NovelToon NovelToon
Limerence

Limerence

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: alviona27

Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia

Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 - Push up?

“Ada apa?” tanya Langit bingung saat melihat Adista yang diam saja sedangkan Asep dan Bayu mengangkat bahunya tidak tahu. “Kalian apain?”

“Enggak di apa-apain, Lang. Tanya Asep tuh, dia banyak nanya tadi,” sasar Bayu, Asep menyikut lengan Bayu.

“Adis ...,” Langit mengguncang tubuh Adista membuat Adista menatap Langit. “Kamu kenapa? Diapain sama mereka?”

Adista tersenyum tipis dan menggeleng. “Enggak, aku tiba-tiba aja lupa kalau hari ini ada schedule nonton Oppa.”

Langit menatap datar Adista. “Inget perjanjian,” ucap Langit, Adista terdiam. “Ayo By. Sekarang.”

“Kamu serius?” tanya Adista berbinar. Langit mengangguk mentap, berdiri dari hadapan Adista dan duduk di tengah antara Bayu dan Asep.

“Adis teh mau diapain Lang?” tanya Asep, Langit hanya diam menatap Adista.

“Buruan Dis.”

Adista menghela napas kesal dan mengambil posisi push-up sesuai perintah Langit, Asep dan Bayu yang melihat hanya menggelengkan kepalanya.

“Tega lo,” komentar Bayu, Langit kembali mengabaikan.

Sungguh, kesabaran Langit sudah berada di ambang batas. Dia sudah senang akhir-akhir ini Adista tidak mengingat atau menceritakan tentang Oppanya di hadapan Langit, dan hari ini Adista mengatakan schedule nonton *Oppa-*nya. Wah ... Langit tidak habis pikir dengan pikiran pacarnya itu.

“Satu ... dua ... tiga ...,” Adista berseru kencang.

Langit hanya menatap Adista yang push-up layaknya cacing kepanasan dengan tatapan datar, sedangkan Bayu dan Asep sesekali melirik Langit untuk menghentikan tingkah Langit saat ini.

Menghembuskan napasnya, Langit bangkit dan mendekati Adista. Menarik tangannya dan menyuruhnya untuk berdiri hingga Adista berada di hadapan Langit.

Mata Adista berair menahan air matanya yang hendak keluar, Langit tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa cowok itu rela menyuruh Adista yang sebagai ceweknya untuk push-up?

“Adis ... sorry,” Langit menangkup kedua pipi Adista. “Maafin aku.”

Adista hanya diam menatap Langit yang masih tetap setia menatapnya dari mata.

“Wah ... drama yang bagus ya.”

Langit melepaskan tangannya dari pipi Adista dan terdiam saat mendengar suara yang sangat dia kenali itu. Siapa lagi kalau bukan Regan, teman yang sekarang sudah jadi musuhnya.

“Sebagai temen lama, kenalin dong gue sama cewek lo,” Regan berjalan mendekat dan menepuk pelan pundak Langit.

Langit hanya diam menatap Regan yang menyapanya dan mengatakan banyak hal kepadanya.

“Bay, Sep, gak mau reuni bareng gue nih?” tanya Regan. “Kalian sekarang jadi kaku ya ketemu sama gue,” kekeh Regan.

“Gue pulang nganterin Adista dulu,” ucap Langit menarik tangan Adista keluar dari sana.

“Gue gak dikenalin nih, Lang?!” teriak Regan, Langit tetap mengabaikan.

* * *

Langit tidak mengantar Adista pulang, sekarang mereka berada di kedai es krim dengan alasan kalau Langit butuh pendingin di kepalanya, yaitu Adista dan es krim. Paket yang komplet untuk mendinginkan kepala Langit.

Adista daritadi hanya diam memakan es krimnya, takut untuk bertanya tentang cowok yang datang ke basecamp. Adista menatap Langit, mengambil tangan Langit dan menggenggamnya.

“Kenapa?” tanya Adista menatap Langit. “Cowok tadi ada masalah?”

Langit bertambah bungkam, seperti tidak mau mengatakan apapun kepada Adista. Langit hanya menggeleng dan mengelus pelan tangan Adista menggunakan ibu jarinya.

“Gak apa-apa, nanti aku kasih tahu kamu,” Langit mengacak rambut Adista. “Buruan makan es krimnya.”

Adista hanya mengangguk dan memakan es krimnya.

“By, kamu bakal ninggalin aku gak?” tanya Langit menyuapkan es krim ke mulut Adista.

“Memang kenapa?”

“Aku takut aja, nanti kamu ninggalin aku,” ucap Langit, Adista menggeleng.

“Kita gak bakal tahu, Lang. Entah kamu yang ninggalin aku atau aku yang ninggalin kamu,” ucap Adista menatap Langit dengan tatapannya.

Langit sudah mengantar Adista sampai di rumahnya, dan tujuannya saat ini adalah ke rumah Mikko yang entah dia sedang pacaran atau tidak. Biasanya kalau Langit sudah berada di kamar Mikko sedangkan cowok itu tidak ada, secepat kilat Mikko akan sampai di rumahnya dan menyuruh agar Langit ke luar. Alasannya simpel, Mikko tidak mau Langit mengotori kamarnya dengan membawa makanan yang berada di dalam kulkas.

“Mikko ... Mikko ... main yuk, aku ada permainan baru lho,” ujar Langit bak anak kecil yang mengajak temannya main.

“Main aja sono lo, gak usah manggil-manggil gue,” ujar Mikko dari balkon kamarnya.

Langit terkekeh dan segera masuk ke dalam rumah Mikko dan menuju kamarnya.

“Maaf, gue gak terima cowok kayak lo. Pergi aja sono lo, jalan-jalan sama Adista kek, gak usah gangguin gue. Sekarang gue lagi galau,” kata Mikko dari dalam kamarnya, Langit yang berada di depan pintu kamar Mikko hanya terkekeh.

“Lo diputusin sama Dinda?”

Mikko kesal, membuka pintu kamarnya dan Langit langsung masuk ke dalam kamar Mikko. Langit menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Mikko.

“Kita gak putus, kita cuman lagi break aja, oke.”

“Ye, si biawak. Ngelak mulu, kalo udah putus ya putus aja,” cibir Langit.

“Yang bilang gue sama Dinda putus siapa sih? Orang kita lagi main diem-dieman aja,” elak Mikko tidak mau dikatakan putus hubungan dengan Dinda. Yang ya actually mereka sudah putus.

Langit hanya terkekeh dan menepuk pelan pundak Mikko dan mengucapkan sabar berkali-kali agar cowok itu bisa menerima kalau hubungannya dengan Dinda memang sudah berakhir.

“Gue tadi ketemu Regan. Dia ke basecamp tadi,” ucap Langit mulai serius dengan tujuannya yang datang kesini. “Dan disana juga ada Adista.”

“Terus? Lo udah ceritain siapa Regan?” tanya Mikko yang juga sudah serius dengan pembicaraan mereka.

Langit menggeleng dan menundukkan kepalanya. “Gue gak tahu, atau mungkin gue gak bisa cerita tentang Regan sama Adis, Mik. Gue takut, Adis ninggalin gue.”

Mikko yang duduk di bawah langsung berdiri, duduk di samping Langit dan menepuk pelan pundaknya. “Adis gak bakal ninggalin lo kalo cerita, justru dia bakalan ninggalin lo kalo lo sama sekali gak cerita sama dia.”

“Tapi gue gak bisa,” lirih Langit.

“Masih banyak waktu Lang, lo masih bisa mikir dari mana dulu lo harus cerita kepada Adista.”

Langit menghela napasnya, tidak bisakah dia merasa bahagia sesaat saja? Memang, mungkin kemarin-kemarin dia katakan kalau dia bahagia, tapi hanya sementara kebahagiaannya bersama dengan Adista. Langit ingin selalu bahagia bersama dengan Adista untuk jangka waktu yang lama. Itu keinginannya.

“Lang ... hujan.”

“Ya terus kenapa?” tanya Langit kesal.

“Libert lo kehujanan, kalo udah ngambek kan susah belum lagi besok katanya lo mau nganter Adista—”

“LIBERT KESAYANGAN GUE!!”

Langit langsung berlari cepat keluar dari kamar Mikko dan segera menempatkan Libert di garasi rumah Mikko.

“Jangan ngambek, besok gue mau ngajak Adis jalan-jalan. Nurut lah sama gue, nyenengin pacar sekali-kali,” ucap Langit sambil mengelap Libert.

TBC

1
CandycaneMissy
Author lagi semangat ngapain nih? Kalau aku sih lagi semangat baca karya2 author dan nunggu kelanjutannya
Alya_Kalyarha
semangat nulisnya kk, udah aku like ya
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Alfi Nurdiana
semangat kak 😊

Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞
Himawari
Lanjut terus Thor. ☺️ Jangan lupa mampir dan like novel aku ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!