Aretha memilih hidup menderita bersama suaminya. padahal Kemewahan disediakan oleh orangtuanya. Namun Suaminya berselingkuh karena tekanan dari mertuanya. Apakah Aretha bisa mempertahankan rumah tangganya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan
Sebenarnya James senang, karena dia akan sangat muda bertemu dengan saudara tirinya. Sesuai pesan papanya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Namun disisi lain, dia tidak bisa menutupi perasaannya kepada Aretha. Ya dia mencintai dokter bedah saraf dan pembulu itu.
Satu minggu ini, James berusaha untuk melupakan perasaannya. Karena dia tahu, bahwa perempuan yang dia cintai adalah mantan istri adiknya dan lagi dia tahu bahwa Aretha sangat mencintai adiknya itu. Namun karena orangtua cinta mereka terhalang. Namun semakin dia berusaha, semakin susah dia melupakan sosok Aretha Lopez. Sementara itu Aretha selalu menghindar jika bertemu dengannya.
"Kenapa???"
"Please James, aku mohon. Apa yang kita lakukan, itu salah."
"Salah dimana, kamu bukan ada dalam satu ikatan begitu juga dengan saya. Apa yang salah??"
"Meskipun saya tinggal disini, namun budaya saya di Indonesia tidak membenarkan itu. Kita bukan suami istri. Dan saya mohon maaf."
Aretha langsung pergi meninggalkan James. Dokter James hanya bisa menatap Aretha dengan senyuman sampai sosok itu tidak kelihatan di matanya.
"Wanita berpendirian kuat. Sangat menarik untuk di dekati."
Sementara itu di Jakarta Jihan masih berusaha untuk bisa mendekati Andreas. Bahkan sekarang dia sudah melayangkan gugatan cerai atas Bery suaminya. Dan persidangannya masih berlangsung.
"Kamu masih sayang sama Thea Bro?"
"Sampai Tuhan mengambil nafas hidupku."
"Kalau sewaktu - waktu, kenyataannya Thea sudah menikah lagi. Apa kamu bisa menerima kenyataan hidup itu."
"Maksud kamu???"
"Misalnya."
"Aku akan seorang diri dengan cinta yang aku miliki. Aku yakin jika itu terjadi, berarti waktu hidupku sudah tidak lama lagi."
Yuda sedang menguji hati Andreas, apakah dia masih berpendirian teguh tetap mencintai Aretha tidak. Tapi kenyataannya Andreas masih menyimpan cintanya itu.
"Kamu tahu ngak bro, Jihan sedang mengugat Bery di pengadilan sidang cerai."
"Tidak berpengaruh buatku."
"Kamu tidak bisa hidup sendiri Bro. Sudah satu tahun lebih Aretha pergi dari hidup kamu."
"Tetapi tidak di hatiku. Aku yakin dia juga masih menjaga hatinya."
Sedang asik menikmati makanan dan minuman di cafe Yuda's sambil menunggu waktu prakteknya, Andreas mendapat panggilan dari Aji ners yang membantunya, bahwa ada pasien darurat kebetulan si pasien berada di sekitar apotik dan klinik ini. Andreas langsung berlari kesebelah meninggalkan makanan dan minumannya. Tentu Yuda langsung mengamankan makanan dan minuman itu.
"Pa....."Andreas sangat kaget, ternyata yang mau di tolong adalah mantan mertuanya, papanya Aretha.
"Papa, tenang ya..... Sabar. Andre periksa dulu."
Namun semua alat bantu sudah di pasangkan, terutama oksigen. Karena papa Josep mengalami sesak nafas. Andreas menolong mertuanya. Sampai keadaan mertuanya sudah baik, ditandai dengan bernafas secara baik. Mama Wulan, mantan mama mertuanya juga sudah ada di klinik ini. Begitu terkejutnya dia karena di meja kerja Andreas ada foto anak dan cucunya yang sudah meninggal.
"Ma, papa sudah bernafas teratur. Namun papa harus di obati lebih lanjut. Andrea akan melampirkan rekam medis papa, dan merujuk papa ke rumah sakit."
"Iya Ndre."
Dokter Andreas sudah menghubungi dokter penyakit dalam di rumah sakit swasta tempat mertuanya berobat dan meminta ambulans. Papa Josep langsung dirujuk waktu ambulans datang.
"Terima kasih nak."
"Sama - sama ma. Semoga papa lekas sembuh dan sehat." Mantan mertuanya sudah dibawa bersama ambulans. Air mata Andreas mengalir, dengan cepat dia mengelap namun apa yang di lakukannya di lihat oleh mama mertuanya.
Di dalam mobil ambulans mama Wulan menangis. Dia merasa bersalah, bahkan ketika cucunya meninggal pun mereka tidak mengurusnya. Karena rasa marah yang besar atas perbuatan Andreas.
"Ma, apakah Thea harus kembali ke Jakarta??"
"Jangan sayang, papa bisa marah."
"Tetapi keadaan papa??"
"Papa sudah membaik, karena tadi supir papa larikan papa ke kliniknya Andreas. Disana papa sudah di tolong."
"Andreas???"
"Iya sayang. Mama lihat dia sehat, tetapi hatinya masih rapuh. Mama melihat di meja kerjanya ada foto kamu dan anak kalian." Diseberang mama Wulan mendengar Aretha menangis. Dia teringat kembali bagaimana dia tidak diberi kesempatan oleh papanya melihat makam anaknya.
"Thea......."
"It's oke mama. Thea baik - baik saja."
"Maafkan kami sayang."
Siang di kota St. Moritz, Aretha menenangkan dirinya. Dia duduk disebuh tempat makan yang berada di dekat aliran sungai kecil di kaki gunung pengunungan Alpen. Dia menatap air jernih yang mengalir. Sebagai seorang ibu, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga anak yang ada didalam kandungannya. Lebih bersalah lagi karena dia tidak bisa melihat wajah malaikat kecilnya dan tidak bisa mengantar dia ke peristirahatan terakhir karena kondisi tubuhnya. Aretha menangis. Sampai pemilik restoran itu pasangan suami istri yang sudah berumur ketakutan terjadi sesuatu kepada pelangannya.
"Nona apakah kamu baik - baik saja??"
"Ups.... Sori, aku baik - baik saja."
Aretha sadar bahwa kesedihannya itu telah membuat kuatir pemilik restoran itu. Aretha langsung membayar pesanan yang dia makan dan minum, memohon maaf dan dia kembali ke rumahnya.
Ternyata sampai di rumah, ada banyak sekali panggilan telepon dari mamanya di Indonesia. Mamanya merasa kuatir akan keadaan anak perempuannya.
"Sayang.... Mama kuatir. Kamu dari mana kok ngak angkat telepon mama."
"Aku baik - baik saja ma. Tadi aku makan di restoran jadi tidak lihat handphone."
"Oooo mama kuatir sekali sayang."
"Bagaimana keadaan papa???"
Mamanya langsung menyerahkan handphonenya, agar Aretha bisa berbicara dengan papanya. Mamanya takut, jika Aretha menanyakan tentang anaknya. Karena selama ini, mereka tidak perna menunjukan foto anaknya. Karena kedua orangtua Aretha tidak memilikinya.
Empat tahun sudah Aretha bekerja di negara ini sebagai seorang dokter bedah saraf dan pembulu, bidang kedokteran yang memang dia sukai. Meskipun dia bukan lulusan luar negeri, namun kepintaran dan kemahirannya sangat di akui oleh dokter - dokter disana. Dan selama tiga tahun ini Aretha menahan rasa penasarannya akan sosok anaknya yang sudah tiada.
Aretha dan James juga sudah tidak seakrab dulu. Malam itu, tepat dua tahun yang lalu, merupakan malam terakhir Aretha berbicara atau bertegur sapa dengan dokter James. Aretha melakukan hubungan terlarang itu dengan James karena rasa rindunya akan sosok mantan suami, cinta pertamanya yang tidak bisa Aretha lupakan dan itu dia sampaikan kepada James. Dan Aretha akui bahwa James sangat mirip dengan Andreas mantan suaminya.
Flasback dua tahun lalu
"Aku mohon maaf James, harusnya aku tidak melakukan hal terlarang itu dengan kamu."
"Hai, disini itu tidak ada masalah."
"Tetapi masalah buat aku yang tidak biasa."
"Terus terang Thea, aku cinta sama kamu." Aretha terdiam, namun air matanya mengalir di pipi mulusnya. Dia tahu bahwa dia akan mengecewakan James.
"Maafkan aku James, aku tidak bisa menerima cintanya orang lain. Karena aku masih mencintai mantan suamiku. Dia cinta pertamaku. Maafkan aku." James hanya terdiam dia tidak menyangka bahwa saingannya adalah adiknya sendiri.
"Maafkan aku, aku jatuh saat itu karena wajah kamu mirip dengan Andreas Jatmiko cinta pertamaku, mantan suamiku."
Ini nyata, bahwa perempuan yang dia sukai adalah mantan istri, adeknya sendiri Andreas. James harus menerima kenyataan itu.
Aretha belum tahu, jika sebenarnya Andreas dan James adalah saudara. Mereka sama - sama satu bapak hanya berbeda ibu. Dan James tahu bahwa akhir - akhir ini Aretha sengaja menghindar darinya meskipun James sudah menanyakan dan meyakinkannya.