Tejo Suseno, seorang pengusaha sukses telah memiliki kehidupan yang sempurna bersama Rania, istrinya yang cantik dan ketiga buah hatinya.
Tapi kemudian Tejo bertemu dengan Karin, gadis muda yang cantik dan membuatnya jatuh cinta lagi
Di belakang Rania, Tejo bertekad menikahi Karin, meski tidak direstui Ibunya.
Nb: 21+(mengandung konten dewasa di beberapa part)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izzati Zah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pagi itu Tejo bangun agak kesiangan. Tentu karena petualangan semalam yang amat menyenangkan. Meskipun masih mengantuk, tapi wajahnya berseri segar dan amat bersemangat. Hari ini Tejo akan memulai petualangan baru yang mungkin akan jauh lebih menyenangkan lagi. Meskipun sedikit grogi tapi Tejo juga sangat antusias. Akad nikah akan dilaksanakan pukul setengah sepuluh pagi. Sekarang masih pukul tujuh. Tejo mengemasi pakaian dan barang bawaannya dengan dibantu istrinya Rania. Andai saja Rania tahu akan pergi kemana suaminya sebenarnya. Akankah dia tetap bersikap semanis ini.
"Hati-hati Mas, jauh dari istri dan keluarga bisa banyak godaan..."
Pesan dari Rania langsung menikam hatinya. Membuatnya merasa tersindir.
"Ya, tenang saja...aku nggak akan melupakan istriku tercinta, baik-baik sama anak-anak dirumah, kalau ada apa-apa hubungi aku..."
Lain di bibir lain di hati, Tejo Suseso kini telah pandai bersandiwara.
Tejo berangkat dengan dijemput sopir kantornya. Dari rumah Tejo akan menuju rumah barunya. Rumah yang dipersiapkan untuk tempat tinggalnya bersama Karin nanti. Dari sana dia akan bersiap kemakai jas pengantin dan membawa mahar lengkap dengan seserahan lainnya. Dari sana pula rombongan akan berkumpul dan berangkat bersama untuk menuju lokasi akad nikah.
Tepat pukul sembilan. Semuanya sudah siap ditempat. Mempelai wanita, mempelai pria, saksi, beserta seluruh keluarga, kerabat, dan sahabat sudah hadir. Tinggal menunggu penghulu saja yang rencananya datang tepat pukul setengah sepuluh untuk menikahkan mereka.
Hari itu cuaca cerah dan udara terasa sejuk. Tepat pukul setengah sepuluh, lafal akad nikah diucapkan di hadapan penghulu dengan Papa Karin sebagai wali nikahnya. Seluruh prosesi acara berlangsung khidmat meski tanpa kehadiran sang Ibunda dari Tejo Suseno.
Saya terima nikah dan kawinnya, Karina Taslim binti Erwin Taslim dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 200 gr dibayar tunai.
Tejo Suseno berhasil mengucapkan lafadz akad dalam satu tarikan nafas. Disusul dengan seruan sah, dari seluruh hadirin yang berada ditempat. Akhirnya Karina resmi menyandang status Nyonya Tejo Seseno. Air mata haru dan bahagia lebur menghiasi wajah cantik Karin yang dibalut riasan sederhana.
Mas kawin yang disebutkan dalam lafal akad belum termasuk sebuah rumah mewah dan mobil atas nama Karin, yang nantinya akan mereka tempati bersama. Karina bukan gadis yang matrealistis. Tapi banyaknya jumlah mas kawin dan pemberian dari Mas Tejo yang tidak main-main membuat Karin yakin akan kesungguhan kekasihnya itu. Meskipun untuk sementara waktu mereka baru bisa menikah secara siri.
Secara keseluruhan acara berjalan lancar, meski di belakang ada saja orang yang berbicara buruk tentang pernikahan ini. Hal itu dilatarbelakangi oleh ketidakhadiran orang tua mempelai lelaki dan juga pernikahan yang hanya dilangsungkan secara siri.
"Jangan-jangan lakinya udah punya bini lagi? Kok mau-maunya cuma dinikah siri?"
"Iye, jaman sekarang cantik-cantik demennya sama laki orang..."
"Emangnya yang laki yatim piatu apa? Masak iye emak bapaknya nggak bisa dateng?"
"Iye, jangan-jangan mereka nggak dapat restu, terus kawin lari?"
"Capek kali mpok kawin sambil lari-lari, jangan suka suudzon sama urusan yang kita nggak paham, siapa tahu emak bapaknya emang udah nggak ada.."
"Iya..iya udah yuk, kita mah tinggal makan aja, nggak usah mikirin urusan orang.."
Itu hanya segelintir percakapan dari para tetangga yang tak suka dan merasa curiga.
Karin bukannya tidak tahu, kalau dibelakangnya ada saja orang yang tidak suka dan berbicara buruk rentang pernikahannya. Tapi Karina tidak ingin ambil pusing. Hari ini adalah hari bahagianya. Karin memilih mengabaikan itu semua dan fokus pada suami dan keluarganya saja. Moment ini adalah moment sakral yang harus dihayati dengan penuh suka cita.
Setelah semua prosesi pernikahan selesai, Karin langsung pergi ke hotel bersama Mas Tejo. Akhirnya untuk pertama kalinya Karin benar-benar pergi meninggalkan rumah orangtuanya untuk memulai hidup baru bersama suaminya. Bahagia tentu saja dirasakan Karin, tapi Karin juga merasa sedih harus berpisah dengan keluarga yang selama ini membesarkannya.
"Jangan sedih istriku, kamu masih bisa bertemu dan mengunjungi keluargamu kapanpun kamu mau, aku nggak akan melarang.."
Tejo seakan tahu apa yang dipikirkan istri barunya. Tapi mendengar Mas Tejo menyebut dirinya istri, membuat bulu kuduk Karin meremang.
Mas Tejo merangkul pundak Karin dan menuntunnya memasuki kamar pengantin mereka. Sebuah kamar tipe presidential suite, dengan nuansa klasik yang elegan. Tempat tidur mereka berhiaskan dekorasi bunga mawar merah dan putih berbentuk hati dengan sebuah kartu ucapan manis berwarna emas. Happy wedding Mr & Mrs Tejo Suseno.
Karin berjalan menuju depan meja rias untuk menghapus make upnya terlebih dahulu. Tejo menghampiri istrinya dan membantunya. Bukannya membantu, kehadiran Mas Tejo malah membuat Karin salah tingkah. Meskipun ini pernikahan kedua bagi Tejo Suseno, namun tetap saja keduanya merasakan debaran dan kecanggungan saat pertama kali berada di dalam kamar berdua saja.
Usai menghapus riasan, Karina yang merasa gerah ingin segera mandi dan membersihkan diri.
"Aku mandi dulu Mas.."
"Kita mandi sama-sama.."
"Jangan, aku masih malu.."
Karin belum siap dan tidak mau kalau suaminya melihatnya dalam keadaan berantakan dan berkeringat.
"Tapi pihak hotel sudah menyiapkan bath up untuk mandi berdua, sayang kalau tidak dimanfaatkan.."
Bagi Tejo, Karin akan selalu terlihat cantik, apapun kondisinya. Dan Tejo sudah tidak sabar untuk memandangi tubuh istri barunya itu.
Akhirnya, dengan Karin menuruti permintaan suaminya meski dengan malu-malu.
Bath up itu berhiaskan bunga mawar merah dan putih dengan motif hati. Di sekelilingnya tersusun lilin apung dengan formasi I love you berlatarkan jendela yang menyajikan pemandangan kota. Setiap detailnya sudah didesign sedemikian rupa untuk menciptakan suasana romantis dengan elegan.
Mereka berdua benar-benar hanya mandi bersama, sambil berbincang dan sesekali menyesap lemongrass tea hangat yang telah disediakan. Sesekali Mas Tejo mengelus punggung dan pundak Karin. Puncaknya Mas Tejo meraih kepala Karin dengan kedua tangannya lalu mengecup bibir Karin dengan perlahan, lembut, dan dalam. Lalu menuntun Karin untuk keluar dan membantu Karin mengenakan pakaian. Meskipun hasratnya telah tertantang, tapi Mas Tejo memilih untuk bersabar dan menunggu sampai nanti malam. Dia ingin memperlakukan Karin dengan hormat dan penuh kasih sayang, bukan tentang ***** semata.
Malam harinya, barulah Mas Tejo melakukan eksekusi yang sebenarnya. Melihat tingkah Karin yang gugup dan malu-malu membuat hasratnya semakin bergelora.
"Karina...I love you so much, thank you for being mine"
Diraihnya Karin kedalam pelukannya. Lalu dimulailah satu persatu sentuhan yang mampu membawa dan menghanyutkan Karin ke nirwana. Tejo melakukan semuanya dengan penuh perasaan dan penghayatan, memperlakukan Karin dengan sehangat dan selembut mungkin hingga mencapai klimaksnya. Tejo ingin memberikan pengalaman pertama yang berkesan untuk istri tercintanya.