Gadis berusia 18 tahun jauh-jauh merantau menuju ke kota besar untuk mewujudkan mimpinya. Impian untuk melanjutkan pendidikannya setinggi-tingginya. Namun saat ia ingin membuka jalan untuk mencapai itu, datang seseorang yang awalnya bersedia untuk membantunya tapi tidak cuma-cuma.
Pernikahan yang diinginkan orang itu, gadis ini menyetujui dan akhirnya mereka berdua jatuh cinta. Persyaratan diawal sudah tidak berguna. Tetapi untuk benar-benar bersatu perjalanan mereka tidak mudah. Banyak rintangan dan tantangan yang dihadapi.
Akankah gadis ini bisa menjalaninya dan mereka berdua bisa bersatu kembali ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clara Sety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluh satu.
Riri sedang berjalan cepat memasuki sebuah gedung perkantoran yang sangat sibuk dengan menggunakan dress merah maroon selutut dan high heels sepuluh senti dengan riasan yang begitu mewah. Ia dengan sangat terburu memasuki lift dan menekan tombol angka dua belas.
Ya, gedung kantor yang sedang didatangi oleh Riri adalah gedung kantor milik tunangannya, Dave. Riri sengaja datang kesini karena ingin memberi kejutan untuk tunangannya itu. Tidak lama, pintu lift terbuka dan Riri dengan cepat menuju ke ruangan Dave lalu mengetuk dengan kencang.
Tidak perlu menunggu lama, Dave yang mendengar suara ketukan pintu itu pun membuka dan Dave sangat terkejut karena Riri ada di kantornya.
"Sayang kejutan!" Teriak Riri lalu memeluk Dave dengan erat. Dave yang tau dirinya dipeluk pun melepaskan pelukannya yang membuat Riri sedikit kesal.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Dave kelihatan kurang senang dengan kehadiran dari gadis itu.
"Lihat penampilan baru aku, sayang! Dari makeup, baju, sepatu, tas, rambut. Cantik kan?"
"Hmm..," jawab Dave lalu duduk di kursi kebesarannya.
"Sayang cantik kan?"
"Buat apa kamu dandan seperti ini?"
"Buat pesta kamu lah nanti malam. Masa tunangan dari CEO besar tampil sederhana?" Ucap Riri.
Mendengar ucapan Riri, Dave tidak ingin menanggapi apapun ia lebih memilih duduk lagi di kursinya dan membaca berkas-berkas perusahaan yang belum ia urus. Riri yang melihat itu tidak berhenti untuk menggangu tunangannya itu.
"Dave, acaranya bisa dipercepat? Kalau makeup aku luntur gimana? Kalau aku gak cantik lagi gimana?" Ganggu Riri.
Riri melihat ke arah Dave, belum ada respon apa-apa dari tunangannya itu. Dave masih sibuk membuka tutup berkas perusahaan. Riri pun mencoba lagi dengan tingkah lainnya.
"Sayang? Nanti kamu pasti gak akan malu. Soalnya punya tunangan yang super cantik kayak aku gini ya kan?" Ucap Riri.
Riri terus berusaha menggangu Dave hanya karena ia ingin diperhatikan oleh Dave tetapi semua usahanya sia-sia Dave tak melirik sedikitpun ke arah dirinya dan lebih memilih mengecek berkas perusahan. Riri yang tampak kesal lalu mengambil berkas yang sedang Dave baca lalu menaruh di atas meja. Dave yang melihat itu pun tersentak kaget dan ingin memaki Riri.
"Kamu apa-apaan sih?" Tanya Dave dengan ketus.
"Kamu yang apa-apaan!" Jawab Riri kesal.
"Aku sedang bekerja tapi kamu menggangu," jujur Dave.
"Aku pengganggu? Sejak kapan kamu bilang aku pengganggu?" Tanya Riri dengan kesal. Dave hanya diam tidak menjawab pertanyaan Riri karena dia tau kalau dilanjutkan pasti masalahnya akan sangat panjang dan rumit.
"Kamu gak bisa jawab kan? Aku cuma tanya soal penampilan ke kamu, tapi kamu cuekin aku," gerutu Riri. Mendengar itu semua Dave mencoba mengontrol emosinya untuk tidak marah karena ia tidak ingin masalah yang kecil menjadi besar.
"Oke. Aku minta maaf! Kamu cantik sangat cantik. Sekarang kamu bisa duduk diam disitu menunggu sampai aku selesai dengan pekerjaan," ucap Dave menyelesaikan semuanya.
Mendengar ucapan Dave, Riri pun tersenyum dan menjawab dengan anggukan. Riri pun menurut kata Dave, ia pun duduk di sofa panjang yang ada ruang kerja Dave menunggu dengan diam.
...****************...
Pukul tiga sore, Anissa masih duduk dengan majalahnya menunggu sahabatnya selesai mengubah dirinya. Sudah kurang lebih dua jam ia menunggu sahabatnya dan setelah menunggu sekian lamanya, Bening keluar dari tempatnya diubah menuju keruang tunggu dari salon itu menghampiri ke arah Anissa.
Anissa yang melihat penampilan baru Bening sangat terkesima dengan dandanan semuanya yang baru dari sahabatnya.
"Gila, lo cantik banget," puji Anissa terkesima akan penampilan dari sang teman.
"Enggak kok, biasa aja."
"Beneran gue gak bohong. Nanti kalau udah dipadukan sama baju terus sama high heels lo. Gila gue gak bayangin secantik apa lo," ungkap Anissa.
"Semoga," kata Bening sambil tersenyum kecil.
"Ya udah ayo balik. Gue harus kerja, lo kan berangkatnya agak nanti," ajak Anissa.
Bening dan Anissa pun keluar dari salon itu tidak lupa juga Anissa membayar semuanya. Mereka pun menuju pintu mall itu dan pulang menuju kostnya karena Anissa harus bekerja lagi.
Bersambung...
Sesusah itu nyari novel yang bagus, terakhir baca novel yang bagus sekitar sebulan yang lalu, itu pun pembacanya dikit banget.
Judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung gini