NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Langit sore berwarna jingga kemerahan, seolah-olah langit sendiri sedang menumpahkan darah tipis sebelum malam tiba. Angin di Istana Bulan Giok terasa lebih dingin daripada biasanya. Putri Li Yuexin berdiri di beranda paviliunnya, membalut tubuhnya dengan mantel bulu rubah putih yang tebal. Di tangannya, ia memegang sebuah kipas lipat tertutup, meski tidak ada siapa-siapa di sana untuk disembunyikan darinya. Ini adalah kebiasaan barunya: selalu siap, selalu waspada.

"Nona," Qingyu datang dengan langkah cepat namun hening, khas seorang pelayan terlatih. Wajahnya sedikit memerah karena udara dingin, namun matanya tajam. "Hamba sudah berhasil mendapatkan informasinya."

Putri Li Yuexin tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada sekumpulan burung gereja yang bertengger di dahan pohon plum yang mulai berbunga. "Katakan."

"Tuan Gu Wenhao tidak pergi ke perpustakaan istana hari ini Nona," lapor Qingyu pelan, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. "Tapi, Tuan Gu Wenhao bertemu dengan Tuan Lin, ayah dari Nona Lin Meirong, di sebuah kedai teh kecil di dekat Gerbang Barat. Mereka berada di sana selama dua jam. Hamba melihat mereka keluar bersama, dan Tuan Gu memberikan sebuah bungkusan kain kepada Tuan Lin."

Putri Li Yuexin akhirnya menoleh. Senyum tipis yang dingin terukir di bibirnya. "Bungkusan kain? Apakah isinya uang?"

"Hamba tidak bisa melihat isinya secara jelas, Nona. Tapi dari ketebalan dan cara Tuan Lin menerimanya dengan kedua tangan dan membungkuk dalam hamba menduga itu adalah perak atau dokumen penting."

Lin Mei. Ayah dari Lin Meirong hanyalah seorang pedagang kain tingkat menengah yang bangkrut lima tahun lalu. Tiba-tiba, keluarganya bisa pindah ke distrik bangsawan dan menyekolahkan Lin Meirong di akademi seni terbaik.

Semua orang mengira itu berkat "keberuntungan" atau bantuan jauh dari kerabat. Padahal, itu adalah suap awal dari Gu Wenhao, menggunakan uang pinjaman dari rentenir gelap, dengan harapan bisa menikahi Putri Li Yuexin dan melunasi hutangnya sekaligus naik jabatan.

Di kehidupan sebelumnya,

Putri Li Yuexin tidak pernah tahu hal ini. Dia hanya berpikir bahwa Lin Meirong adalah gadis berbakat yang kurang mampu, sehingga dia sering memberikannya uang saku dan perhiasan bekas. Ironisnya, uang itulah yang digunakan Lin Meirong untuk membeli racun yang nantinya akan membunuh Putri Li Yuexin.

"Bagus sekali kerjaanmu, Qingyu," puji Putri Li Yuexin. Suaranya rendah, penuh apresiasi. "Simpan informasi ini dan jangan bertindak apa-apa dulu. Biarkan mereka merasa aman."

Qingyu mengangguk. "Lalu, apa perintah dari Nona selanjutnya?"

"Aku ingin pergi ke Perpustakaan Kerajaan," kata Putri Li Yuexin tiba-tiba.

Qingyu terkejut. "Perpustakaan Kerajaan? Tapi hari sudah sore, Nona. Dan... bukankah Nona jarang mengunjungi tempat itu sejak kecil?"

"Justru karena itu," jawab Putri Li Yuexin sambil berbalik masuk ke dalam ruangan. "Orang tidak akan curiga jika 'Mutiara Kekaisaran' yang manja tiba-tiba rajin belajar. Itu akan terlihat seperti usaha putus asa untuk menarik perhatian calon suami, atau sekadar kebosanan biasa. Tidak ada yang akan mengira aku sedang mencari sesuatu."

Perpustakaan Kerajaan Shenghua adalah bangunan megah berlantai tiga, terbuat dari kayu hitam dan batu giok putih. Tempat ini jarang dikunjungi oleh para putri kerajaan, yang lebih sibuk dengan pelajaran menari, musik, atau merias diri. Tapi bagi Putri Li Yuexin, ini adalah tempat persembunyian yang sempurna.

Saat ia memasuki aula utama, aroma kertas tua dan tinta kering menyambutnya. Sunyi.... Hanya ada suara langkah kaki penjaga di kejauhan dan desiran angin melalui celah jendela.

Putri Li Yuexin berjalan menyusuri rak-rak tinggi yang berisi gulungan sejarah, strategi militer, dan catatan hukum. Jari-jarinya menyentuh punggung-punggung gulungan kulit itu dengan lembut. Di kehidupan pertama, dia takut pada debu dan rasa bosan di sini. Sekarang, dia menemukan ketenangan di antara pengetahuan.

Dia tidak mencari buku puisi romantis. Dia mencari Catatan Pengadilan Tahun Ke-10 Era Shenghua.

Tahun ke-10. Tiga tahun sebelum kematian Selir Lama, Ibu dari Pangeran Kedua yang meninggal misterius. Selir Rong sering menyebut kematian itu sebagai "kutukan alam", tapi Putri Li Yuexin curiga ada campur tangan manusia. Jika dia bisa menemukan celah dalam laporan pemeriksaan jenazah atau kesaksian saksi saat itu, dia punya senjata untuk menyerang Faksi Barat di masa depan.

Namun, rak tempat catatan itu seharusnya berada ternyata kosong. Hanya ada lapisan debu tipis yang menunjukkan bahwa gulungan itu baru saja diambil.

Seseorang telah mendahuluinya.

Putri Li Yuexin mengerutkan kening. Siapa yang tertarik pada catatan lama selain sejarawan resmi? Dan mengapa gulungan itu hilang?

"Tuanku Putri tampak bingung."

Suara parau dan berat itu membuat Putri Li Yuexin tersentak. Ia berputar cepat, tangannya secara refleks meraih jepit rambut phoenix di kepalanya, siap untuk dijadikan senjata darurat.

Di balik deretan rak, seorang pria tua berdiri dengan postur membungkuk, mengenakan pakaian kasim berwarna abu-abu kusam. Wajahnya penuh kerutan, matanya sipit dan sulit ditebak, namun ada kecerdasan tajam yang berkilat di dalamnya.

Kasim Tua Zhou.

Kepala Kasim Perpustakaan. Pria yang telah melayani Kaisar Li Zhengyuan sejak masih menjadi pangeran muda. Di kehidupan sebelumnya, Kasim Zhou adalah satu-satunya orang di istana yang mencoba memberi peringatan halus pada Putri Li Yuexin tentang bahaya keluarga Gu, tapi Putri Li Yuexin terlalu bodoh untuk mendengarnya, Kasim Zhou kemudian "pensiun dini" dan dikirim ke biara terpencil setelah Selir Rong berkuasa penuh.

"Kasim Zhou," sapa Putri Li Yuexin, menurunkan tangannya perlahan. Napasnya diatur agar tetap tenang. "Maafkan kekasaran saya, saya terkejut."

Kasim Zhou tersenyum tipis, memperlihatkan gigi-giginya yang sudah ompong beberapa. "Tidak perlu minta maaf, Putri. Di tempat sunyi seperti ini, kejutan adalah teman yang paling setia atau musuh, tergantung niat hati."

Kalimat itu terlihat ambigu.

Putri Li Yuexin menatapnya lekat-lekat. "Apakah Kasim tahu siapa yang mengambil gulungan Catatan Tahun Ke-10?"

Kasim Zhou menggaruk dagunya yang berkerut. "Banyak orang lewat sini, Putri. Beberapa mencari ilmu, beberapa mencari lupa, dan beberapa... mencari bukti."

Mata Putri Li Yuexin menyipit. "Bukti?"

"Bukti bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati," lanjut Kasim Zhou pelan. Dia melangkah lebih dekat, suaranya kini hampir berupa bisikan. "Gulungan itu diambil oleh seseorang dari Istana Zamrud tiga hari lalu. Mereka belum mengembalikannya."

Istana Zamrud. Kediaman Selir Rong.

Jantung Putri Li Yuexin berdegup kencang, tapi wajahnya tetap datar. Konfirmasinya langsung. Selir Rong memang menyembunyikan sesuatu terkait kematian Selir Lama.

"Terima kasih atas informasinya, Kasim Zhou," kata Putri Li Yuexin sopan. "Saya akan melaporkan kehilangan ini kepada Kepala Pustakawan."

Kasim Zhou menggeleng pelan. "Jangan, Putri. Melaporkannya hanya akan membuat mereka sadar bahwa Anda mencarinya. Biarkan mereka berpikir gulungan itu hanya tersesat. Kadang-kadang, membiarkan pencuri merasa aman adalah cara terbaik untuk menangkapnya saat dia lengah."

Putri Li Yuexin diam sejenak, mencerna nasihat itu. Ini adalah strategi yang sama yang dia gunakan: slow revenge. Membiarkan musuh merasa aman sebelum menghancurkan mereka.

"Anda sangat bijaksana, Kasim Zhou," ucap Putri Li Yuexin.

"Saya hanya orang tua, Putri. Dan orang tua tahu bahwa kesabaran adalah pedang yang paling tajam," jawab Kasim Zhou sambil membungkuk hormat. "Oh, satu lagi. Di laci meja pustakawan sebelah timur, ada salinan catatan medis pribadi Tabib Kerajaan dari tahun yang sama. Mungkin itu lebih berguna daripada catatan pengadilan yang sudah dimanipulasi."

Putri Li Yuexin menahan napas. Kasim Zhou tidak hanya memberi informasi, dia memberi jalan keluar. Mengapa? Apa motifnya?

"Apa yang Anda inginkan sebagai balasan, Kasim?" tanya Putri Li Yuexin langsung. Dia tidak percaya pada kebaikan tanpa pamrih di istana ini.

Kasim Zhou tertawa kecil, suara yang terdengar seperti daun kering yang diinjak. "Saya tidak menginginkan apa-apa, Putri. Saya hanya ingin melihat keseimbangan kembali ke istana ini. Naga Agung (Kaisar) telah terlalu lama buta oleh asap dupa dari Istana Zamrud. Dan Phoenix..." matanya menatap Putri Li Yuexin dalam-dalam, "...Phoenix seharusnya terbang tinggi, bukan terperangkap dalam kandang emas yang berkarat."

Dia tahu. Kasim Zhou tahu siapa Putri Li Yuexin sebenarnya, atau setidaknya, dia merasakan perubahan aura yang drastis pada putri kekaisaran itu.

Putri Li Yuexin mengangguk perlahan. "Saya akan mengingat kebaikan Anda, Kasim Zhou."

"Saya harap begitu, Putri. Karena badai akan datang. Dan ketika badai datang, hanya mereka yang berakar kuat yang akan bertahan."

Kasim Zhou berbalik dan menghilang di antara bayangan rak-rak buku, meninggalkan Putri Li Yuexin sendirian lagi dalam keheningan perpustakaan.

Putri Li Yuexin segera menuju ke meja pustakawan sebelah timur. Dengan cekatan, dia membuka laci bawah. Di sana, tersembunyi di balik tumpukan kertas sampah, ada sebuah gulungan kecil bersegel merah. Segel Tabib Kerajaan.

Dia mengambilnya, menyelipkannya ke dalam lengan bajunya yang luas. Detak jantungnya masih cepat, tapi kali ini karena adrenalin, bukan ketakutan.

Dia memiliki bukti medis. Dia memiliki sekutu tak terduga. Dan dia memiliki rencana.

Saat Putri Li Yuexin keluar dari perpustakaan, matahari telah sepenuhnya tenggelam. Bulan sabit tipis menggantung di langit, memancarkan cahaya perak yang dingin.

Di kejauhan, dia melihat siluet seorang pria berjalan tergesa-gesa menuju gerbang barat. Posturnya familiar. Bahu yang sedikit membungkuk karena beban ambisi.

Gu Wenhao.

Putri Li Yuexin tidak mengejarnya, dia hanya menonton. Membiarkan Gu Wenhao berjalan menuju jeratnya sendiri.

"Nikmatilah malam ini, Gu Wenhao," bisik Putri Li Yuexin dalam hati. "Karena ini mungkin malam terakhir kau bisa tidur dengan nyenyak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!