Ifdha Apriliani wanita berumur 26 tahun yang di anggap mandul oleh Ibu mertuanya karena sudah lebih dari tiga tahun menikah dia tak kunjung juga hamil.
Sampai akhirnya saat suaminya meninggal Riyan Askara lalu memutuskan menikah dengan Rival Anggara karena sebuah wasiat dari mendiang suami. tiba-tiba dirinya dinyatakan hamil 18 minggu.
SEASON DUA. bercerita tentang Ezra dan Ajma. anak dari Ifdha dan temanya Ella, tidak kalah seru loh.
Bisa di lanjut baca AZRANA, cek di profil author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aovvie viie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENINGGALKAN UNTUK SELAMANYA
💐💐💐💐 💐💐💐
Rival yang melihat semua kejadian itu mengepalkan tanganya. darahnya mendidih menahan rasa marah yang ada pada dirinya.
Rival tidak terima Wanita yang di cintai di perlakukan kasar seperti itu.
Di tampar dengan suara yang begitu nyaring di indra pendengeranya.
Pasti itu sangat sakit dan kebas, bukan hanya di perlakukan kasar, tapi juga di hina habis-habisan oleh sang Mertua.
Bagaimana bisa Ifdha diam saja. saat di perlakukan buruk oleh Ibu Mertuanya.
Apa mungkin dia sudah terbiasa di perlakukan seperti tadi?.
Sumpah demi apapun rasanya Rival ingin membalas dengan menampar balik Qanita tua itu, tapi semua itu tidak mungkin.
Rival berjalan mendekat ke arah mereka.
"Tolong jangan buat keributan!! ini Rumah Sakit!! tegasnya memperingati.
"Memangnya anda ini siapa?? baru datang sudah langsung ikut campur saja!!" sinis Ibu Ruyan.
"Perkenalkan. saya Rivaldi Atasan Riyan"
Pak Nurdin suami Ibu Sari dengan sopan menjabat tangan Rival, dan mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf atas kelakuan Istrinya yang tadi sudah membuat keributan.
Ceklek ..
Mereka berempat mengalihkan pandangan ke pintu Ruangan Inap Riyan. sorang Suster keluar dan menghampiri mereka.
"Maaf!! siapa di sini yang bernama Nona Ifdha dan juga Tuan Rivaldi?? Pasien sudah sadar dan ingin bertemu."
Ifdha dan Rival langsung masuk ke dalam.
Sedangkan Bu Sari memaksa masuk ke dalam ingin melihat putranya.
Suster dengan sigap melarangnya masuk.
"Maaf Nyonya!! anda tidak boleh masuk, tolong tunggu di luar." perintahnya.
"Saya ini Ibunya!! dia Putra saya!! kenapa anda malah melarang saya bertemu Anak saya sendiri??"
"Mohon maaf Nyonya, biarkan Pasien bertemu dulu dengan ke dua orang tadi. setelah mereka selesai anda baru boleh masuk."
"Sudahlah Bu .. kita tunggu saja dulu di sini, mungkin saja Riyan ingin berbicara dengan Ifdha dan Tuan Rivaldi."
Mau tidak mau Bu Sari menunggu duduk di kursi.
Ifdha berjalan mendekat ke Suaminya.
"Mas udah sadar? apa yang sakit Mas? apa yang Mas rasain? Mas pengen apa bilang aja sama aku Mas?" tangis Ifdha pecah di depan Suaminya itu tak kuasa menahan kesedihan.
"Sayang, Mas tidak apa-apa. jangan menangis lagi yahh." mengusap lembut air mata di pipi Ifdha.
"Bagaimana aku ga mau sedih Mas, kenapa Mas ga cerita kalau Mas sakit? kenapa Mas ga jujur semuanya sama aku? apa Mas ga anggap aku Istri Mas? aku minta maaf Mas!!aku merasa sangat bersalah, karena tidak mengetahui kalau Suamiku ternyata sedang sakit parah." semakin kencang suara tangis Ifdha.
"Sayang, jangan bikin Mas tambah sedih yah?? kamu harus kuat, kamu juga harus ikhlas kalau seandainya terjadi sesuatu sama Mas."
"Gak Mas!! gak!! Mas ga boleh ngomong gitu. Mas bakalan sembuh. aku bakalan ngerawat Mas, aku juga bakalan selalu nemenin Mas berobat sampai penyakit Mas sembuh."
"Sayang, heii .. dengerin Mas, kamu mau kan melakukan sesuatu buat Mas untuk terakhir kalinya.?"
Mengangguk pelan.
"Tuan Rivaldi, anda kemaren sudah berjanjikan pada saya akan menjaga dan melindungi Ifdha Istri saya??"
"Yah .. saya berjanji untuk itu!!"
"Kalau nanti saya pergi boleh saya meminta satu hal lagi pada anda Tuan??"
"Saya akan melakukan apapun itu untukmu anda!!"
Senyum samar tercetak di wajah pucat Pria yang sedang terbaring .
"Kalau saya benar-benar sudah pergi. tolong menikahlah dengan Ifdha? dengan begitu saya bisa tenang meninggalkanya. karena benar-benar ada anda yang akan menjaga dan melindunginya nanti. tolong bahagiakan dia berikan kebahagiaan yang belum sempat saya beri Tuan!!"
Ifdha dan Rival sontak kaget dan juga bingung.
"Mas? apa yang Mas bicarakan? jangan konyol Mas! Mas bakalan sembuh itu pasti aku yakin itu!!"
"Tuan tolong jangan bicara seperti itu. lebih baik anda beristirahat saja, agar bisa cepat sembuh." sela rival.
Tiba-tiba pintu terbuka lebar, Ibu Sari menorobos masuk ke dalam.
"Kenapa kalian lama sekali? Riyan kamu ga papa kan nak? kenapa kamu ga kasih tau kalau kamu lagi sakit? kamu pasti bakalan sembuh Ibu yang akan merawat kamu. Ibu tidak akan membiarkan Wanita pembawa sial ini mengurus kamu!!"
"Bu!! .. tolong jangan berkata seperti itu, Ifdha itu Istriku. Bu kalau nanti Riyan pergi Ibu sama Bapak sehat-sehat yah. jaga kesehatan,
Riyan juga ingin titip Ifdha sama Bapak ibu, tolong perlakukan Ifdha dengan baik."
"Apa yang kamu bicarakan Riyan!? Ibu yakin kamu pasti sembuh!! Ibu sama Bapak janji akan merawat kamu sampai sembuh."
Pak Nurdin tidak sanggup berkata-kata apapun. Anak semata wayangnya sedang terbaring sekarat di depan matanya. dia mengadahkan pandanganya ke atas agar air mata yang sudah berada di pelupuk mata tak terjatuh.
"Sayang .. kamu mau kan melakukan permintaan terahir Mas? menikahlah dengan Tuan Rival. dia pasti bisa membuat kamu aman juga bahagia. Mas sudah mempercayakan kamu sama Tuan Rival. Tuan anda mau kan menikahi Ifdha??"
Tentu saja Rival sangat-sangat mau. bahkan ingin sekali menikahi Wanita yang dia cintai,
tapi bukan seperti ini caranya.
Mau tidak mau dua orang itu mengangguk bersama.
"Riyan apa yang kamu katakan tadi !! kenapa kamu malah meminta Tuan Rivaldi menikah dengan Wanita pembawa sial dan mandul ini!! timpal Bu Sari tak terima.
"Bu!! jangan bikin Riyan tambah tertekan!!"
"Pak, tapi ini ga bener. Ibu cuma mau__.."
perkataan Bu Sari di tahan oleh Suaminya.
"Sekarang Riyan udah tenang. sayang maafin Mas belum bisa buat kamu bahagia."
Dengan nafas tercekat Riyan berkata. setelah itu dia menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya .
Ifdha langsung menggeleng berteriak memanggil Suaminya yang sudah pergi itu.
"Ga mas!! bangun aku bakalan lakukin apapun yang Mas minta!! tapi tolong bangun jangan tinggalin aku Mas, aku ga mau sendiri!!"
Hikss.. Hikss .. tangisnya kembali pecah dan lebih kencang. begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarkanya .
"Riyan .. Riyan .. bangun Nak Ibu di sini jangan tinggalin Ibu sama Bapak??"
Ibu Sari pun sama-sama menangis tersedu-sedu. melihat Putranya yang kini sudah pergi selamanya .
Begitu pun Pak Nurdin. yang juga ikut menangis tak kuasa lagi membendung kesedihan, tanganya beliau gunakan untuk memeluk dan memenangkan Istrinya .
Rival yang begitu syok melihat semua kejadian itu hanya bisa terdiam membeku di tempatnya.
Dia bingung sekaligus tidak menyangka. Riyan akan pergi secepat ini. sungguh ini membuatnya sulit berpikir dengan baik.
Kini ruangan itu berubah menjadi tempat tangisan yang masih mengalun terdengar begitu pilunya.
Doktet dan Suster pun datang untuk melihat keadaan yang sebenarnya.
Dokter pun dengan terpaksa harus berkata. bahwa Riyan memang sudah meninggal
Beberapa menit yang lalu.
💐💐💐💐💐