NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta, sebuah mobil sedan hitam sederhana berhenti di seberang gerbang kampus tersebut. Di balik kemudi, Faas duduk diam. Kacamata hitamnya menyembunyikan tatapan matanya yang setajam elang.

Hari ini, Faas sebenarnya berniat menemui Maudi untuk sekadar bertukar kabar secara langsung serta melihat anak kembar Maudi yang sudah berusia 2 tahun. Namun, Maudi mengabarkan lewat pesan singkat bahwa ia sedang berada di luar kota dan menyarankan Faas untuk berjalan-jalan mengelilingi kota jakarta. Rasya berhenti tepat di universitas pelita bangsa, ia merogoh sakunya saat Ponselnya bergetar.

" Maaf Faas, Aku ada urusan mendadak dengan mas Rasya keluar kota, sebaiknya kau berjalan-jalan saja, mungkin saja kau bertemu jodohmu di trotoar🤭" pesan singkat Maudi membuat Faas terkekeh..., wajah dinginnya hilang Kalau sudah menyangkut dengan adik angkatnya yang belum pernah sekalipun ia lihat wajahnya.

"terimakasih Maudi, kau dan Amer adalah keluarga yang selalu mengerti aku di saat aku sedang terpuruk" gumamnya pelan.

Faas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.

Melalui kaca jendela mobil yang gelap, pandangan Faas tanpa sengaja tertuju pada gerbang kampus. Seorang gadis berpakaian tertutup tampak keluar dengan langkah tergesa-gesa. Gadis itu berjalan menuju halte bus yang sepi, lalu duduk di sana untuk menunggu supir jemputan nya.

Dari jarak sedekat itu, dengan kemampuan observasi tingkat tinggi seorang mantan agen Sektor 7, Faas bisa melihat bahu gadis itu bergetar halus. Gadis itu sedang menangis secara senyap, menyembunyikan wajahnya di balik lembaran buku tebal.

Faas terdiam di posisinya. Entah mengapa, ada sesuatu dari kepedihan gadis itu yang beresonansi dengan jiwanya. Jiwa yang sama-sama terbiasa menelan luka sendirian, jiwa yang sama-sama dianggap asing oleh dunia sekitar mereka.

Ponsel khusus milik Faas bergetar. Sebuah data intelijen yang sempat ia minta dari Sektor 7 mengenai Lingkaran Sosial Maudi Daneswara muncul di layar. Di sana tertera foto dan profil lengkap, Eliza Daneswara.

Faas menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap lurus ke arah halte bus di seberang jalan.

"Jadi, kamu saudaranya Maudi..." gumam Faas dengan suara beratnya yang dingin.

Selama perbuatan Jenita maupun Gavin masih berada dalam batas normal persaingan keluarga, Faas memilih untuk tetap diam dan berdiri di balik layar, membiarkan mereka melonjak setinggi langit. Namun melihat bagaimana takdir tampaknya mulai mempertemukan orang-orang di sekitarnya, Faas tahu, roda waktu sedang bergerak lambat untuk mempertemukan dua jiwa yang sama-sama membisu ini.

"lama tak bertemu, kau berubah, terlihat lebih santun dan dewasa" gumamnya pelan, Faas pernah bertemu Eliza saat ia berpura-pura menjadi pelayan di acara resepsi pernikahan Maudi untuk menjaga keamanan rekannya.

Faas kembali menstarter mobilnya, membiarkan kendaraannya melaju pelan melewati halte, meninggalkan Eliza yang masih tenggelam dalam kesunyiannya, tanpa tahu bahwa pelindung paling mematikan baru saja memperhatikannya dari kegelapan.

Faas memutuskan untuk pergi ke perusahaan nya yang kini sedang terbang sangat tinggi,...jauh dari perusahaan milik keluarganya Abrari grup.

Di dalam mobilnya yang terparkir di basement gedung Apex Core, Faas kembali mengubah penampilannya total.

Rambut hitamnya yang rapi ditutup dengan wig ikal dengan guratan-guratan uban tiruan di pelipis. Sebuah kumis tebal berbahan silikon medis terbaik merekat sempurna di atas bibirnya. Ditambah dengan kacamata berbingkai kotak tebal dan setelan jas formal yang sedikit longgar, ketampanan blasteran Arab Saudi miliknya seketika menguap, berganti dengan sosok pria matang berwibawa berusia awal 40-an.

Hari ini, ia adalah Tuan Malik Ibrahim, pemilik misterius Apex Core yang selama ini hanya dikenal lewat tanda tangan digital oleh dewan direksi.

Begitu melangkah keluar dari lift khusus di lantai paling atas, atmosfer sunyi dan profesional langsung menyambut Faas. Langkah kakinya yang berat dan penuh wibawa tiruan bergema di koridor.

Para staf senior dan kepala divisi yang kebetulan lewat langsung menepi. Mereka menundukkan kepala dengan hormat yang mendalam, tidak berani menatap langsung mata pria yang mereka kenal sebagai Tuan Malik Ibrahim, pria genius yang membangun raksasa teknologi ini dari nol. Faas hanya membalas dengan anggukan perlahan yang dingin.

Di depan pintu ruang kerja utama, Diki, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Faas yang mengetahui seluruh identitas aslinya, sudah berdiri menyambut.

"Selamat pagi, Tuan Malik," ucap Diki dengan nada formal, mempertahankan sandiwara demi keamanan sekitar.

Faas masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan lanskap gedung pencakar langit Jakarta. Begitu pintu jati itu tertutup rapat dan terkunci otomatis, Faas menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran.

"Bagaimana perkembangannya, Dik?" tanya Faas. Suaranya sedikit diubah menjadi lebih serak dan berat, menyesuaikan dengan kerutan tiruan di wajahnya.

Diki melangkah maju, meletakkan sebuah map kulit hitam tebal di atas meja marmer. "Ini berkas yang Anda minta kemarin, Tuan. Daftar kandidat untuk posisi sekretaris pribadi Anda yang baru. Sesuai instruksi, kita membutuhkan seseorang yang bersih dari jaringan bisnis keluarga Husen Abrari maupun kompetitor luar."

Faas membuka map tersebut perlahan. Tangannya membalik satu per satu lembar resume para lulusan terbaik dari berbagai universitas dalam dan luar negeri. Hingga akhirnya, gerakan tangan Faas terhenti pada lembar ketiga.

Kedua alis Faas bertaut di balik kacamata tebalnya.

Di sudut kanan atas lembar itu, terpampang nyata sebuah pasfoto. Seorang gadis dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, mengenakan jilbab hitam rapi.

Eliza Daneswara.

Faas terdiam beberapa detik, menatap foto gadis yang beberapa jam lalu dilihatnya menangis sendirian di halte bus kampus.

"Dia belum resmi wisuda, Tuan," Diki menjelaskan saat melihat fokus atasannya tertahan. "Tapi surat keterangan lulusnya sudah keluar minggu ini dengan predikat magna cum laude. Dari hasil investigasi tim kita, dia sengaja melamar pekerjaan dengan sangat tergesa-gesa. Alasannya cukup personal... dia ingin segera mandiri secara finansial dan membuktikan pada keluarga Daneswara bahwa ia bisa sukses, agar tidak terus-menerus merasa menjadi beban di sana."

Faas menyandarkan punggungnya, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat. Beban? batin Faas. Gadis itu adalah bagian dari keluarga Daneswara yang terpandang, namun ia justru merasa seperti benalu hingga rela melamar ke perusahaan teknologi yang terkenal memiliki seleksi paling kejam di negara ini.

"Kau tahu siapa dia, Diki?" tanya Faas datar.

"Saya tahu, Tuan. Dia saudara tiri dari nona Maudi, adik angkat anda saat di Amerika. Dan dia juga..." Diki menggantung kalimatnya, ragu sejenak. "...dia juga sering menjadi sasaran perundungan oleh adik Anda sendiri, Nona Jenita, di kampus."

Mendengar nama Jenita, kilatan dingin yang mematikan sempat melintas di mata Faas, sebelum akhirnya kembali meredup di balik ketenangannya. Jadi, dia gadis yang ditindas oleh adiknya yang sombong, kini takdir membawanya tepat ke hadapan Faas untuk meminta pekerjaan.

Sebuah kejutan takdir yang sangat menarik.

"Panggil dia untuk wawancara besok pagi," perintah Faas tiba-tiba.

Diki sedikit terkejut. "Besok, Tuan? Tapi kita belum menyaring kandidat dari luar negeri yang..."

"Tidak perlu," potong Faas mutlak. "Jadwalkan dia besok pukul sembilan pagi. Dan ingat, biarkan saya yang mewawancarainya langsung sebagai Tuan Malik Ibrahim. Jangan ada satu pun informasi tentang identitas asli saya sebagai Faas yang bocor kepada siapapun"

"Baik, Tuan. Dimengerti." Diki membungkuk hormat lalu mundur selangkah, segera keluar dari ruangan untuk melaksanakan perintah.

Setelah pintu tertutup, Faas kembali menatap lembar resume Eliza. Ia mengusap dagunya yang ditumbuhi kumis tebal palsu.

Keluarga Jihan, Gavin, dan Jenita saat ini sedang sibuk menyombongkan diri, merasa di atas angin karena proyek ratusan miliar mereka. Mereka bahkan sedang mengemis investasi kepada Apex Core tanpa tahu siapa pemilik aslinya. Dan kini, korban penindasan anak mereka justru akan berjalan masuk ke dalam benteng pertahanan terkuat miliknya.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!