NovelToon NovelToon
Dear Khadijah

Dear Khadijah

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:246.2k
Nilai: 5
Nama Author: AYSEL

Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.

Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.

Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.

Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Definisi jodoh.

...21. Definisi jodoh....

“Kenapa harus, Kha?”

“Love at first sight, maybe.”

Senja memejamkan mata. Mengatur emosi agar bisa bicara bersama Barid dengan tenang. Ia ingin ngobrol terlebih dahulu dengan Barid usai menenangkan diri kemarin. Biru ia suruh pulang lebih dulu dengan alasan agar Barsha ada yang menemani.

“Bukan, Sayang. Kamu tidak semata-mata menyukai gadis itu hanya dengan sekali melihat.” sangkal Senja. “Kamu tahu sesuatu tentang Kha terhadap Abangmu, dan kamu tidak suka itu.”

Barid mengusap wajahnya dengan kasar. “Mama masih saja belain Abang.”

“Mama nggak belain, Abang. Mama cuma nggak suka kamu simpan dendam buat Abang.” teriak Senja. “Lihat, Nak. Betapa dewasanya Abang kamu, dia lebih memilih diam dan mencoba memahami kamu padahal seharusnya dia marah!”

“Kamu nggak tahu apa-apa tentang Mama kandung Abang. Yang kamu tahu hanya apa yang kamu lihat di layar kaca.”

“Seburuk apapun Teh Jihan, dia tetap ibu yang baik buat Abang Biru! Sama seperti Mama yang sudah gagal mendidik kamu tapi Mama tetap Mama kamu, Nak!”

Senja tak kuasa menahan emosi. Tangisnya pecah hanya dengan mengeluarkan kalimat yang tak banyak. Ia sungguh tak membayangkan betapa sedihnya Biru mendengar cemoohan Barid tentang Ibu kandungnya.

Senja duduk meringkuk. Menenggelamkan kepalanya dalam dalam pada telungkupan tangan.

Masih disertai isakan tangis, Senja melanjutkan kalimatnya. “Kamu nggak tahu hari-hari berat yang sudah Mama dan Abangmu lalui bersama. Kita melawan rasa sedih, takut, dan rasa bersalah bersama-sama. Bahkan Mama--” kalimatnya terjeda. Senja kembali mengatur napas yang mulai tersengal.

“Bahkan Mama nggak pernah mengharapkan kehadiran kamu dulu. Tapi Biru... Dia yang meminta, dia yang memohon dengan sangat agar Mama memberinya seorang adik.”

“Abang kamu, harus melawan rasa traumanya karena melihat Mama kesakitan ketika berjuang melahirkan kamu. Dia tidak suka melihat Mama sama kamu merasakan sakit.”

Barid bergeming. Ia mendengarkan cerita Senja dengan seksama.

“Nggak sampai disitu, Nak. Biru yang selalu bantuin Mama jagain kamu, dia selalu sigap menjaga kamu tanpa diminta. Setiap malam dia buatin kamu susu, Mama sangat ingat setiap malam Biru memijit mulutnya yang pegal usai menyanyikan banyak lagu dan membacakan cerita agar kamu tidur,”

Senja mengambil tissue dan mengusap wajahnya yang basah. “Dia Biru, Sayang. Abang kamu yang tidak pernah mengeluh meskipun perhatian Mama sama Papa beralih setelah kelahiran kamu. Abang kamu yang jagain kamu saat Barsha lahir dan menyita seluruh perhatian Mama. Abang Kamu yang selalu jagain dan belain kamu disekolah saat kamu di jahilin sama temen-temen kamu.

“Hal apa yang buat kamu berpikir kalau Mama lebih sayang sama Biru?”

Barid menunduk. Ia bahkan tak mampu menjawab pertanyaan Senja. Ia ingat, semua yang Senja katakan tentang Biru. Saat Biru harus menerima skors dari sekolah karena membelanya dan mengajar habis anak yang sudah berbuat jahil. Ia bahkan ingat ketika Biru menolak kamar terpisah lantaran tak mau ia terlelap seorang diri.

“Bagaimana bisa kamu membalas kebaikan Abang dengan luka dari perkataan kamu?”

“Jawab, Nak! Biar Mama tahu dimana kesalahan Mama dan Abang kamu.”

Barid menggeleng, satu bulir bening lolos dari matanya. Dadanya sesak, hanya karena ingin memiliki semua yang Biru miliki, ia berubah menjadi adik yang begitu tamak dan jahat. Barid tidak suka Biru memiliki kebebasan pilihan hidup, pembelaan Mama, teman baik, sampai tetangga ruko yang cantik. Yang lebih membuatnya geram, Biru mendapatkan semua itu padahal faktanya ia bukanlah anak yang berasal dari rahim yang sama dengannya.

“Haruskah Mama yang minta maaf sama Abang kamu, Sayang?”

“Nggak, Ma. Aku yang salah.” jawab Barid pendek.

“Mama seorang perempuan, Sayang. Mama tahu siapa yang Kha lihat.”

Kali ini Barid bergeming. Untuk perasaannya, ia yakin bahwa dirinya memang menyukai Kha, Kha dengan segala pembawaannya.

“Tapi Barid memang suka, Kha....”

“Lalu, Kha? Apa dia terlihat bisa membalas perasaan kamu? Lihat lebih jeli, siapa yang sebenarnya Kha inginkan. Biru, kamu, atau orang lain,”

“Pergilah. Temui gadis itu, Pastikan siapa yang Kha inginkan. Dan juga minta maaf sama Abangmu, banyak hal kebaikan dan pengorbanan dia untuk kamu yang belum kamu sadari.”

Barid mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Senja dirumah Iyang seorang diri.

...🌼🌼🌼🌼🌼...

Khadijah.

“Asti, temani aku.” Kha meminta Asti menemaninya duduk di kursi kayu bawah pohon.

“Perlu bicara apa, Mas?” tanya Kha.

Barid mengulas senyum. “Nggak bisa kalau bicara berdua saja?” Kha menggelang.

Hampir 5 menit mereka duduk berseberangan. Keduanya hanya diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kha membuang pandangannya ke jalan raya, memperhatikan lampu-lampu jalan yang sebagian sudah menyala.

“Maaf... Sikap aku tempo hari sedikit berlebihan.”

Kha tak merespon. Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan pada Barid bahwa apa yang ia lakukan bukan hanya sedikit, tapi sangat berlebihan. Menghina orang, dan membicarakan keburukan salah satu anggota keluarga. Jika dibicarakan dengan orang lain, omongan Barid bisa saja menggiring opini buruk untuk orang lain.

“Mas, aku hanya mau bilang. Jangan menyembuhkan luka di hatimu dengan melukai hati orang lain.”

“Kamu salah alamat kalau minta maaf kesini, Mas. Harusnya kamu minta maaf sa Mamamu atau Biru,”

“Aku tahu, akan aku lakukan nanti. Sebelumnya aku ingin bertemu kamu dan memastikan sesuatu.”

Kha mengernyit. Apalagi yang harus Barid pastikan?

Mereka berdua kembali terdiam, kali ini bahkan lebih dari 5 menit.

“Kha... Menurut kamu, definisi jodoh itu seperti apa?”

Kha menelengkan kepala, berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Barid.

“Menurut aku... Jodoh itu sepeti Alif lam mim, ayat pertama disurah Al-Baqarah. Artinya hanya Allah yang tahu.”

Barid mengangguk. “Kalau aku? Menurut kamu gimana?” tanyanya sembari tersenyum.

“Kamu adalah adik dari pemilik toko sebelah, dan salah satu pelanggan tetap toko aku.”

“Hanya itu?”

Kha mengangguk mantap. “Hanya itu, tak lebih dan tak kurang.”

Barid kembali melemparkan pertanyaan yang tak masuk akal lainnya. “Kalau Abang? Seperti apa Abang Biru dimata kamu?”

“Menyebalkan,” jawab Kha jujur, namun disertai tawa ringan.

Barid berdiri lalu mengibaskan kemeja. “Oke. Thanks, Kha. Buat jawabannya.”

Kha semakin dibuat bingung. “Mas Barid kesini hanya mau menanyakan itu?”

“Mamaku bilang, temui Kha dan pastikan siapa yang Kha sukai, aku atau Abang. Ternyata perasaanku benar-benar bertepuk sebelah tangan.” ucap Barid lalu pergi meninggalkan halaman ruko. Meninggalkan Kha dengan segenap kebingungannya.

“As... As!”

Asti mendekati Kha, “Kenapa, Teh?”

“Kamu dengar barusan Barid tanya-tanya aku, 'kan?” Asti mengangguk. “Aku nggak ngerti maksud Barid, As. Dia kesini jauh-jauh cuman nanya dia sama Biru kayak apa?”

Asti menertawakan sikap atasannya yang kelewat polos. “Itu cuma kamuflase aja, Teh. Sebenarnya inti dari pertanyaan Mas Barid itu mencari tahu siapa yang lebih Teteh Kha sukai,”

Mulut Kha menganga, padahal pertanyaan Barid hanya terdengar seperti bagaiman Kha menilai Kakak beradik itu. “Kok, bisa melenceng jauh gitu?”

Asti merapatkan duduknya, menutupi bagian telinga Kha dengan sebelah tangan dan berbisik. “Pas Teteh bilang Barid cuman pelanggan, muka teteh biasa aja. Nah pas Teteh bilang Mas Biru menyebalkan, tapi muka Teteh sambil ketawa, seperti menjelaskan walaupun Mas Biru itu menyebalkan tapi Teteh suka.”

“Loh! Nggak bisa gitu dong!”

“Cie cie, Teteh....”

Asti berlari menghindari Kha yang sudah siap mencubit. Ia mengejar Asti sampai masuk kedalam ruko.

1
Siti Dede
Jahatnya Bariid
Ita Yuhana
nyesek q bacanya 😭😭😭😭
Ita Yuhana
pedes banget itu mulut barid
Ita Yuhana
kayaknya sama" ada rasa nich .... asyik lanjut kk
Najwa Najwa
😭😭😭😭😭
NUR NAZEERAH: Najwa-Najwa
total 1 replies
Qin one
lihat judulnya, penasaran
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
Bunga Dwi Femina
kadang heran aku sama yg novelnya bagus yg baca cuman sedikit,yg tulisannya amburadul malah dapet milestone,semangat ya kak ditunggu novel2 berikutnya
Bunga Dwi Femina
barid lebih cocok JD anaknya Jihan,sama2 ambisius,kalo biru malah kek senja...santaiiiii
Firzanah Ghassani
sangat puas sama endingnya. alurnya pun gk begitu berat. trima kaaih thor
RosE
Bagus banget ceritanya... q sampai nangis bacanya 🥺 thanks ya Thor, sudah menyuguhkan cerita yg lain dari yang lain... sampai marathon bacanya, penasaran gimana cerita selanjutnya... semangat terus berkarya ya... 💪❤️
Eka Suryati
Kha wanita soliha
Eka Suryati
Awal kisahmu dimulai Kha
Eka Suryati
Wanita anggun nan soleha
Eka Suryati
Kha....senang sekali
Eka Suryati
Aamiin
Eka Suryati
absen, komen dan Next
Eka Suryati
Next
Eka Suryati
Keren kok Kha
Eka Suryati
Muslimah sesungguhnya
Eka Suryati
Tidak.mengenal pacaran👍🏻👌🏻💪🏻💪🏻
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!