Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
...[Percakapan yang Menguji Batas Kepercayaan]...
...----...
Neysa sedang sibuk di dapur, memotong sayuran dengan cekatan sambil sesekali mendengar obrolan ringan para pelayan di sekitarnya.
Hari ini terasa lebih damai dibanding biasanya. Jessica, sejak insiden tamparan dari Yumi, tampak menjaga jarak dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Nyonya Barnes di ruang tengah. Namun, ketenangan itu terusik ketika seorang pelayan datang menghampiri Neysa dengan wajah serius.
"Neysa, Tuan Darren memintamu untuk datang ke ruang kerjanya," ujar pelayan itu dengan nada pelan.
Neysa menghentikan pekerjaannya sejenak, menatap pelayan tersebut dengan alis mengernyit.
"Ruang kerja Tuan Darren?" tanyanya setengah berbisik. "Apa Jessica tahu soal ini?"
Pelayan itu menggeleng cepat. "Tidak, Tuan Darren memerintahkan agar tak seorang pun mengetahui panggilan ini."
Rasa ragu menyelimuti hati Neysa. Sejak dia berada di keluarga Barnes, dia tahu satu aturan yang tak pernah dilanggar: ruang kerja Darren adalah wilayah yang terlarang, bahkan untuk pelayan sekalipun. Namun, perintah ini datang langsung dari Darren, dan Neysa tidak memiliki pilihan lain selain menurut.
Dengan langkah yang mantap, Neysa berjalan menuju ruang kerja Darren, yang terletak di ujung koridor utama. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu alasan Darren memanggilnya, tetapi kehadirannya di ruang kerja itu pasti bukan hal yang sepele.
Setelah mengetuk pintu dengan pelan, suara berat Darren terdengar dari dalam.
"Masuk."
Neysa mendorong pintu dengan hati-hati. Ruang kerja itu dipenuhi aroma maskulin khas Darren, dengan furnitur kayu yang mewah dan dinding yang dipenuhi rak buku. Di balik meja besar, Darren duduk dengan santai, fokus pada layar laptopnya. Kacamata yang bertengger di hidungnya membuatnya tampak semakin menawan, namun juga penuh wibawa.
"Neysa," panggil Darren tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Mendekatlah."
Neysa berjalan pelan ke arahnya. Sesampainya di depan meja, ia berhenti, tetapi Darren mengangkat wajahnya, menatapnya dengan tegas. "Lebih dekat lagi," perintahnya.
Dengan ragu, Neysa mendekati sisi meja. Darren tiba-tiba menarik tangannya, membuat Neysa tersentak kaget. Dalam satu gerakan, dia mendudukkan Neysa di pangkuannya, mengabaikan protes kecil yang muncul dari bibirnya.
"Darren!" Neysa berusaha berdiri, tetapi tangan Darren yang melingkar di pinggangnya terlalu kuat.
"Diam," bisik Darren, nada suaranya rendah namun tegas. Dia menunjuk layar laptopnya. "Lihat ini."
Neysa menatap layar dengan bingung. Ada beberapa dokumen penting yang terbuka, sebagian besar tentang transaksi dan rencana strategis keluarga Barnes. Darren menghela napas panjang sebelum berbicara.
"Ini adalah semua dokumen penting yang berkaitan dengan keluarga Barnes," katanya serius. "Jika informasi ini bocor, kehancuran akan menimpa keluarga kami."
Neysa mendengarkannya dengan tenang, meski dalam hati dia merasa sedikit tidak nyaman. Dia tidak paham sepenuhnya mengapa Darren menunjukkan semua ini kepadanya.
"Kenapa kau menunjukkan ini padaku?" tanyanya akhirnya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari posisi mereka yang terlalu dekat.
Darren memiringkan wajahnya, menatap Neysa dalam-dalam. "Karena aku ingin kau tahu betapa pentingnya keluarga ini bagiku. Jika ada yang mencoba menghancurkannya, aku tidak akan memaafkan."
Neysa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Darren melanjutkan, "Jessica bilang kemarin ada masalah di ruang tamu. Nona Lawrence datang, tapi Jessica malah membuat keributan denganmu, hingga Yumi menamparnya. Benarkah itu?"
Neysa mengangguk kecil. "Ya. Tapi itu hanya kesalahpahaman. Yumi mungkin merasa tersinggung karena dia tahu aku sahabatnya. Kau tahu dulu keluarga Lawrence dan Kenneth sangat dekat."
Darren menghela napas panjang, kemudian mengusap lembut punggung Neysa. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku belum bisa berbuat banyak untuk melindungimu dari Jessica."
Neysa tersenyum kecil, mencoba menenangkan Darren. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu mengecup bibir Darren dengan lembut. "Tidak perlu khawatir, Tuan. Yumi akan melindungiku dengan baik. Aku percaya padanya."
Namun, tiba-tiba, Neysa bertanya sesuatu yang tidak disangka Darren. "Darren, bagaimana jika Jessica tahu aku berasal dari keluarga Kanneth? Apa yang akan terjadi?"
Darren terdiam sejenak, kemudian menggeleng pelan. "Dia tidak tahu apa pun. Aku pastikan itu."
Hening melingkupi mereka untuk beberapa detik sebelum Neysa melontarkan pertanyaan lain, kali ini dengan nada lebih serius. "Bagaimana kalau aku berbohong padamu, Darren? Kebohongan yang mungkin saja menghancurkan keluarga Barnes. Apa kau masih bisa memaafkanku?"
Mata Darren menyipit, ekspresinya menjadi lebih dingin. "Siapapun yang mencoba menghancurkan keluarga Barnes akan mati di tanganku. Tidak peduli siapa mereka."
Pernyataan itu membuat Neysa tertegun. Tidak ada emosi yang terlihat di wajah Darren, tetapi kata-katanya cukup untuk membuat Neysa merasa terpojok. Dia hanya bisa menunduk, hatinya kembali diliputi keraguan.
"Ney?"
"Ya," jawab Neysa, melihat Darren bingung.
"Aku mau keluar dulu sebentar, kau di sini dulu. Nanti aku akan kembali. Jangan keluar, sebelum aku kembali," ucap Darren mengingatkan.
Walaupun bingung, Neysa tetap mengangguk.
****
Setelah menyuruh Neysa menunggu di ruang kerjanya, Darren meninggalkan ruangan dengan langkah tenang. Namun, bukan berarti dia benar-benar pergi. Dari sebuah ruangan tersembunyi yang terkoneksi dengan CCTV, Darren mengamati setiap gerakan Neysa. Ada sesuatu yang ingin dia pastikan—kesetiaan wanita itu dan sejauh mana keterlibatannya dengan urusan keluarga Barnes.
Di dalam ruang kerja, Neysa menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa gugup. Ia duduk di kursi Darren, merasa canggung di tempat yang seharusnya menjadi wilayah terlarang baginya. Pandangannya menyapu meja kerja, hingga matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang berisi potret keluarga Darren. Ia meraih foto itu dengan hati-hati.
Dalam foto tersebut, terlihat Darren kecil berdiri di tengah kedua orang tuanya. Ayahnya, yang tampak berwibawa, menatap kamera dengan senyum tipis. Neysa menyentuh permukaan kaca bingkai itu, lalu membersihkannya dengan ujung bajunya. Gerakan lembutnya menunjukkan penghormatan yang tak disadarinya sendiri.
Darren, yang mengamati dari layar CCTV, memperhatikan gerakan Neysa dengan cermat. Bibirnya melengkung dalam senyum kecil. Dia sengaja meninggalkan laptopnya terbuka, dengan dokumen-dokumen penting yang mudah diakses. Namun, Neysa tidak menunjukkan tanda-tanda tertarik untuk membukanya.
"Apa sebenarnya yang kamu pikirkan, Neysa?" guman Darren, mengetuk-ngetuk meja.
Setelah selesai membersihkan bingkai foto, Neysa bangkit dari kursi dan mulai merapikan ruangan. Dia mengambil kain lap dari meja samping, membersihkan debu di permukaan furnitur kayu, dan mengatur ulang buku yang sedikit miring di rak. Darren mengamati semuanya dengan penuh perhatian. Semakin lama dia melihat, semakin besar rasa lega yang mengalir di hatinya.
Ketika akhirnya Neysa selesai, dia terlihat kebingungan, seolah tidak tahu harus melakukan apa lagi. Setelah beberapa saat berdiri memandangi ruangan, Neysa memutuskan untuk duduk di sofa. Tidak lama kemudian, rasa kantuk menyerang, dan dia pun membaringkan tubuhnya di sana.
Darren menyaksikan Neysa tertidur dengan damai. Wanita itu bahkan tidak menyentuh laptop atau mencoba mencari tahu apa pun yang seharusnya bisa memancing rasa ingin tahunya. Hal itu membuat Darren merasa lega.
Dengan langkah mantap, dia kembali ke ruang kerja. Matanya tertuju pada Neysa yang tertidur di sofa, napasnya teratur dan wajahnya terlihat begitu polos. Darren mendekat, lalu berlutut di samping sofa. Tangannya terulur, mengusap lembut puncak kepala Neysa, membelai rambutnya dengan penuh kasih.
Neysa terbangun perlahan, matanya yang masih setengah terbuka menatap Darren dengan bingung.
"Darren?" gumamnya pelan.
Tanpa menjawab, Darren mengangkat tubuhnya dengan lembut, membuat Neysa tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya, suaranya bergetar.
Darren tidak menjawab. Dia membopong Neysa menuju sebuah ranjang kecil yang terletak di sudut ruang kerja. Setelah membaringkannya dengan hati-hati, dia menatap Neysa yang kini terlihat semakin bingung.
"Darren, aku bisa tidur di sofa. Kau tidak perlu repot—"
Kata-katanya terputus ketika Darren menundukkan kepala, menghujani bibirnya dengan ciuman yang panjang dan mendalam. Ciuman itu penuh intensitas, seolah Darren ingin menyampaikan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Neysa, yang awalnya terkejut, hanya bisa pasrah. Tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Darren, merasakan kehangatan yang disampaikan lelaki itu. Di sela ciumannya, Darren berbisik dengan nada rendah, "Kau membuatku gila, Neysa."
Neysa menatapnya dengan bingung sekaligus terpesona. "Kenapa?" tanyanya lirih.
Darren tidak menjawab, hanya menatapnya dalam-dalam sebelum menariknya dalam pelukan hangat. Dia tahu satu hal pasti—Neysa bukan ancaman bagi keluarganya. Sebaliknya, wanita itu mungkin adalah satu-satunya yang bisa membuatnya merasa tenang di tengah semua kekacauan ini.
***
Neysa terbangun lebih dulu, dia mengambil pakaiannya yang berserakan, lalu melihat Darren yang tengah tertidur tenang setelah pergulatan panjang mereka. Mata Neysa berkeliling melihat hanya di kamar yang tidak dipasangi CCTV.
"Kau mengawasiku, Darren. Mungkin kamu sudah mengetahui sesuatu," ucap Neysa, setelah berpakaian dia mendekati Darren. Menatap lelaki itu pilu. "Kita akhiri semuanya, aku tidak bisa lebih lama lagi memainkan drama ini. Aku akan membawamu pergi menemuinya. Aku harap kamu akan mengerti situasiku nanti."
B e r s a m b u n g ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Biar Miminnnya tetap semangat. Makasih, (^^)