Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Ruang Makan Istana.
"Salam Yang Mulia!" Tutur Davira.
Semua mata langsung tertuju padanya. Para bangsawan yang biasanya meremehkan kini terdiam, lidah mereka kelu melihat penampilan baru sang Ratu.
Bisik-bisik kecil menyusuri meja panjang penuh hidangan, mengalir di antara para tamu yang terperangah.
"Apakah ini benar, Ratu Davira?"
"Ia terlihat begitu berbeda… lebih bercahaya."
Bahkan sang raja, yang selama ini gemar mengabaikan kehadirannya, tak bisa menahan diri untuk menatap lama.
Dengan senyum tipis yang sarat arti, Davira duduk di kursinya, gerakannya anggun ditambah senyum menggoda. Ia tahu, sejak malam ini, tak seorang pun di ruangan itu akan memandangnya dengan cara yang sama lagi.
Deg
Deg
Deg
Suara jantung Davira, menahan amarah amarah, ada rasa ingin segera membunuh laki-laki yang dengan santai dan teganya membunuh buah hatinya sendiri, meski saat itu Davira belum sempat melihat janinnya sendiri.
Melihat wajah suram dengan tatapan ingin membunuh itu, entah kenapa terasa begitu menakutkan di mata Liam sendiri. Ada rasa terkejut yang menyelinap di matanya, campuran antara takjub dan resah, seolah-olah istrinya yang lama telah tiada dan digantikan oleh sosok asing yang lebih kuat, lebih memesona, dan lebih berbahaya. Sorot mata Davira tampak berbeda dari biasanya—penuh permusuhan.
Namun, Liam berusaha mengalihkan pikirannya dengan fakta bahwa Davira yang sangat amat mencintainya tidak mungkin seperti itu.
Seketika, Davira yang menyadari tatapan dari Liam kembali tersenyum hangat seperti tidak ada yang berubah.
Davira sengaja duduk tepat, di depan sang Raja yang membuat Idette kesal lantaran mata Liam saat ini terus menyoroti penampilan tak biasa dari Davira.
"Apa-apaan dengan pakaiannya itu? Apa dia sengaja tampil memukau untuk menggoda Yang Mulia?" pikir Idette yang cemburu.
Pikir negatif Idette yang terus menatap nanar Davira. Namun, berbeda dengan apa yang di pikirkan oleh Idette, Liam saat ini malah tertarik dengan penampilan baru Davira.
Pikirnya, betapa cantik dan memukaunya Davira saat di baluti pakaian cerah yang digunakan oleh para nona muda.
"Hem, ada apa dengan tatapan kalian? Jangan katakan kalian tidak menyambut kedatanganku!" Sindir Davira.
Liam dan Idette yang menyadari tatapan mereka tidak biasa ke arah Davira mulai mengalihkan perhatian mereka.
"Oh... Lihatlah, betapa kompaknya dua benalu tak tahu malu ini!" Pikir Davira yang menyadari betapa kompak dan cocoknya dua manusia yang tak tau malu ini.
Davira terus menatap lekat ke arah Liam yang membuat Liam salah menafsirkan sorot mata benci itu dengan perasaan penasaran.
"Hem, kenapa menatapku seperti itu, Yang Mulia?" Tanya Davira, dengan wajah polos.
"Aku menatapmu sejak tadi karena kau berpenampilan berbeda dari biasanya!"
"Hoo, Lalu, apakah itu menarik perhatianmu, Yang Mulia?" Goda Davira.
Dan tentunya pernyataan Davira ini sedikit berefek baik untuk Liam mau pun Idette.
"Yah, kau terlihat lebih cantik, seperti seorang gadis," Ucap Liam yang membuat Idette dan Davira terkejut bukan main.
Bukan pula tanpa alasan kenapa Idette dan Davira terkejut mendengar penyataan Liam, lantaran setelah menikah dan berjuang kerasa bersama selama ini, malam inilah pertama kalinya Liam memuji Davira secara langsung.
"Apakah ini trik barunya untuk mencari perhatianku? Haha, tidak buruk juga!" Pikir Liam dengan seutas senyum diujung bibirnya.
Namun, berbeda dengan pikiran Liam, Idette naik darah melihat Davira dipuji begitu oleh sang Raja.
Padahal, Idette lebih dulu hadir disini dari pada Davira. Namun sejak tadi, ia tidak dapat pujian apa pun dari Liam yang menyatakan lebih mencintai dirinya dari pada Davira.
"Davira sialan!! Kini mata Raja malah tertuju padanya!" Celetuk batin Idette penuh kesal.
Sungguh ia tidak terima sikap suka Liam pada Davira meski itu secuil debu. Namun, berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh mereka berdua.
Davira sendiri merasa merinding mendengar pujian dari musuh bebuyutan yang ingin segera ditebasnya ini.
"Haha, Yang Mulia bisa saja! Aku hanya penasaran akan gaun yang di populerkan oleh Nona muda dari keluarga Osmond, beberapa hari lalu!" Ucap Davira yang menyentak kesadaran Idette.
Tak pernah terpikirkan oleh Idette bahwa Davira akan tertarik pada gaun yang sempat dihina olehnya karna di populerkan oleh musuh bebuyutannya di pergaulan sosial.
"Aku tidak menyangka, gaun dengan potongan rendah ini akan cocok untukku!" Lanjut Davira yang menyadari bahwa kini Idette terpancing dan memperlihatkan raut wajah kesal.
Namun, yang lebih mengejutkan lagi, kini batin Davira sedang meronta-ronta lantaran melihat raut wajah yang tak biasa dari Liam sendiri.
"Hmm, sekarang kau tau betapa cantiknya aku bukan!" Ujar batin Davira lantaran Liam tidak bisa mengalihkan pandangan takjubnya.
"A–Apa maksudmu, Yang Mulia Ratu?" Potong Idette pada perkataan Sang Raja.
Tentunya pernyataan Idette ini menyentak kesadaran Liam, bahwa dirinya kini malah teralihkan pada wanita yang sangat di bencinya seperti parasit yang menggerogoti hidupnya.
Namun, dibenak Davira saat ini malah terfokuskan pada hal lain. Yaitu, pada kenyataan bahwa di Negeri ini, satu-satunya orang yang bisa memotong perkataan Raja adalah Idette, bukan Sang Ratu yaitu, Davira sendiri.
"Kau terlihat cantik dan cocok dengan pakaian itu, benarkan Yang Mulia?" Lanjutnya lagi sembari menyeret Sang Raja untuk memperlihatkan kepeduliannya.
"Benar sayang!" Jawab spontan Sang Raja yang setuju akan perkataan Idette itu.
Namun, pernyataan Sang Raja malah membuat Idette semakin kesal. Kemudian, Idette pun mencari cara untuk mempermalukan Davira yang baru saja dipuji nan dilirik oleh Liam.
"Izinkan aku menuangkan minuman kepadamu dan Ratu, sebagai rasa hormatku yang mulia!" Seru Idette berdiri sembari tersenyum dengan trik kecilnya.
Namun, berbeda dengan harapan Idette. Davira kali ini justru ingin membuat Liam semakin membencinya dengan berbagai sudut pandang.
"Lakukan saja!" Ujar Liam yang tidak mengetahui maksud terselubung Idette.
Kemudian Idette langsung menuangkan minuman ke dua gelas yang ada di sampingnya.
"Silahkan dinikmati, Yang Mulia," Ucap Idette memberikan gelas kaca yang berisi minuman ke Liam.
Tak lupa pula Idette mengelus lembut punggung tangan Liam tuk menggodanya, sembari melempar senyuman malu-malu kucing.
Tentunya, melihat tingkah Idette ini membuat Davira mual yang dikira cemburu oleh Idette lantaran ekspresi wajah Davira yang terlihat tak baik itu.
"Ini untukmu, Ratu!" Ucap Idette sembari memberikan gelas yang telah berisi minuman kepada Davira dengan tatapan penuh kemenangan.
Tapi, sebelum Davira sempat mengambil minuman itu dari tangan Idette gelasnya malah jatuh. Tentunya Davira tau inilah trik yang sedang dimainkan oleh Idette.
"Aghhh, Yang Mulia! Ma-maafkan aku, hiks.." Ucap Idette sembari menangis, membuat Davira keheranan.
"Pikirnya, tidak ada hujan, tidak ada angin. Kok, malah nangis?"
Tentunya ini juga merupakan trik licik dari Idette yang berharap Sang Raja akan memarahi Davira. Dan tentu saja, si bodoh yang telah di butakan oleh rasa cintanya itu terkejut dan berdiri.
"Ratu, apa maksudmu dengan sengaja menjatuhkan minuman itu di tanganku, hiks.." Ujar Idette dengan raut wajah terkejut dan memelas sedih.
"Ratu, kau benar-benar kelewatan! Apakah ini caramu berterimakasih pada orang yang menuangkan minuman, untukmu?!" Bentak Liam tanpa peduli siapa yang salah disini.
"Dengan tindakan kejammu ini, semakin membuatku membencimu, Ratu!!" Tambahnya lagi.
Namun, pernyataan Liam dan akting buruk Idette, sunguh membuat Davira ingin tertawa. Pikirnya, betapa konyolnya pertunjukan yang sedang dimainkan oleh jalang dan anjing ini.
"Ah, ma-maafkan aku Idette. Aku benar-benar tidak sengaja!" Ucapnya lirih.
Namun, entah kenapa, baik itu Liam maupun Idette merasa ada yang aneh pada sikap mengalah dan bersalahnya Davira ini. Bukankah jika Davira yang selama ini mereka kenal, tak mau mengalah dengan begitu mudah.
Mereka juga tidak bisa menjelaskan akan sikap yang tak biasa, yang mereka sendiri tidak menyadarinya dengan benar apa itu.
"Dan Yang Mulia! Sekarang aku sadar, aku tidak mau membuatmu marah lagi!" ucap Davira tiba-tiba.
"Seperti yang kau katakan Idette, aku tidak boleh terlalu egois dengan mengabaikan perasaan Yang Mulia!" Tambahnya yang semakin membuat Idette dan Liam penasaran.
"Setelah aku merenungkannya, aku setuju atas pernikahan kalian berdua!"
"Apa??" Pekik histeris antara Liam dan Idette serempak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️