Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Masih Anak Magang
Kembali ke kantor dimana bocah itu sedang berdiri di depannya sebagai anak magang.
"Fela, Fela," tegur Pak Gunawan karena mendadak Fela bengong.
"Ah iya. Maaf."
"Ya, aku senang akhirnya bisa magang di kantor keren ini, Pak," ujar Kenzo ramah.
"Benar. Kantor ini memang keren. Orang-orangnya juga." Pak Gunawan membanggakan dirinya.
"Kalau begitu aku akan jabat tangan lagi dengan orang-orang keren ini." Kenzo mulai berulah.
"Ah, begitu ya." Pak Gunawan malah setuju. Beliau mengulurkan tangan.
"Fela," tegur Pak Gunawan karena Fela tidak mengulurkan tangan. "Dia mau salaman sama orang keren, dia memuji itu."
Fela mendelik. Inilah kekuatan ordal!
Kenzo sedang menunggu dengan tangan mengambang. Fela terpaksa mengikuti skenario. Kenzo tampak puas karena wanita ini akhirnya patuh.
Fela tersenyum profesional. Namun mendadak wajahnya sedikit berubah karena anak ini tidak melepaskan tangannya. Bibirnya selalu tersenyum yang justru membuat Fela kesal.
Apa-apaan ini anak? batin Fela kesal. Sepertinya Kenzo sengaja.
"Ehem, ehem!" dehem Pak Gunawan keras. Pertanda beliau ingin Fela menurunkan tangannya tanpa tahu kalau itu ulah anak magang ini.
Kenzo tidak menurunkan tangannya. Mata Fela melotot. Kenzo dengan tenang menikmati kepanikan Fela.
Bocah ini tidak melepaskan tatapannya dari Fela. Di balik ekspresi wajahnya yang dingin dan tenang, senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya terlihat sangat jahil. Ia tampak sangat menikmati wajah Fela yang memucat.
"Fela," panggil pak Gunawan dengan sedikit menggeram.
"Dia ..."
Klap.
Sebelum Fela hendak bicara untuk mengadukannya, anak itu melepaskan tangannya.
Sialan anak ini.
"Maaf, Pak." Hei! Kenapa aku yang meminta maaf?
Kenzo tersenyum. Fela tahu bocah itu sengaja menertawakannya.
"Maafkan dia, Em ..." Sepertinya pak Gunawan kebingungan menyebut nama anak ini.
"Panggil saja Kenzo, Pak." Kenzo langsung paham.
"Ah, benar. Kamu masih muda kan ya ..."
"Benar," jawab Kenzo sambil tersenyum dari ke pak Gunawan dan bergeser ke arah Fela.
Fela tidak mengulas senyum. Dia kesal. Apalagi Pak Gunawan tidak melihat, jadi ia bebas berekspresi.
"Maafkan Fela, Kenzo. Tidak biasanya dia kedatangan anak muda yang tampan," gurau Pak Gunawan tidak penting.
Fela mendengus ingin pria tua ini menghentikan ledekannya.
"Oh ya?" tanya Kenzo menyebalkan. Ujung matanya ke arah Fela. Dan Fela sungguh ingin mengacungkan jari tengahnya ke arah anak magang istimewa ini.
"Fela," panggil Pak Gunawan.
Fela langsung memasang senyumnya. "Iya, Pak?" Mode profesional.
Kenzo tergelak kecil.
"Mulai sekarang, Kenzo aku serahkan padamu. Bimbinglah dia dengan baik, karena kamu tahu ini adalah ... amanat," tekan Pak Gunawan di akhir kata.
Selamat datang kesialanku. Setelah tanpa terduga aku tidur dengannya yang notabene adalah bocah, sekarang dia harus aku bimbing. Ini bukan pilihan, tapi perintah! Perintah harus dijalankan, mau atau tidak!
"Baik Pak."
"Mohon bimbingannya, Kak Fela. Saya masih banyak belajar soal dunia kerja. Terutama soal... bagaimana menjaga akses penting di kantor," ucap Kenzo dengan nada santai namun terselip sindiran halus.
Fela melirik. Ia tidak paham maksud bocah ini. Mungkin pak Gunawan juga tidak paham, tapi kepala pria tua itu manggut-manggut saja.
Biarlah. Apapun itu. Terserah!
"Baiklah, Kenzo. Fela akan menjadi mentor kamu. Fela, bawa dia ke meja kerja di sebelah Siska," perintah Pak Gunawan sebelum melenggang pergi meninggalkan mereka.
Fela hampir saja menjatuhkan map yang dipegangnya. Di sebelah Siska? Siska si ratu gosip itu, akan membongkar rahasia kantor dalam hitungan jam kalau sampai tahu sesuatu. Dan sekarang, bocah ini akan duduk tepat di samping sumber malapetaka?
"Di samping Kak Fela aja, Pak. Bukannya saya harus dibimbing olehnya?" Kenzo ngide sendiri.
"Iya juga, tapi karena Fela itu manajer. Tidak ada kursi disampingnya."
"Biar dia dengan Bimo atau Mirin, Pak." Fela langsung inisiatif.
"Baik. Terserah. Kamu yang tahu. Sudah ya Kenzo. Bapak tinggal."
"Baik, Pak. terima kasih."
...----------------...
Fela berjalan cepat dengan langkah kaku menuju area kerja timnya. Sementara Kenzo mengikuti di belakang dengan langkah santai, membiarkan jarak beberapa langkah di antara mereka.
"Manajer Fela," panggil Kenzo pelan saat mereka melewati lorong yang agak sepi.
Fela tidak menoleh sama sekali. "Jangan panggil aku manajer. Panggil aku Senior Fela saja. Dan tolong, jaga jarak kamu." Ujung mata Fela melirik.
"Jaga jarak?" Mata Kenzo berubah. "Apakah malam itu juga kita jaga jarak?"
Fela bagai disengat listrik. Dia menoleh cepat pada Kenzo. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Melihat situasi sekitar mungkin saja ada yang mendengar kata-kata yang di ucapkan Kenzo barusan.
"Apa yang kamu bicarakan?" tegur Fela.
"Senior Fela, atau ... aku panggil Fela saja karena aku tidak terbiasa dengan panggilan senior." Kenzo kelihatan lebih berbahaya sekarang daripada tadi. "Kenapa masih tanya, bukankah kita tahu apa yang kita lakukan. Saat itu kita tidak ada jarak sama sekali. Kita ..."
"Stop," pinta Fela frustasi.
Kenzo diam sambil melihat lurus ke arah Fela. Dia bukan terintimidasi, tapi hanya ingin diam. Matanya sedang mengamati emosi Fela.
"Dengar, ya. Anggap saja malam itu tidak pernah terjadi! Aku mabuk. Aku melakukan kesalahan, dan aku tidak ingin orang-orang di kantor ini tahu!" bisik Fela tajam dengan suara tertahan.
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Fela geregetan.
"Kamu kan sudah dewasa. Jadi hal itu lumrah."
"Tidak denganku," potong Fela cepat.
"Lalu malam itu apa?"
"Kalau pun malam itu bisa dianggap lumrah. lawan mainku harusnya seorang pria dewasa. Bukan anak sekolah menengah sepertimu." Fela geram.
Kenzo diam.
Apa harga dirinya tersentak? Fela tidak peduli. Dia harus bisa menjaga harga dirinya yang sudah tinggal sedikit gara-gara anak ini muncul.
Bibir Kenzo mendadak mengulas senyum. Fela sadar bahwa senyuman ini bukanlah senyum biasa. Ia merasa bocah ini justru sangat berbahaya saat tersenyum seperti itu.
"Wah, harus jadi dewasa dulu ya, baru diakui. Padahal tidak semua orang dewasa bisa satu ranjang dengan berondong, lho," ujar Kenzo mengejutkan.
Mendadak wajah Fela merah padam. Dia malu? Jelas. Itu lebih dari sekedar kalimat sindiran. Itu juga meruntuhkan kewibawaannya. Dia senior disini. Ketua tim, tapi di depan bocah tengil, angkuh dan sok cool ini dia jadi bulan-bulanan.
Sialan. Ingin sekali aku gampar bocah ini, tapi ... Dia juga tidak salah. Keadaan yang salah. Keadaanku yang menyedihkan yang salah. Dion yang salah. Karena dia, aku bisa jadi bulan-bulanan, bocah tengil! Arrg!!!
"Fela," panggil Mirin.
Mendengar ada suara sahabatnya disaat begini, Fela lega. Dia langsung tersenyum tulus.
"Halo Mirin."
Kenzo melihat senyuman itu. Ini pertama kalinya Fela senyum. Karena itu ia melihat ke arah wanita yang baru datang itu dengan pandangan meneliti. Siapa dia?