Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Laju roda kendaraan perlahan melambat, berbelok memasuki sebuah gerbang besi tinggi yang menyambut mereka dengan papan nama berukir kaligrafi indah: Pondok Pesantren Al-Hidayah.
Deretan bangunan bernuansa hijau keputihan berdiri kokoh di balik rindangnya pohon-pohon peneduh.
Suasana pesantren malam itu nampak lengang, hanya menyisakan beberapa santri yang berlalu-lalang dengan peci dan sarung, menunduk hormat setiap kali mobil Jeffry melintas menuju kompleks kediaman pengasuh.
Jeffry mematikan mesin mobil tepat di depan sebuah rumah gaya Jawa modern yang asri. Pria itu melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh ke samping.
Puja masih bergeming, enggan bergerak sedikit pun dari posisi duduknya dengan mata sembap yang masih menatap kosong ke arah luar jendela.
"Kita sudah sampai," ucap Jeffry datar. Suaranya bariton, tenang, namun menyiratkan ketegasan yang tak membantah.
Puja tak menyahut. Ia tidak mengangguk, tidak pula bergerak menguraikan lipatan tangan di dadanya.
Rasa benci dan kecewa yang mengkristal di dalam dada menyumbat tenggorokannya rapat-rapat.
Melihat respons dingin dari perempuan di sampingnya, Jeffry tidak memaksakan kata-kata. Ia keluar lebih dulu dari mobil, mengitarinya, lalu membukakan pintu untuk Puja.
"Turunlah. Perlengkapanmu sudah dibawakan oleh rombongan Abah di mobil belakang," ujar Jeffry pelan sembari mengulur jarak, memberikan ruang bagi Puja.
Puja menarik napas panjang yang terasa menyengat di paru-parunya.
Dengan sisa tenaga dan gengsi yang menguatkan pijakannya, ia melangkah turun tanpa menyentuh jemari atau memandang sekilas pun wajah suaminya.
Langkah kakinya berat, seolah setiap pijakan membawanya makin jauh dari mimpi-mimpinya di Yogyakarta dan makin dalam masuk ke dalam sangkar emas yang tak pernah ia inginkan.
Mereka memasuki rumah. Bau harum kayu jati dan wewangian terapi merujuk hangat di dalam ruangan.
Namun bagi Puja, semua itu terasa menyesakkan.
"Ini kamarmu," tunjuk Jeffry pada sebuah pintu kayu berukir halus di lantai bawah. "Istirahatlah. Kamu pasti lelah."
Puja langsung menyambar koper kecil berisi barang-barangnya yang baru saja diturunkan dari mobil rombongan, lalu melangkah cepat menuju kamar tersebut.
Tanpa menunggu tanggapan dari pria di hadapannya, ia mendorong pintu, melangkah masuk, dan menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang tertutup rapat.
Sepi seketika menyergap. Puja meluruhkan tubuhnya ke lantai, memeluk lututnya erat-erat di tengah temaram lampu kamar.
Di dalam ruangan asing itu, benteng pertahanannya kembali runtuh.
Bayangan lembar ijazah dengan nilai sempurna, ucapan selamat dari sahabat-sahabatnya di kantin sekolah, serta impian mengenakan jas almamater universitas berputar layaknya mimpi buruk yang memutar balik kenyataan.
Semua itu lenyap, berganti dengan status baru sebagai istri seorang Ustadz—posisi yang diperjualbelikan demi sebidang tanah sawah dan seikat uang tunai.
"Lekaslah mandi, setelah itu istirahat," ucap Jeffry.
Puja hanya diam tanpa bersuara.
"Maaf kalau pernikahan ini terkesan mendadak. Kedua Abah sudah tidak sabar untuk menggendong cucu."
Puja mendongakkan kepalanya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan sengit dan luka yang membara.
"Jadi aku hanya mesin pembuat anak?"
"B-bukan begitu maksudku," potong Jeffry, tampak sedikit terkejut dengan nada bicara Puja.
"Kalau begitu lakukan sekarang," ucap Puja dingin, menyodorkan kepasrahan yang penuh kehampaan.
Jeffry menghela napas panjang. Tatapannya melemah, menyiratkan kesabaran yang tebal di tengah suasana yang memanas.
"Kita suami istri, dan berhubungan intim itu harus dalam keadaan sadar serta saling menyayangi. Kalau seperti ini, apa bedanya kita dengan hewan?" ujar Jeffry lembut sembari maju selangkah, lalu menunduk untuk mencium kening Puja perlahan.
Kecupan singkat itu terasa begitu hangat, namun sekaligus membekukan Puja yang terpaku di tempatnya.
"Lekaslah mandi, aku mau melihat para santri," tambah Jeffry pelan.
Jeffry melangkah mundur, menutup pintu kamar itu rapat-rapat, dan meninggalkan Puja sendirian dalam keheningan yang menyiksa.
Abah melihat Jeffry yang baru saja keluar dari area kamar dengan raut wajah tenang namun menyimpan beban berat.
Kyai Ali menghentikan langkahnya, menatap putra mahkotanya itu dengan tatapan teduh seorang ayah sekaligus guru.
"Jeffry, kemarilah sebentar, Nak," panggil Kyai Ali lembut, mengisyaratkan Jeffry untuk mendekat.
Jeffry melangkah menghampiri sang ayah, menundukkan kepalanya penuh hormat.
"Nggih, Abah."
Kyai Ali menepuk bahu Jeffry perlahan, menyalurkan kehangatan serta rasa tanggung jawab yang kini berpindah ke pundak putranya.
"Pernikahan itu bukan sekadar menyatukan dua raga dalam satu ikatan, tapi menyatukan dua jiwa yang berbeda arah. Puja masih muda, dan hatinya mungkin sedang terluka karena impiannya harus tertunda. Tugasmu sebagai suami bukan untuk menuntutnya langsung patuh atau menguasai hatinya secara paksa, melainkan menjadi pelindung yang sabar, membimbingnya dengan kelembutan, dan menjadi rumah yang aman baginya."
Kyai Ali menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata putranya.
"Jadilah suami yang bijaksana. Sebagaimana Rasulullah menuntun keluarganya dengan kasih sayang, bimbinglah istri bertahap. Luaskan dadamu untuk memahami kekecewaannya, dan doakan hatinya agar perlahan bisa menerima takdir ini."
Jeffry mendengarkan setiap bait nasihat itu dengan khusyuk.
Petuah sang ayah meresap dalam ke sanubarinya, menjadi pegangan di tengah badai kepasrahan yang kini ia dan istrinya jalani.
"Iya, Abah," jawab Jeffry mantap namun santun, menganggukkan kepalanya penuh kepatuhan.
Setelah mencium tangan sang ayah untuk memohon restu, Jeffry membalikkan badan dan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman. Kemudian, Jeffry menuju ke pondok untuk memantau para santri.
Jeffry yang akan melangkahkan kakinya harus berhenti saat melihat kedatangan Ningsih, adik Kyai Ali, bersama putrinya, Ningrum, yang selalu iri hati.
Mereka berdua memang tinggal di kediaman belakang kompleks pondok pesantren.
Malam ini, dengan senyum yang dipaksakan dan langkah gemulai, mereka sengaja datang membawa semangkuk kolak hangat khusus untuk Kyai Ali.
Namun, belum juga melangkah melewati ambang pintu, pandangan tajam Ningsih sudah tertuju pada pintu kamar Puja yang tertutup rapat.
"Aduh, Abah... Puja itu jangan dimanja!" cetus Ningsih dengan nada suara tinggi penuh sindiran, melirik ke arah Kyai Ali yang masih berdiri di ruang tengah.
"Anak bau kencur baru lulus sekolah kok sudah disuruh santai-santai jadi nyonya rumah? Nanti dia besar kepala!"
Ningrum yang berdiri di samping ibunya ikut melipat tangan di dada, mendengus pelan dengan tatapan mata yang memancarkan ketidaksukaan mendalam pada sosok pengantin baru sepupunya itu.
Jeffry menghela napas panjang. Rasa lelah di dadanya kian berhimpit melihat sikap sang bibi yang tidak pernah berubah.
Pria itu membalikkan badan, berdiri tegap memandang Bibi Ningsih dan Ningrum dengan tatapan teduh namun sarat akan ketegasan.
"Bibi..." panggil Jeffry pelan, suaranya tenang tanpa nada tinggi, namun cukup untuk membuat suasana seketika hening.
"Puja sekarang sudah resmi menjadi istri saya. Apapun yang dialaminya hari ini—perubahan hidup yang mendadak dan keputusannya untuk berada di dalam kamar—adalah hak dan bagian dari proses dirinya. Sebagai suami, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan memahaminya, bukan menghakiminya."
Jeffry menatap Bibi Ningsih lurus-lurus, lalu beralih sekilas pada Ningrum.
"Urusan bagaimana Puja beradaptasi di rumah ini adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya mohon dengan sangat, tolong hormati keberadaannya di sini dan tidak mengeluarkan ucapan yang hanya akan memperkeruh suasana. Biarkan Puja tenang terlebih dahulu."
Ningsih tertegun seketika, tak menyangka keponakannya itu akan memasang badan secara terbuka membela perempuan yang baru beberapa jam dinikahinya.
Ningrum hanya bisa merengut makin dalam, mengepalkan jemarinya menahan kekesalan.
Kyai Ali yang menyimak percakapan itu dari ruang tengah akhirnya melangkah mendekat.
Raut wajahnya nampak tenang, namun ketegasan jelas terpancar dari sorot matanya. Beliau menatap adik dan keponakannya itu secara bergantian.
"Ningsih, lebih baik kalian bawa pulang kembali kolak ini. Abah sedang mengurangi makanan bersantan," ucap Kyai Ali halus namun tak memberi ruang untuk membantah.
"Sudah malam, sebaiknya kalian kembali ke kediaman belakang dan beristirahat."
Ningsih dan Ningrum hanya bisa gigit jari. Tanpa berani menyanggah lagi perintah sang Kyai, Ningsih mengangkat kembali nampan kolak itu dengan wajah bersungut-sungut, lalu berbalik pergi meninggalkan rumah utama bersama Ningrum yang terus mendesis kesal sepanjang jalan.
Setelah situasi kembali tenang, Jeffry pamit mencium tangan ayahnya sekali lagi.
Jeffry melanjutkan langkahnya menuju ke pondok untuk memeriksa para santri, memastikan seluruh aktivitas malam berjalan tertib.
Sementara itu di kamar, Puja baru selesai mandi. Air dingin yang membasahi tubuhnya sedikit mengurangi kepenatan, meski gumpalan sesak di dadanya sama sekali belum terurai.
Rambutnya yang masih basah dibiarkan terurai di bahu.
Dengan jemari yang bergetar menahan luapan emosi, ia melangkah menuju meja kecil dan mengambil ponselnya dari dalam tas.
Layar ponsel itu menyala, menampilkan beberapa notifikasi pesan masuk dari para sahabatnya yang khawatir.
Tanpa membuang waktu, Puja membuka grup percakapan mereka dan mengetikkan sebuah pesan singkat:
Besok kita ketemuan di warung es pak Bagyo jam delapan, penting.
Setelah itu, Puja menaruh ponselnya di atas meja, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang asing dengan tatapan kosong.
Tak lama setelah layar ponselnya redup, nada dering notifikasi berbunyi berturut-turut.
Puja membuka ponselnya kembali dan membaca balasan pesan dari sahabat-sahabatnya di grup yang serempak mengiyakan dan menanyakan kondisinya dengan penuh cemas.
Belum sempat ia membalas, suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu membuat jantungnya berdesir hebat.
Sontak, Puja panik. Ia buru-buru menyambar guling di sampingnya, lalu menaruh guling pembatas persis di tengah-tengah kasur sebagai garis tegas pemisah di antara mereka.
Setelah mematikan layar ponsel dan meletakkannya kembali, ia langsung membaringkan tubuh membelakangi pintu dan berpura-pura memejamkan matanya rapat-rapat.
Ceklek.
Gagang pintu terdorong perlahan. Seketika itu pula tubuh Puja membeku.
Puja langsung seperti patung, tidak berani bergerak sedikit pun, bahkan menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.
Jeffry melangkah masuk dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada sosok sang istri yang terbaring kaku dengan guling yang membentang tegak di tengah ranjang.
Jeffry tersenyum tipis melihat tingkah istrinya yang menggemaskan sekaligus penuh kepasrahan itu. Pria itu tahu betul Puja hanya berpura-pura tidur.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk mengusiknya, Jeffry mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang temaram.
Ia pun segera naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sisi luar guling pembatas, dan memejamkan matanya membiarkan malam membungkus sunyi di antara mereka.