Sebagaimana Tata Surya berada dalam lintasan rotasinya, demikianlah hidup seseorang berada dalam lintasan garis kehidupannya.
Diantara banyaknya garis kehidupan, yang paling sering menjadi perbincangan dan menarik untuk dikisahkan adalah :
*Garis Kehidupan Percintaan*
Karena di garis ini, ada banyak unsur dalam diri seseorang yang bisa mempengaruhi hidupnya dan hidup orang lain.
Sebagaimana garis kehidupan percintaan gadis bernama Kandara Suwendra, seorang Programmer dari Indonesia dengan Darel Kei, seorang member boyband yang terkenal dari Korea Selatan.
Mungkin menurut perspektif kita, Darel dan Kandara berada dalam lintasan garis kehidupan yang berbeda.
Tetapi bukankah ;
"Kehidupan ini, ada yang mengaturnya?"
*Ini karya pertamaku. Mohon dukungannya, ya.🙏🏻❤
*Selamat Membaca.*
🙏🏻Semoga terhibur dan tetap semangat.😊❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Hamil.
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Setelah perpisahan Kandara dengan Lucha, dia menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menumpuk. Sehingga tidak menyadari banyaknya waktu yang sudah dilewati. Dia mulai melupakan semua yang dialaminya dan menyedihkan hati.
Dengan hati lapang dia menerima dan menjalani setiap proses hidup yang datang beruntun padanya. 'Mungkin Tuhan sedang mendewasakan diriku.' Kandara membatin dan menyemangatinya.
Pagi ini, Kandara bangun seperti biasanya. Dia melakukan aktivitas rutin sebelum berangkat ke kantor. Membantu Mamanya membersihkan rumah. Tiba-tiba dia merasa pusing, tetapi hanya sebentar, lalu hilang. Hal itu sering terjadi beberapa waktu belakangan ini, tapi Kandara mengabaikan. Karena dia berpikir, mungkin terlalu lelah.
Setiba di kantor, beberapa rekannya sudah masuk kerja, diantaranya Yeni. Ketika melihat Kandara, alis Yeni bertaut. "Dara, kau sedang sakit?" Tanya Yeni.
"Ngga, ada apa Ni?" Kandara balik bertanya, heran.
"Tetapi wajahmu kelihatan pucat." Ucapan Yeni membuat beberapa kepala rekannya jadi menengok, diantaranya Mala.
"Ooh, mungkin karena tadi, aku merasa agak pusing. Tapi sekarang sudah tidak lagi." Kandara coba tersenyum ketika melihat wajah khawatir Mala.
Ketika sudah duduk di mejanya, Mala mendekatinya dan menatap wajahnya dekat. Kandara sampai mendorong bahunya sambil tersenyum melihat tingkah Mala.
"Tetapi Dara, apa yang dikatakan Yeni itu benar. Pagi ini wajahmu agak pucat. Seharusnya tadi kalau sudah merasa pusing, tidak usah ke kantor." Ucap Mala, lalu kembali ke meja kerjanya.
Kandara mengambil ponsel untuk melihat wajahnya. 'Mungkin aku lupa pakai lipstik. Ternyata aku pakai lipstik, tetapi memang kulit wajahku terlihat agak pucat.' Batinnya.
"Bagaimana, benar, kan? Wajahmu terlihat pucat bukan karena tidak pakai lipstik." Mala mengerti apa yang dilakukan Kandara.
"Nanti kalau Pak Ari sudah masuk, kau minta ijin saja. Belakangan ini kita banyak kerjaan, mungkin kau kecapean." Ucap Mala lagi.
"Baiklah Mas, nanti aku minta ijin, kalau Pak Ari sudah datang. Khawatir juga kalau sering pusing." Mala mengangguk mengiyakan.
^^^Toby yang baru masuk kerja dan mendengar apa yang dikatakan Mala, menyetujui agar Kandara pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya.^^^
^^^Setelah Pak Ari masuk ke ruang kerjanya, Kandara segera menuju ruangannya untuk minta ijin, mau ke Rumah Sakit. Melihat wajah Kandara yang pucat, Pak Ari langsung mengijinkannya.^^^
Beberapa saat kemudian, Kandara telah mengantri di tempat praktek dr. umum di Rumah Sakit terdekat dengan kantornya. Setelah tiba gilirannya, Kandara masuk memeriksakan kesehatannya.
Dokter bertanya tentang keluhannya dan memeriksa tubuhnya. Setelah selesai memeriksa Kandara, dokter menatapnya dengan tersenyum dan mengatakan: "Selamat ya, Bu. Anda sedang hamil." Kandara langsung membeku.
"Supaya lebih pasti kondisi bayi dan usia kandungannya, saya akan merujuk Ibu ke dokter kandungan." Ucap dokter lagi tanpa melihat Kandara yang sedang terkejut, dan diam membeku.
Ketika dokter melihat pasien yang di depannya tidak bereaksi terhadap apa yang disampaikannya, dokter langsung menepuk bahunya perlahan. Kandara tersadar, mengiyakan dan dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini resep obat yang harus Ibu tebus dan minum. setelah itu, silahkan periksakan diri ke dokter kandungan. Karena usia kandungan Ibu masih muda, jangan terlalu lelah dan hindari stres." Nasehat dokter lagi sambil melihat Kandara.
Kandara hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia keluar dari ruangan dokter sambil berjalan dalam diam ke Apotik yang ada di Rumah Sakit untuk menebus obat yang diresepkan dokter.
Ketika menunggu obat, tiba-tiba Kandara mendengar lagu Melo di TV ruang tunggu Apotik Rumah Sakit. Kandara menatap dalam diam layar TV dengan mata berembun. Hatinya menjerit berkali-kali memanggil nama Darel.
'Apa yang harus kulakukan terhadap anak ini, Darel.' Kandara membatin dan hatinya terus menjerit menyebut nama Darel, dengan genangan air mata.
...°-° Kadang hidup mengharuskan kita harus memilih, walaupun itu sulit dan menyakitkan °-°...
Setelah menerima obat, Kandara berencana ke butik Mamanya. Tetapi ditengah perjalanan dia mengurungkan niatnya dan langsung pulang ke rumah. Dalam kepanikan dan kekalutan, nuraninya menggerakan akalnya untuk berpikir baik. Karena alangkah baiknya berbicara dengan Mamanya di rumah.
Ini bukan persoalan biasa, yang bisa dibicarakan di sembarang tempat. Bagi Kandara dan Mamanya, ini adalah persoalan hati yang berdarah-darah. Sebuah persoalan hidup dan mati.
Sampai di rumah, Kandara langsung masuk kamar, bertelut dan berdoa : "Ya, Tuhan. Ampunilah kami yang telah bersalah ini. Aku mohon pertolongan-Mu, sangat. Agar aku tidak salah mengambil keputusan. Amin."
Dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dibendung, Kandara memegang dan mengelus perutnya. Kandara mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk Bu Selvine. 📱"Ma, Dara sedang di rumah. Bisakah Mama pulang ke rumah?"
📱"Baiklah, sebentar lagi Mama pulang." Bu Selvine menjawab pesan Kandara.
^^^Bu Selvine langsung merapikan pekerjaan, lalu serahkan kepada Asistennya. Beliau yakin sedang terjadi sesuatu dengan Kandara. Karena tadi pagi sudah mengantarnya ke kantor.^^^
Setelah parkir mobil di halaman rumahnya, Bu Selvine langsung masuk rumah dan menuju kamar Kandara. Ketika melihat Kandara sedang duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lututnya dan menangis, Bu Selvine jadi panik.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau seperti ini?" Tanya Bu Selvine sambil mendekati Kandara. Mendengar suara Mamanya, Kandara langsung turun dari tempat tidur dan berlari memeluk kaki Mamanya.
"Mama... Maafkan Dara, Ma." Ucap Kandara dalam tangis. Bu Selvine makin heran melihat putrinya. Bu Selvine mengangkat Kandara dan memeluknya.
"Ada apa, Dara. Bicarakan dengan Mama. Jangan begini, Mama makin bingung. Berhenti menangis dan bicaralah dengan Mama." Kandara menahan tangisnya, menatap Mamanya dengan mata yang sembab dan senggukan.
^^^Mamanya mengangguk dan mengusap pipi Kandara yang basa oleh air mata. Bu Selvine mencoba menenangkan dengan mengelus pungungnya.^^^
"Bicarakan dengan Mama, ada apa." Bu Selvine memegang pipi Kandara. Wajahnya sudah memutih dan dingin. Hal itu membuat Bu Selvine merasa khawatir dan takut.
Kembali Kandara memeluk Mamanya, sambil senggukan dia berkata pelan. "Dara sedang hamil, Ma. Maafkan Dara." Ucap Kandara sambil melepaskan pelukannya dan mengatup kedua tangannya di depan dadanya.
^^^Bu Selvine tertegun diam dan berharap salah mendengar. Tetapi melihat kondisi Kandara, beliau yakin itu yang terjadi.^^^
"Siapa lelaki itu? Lucha?" Tanya Bu Selvine semakin khawatir. Karena beliau tahu, Lucha ada hubungan dengan Kandara dan beliau tidak menyukainya.
^^^Kandara menggeleng lemah. Bu Selvine membawa Kandara duduk di tepi tempat tidur dan meminta dia menceritakan apa yang sedang dialaminya. Bu Selvine sedikit bernafas lega, tetapi kembali berpikir. Ada masalah baru yang tidak kalah peliknya.^^^
"Dara bisa kasih tahu dia?" Tanya Bu Selvine berharap, tetapi Kandara menggeleng pelan. "Tidak bisa, Ma. Maafkan Dara." Kandara kembali mengatupkan kedua tangan di dadanya.
"Tapi kondisimu ini harus dia tahu, Dara. Bagaimana mungkin kau menutupinya? Jangan berpikir bodoh untuk jadi pembunuh." Kata Bu Selvine tegas.
"Sekarang bangun, bajumu sudah basah. Bersihkan wajah dan ganti baju, kita ke dokter untuk periksa kandunganmu. Yang lain kita pikirkan nanti." Ucap Bu Selvine sambil turun dari tempat tidur
^^^Ucapan Mamanya bagaikan pukulan yang menghatam kesadarannya. Kandara langsung turun dari tempat tidur dan lakukan yang dikatakan Mamanya tanpa suara.^^^
^^^Bu Selvine tahu, putrinya sedang tidak bisa berpikir jernih. Beliau harus menyembunyikan kekecewaannya, karena Kandara membutuhkan dirinya lebih dari sebelumnya.^^^
Setelah berada di ruangan dokter kandungan dan mendengar hasil pemeriksaan dokter, Bu Selvine menangis dan memeluk putrinya, erat.
Kandara sedang mengandung bayi kembar yang sudah berusia hampir 8 minggu. Kehangatan dan kasih sayang kepada janin yang dalam kandungan putrinya memenuhi hatinya.
Begitupun dengan Kandara, segala keraguan di hatinya sirna. Yang ada hanya kasih sayang terhadap anak-anaknya. Mereka seakan-akan memberikan kekuatan dan tekad untuk menghadapi semuanya. Mereka berpelukan dalam tangisan, kehangatan kasih sayang ibu dan anak.
°-° Hidup dan kehidupan adalah karunia Tuhan °-°
...~***~...
...~●○¤○●~...