NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: tamat
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action / Tamat
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Jejak di Salju dan Pengkhianatan Diam-diam

Hutan Kabut Hitam perlahan berubah. Pohon-pohon raksasa yang berakar seperti ular digantikan oleh pohon-pohon pinus kerdil yang tertutup salju tebal. Udara menjadi semakin tipis dan dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang. Bagi kultivator biasa, ini adalah siksaan. Tapi bagi Lin Fan dan Xue Ying, yang keduanya memiliki afinitas elemen es/Yin, lingkungan ini justru memperkuat aliran Qi mereka.

Mereka telah berjalan selama dua hari sejak meninggalkan rawa buaya. Persediaan makanan mereka menipis, diganti dengan daging beast salju yang mereka buru—beruang kutub kecil dan kelinci salju bertanduk. Lin Fan memurnikan racun dan kotoran dari daging tersebut sebelum dimasak, memastikan tidak ada residu berbahaya yang masuk ke tubuh.

Xue Ying, meski awalnya curiga, mulai menunjukkan sisi lain dari kepribadiannya. Dia pendiam, efisien, dan sangat terampil dalam bertahan hidup di alam liar. Cambuknya, Frost Lotus Whip, bukan sekadar senjata; itu adalah alat bantu mobilitas yang memungkinkannya berayun di antara dahan-dahan pohon atau menarik dirinya ke tebing curam dengan cepat.

"Kita hampir sampai," kata Xue Ying suatu sore, menunjuk ke puncak gunung yang tertutup awan badai di kejauhan. "Kuil Es Kuno terletak di lembah tersembunyi di balik puncak itu. Tapi hati-hati. Daerah itu dijaga oleh formasi alami yang bisa membekukan jiwa jika kita salah langkah."

Lin Fan mengangguk, matanya menyipit mengamati langit. Awan hitam berkumpul dengan cepat. Badai salju besar akan segera datang.

"Kita harus mencari tempat berlindung malam ini," kata Lin Fan. "Badai ini bukan biasa. Aku merasakan gangguan energi di udara."

Xue Ying mengernyit. "Gangguan energi? Dari mana?"

"Tidak tahu. Tapi rasanya... familiar." Lin Fan menyentuh dadanya, di mana Manik Giok berdenyut tidak nyaman. "Seperti saat Elder Mo menggunakan teknik penyegelannya."

Mereka memutuskan untuk berkemah di sebuah gua dangkal di lereng gunung. Lin Fan menyalakan api kecil menggunakan batu api dan kayu kering, sementara Xue Ying menyiapkan perangkap di sekitar pintu masuk gua.

Saat mereka duduk menghangatkan diri, suasana hening terasa canggung.

"Kenapa kau begitu percaya padaku?" tanya Xue Ying tiba-tiba, memecah keheningan. Matanya menatap api, wajahnya diterangi cahaya oranye yang berkedip. "Aku bisa saja membunuhmu saat kau tidur dan mengambil semua barangmu."

Lin Fan tersenyum tipis. "Kau bisa. Tapi kau tidak akan melakukannya."

"Kenapa?"

"Karena kau melihat sesuatu pada diriku yang sama dengan dirimu sendiri," jawab Lin Fan. "Kesepian dan dendam yang membakar lebih panas daripada api apa pun."

Xue Ying terdiam. Lalu, dia menghela napas panjang. "Keluargaku dibunuh di depan mataku ketika aku berusia sepuluh tahun. Sekte Langit Merah menyerang desa kami karena mereka mencari 'Anak Berdarah Murni' untuk ritual mereka. Aku selamat karena ibu menyembunyikan ku di dalam sumur es. Sejak itu, aku hidup hanya untuk membalas dendam."

Lin Fan mendengarkan tanpa menghakimi. "Dan sekarang? Apakah balas dendam itu masih satu-satunya tujuanmu?"

Xue Ying menatap Lin Fan. "Untuk sementara, ya. Tapi setelah bertemu denganmu aku mulai berpikir. Mungkin ada cara lain. Cara untuk membangun kembali, bukan hanya menghancurkan."

Lin Fan tidak menjawab. Pikirannya melayang ke Kota Qingyun, ke Lin Yue, ke Bai Yun. Apakah mereka aman? Apakah Elder Mo sudah menemukan mereka?

Tiba-tiba, Manik Giok bergetar keras.

Waspada.

Lin Fan langsung berdiri, memadamkan api dengan segenggam salju. "Ada orang di luar."

Xue Ying juga berdiri, cambuknya siap di tangan. "Berapa banyak?"

"Dua. Atau tiga. Aura mereka disembunyikan dengan baik, tapi jejak kakinya terlalu berat untuk beast."

Mereka mematikan semua sumber cahaya dan bersiap di kegelapan gua.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar di luar. Bukan langkah sembarangan. Langkah yang hati-hati, profesional.

"Saya mencium bau api dan daging manusia," suara seorang pria parau terdengar. "Mereka baru saja di sini."

"Cari di setiap celah," perintah suara wanita yang dingin. Suara itu membuat darah Lin Fan membeku.

Itu adalah suara Wanita Berambut Perak dari Sekte Bulan Terbelah. Pembunuh yang ia lumpuhkan dengan racun air terjun beberapa hari lalu. Ternyata dia selamat. Dan dia membawa rekan-rekannya.

"Mereka melacak kita melalui jejak Qi," bisik Lin Fan pada Xue Ying. "Manik Giokku meninggalkan residu energi yang unik. Mereka punya alat pelacak."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Xue Ying tegang.

"Kita tidak bisa bertarung di sini. Gua ini terlalu sempit. Jika mereka melemparkan bom asap atau gas beracun, kita terjebak," kata Lin Fan. "Kita harus keluar. Melalui belakang."

Di belakang gua, terdapat celah sempit yang mengarah ke jurang curam. Turun ke sana berarti risiko jatuh atau tertimpa longsoran salju. Tapi itu satu-satunya jalan keluar yang tidak dijaga.

Lin Fan dan Xue Ying merayap ke belakang gua. Saat mereka mencapai celah itu, suara pembunuh-pembunuh itu sudah semakin dekat ke pintu masuk utama.

"Di sini! Ada bekas api!" teriak salah satu pembunuh.

Sekarang atau tidak sama sekali.

Lin Fan memberi isyarat kepada Xue Ying. Mereka melompat ke dalam kegelapan jurang.

Angin dingin menerpa wajah mereka saat mereka jatuh. Lin Fan menggunakan Teknik Langkah Bayangan untuk mengurangi kecepatan jatuhnya, mendarat di tonjolan batu setengah jalan turun. Xue Ying menggunakan cambuknya untuk mengaitkan diri pada akar pohon yang tumbuh dari celah tebing.

Mereka bergelantungan di tebing curam, tepat di bawah gua tempat musuh-mereka berada.

Dari atas, terdengar suara frustrasi.

"Mereka kabur! Cek jurang!"

Sinar obor muncul di tepi jurang. Cahaya itu menyapu ke bawah.

Lin Fan menahan napasnya, menempelkan tubuhnya erat-erat pada dinding batu yang dingin. Xue Ying melakukan hal yang sama.

Salah satu pembunuh melemparkan tali pengait ke bawah. Tali itu mendarat hanya beberapa meter dari kepala Lin Fan.

"Hampir," gumam pembunuh itu. "Tapi tidak ada tanda-tanda pendaratan. Mungkin mereka mati jatuh?"

"Tidak mungkin," kata Wanita Berambut Perak. "Jejaknya masih hangat. Mereka pasti turun lebih jauh. Turunkan tim kedua. Kita kejar sampai ke dasar."

Lin Fan dan Xue Ying saling pandang. Mereka terjebak di tebing. Jika mereka turun lebih jauh, mereka akan menghadapi tim kedua yang menunggu di dasar. Jika mereka naik, mereka akan bertemu tim pertama.

Satu-satunya pilihan adalah bergerak secara horizontal.

Di sebelah kiri mereka, sekitar lima meter, terdapat sebuah ceruk gua lain yang lebih dalam. Tapi untuk mencapainya, mereka harus menyeberangi ruang kosong tanpa pegangan.

"Aku bisa melemparkan cambukku ke akar di ceruk itu," bisik Xue Ying. "Tapi aku butuh waktu untuk menarik diri. Kau harus melindungiku."

Lin Fan mengangguk. Ia mengumpulkan Qi di tangannya, siap menembakkan jarum es atau serangan jarak pendek jika pembunuh di atas menyadari gerakan mereka.

Xue Ying mengayunkan cambuknya. Sret! Ujung cambuk melilit akar pohon di ceruk sebelah. Dia menarik tubuhnya, melayang di udara seperti akrobat.

Saat itulah, seorang pembunuh di atas melihat gerakan bayangan Xue Ying.

"Di sana!"

Panah beracun melesat ke arah Xue Ying.

Lin Fan tidak ragu. Ia melompat dari posisinya, menempatkan tubuhnya di jalur panah. Dengan tinju besi, ia menepis panah itu.

Clang!

Panah itu terpental, tapi gaya dampaknya membuat Lin Fan kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset dari tonjolan batu.

"Lin Fan!" teriak Xue Ying.

Lin Fan jatuh bebas ke dalam kegelapan jurang yang dalam.

"LIN FAN!"

Suara Xue Ying menghilang di kejauhan saat Lin Fan terus jatuh, dikelilingi oleh kegelapan dan angin yang meraung.

Apakah ini akhir?

Tidak.

Di tengah kejatuhan, Lin Fan memfokuskan pikirannya. Manik Giok berputar cepat. Ia mengingat pelajaran dari Sutra Nafas Embun Beku: Es bukan hanya dingin. Es adalah kepadatan. Es adalah ketahanan.

Ia mengalirkan Qi ke seluruh tubuhnya, membentuk lapisan es tipis di kulitnya sebagai bantalan. Lalu, ia mengarahkan jatuhannya ke tumpukan salju lunak di dasar jurang yang ia lihat sekilas sebelumnya.

BOOM!

Lin Fan menghantam tumpukan salju sedalam lima meter. Salju menyerap sebagian besar benturan. Tubuhnya sakit semua, tapi tidak ada tulang yang patah.

Ia menggali dirinya keluar dari salju, batuk-batuk. Dia berada di dasar jurang, di hutan lebat yang berbeda dari atas.

Dia selamat. Tapi dia terpisah dari Xue Ying.

Dan yang lebih buruk, saat ia berdiri, ia melihat jejak kaki segar di salju. Bukan jejak pembunuh. Jejak sepatu bot militer. Dan di samping jejak itu, terdapat lambang yang dicap di tanah: Naga Api.

Sekte Langit Merah sudah di sini.

Lin Fan mengeratkan genggamannya. Dia sendirian lagi. Tapi kali ini, dia tidak takut. Dia marah.

"Baiklah," gumamnya, matanya bersinar dingin. "Mari kita selesaikan ini."

1
Aman Wijaya
mantab Lin Fan lanjutkan perjalananmu
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
lanjut terus Thor 🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
mantull . ditunggu updatenya Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
akhirnya punya sekutu bahkan jadi pendamping nantinya
Aman Wijaya
jooooz Lin Fan lanjutkan aksimu
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
markotop top top lanjut
Aman Wijaya
gaaas terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
rencana yang menarik Lin Fan
Aman Wijaya
gaaas terus Thor lanjut
Aman Wijaya
semangat Lin Fang
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Jade Meamoure
koq manik giok bisa ketahuan sama elser Mo ya
Bakpau
Kerenn☺️
Bakpau
menurut aku bagus😍
Jojo Shua
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!