Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TENTANG BUMI DAN VENUS
Melvin melewati ruang klab memanah yang terletak di sebelah klab renang. Diarahkannya pandangan pada jajaran orang yang sedang berlatih di sana. Salah satunya wanita yang menjadi musuh bebuyutanya, Ruby. Ia tersenyum seringai ke arahnya. Hanya seorang mahasiswa dari kalangan bawah dengan berani menentangnya.
Ruby memiliki penampilan baru. Rambutnya yang semula panjang sepunggung kini telah dipotong sebahu karena ulah Reino waktu itu.
"Kamu kira dirimu hebat?" gumamnya sebelum melangkah pergi.
*****
Selesai berlatih panahan, Ruby membersihkan diri di kamar mandi klab. Kemudian berganti pakaian dan sedikit berdandan. Dengan langkah riang ia berjalan menyusuri koridor kampus yang sepi.
Ya, akhir pekan kampus memang sepi. Hanya anak-anak yang memiliki aktivitas di klab maupun organisasi yang biasanya masih terlihat lalu lalang di kampus saat akhir pekan. Untuk mahasiswa tipe 3K (kuliah, kantin, kasur), maka akhir pekan merupakan kesempatan menikmati surga di luar kampus.
Sesampainya di tempat parkir, Reino sudah menunggunya di atas motornya. Honda CBR 650F warna hitam yang membuatnya terlihat gagah saat berada di atasnya.
"Sudah selesai latihannya?" tanyanya dengan senyuman manis sembari menyerahkan helm untuk Ruby. Kali ini ia memberikan helm yang ukurannya sesuai dengan kepala Ruby.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot menungguku." ucapnya. Tapi, sebenarnya dalam hati Ruby sungguh bahagia ditunggui oleh Reino.
"Aku tidak merasa direpoti. Justru aku senang bisa pulang denganmu. Ayo, naik!" pintanya.
Ruby menaiki motor tersebut dengan perasaan sedikit canggung dan malu. Meskipun bukan pertama kali, tetap saja rasanya aneh. Karena setiap wanita yang menyimpan rasa kepada lawab jenis pasti akan merasa canggung ketika harus berdekatan dengan orang yang disukainya.
"Kok tidak pegangan?"
"Hah?"
Reino menarik tangan Ruby untuk melingkar ke perutnya. Sontak hal itu membuat Ruby terkejut.
"Pengangan yang erat seperti kemarin." ucapnya.
Mendengar ucapan Reino entah mengapa Ruby merasa malu. Meskipun begitu, ia tetap menurut untuk memeluk Reino. Jantungnya berdebar-debar lebih kencang. Mungkin saja Reino akan mendengarkannya.
Motor melaju berbaur dengan kendaraan lain di jalanan. Tak ada percakapan di antara keduanya. Namun, suasana yang tercipta mengisyaratkan bahwa mereka berdua terlihat sebagai pasangan yang serasi. Orang yang melihat akan mengira mereka pacaran.
Sesampainya di suatu tempat pinggiran kota, Reino menghentikan motornya. Mengajak Ruby sejenak menikmati matahati terbit ke balik gunung. Pemandangan yang membuat takjub karena begitu indahnya. Semburat warna jingga yang menghiasi langit serta burung-burung yang berterbangan untuk kembali ke sarang. Ruby juga baru melihat pemandangan indah dari bukit itu.
"Aku baru tahu kalau ada tempat seindah ini untuk melihat matahari terbit." Ruby menunjukkan senyum termanisnya.
Sementara, Reino menganggap pemandangan terindah bukan matahari terbenam, tapi justru wanita yang kini ada di hadapannya.
"Kenapa, apa ada yang aneh denganku?" tanya Ruby ketika Reino terus memandanginya tanpa berkedip.
"Ah, tidak. Tidak ada." seketika Reino tersadar dari lamunannya.
"Terus kenapa kamu memandangiku seperti tadi? Apa rambutku aneh? Aku terpaksa memotongnya supaya terlihat rapi." Ruby sebenarnya juga sesak ketika harus memotongnya.
"Kalau aku menjawabnya mungkin kamu tidak akan suka mendengarnya." Reino mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Apa kamu lihat titik paling terang di sebelah sana?" Reino menunjuk pada langit.
"Hem, iya. Aku melihatnya. Itu sebuah bintang, kan?" Ruby ikut mengarahkan pandangan pada arah yang Reino tunjuk.
"Bukan. Itu bukan bintang, tapi planet. Itu Planet Venus yang biasa dikenal dengan sebutan bintang senja."
"Oh, ternyata itu planet, ya? Aku kira bintang."
"Planet Venus itu memang termasuk benda langit yang paling terang di langit kita. Urutan pertama Matahari, kedua bulan, dan yang ketiga adalah planet Venus."
"Saking terangnya dilangit malam, Venus meski tertutup oleh awan ia akan tetap bersinar meski bintang-bintang disekelilingnya sudah mulai tak terlihat."
"Sebenarnya planet yang bisa terlihat itu disebabkan oleh pantulan warna di permukaan atmosfer Venus yang tertutup awan. Sehingga tampak berwarna kuning jingga."
"Venus juga merupakan planet terdekat dengan Bumi. Ukurannya juga hampir sama dengan Bumi sehingga Venus sering disebut sebagai saudara kembar Bumi."
"Hm, jadi Bumi dan Venus seperti saudara kembar yang terpisah jauh. Kasihan mereka." Ruby tersenyum-senyum dengan perkataannya sendiri.
"Kalau mereka berdekatan justru akan bahaya, bisa kiamat bumi kita."
"Hahaha.... Kamu benar juga. Terkadang jauh bukan berarti buruk, ya?"
Reino hanya tersenyum.
"Apa kamu suka mengamati benda-benda langit?"
"Dulu iya. Tapi sekarang tidak terlalu."
"Kenapa?"
"Karena tidak ada temannya. Kamu mau menemani?"
Ruby senyum-senyum mendengarnya, "Boleh.... "
"Kapan-kapan main ke apartemenku."
"Kamu tinggal di apartemen?"
"Tidak.... Hanya kadang-kadang saja aku di sana."
"Pasti waktu bertengkar dengan kakakmu kamu kabur ke apartemen, ya.... "
"Hahaha.... Tidak. Kami hampir tidak pernah bertengkar. Kakakku orang yang sangat baik."
Ruby memanyunkan bibirnya, "Aku tidak percaya kalau dia sebaik yang kamu ucapkan. Menurutku dia orang terjahat yang pernah aku temui."
"Aku jadi iri dengan kakakku."
"Hah? Kenapa?"
"Kakakku pasti ada di dalam pikiranmu setiap hari. Aku iri."
Ruby sampai ternganga mendengar ucapan Reino, "Oh, Ya Tuhan.... Ya Tuhan.... Ampun! Aku memang selalu memikirkan cara untuk memukulinya sampai babak belur saking kesalnya. Bisakah kamu mewakiliku?"
"Setiap hari aku tidak bisa berkuliah dengan tenang gara-gara siapa lagi kalau bukan dia?"
"Jangan terlalu membenci kakakku, ya! Aku takut nanti kamu akan menyukainya."
Ruby menggelengkan kepala, "Itu sih namanya gila." Ia berjalan beberapa langkah ke belakang, lalu mencari tempat yang enak untuk duduk. Reino mengikutinya.
Ruby sedikit jengkel dengan ucapan Reino. Orang yang ia sukai jelas-jelas ada di hadapannya, tapi yang mereka bahas justru orang yang sangat dibencinya.
"Kamu lelah?" tanya Reino. Terlihat jelas wajah Ruby tampak kesal.
"Sedikit."
"Pasti tidak nyaman ya, naik di belakang motorku."
"Tidak."
"Aku rasa motor seperti ini memang tidak nyaman dinaiki. Apalagi untuk memboncengkan seseorang."
"Makanya aku sengaja kemana-mana membawa motor ini."
"Dan orang pertama yang pernah aku bawa adalah kamu."
"Bahkan tempat ini yang biasa aku datangi sendiri, entah mengapa aku juga senang bisa membawamu ke sini."
Rasa kesal Ruby seakan luluh setelah tahu ia orang pertama yang pernah Reino ajak ke tempat itu adalah dirinya.
"Terima kasih sudah mau ikut denganku ke sini."
Ruby menggelengkan kepala, "Seharusnya aku yang berterima kasih, kamu selalu datang di hari-hariku yang terasa sulit. Bahkan hanya berbicara denganmu saja bisa meringankan beban pikiranku."
"Boleh aku memelukmu?"
Ruby tertegun mendengar permintaan itu. Ia tidak menyangka Reino akan mengatakannya. Namun, sebelum ia memberikan jawaban, Reino sudah lebih dulu memeluknya dengan erat. Jantungnya kembali berdebar-debar tak terkontrol. Sementara Reino memeluknya cukup lama hingga matahari benar-benar tenggelam dan langit mulai menggelap, ia baru melepaskan pelukannya.
calon mertua/Tongue/