NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. Panjangan Bisnis

Jemari Valerian gemetar hebat saat menatap layar ponselnya. Kepalanya mendadak pening, dan pasokan udara di sekitarnya seolah menyusut dalam sekejap. Di hadapannya, Aksa yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Valerian langsung merebut ponsel itu dengan gerakan cepat.

Mata Aksa menyipit, membaca deretan kalimat ketat yang dikirimkan oleh kakak kandungnya sendiri.

From: Damian

Malam ini kosongkan jadwalmu dan bersiaplah. Ada jamuan makan malam penting dengan kolega bisnis dari luar negeri. Aku butuh kau datang mendampingiku sebagai nyonya rumah yang sempurna. Pakai gaun terbaikmu, tutupi wajah pucatmu itu dengan riasan tebal, dan jangan membuatku malu di depan rekan-rekan bisnisku. Ingat, kontrak kerja sama kita senilai puluhan miliar bergantung pada bagaimana caramu tersenyum malam ini.

Aksa menggeram rendah, meremas ponsel itu hingga buku-buku jarinya memutih. "Pria berengsek," umpatnya dengan suara parau yang dipenuhi amarah.

Bagi Damian, Valerian benar-benar tidak lebih dari sebuah aset perusahaan yang bisa dipajang dan dimanfaatkan kapan saja demi kelancaran bisnisnya. Setelah semalam menghina harga diri Valerian sebagai seorang wanita dengan sandiwara kejamnya, kini dengan tidak tahu dirinya Damian menuntut Valerian untuk tampil cantik dan tersenyum manis di depan kolega bisnisnya. Damian tidak butuh seorang istri; dia hanya butuh boneka pajangan yang patuh.

"Aksa..." Valerian berbisik lirih. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, membasahi pipinya yang pias. "Dia bahkan tidak pernah menanyakan apakah aku sehat atau tidak setelah kehujanan semalam. Baginya, aku hanya topeng untuk nama baiknya."

Melihat wanita yang dicintainya hancur seperti itu, hati Aksa berdenyut nyeri. Ia berpindah tempat, berlutut di hadapan Valerian yang terduduk lemas di kursi makan. Aksa menggenggam kedua tangan Valerian yang sedingin es, lalu mengecupnya dengan begitu lembut dan penuh pemujaan.

"Jangan pergi jika kau merasa tidak sanggup, Valerian. Aku bisa membuat alasan untukmu di depan Ayah dan Ibu," ucap Aksa dengan nada suara yang berubah drastis—begitu lembut, hangat, dan menenangkan, berbanding terbalik dengan aura kasual atau sisi posesifnya yang menggelap semalam.

Valerian menggeleng lemah, mencoba tersenyum getir seraya mengusap rambut hitam Aksa yang berantakan. "Tidak bisa, Aksa. Kau tahu sendiri bagaimana Ibu akan mencercaku jika aku merusak makan malam penting ini. Aku tidak punya pilihan selain patuh."

Aksa terdiam. Sisi humorisnya yang biasa mencairkan suasana rumah kini lenyap sepenuhnya. "Baiklah, kalau itu maumu," bisik Aksa, berdiri dari berlututnya dan mencondongkan tubuhnya ke telinga Valerian, memberikan embusan napas hangat yang sensual yang seketika membuat bulu kuduk Valerian meremang. "Pergilah dengannya malam ini. Jadilah nyonya rumah yang dia inginkan. Tapi ingat satu hal, Valerian... sedalam apa pun Damian mencoba memamerkanmu pada dunia sebagai miliknya, di malam hari, tubuh dan jiwamu hanya akan memohon kehangatan di kamarku."

Malam harinya, sebuah restoran mewah bernuansa privat di pusat kota menjadi saksi dari kemunafikan sebuah pernikahan.

Valerian tampil sangat anggun dengan gaun malam beludru berwarna merah marun yang menutup rapat leher dan dadanya—sengaja dipesan khusus untuk menutupi jejak-jejak percintaan panasnya bersama Aksa. Wajahnya yang pucat kini tertutup riasan yang sempurna. Di sampingnya, Damian duduk tegap, sesekali merangkul pinggang Valerian dengan begitu mesra di depan para kolega bisnis asingnya.

"Ah, Tuan Damian, istrimu sungguh luar biasa anggun dan cerdas. Anda adalah pria yang sangat beruntung," puji salah satu kolega asing itu dengan bahasa Inggris yang fasih.

Damian tersenyum menawan, sebuah senyuman palsu yang tak pernah Valerian dapatkan di rumah. "Tentu saja, Tuan Smith. Valerian adalah permata tercantik dalam hidup saya. Saya tidak akan bisa mencapai posisi ini tanpanya."

Mendengar pujian itu, dada Valerian terasa sesak luar biasa. Rasa mual dan terhina bergejolak di dalam perutnya. Damian memujinya setinggi langit malam ini, seolah-olah dia adalah wanita paling dicintai di dunia, padahal beberapa jam lalu pria yang sama menyebutnya sebagai 'wanita membosankan yang beraroma aneh'.

Makan malam yang terasa seperti siksaan batin itu akhirnya selesai menjelang pukul sebelas malam. Begitu mereka masuk ke dalam mobil mewah dan sopir pribadi mulai melajukan kendaraan membelah jalanan kota yang sepi, semua kemesraan itu menguap begitu saja.

Damian langsung melepaskan rangkulannya pada pinggang Valerian dengan kasar, seolah-olah menyentuh wanita itu adalah hal yang paling melelahkan. Pria itu melonggarkan dasinya, lalu mengambil tisu basah dan menyerahkannya pada Valerian dengan gerakan acuh tak acuh.

"Hapus riasan tebalmu itu. Aromanya membuatku pusing," perintah Damian tanpa menoleh, matanya kembali tertuju pada layar tablet bisnisnya. "Tapi aku harus mengakui, aktingmu malam ini cukup bagus. Kolega asing tadi sangat terkesan, dan kontrak kerja sama akan ditandatangani besok pagi."

Valerian mengepalkan tangannya di atas pangkuan, menahan isak tangis yang sudah mencekik tenggorokannya. "Jadi... hanya itu arti diriku bagimu, Damian? Hanya alat pencetak kontrak bisnis?"

Damian menghentikan ketukan jarinya di layar tablet. Ia menoleh perlahan, menatap Valerian dengan sepasang netra yang sedingin es dan tak punya hati.

"Lalu kau berharap apa, Valerian? Cinta?" Damian terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang menguliti harga diri Valerian sampai habis. "Sudah kukatakan, jangan bermimpi. Kau harus tahu diri di mana posisimu di rumah ini."

Mobil mewah itu akhirnya tiba kembali di kediaman keluarga Wardhana yang sudah tampak sepi dan temaram. Tanpa menunggu suaminya, Valerian turun dari mobil dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia berlari masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju lantai dua dengan tergesa-gesa.

Namun, tepat di koridor lantai dua, langkah kaki Valerian terhenti.

Lampu di koridor itu mati, meninggalkan ruangan dalam kegelapan yang pekat. Namun, di kegelapan itu, sebuah siluet tubuh jangkung sedang bersandar di dinding, tepat di depan pintu kamar utama.

Aksa sedang menunggu di sana. Pria itu masih memakai kemeja yang sama, berdiri dalam senyap dengan sebatang rokok yang menyala temaram di jemarinya. Begitu melihat Valerian yang menangis dengan riasan yang sedikit luntur, Aksa langsung membuang rokoknya dan melangkah cepat memeluk tubuh ramping itu.

"Dia menyakitimu lagi, kan?" bisik Aksa parau, mendekap Valerian begitu erat ke dalam dada bidangnya yang hangat.

Valerian hanya bisa menangis sesenggukan di dada Aksa, menumpahkan seluruh rasa sakit, luka, dan kehinaan yang Damian torehkan malam ini. Di dalam pelukan adik iparnya ini, Valerian merasa benar-benar menjadi seorang wanita yang dilindungi, bukan pajangan bisnis yang tidak berharga.

Namun, di tengah momen emosional dan intim itu, sebuah suara langkah kaki yang berat terdengar menaiki tangga. Langkah kaki Damian.

Aksa tidak melepaskan pelukannya, justru ia semakin mempererat kuncian tangannya di pinggang Valerian, menatap lurus ke arah ujung tangga dengan seringai menantang yang berbahaya. Sementara Valerian mulai panik luar biasa.

Tap. Tap.

Langkah kaki itu semakin dekat, dan siluet tubuh Damian perlahan muncul di ujung koridor lantai dua, tepat saat lampu sensor otomatis koridor mendadak menyala terang benderang.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!