NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: SEBUAH RUMOR?!

Hari kedua sekolah akhirnya tiba. Sinar matahari pagi mulai menampakkan dirinya di ufuk timur, memancarkan kehangatan bagi bumi.

​Namun di sebuah kamar di lantai dua, kehangatan itu sama sekali tidak mempan untuk membangunkan Raka.

​Bagi Raka, bangun pagi adalah sebuah perjuangan hidup dan mati. Teriakan ibunya sudah menjadi soundtrack rutin tiap pagi. Bahkan jika gedoran pintu dan teriakan desibel tinggi gagal, ibunya punya jurus pamungkas yang paling ampuh: Gayung berisi air dingin.

​SBYURRR!

​"Ugh! Banjir?!" Raka tersentak bangun dengan wajah basah kuyup.

​"Bangun, Raka! Kamu mau mandi sendiri atau Ibu mandiin di kasur?!" seru ibunya dari samping tempat tidur sambil memegang gayung kosong.

​Setelah momen 'pembaptisan pagi' yang traumatis itu, Raka bergegas mandi, menyantap sarapan seadanya, dan melesat ke sekolah.

​Setibanya di depan gerbang sekolah, Raka menghela napas panjang meratapi nasibnya.

​"Haaah... tiap hari disiram air," gumam Raka sambil mengusap rambutnya yang masih agak basah. "Gue butuh tips disiplin dari para ahli nih. Tapi... yah, terlepas dari siksaan pagi tadi, yang penting gue tetep tepat waktu."

​Tepat saat kaki Raka melangkahi garis gerbang sekolah, bel masuk berbunyi nyaring.

​TETTT... TETTT...

​"Waduh!" Raka langsung mempercepat langkah kakinya, setengah berlari menuju kelas 10A agar tidak kena tegur guru di hari kedua.

​Setibanya di dalam kelas, Raka melihat Dimas dan Alya yang sudah duduk manis di bangku masing-masing.

​"Halo, teman-teman!" sapa Raka sambil menarik kursinya.

​"Hai, Rak!" sahut Dimas ceria, sementara Alya hanya memberikan anggukan kecil tanpa suara.

​Raka merebahkan dada ke atas meja, melirik ke arah Alya yang duduk di sampingnya. Mumpung ada kesempatan, Raka mencoba membuka percakapan.

​"Al..."

​Alya menoleh pelan, pandangan matanya yang jernih menatap Raka. "Hmm?"

​"Lu... gak punya temen cewek gitu?" tanya Raka blak-blakan. "Soalnya pas hari pertama kemarin gue perhatiin lu cuma sama gue sama Dimas doang. Terus pas istirahat lu sering duduk sendirian."

​Alya diam sejenak, matanya menatap Raka lempeng. "Kenapa gak bareng-bareng aja sama yang lain?" lanjut Raka.

​"Hmm... terus apa manfaatnya buat kamu kalau tahu?" balas Alya dengan nada datar nan dingin.

​Raka menggaruk pipinya. "Hmm... gak ada sih. Cuma penasaran aja."

​Alya menghela napas pelan. "Gak usah dibahas."

​Alya kemudian bangkit dari kursinya, membawa kotak bekal kosong yang baru saja ia gunakan untuk sarapan. Tanpa mengucap kata lagi, ia melangkah keluar kelas menuju wastafel koridor untuk membersihkan kotaknya.

​Raka yang ditinggal sendirian hanya bisa melongo dengan ekspresi bingung. "Lah, gue salah ngomong apa gimana?"

​Raut wajah bingung Raka rupanya memancing sel-sel detektif dan gosip dalam diri Dimas. Merasa ada drama hangat, Dimas menyeringai, menyeret kursinya mendekati meja Raka.

​SREKKK!

​Dimas mendadak muncul dari samping sambil menepuk meja Raka keras-keras.

​"OIII!"

​"Hah?! APA?! Astaga, ngagetin lu, Mas!" Raka terlonjak, memegangi dadanya yang terkejut.

​Dimas tertawa ngakak. "Hahaha! Lagian lu ngelamun mulu kayak ayam bertelur. Mikirin apaan sih?"

​"Hmm... itu, si Alya," gumam Raka pelan.

​Mata Dimas langsung berbinar. "Wih! Gosip nih! Aroma-aroma benih cinta lokasi!"

​"Ngawur lu!" cetus Raka menusuk bahu Dimas pakai pulpen.

​"Lah, terus apaan dong?"

​"Ini gue... agak khawatir aja sih sama Alya."

​Dimas melotot, menahan tawa. "Loh, loh, loh! Ini baru hari kedua sekolah loh, Rak! Lu udah naksir aja?!"

​Raka menatap Dimas dengan tatapan membunuh. "Lu mau gue ceburin ke got depan sekolah, Mas?"

​Seketika Dimas memasang wajah memelas, merapatkan kedua telapak tangannya. "Ehh, jangan dong Mas Raka yang ganteng, baik hati, dan dermawan!"

​"Anjir, geli kocak!" Raka merinding. "Tapi gue serius, Dim. Dari kemarin Alya tuh kayak malas bergaul sama orang lain. Meskipun ada yang mau ngajak ngobrol, dia selalu cuek dan menutup diri."

​Dimas bersandar di kursinya, mengibaskan tangan. "Halah, bukannya emang gitu kepribadian cewek introvert atau kuudere?"

​Raka menggeleng pelan, memasang raut muka sok misterius. "Gak... menurut firasat gue sebagai MC anime, dia pasti punya masa lalu yang kelam."

​Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Hmm... bisa jadi sih. Tumben lu mikirnya serius gini, Rak?"

​"Gue juga butuh saat-saat serius kali! Masa hidup di dunia cuma buat bercandaan doang?" sahut Raka membela diri.

​"Yee, sok pintar lu!"

​"Lah, gue mah emang pintar! Lu aja yang gak tahu!"

​"Dih, pede boleh tapi jangan kepedean, Masbro!"

​Baru saja Raka mau membalas celotehan Dimas, pintu kelas terbuka. Pak Guru masuk ke dalam kelas bertepatan dengan bel pelajaran yang berbunyi.

​Dimas menepuk pundak Raka pelan. "Yaudah, sampe sini dulu. Nanti lanjut lagi."

​"Sip."

​Pak Guru berdiri di depan papan tulis, melipat tangan di dada. "Oke anak-anak, sebelum pelajaran dimulai, Bapak mau kasih tahu nih. Mumpung kalian masih murid baru dan minggu ini masih masa adaptasi MPLS, kalian dibebaskan buat cari kegiatan di sekolah. Bisa survey ekstrakurikuler, atau membaca di perpustakaan. Tapi ingat ya, lakukannya pas jam istirahat saja!"

​"Baik, Pak!" sahut seluruh murid serempak.

​Pelajaran jam pertama terasa berjalan sangat lambat dan membosankan.

​Dimas yang duduk di depan Raka mulai mengoperasikan ponselnya secara sembunyi-sembunyi di kolong meja. Sementara itu, Alya yang duduk di samping Raka tampak begitu fokus, menggerakkan pulpennya mencatat materi dengan sangat tenang.

​Lalu bagaimana dengan Raka?

​Raka merebahkan kepalanya di atas meja. Tangannya sibuk menari di atas kertas buku tulis—menggambar karakter anime dengan arsiran detail nan menakjubkan. Jiwa otaku sejatinya bergejolak di tengah rasa kantuk.

​Tepat saat Raka menyelesaikan arsiran terakhir pada rambut karakter animenya, bel istirahat pun berbunyi nyaring.

​TETTT... TETTT...

​Anak-anak kelas 10A baru saja mau bersorak girang, namun kesenangan itu terhenti mendadak. Pintunya ketuk, dan beberapa murid senior berseragam rapi dengan id-card organisasi memasuki kelas. Mereka adalah para ketua ekstrakurikuler.

​"Permisi, Pak," ucap ketua perwakilan senior ramah.

​"Ya, silakan. Bapak tinggalkan dulu ya," jawab Pak Guru sambil melangkah keluar kelas.

​Senior berpenampilan rapi itu tersenyum ke arah murid kelas 10A. "Minta waktunya sebentar ya, Adik-adik sekalian. Kami mau membagikan selebaran ekstrakurikuler, siapa tahu ada yang berminat bergabung!"

​Para ketua ekskul mulai menyusuri barisan meja, membagikan kertas brosur. Ketika lembaran brosur itu sampai di meja Raka, Raka mulai membacanya pelan.

​[DAFTAR EKSTRAKURIKULER SMA NEGERI GARUDA]

​Olahraga: Basket, Futsal, Badminton, Karate

​Seni & Kreatif: Seni Rupa/Gambar, Musik, Drama/Teater

​Akademik & Sains: Karya Ilmiah Remaja (KIR), Klub Bahasa Jepang/Anime

​Keorganisasian: Paskibra, Pramuka, PMR

​Raka mengusap dagunya. "Hmm... Klub Anime boleh juga sih. Tapi kalau ada ketua dan seniornya, ntar gue diatur-atur... malas ah."

​Setelah selesai membagikan brosur, senior di depan mengucapkan kalimat penutup. "Oke, terima kasih atas waktunya, Adik-adik! Semoga kalian berminat ya!"

​Begitu para senior keluar dari pintu, Dimas langsung memutar badannya dan menepuk keras pundak Raka dari belakang.

​PLAK!

​"WOI! Ngagetin mulu lu! Gak ada kerjaan lain apa?!" omel Raka sambil memegangi bahunya.

​Dimas menyengir tanpa dosa. "Hehe, maap! Btw, lu tertarik gak sama salah satu ekskul di brosur itu?"

​Raka menyandarkan punggungnya. "Hmm... gak sih."

​"Loh, kenapa?"

​"Gue pengennya kayak di anime-anime gitu, Dim. Ada klub khusus yang cuma kita berdua—atau kelompok kita—yang berkuasa tanpa diatur senior."

​Dimas berkedip, matanya mendadak berbinar. "Ohhh! Maksud lu... lu mau bikin klub sendiri?!"

​"Nah! Itu dia!" seru Raka mantap.

​"Pinter juga otak lu kadang-kadang!" puji Dimas.

​TING! TING!

​Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, ponsel Raka dan Dimas bergetar serentak. Sebuah notifikasi pesan pengumuman masuk ke ponsel seluruh murid dari grup resmi sekolah.

​Raka dan Dimas merogoh saku dan membaca isi pesan pengumuman dari Kepala Sekolah tersebut:

​[PENGUMUMAN KOMPETISI PROPOSAL KLUB BARU]

”Diberitahukan kepada seluruh siswa-siswi SMA Negeri Garuda.

​Pihak sekolah memiliki satu ruangan kosong tidak terpakai di area koridor atas. Daripada terbengkalai, sekolah memutuskan untuk membuka Kompetisi Pembuatan Klub Baru.

​Siapa pun siswa yang ingin membuat klub sendiri dibebaskan untuk mengajukan Proposal Kegiatan. Jika proposal kalian disetujui oleh tim penilai dan Kepala Sekolah, maka ruangan tersebut resmi menjadi milik klub kalian!”

​Kompetisi ini berlangsung selama 7 hari. Pemenang akan diumumkan secara resmi di podium lapangan sekolah.

​Membaca pesan itu, mata Raka dan Dimas melotot lebar secara bersamaan. Mereka perlahan menoleh dan saling menatap dengan pandangan tak percaya.

​"Anjir, Rak! Kok bisa pas banget kebetulan gini?!" seru Dimas heboh.

​Raka terkekeh geli. "Gak tahu... mungkin pepatah 'perkataan adalah doa' itu emang real!"

​Dimas menepuk-nepuk punggung Raka dengan kencang sambil tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA! Gokil! Bisa-bisanya momennya pas banget!"

​"Biasa aja kali ngetoknya! Sakit woy punggung gue!" protes Raka sambil mengelus punggungnya.

​"Oh, iya! Sorry, sorry! Kelepasan!" Dimas menyengir, lalu memajukan badannya. "Jadi gimana, Rak? Karena ada kompetisi ini, lu mau ikutan gak?!"

​"Ikut lah! Gue suka tantangan kayak gini!" seru Raka bersemangat.

​"Wah, iyakah?! Kalau gitu gue ikutan gabung!"

​"Sip!"

​Dimas merogoh pulpen dan selembar kertas kosong dari tasnya. "Tapi sebelum nulis isi proposalnya, kita harus tentuin nama klubnya dulu nih."

​"Oh, kalau soal nama mah gue udah kepikiran dari tadi," sahut Raka jemawa.

​Dimas menaikkan alisnya. "Apaan tuh?"

​"Gimana kalau namanya: Klub SSA?"

​Dimas berkedip bingung. "Hah? Maksudnya SSA apaan?"

​"Santai-Santai Aja," jawab Raka polos tanpa dosa.

​Dimas menatap Raka dengan pandangan prihatin. "Gila lu ya? Lu mau bikin klub pengangguran?! Bukannya belajar atau bikin kegiatan berfaedah, malah Santai-Santai Aja?!"

​"Eleh! Lu juga suka kan meluangkan waktu buat rebahan?!" balas Raka tak mau kalah.

​Dimas terdiam sejenak. "Ya... kalau itu sih emang fakta yang gak bisa digugat." Dimas menghela napas. "Terus nama seriusnya apa dong, Rak? Lu punya ide lain gak?"

​Raka memutar pulpen di jarinya. "Hmm... gimana kalau namanya: Klub Penyelamat Masa Muda (KPMM)?"

​Dimas mengerutkan dahi. "Maksud namanya filosofinya apaan dah?"

​"Udah, gak usah terlalu dipikirin filosofinya! Yang penting namanya kelihatan keren dan heroik di mata Kepala Sekolah!"

​"Yaudah, setuju!"

​Setelah menyepakati nama klub tersebut, Raka dan Dimas mulai mencoret-coret lembar proposal dengan antusias. Begitu draf awal selesai ditulis, mereka berdua bangkit dari kursi dan berjalan keluar kelas untuk menyerahkannya ke ruang guru.

​Tanpa mereka sadari, Alya yang dari tadi diam menyimak pembicaraan mereka perlahan berdiri. Matanya menatap punggung Raka dan Dimas yang menghilang di balik pintu kelas.

​Alya meremas jemarinya pelan, meratapi keraguan di hatinya. Ia berbisik lirih pada dirinya sendiri...

​"Aku... pengen ikut mereka. Tapi... apakah aku pantas?"

​Sementara itu, di sepanjang koridor menuju ruang guru, Raka berjalan melamun, tampak memikirkan sesuatu yang mengganjal di kepalanya.

​Dimas yang menyadari perubahan sikap sahabatnya langsung menyenggol lengan Raka. "Rak, lu kenapa sih diam mulu? Ngobrol napa! Nge-jokes garing juga gapapa lah, yang penting obrolan kita gak putus di jalan!"

​Raka menoleh pelan. "Hmm... lu masih inget kan kata-gara gue tadi di kelas?"

​"Kata yang mana nih?"

​"Soal Alya."

​"Ohh, cewek dingin itu?" Dimas mengangguk-angguk. "Omong-omong soal Alya... gue sempet denger rumor burung kemarin malam."

​Raka menaikkan sebelah alisnya, rasa ingin tahunya terpantik. "Rumor apaan?"

​Dimas mendekatkan bisikannya. "Rumornya... ada sebuah perusahaan raksasa ternama yang sahamnya mendadak anjlok dan hampir bangkrut gara-gara mereka 'melepas' putri tunggal mereka sendiri."

​Raka mengerutkan dahi. "Perusahaan ternama? Perusahaan apa?"

​Dimas mengibaskan tangannya. "Gak tahu! Gue kan cuma denger sekilas dari obrolan senior. Mana tahu detailnya!"

​Raka menatap Dimas lempeng. "Oh."

​Dimas melotot tidak terima. "Buset! Reaksi lu cuma 'Oh' doang?! Gak ada kaget-kagetnya?!"

​"Lah, emang gue harus gimana? Harus atraksi topeng monyet dulu di depan lu?" balas Raka santai.

​"Yakali, kocak!"

​Di tengah gelak tawa dan perdebatan konyol mereka yang makin dekat dengan pintu ruang guru, di balik rimbunnya semak-semak taman sekolah... sesosok bayangan misterius sedang berdiri diam.

​Mata sosok itu menatap tajam ke arah Raka dan Dimas dari kejauhan, memantau setiap gerak-gerik mereka dengan penuh selubung rahasia.

​Siapakah sebenarnya sosok di balik semak-semak tersebut?

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!