, dan tatapan yang murka pada Andini.
“Iya, maaf, Mas.” Ucap Andini dengan suara serak dan menyeka air matanya.
“Ndin, maaf. Aku tidak bermaksud bicara kasar dengan kamu, maafin aku,” ucap Rico dengan rasa bersalah, melihat Andini yang menangis.
Memang Rico sedikit membentak Andini. Tapi, Andini sadar, kalau di sini dia hanya untuk Arsyad, bukan untuk Rico.
Andini langsung pergi meninggalkan Rico. Dia menangis, di kamarnya. Tapi, setelah melihat Arsyad, dia seakan memiliki kekuatan lagi. Andini mengusap air matanya, tersenyum melihat Arsyad yang sudah tertidur pulas di sampingnya.