NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Irwan Semakin Sibuk Bekerja

Ponsel Irwan terus berdering sejak pagi.Baru saja ia selesai mandi, satu panggilan masuk lagi dari klien yang menanyakan desain banner toko. Belum sempat duduk untuk sarapan, pesan-pesan WhatsApp kembali berdatangan memenuhi layar.

Sulis yang sedang menyiapkan bekal anak-anak hanya bisa menggeleng pelan melihat suaminya mondar-mandir sambil memegang ponsel.

“Mas, makan dulu,” tegurnya.

“Iya bentar, Sayang.” Irwan menutup mikrofon ponselnya sebentar. “Pak, nanti saya kirim desain revisinya ya.”

Ia kembali berbicara serius dengan klien sambil membuka laptop di meja makan.

Dito sampai berbisik pada adiknya,

“Papa sekarang sibuk banget ya.”

Rara mengangguk polos sambil memakan telur dadarnya.

Meski begitu, Irwan tetap menyempatkan diri mengantar kedua anaknya ke sekolah pagi itu. Di dalam mobil, pria itu masih sesekali menerima telepon sambil menyetir.

“Pak Irwan, untuk pemasangan billboard bisa minggu depan?”

“Bisa, Pak. Tim saya siap.”

Setelah menutup telepon, Irwan langsung menoleh ke belakang.

“Dito, nanti kalau nilai matematikanya bagus Papa kasih hadiah.”

“Beneran?”

“Iya.”

“Kalau aku?” tanya Rara cepat.

“Kamu juga.”

Kedua anak itu langsung tertawa senang.

Sulis yang duduk di samping suaminya memperhatikan wajah Irwan secara diam-diam. Lelah mulai tampak dari raut wajah suaminya itu. Kantung matanya sedikit menghitam karena sering tidur larut malam,namun pria itu tetap berusaha tersenyum untuk keluarga kecilnya.

“Kalau capek jangan dipaksa terus, Mas,” ucap Sulis pelan setelah anak-anak turun di sekolah.

Irwan mengusap wajahnya sebentar lalu tersenyum kecil.

“Lagi banyak peluang sekarang. Sayang kalau dilewatkan.”

“Aku takut kamu sakit.”

Irwan melirik istrinya sekilas sebelum menggenggam tangannya di atas jok mobil.

“Tenang aja. Aku kuat.”

Sulis tersenyum tipis.

Ia percaya.

Hari-hari berikutnya, usaha reklame Irwan semakin berkembang. Ia mulai sering menghadiri pertemuan dengan klien di luar kota, bertemu pemilik toko besar, bahkan beberapa pengusaha mulai mengenalnya.

Ruko kecil mereka kini terasa sempit untuk menampung pesanan yang datang hampir setiap hari.Beberapa kali Sulis membantu mencatat pembayaran dan mengecek pesanan sambil menjaga anak-anak.

“Mas Irwan sekarang terkenal ya,” goda salah satu pekerja suatu siang.

Irwan tertawa kecil sambil meminum kopi sachet.

“Belum terkenal. Baru numpang lewat.”

“Tiap hari ketemu klien cantik-cantik lagi.”

“Mulut kau ya.”

Para pekerja tertawa,Irwan hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Baginya semua itu hanya bagian dari pekerjaan.

Sore itu, ketika hujan turun rintik-rintik, Irwan pulang lebih cepat dari biasanya sambil membawa dua kotak pizza.

Dito langsung melonjak girang.

“Waaah! Papa bawa pizza!”

“Katanya mau makan enak?” ujar Irwan sambil mengacak rambut anak sulungnya.

Rara bahkan memeluk kaki papanya erat.

Sulis yang sedang melipat pakaian di ruang tengah tersenyum melihat itu. Meski semakin sibuk, Irwan tidak pernah lupa pulang membawa sesuatu atau sekadar menghabiskan waktu bersama mereka.

Malam itu mereka makan bersama di ruang keluarga sambil menonton acara komedi di televisi.

Irwan tertawa paling keras sampai membuat Rara ikut tertawa meski tidak mengerti isi acaranya.

“Mas...” panggil Sulis pelan.

“Hm?”

“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget.”

Irwan menoleh. “Kamu kesepian?”

Sulis cepat menggeleng. “Bukan gitu.”

“Maaf ya kalau waktu buat kalian jadi berkurang.”

Nada suara Irwan terdengar tulus.

“Aku cuma pengen usaha kita makin maju. Biar anak-anak hidup enak nanti.”

Sulis menatap wajah suaminya beberapa saat. Tidak ada yang berubah dari tatapan mata itu—masih penuh kehangatan yang sama seperti dulu.

“Yang penting jangan terlalu capek,” ucap Sulis lembut.

Irwan tersenyum lalu mencium kening istrinya singkat.

“Iya, Bu.”

Dito langsung berseru keras dari sofa.

“Ih Papa romantis!”

Seketika semua tertawa.

Minggu demi minggu berlalu begitu cepat.

Kesibukan Irwan semakin tidak bisa dipisahkan dari hidup mereka. Hampir setiap hari pria itu pergi pagi sekali dan pulang ketika langit sudah gelap. Kadang bau cat dan debu reklame masih menempel di bajunya saat ia masuk rumah.Namun anehnya, Sulis tetap merasa tenang,sebab sesibuk apa pun, Irwan tidak pernah benar-benar melupakan keluarganya.

Suatu malam, Sulis terbangun sekitar pukul satu dini hari. Lampu kamar masih menyala redup. Ia mendapati Irwan duduk di lantai sambil membuka laptop dan menghitung beberapa nota pembayaran.

“Kok belum tidur?” tanya Sulis dengan suara serak.

Irwan menoleh lalu tersenyum kecil.

“Maaf, kebangun ya?”

“Iya... ini udah malam banget.”

Irwan memijat tengkuknya perlahan. Wajahnya terlihat lelah.

“Besok ada pemasangan billboard besar. Aku takut ada hitungan yang salah.”

Sulis duduk di samping suaminya. Di layar laptop terlihat berbagai desain reklame berwarna-warni memenuhi folder kerja Irwan.

“Mas...” Sulis menggenggam tangan pria itu pelan. “Jangan terlalu dipaksain.”

Irwan menghela napas kecil sebelum menatap istrinya hangat.

“Aku cuma nggak mau kalian susah lagi.”

Kalimat itu membuat dada Sulis terasa penuh,Ia masih ingat masa-masa mereka harus menahan malu karena menunggak kontrakan. Saat Dito sakit dulu, Irwan bahkan rela menjual motor kesayangannya demi biaya rumah sakit.Irwan memang bukan laki-laki sempurna,tapi selama ini, ia selalu berusaha menjadi ayah dan suami terbaik.

“Sekarang kita udah cukup bahagia kok,” bisik Sulis.

Irwan tersenyum tipis lalu menyandarkan kepalanya ke bahu istrinya sebentar.

“Belum cukup,” gumamnya pelan. “Aku pengen punya rumah lebih besar buat kalian.”

Sulis hanya tersenyum haru.

Keesokan harinya suasana rumah kembali ramai.Rara sibuk memakai sepatu sekolah sambil merengek karena rambutnya dikepang terlalu kencang. Dito berlari-lari mencari kaus kaki yang hilang sebelah,sementara Irwan berdiri di depan cermin merapikan kemeja hitamnya.

Kini penampilannya memang jauh lebih rapi dibanding dulu. Rambutnya dipotong lebih modern, jam tangan baru melingkar di pergelangan tangannya, dan ia mulai terbiasa memakai parfum mahal dari salah satu kliennya.

“Papa ganteng banget hari ini,” celetuk Rara polos.

Irwan tertawa kecil.

“Biar semangat cari uang.”

Sulis yang sedang menyiapkan sarapan memandang suaminya sekilas. Dalam hati ia bangga melihat perubahan hidup mereka.

Dulu Irwan hanyalah tukang pasang banner biasa,sekarang banyak orang mulai menghormatinya.

“Mas, nanti pulang malam lagi?” tanya Sulis.

“Mungkin.”

“Jangan lupa makan.”

Irwan berjalan mendekat lalu mengecup kening istrinya singkat.

“Iya, Bos.”

Dito langsung menutup matanya sendiri.

“Ih mesra terus.”

“Cemburu ya?” goda Irwan sambil tertawa.

Rumah itu kembali dipenuhi suara tawa.

Menjelang sore, Sulis sedang menyiram tanaman depan rumah ketika mobil pikap Irwan berhenti di halaman,Pria itu turun sambil membawa beberapa kantong plastik besar.

“Loh? Beli apa lagi?” tanya Sulis heran.

Irwan tersenyum lebar seperti anak kecil.

“Surprise.”

Ia mengeluarkan sebuah ponsel baru dari kantong belanja lalu memberikannya pada Sulis.

Mata Sulis langsung membesar.

“Mas... ini mahal.”

“Buat kamu.”

“Aku masih punya HP.”

“Tapi udah lemot.”

Sulis menatap suaminya tidak percaya.

“Kenapa tiba-tiba beli beginian?”

Irwan mengangkat bahu santai.

“Karena aku pengen bahagiain istriku.”

Ucapan sederhana itu membuat wajah Sulis menghangat,Ia memang tidak pernah meminta banyak hal. Namun perhatian kecil dari Irwan selalu berhasil membuatnya merasa dicintai.

Malam itu, setelah anak-anak tidur, mereka duduk berdua di teras rumah sambil menikmati kopi dan suara jangkrik.

Irwan bercerita tentang proyek-proyek barunya dengan penuh semangat, sementara Sulis mendengarkan sambil sesekali tersenyum.

Di mata Sulis saat itu, masa depan mereka tampak begitu indah.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!