Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3 Secercah Harapan
"Sepertinya tubuhmu sedang berusaha pulih," gumam Hana pelan.
Suaranya yang lirih memecah keheningan setelah beberapa menit berlalu sejak jari telunjuk pria misterius itu bergerak. Namun kini, tidak ada pergerakan lanjutan. Keheningan kembali menyelimuti Poskesdes, menyisakan tubuh tegap itu yang lagi-lagi terbaring diam tak bergeming, seolah terkunci di dalam dunia tidurnya sendiri.
Hana menghela napas pelan, mengusap tengkuknya yang terasa kaku. Ia meraih pergelangan tangan pria itu untuk memeriksa denyut nadinya sekali lagi. Detaknya berdenyut konstan di bawah ujung jarinya, masih stabil, dan ritme napas pria itu pun tetap teratur. Setidaknya, kondisi itu membuat Hana sedikit bernapas lega meski ia tahu pria di hadapannya belum bisa mendengar ucapannya.
Dokter muda itu kemudian melangkah ke meja kerjanya, mengambil pulpen, lalu mencatat perkembangan kondisi pasien ke dalam buku laporan medis sederhana berwujud kertas yang mulai menguning. Di desa pesisir terpencil seperti Desa Sekar ini, jangan harap ada komputer hampir semua pencatatan dan administrasi klinis masih dilakukan secara manual menggunakan tulisan tangan.
✨✨✨✨
Keesokan harinya seperti biasa Hana mengerjakan rutinitasnya sebagai seorang dokter walaupun sibuk dengan pasien yang berdatangan sili berganti pandangan Hana tidak pernah lepas dari pria yang masih terbaring di atas ranjang putih itu.
Hari pun mulai beranjak sore, memanggil warga desa yang silih berganti mendatangi Poskesdes untuk memeriksakan kesehatan mereka.
Seorang ibu datang membawa anak kecilnya yang mengalami demam ringan akibat perubahan cuaca pantai. Sembari menenangkan sang anak yang menangis, Hana memeriksa suhu tubuhnya dan memberikan sirup penurun panas.
Tak lama setelah mereka pulang, seorang nelayan tua masuk dengan langkah bungkuk, mengeluh nyeri punggung yang hebat karena terlalu lama membungkuk mengangkat jaring ikan yang sarat muatan.
Hana melayani mereka satu per satu dengan senyum ramah dan ketelatenan yang sama. Namun, meski tangannya sibuk meracik obat atau menulis resep, pandangan matanya sesekali tetap mencuri lihat ke arah ranjang di sudut ruangan, memastikan pria misterius itu tidak menunjukkan gejala kejang atau penurunan drastis.
Sore yang sibuk perlahan luluh menjadi petang. Langit di atas Desa Sekar mulai dihiasi semburat warna jingga kemerahan yang megah, memantulkan cahayanya ke permukaan laut yang tampak dari jendela. Suara deburan ombak beritme konstan yang tadinya samar, kini terdengar semakin jelas dari kejauhan seiring meredanya aktivitas warga.
"Siapa sebenarnya dirimu?" gumam Hana pada ruang kosong.
Pertanyaan klise itu kembali mengetuk benaknya setelah pasien terakhir pulang dan ia akhirnya bisa mendudukkan diri di kursi plastik, meluruskan kakinya yang pegal. Matanya kembali terpaku pada profil wajah pria itu yang tegas.
Luka-luka lama berbentuk sayatan dan hantaman tumpul yang memenuhi tubuh sang pasien adalah sebuah anomali. Di mata Hana, pola cedera seperti itu menunjukkan dengan jelas bahwa pria ini bukanlah nelayan biasa, bukan pula turis yang sekadar mengalami kecelakaan kapal.
Namun, Hana segera menggelengkan kepala kuat-kuat, mengesampingkan ego dan rasa penasarannya. Bagi seorang dokter yang telah mengucap sumpah, latar belakang pasien tidak pernah menjadi syarat pengobatan. Yang terpenting sekarang adalah mengembalikan nyawanya utuh.
✨✨✨
Malam pun jatuh dengan cepat di pesisir. Lampu-lampu minyak dan bohlam redup di rumah panggung warga mulai menyala satu per satu di balik rimbunnya pohon kelapa. Sementara di dalam Poskesdes, hanya ada sebilah lampu neon sederhana yang memancarkan cahaya putih dingin, menerangi ruangan yang mulai terasa lengang.
Tok... tok...
"Rani?" panggil Hana, menoleh cepat ke arah pintu yang berderit.
Seorang gadis kecil berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan mata bulat yang polos. Di dekapannya, ada beberapa tangkai bunga liar berwarna kuning dan putih yang sedikit layu, yang baru saja ia petik dari pinggir jalan setapak menuju pantai.
Rani tersenyum malu-malu, lalu berjalan jinjit masuk ke dalam ruangan seolah takut suaranya akan mengganggu. Dengan tangan mungilnya yang sedikit kotor oleh tanah, ia meletakkan bunga-bunga tersebut ke dalam sebuah gelas plastik bekas air mineral yang telah diisi air oleh Hana di atas nakas, tepat di samping tempat tidur pasien.
"Kamu datang lagi?" tanya Hana, memperhatikannya dengan binar mata hangat.
Rani mengangguk cepat tanpa suara. Matanya yang jernih lalu beralih, menatap lekat-lekat pada wajah pria asing yang masih belum sadarkan diri itu dengan sorot penuh rasa ingin tahu yang murni.
"Dia masih tidur," ujar Hana lembut, berbisik agar tidak memutus keheningan yang disukai anak itu.
Rani kembali mengangguk, mengerti. Kemudian, dengan gerakan pelan yang menggemaskan, gadis kecil itu merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebungkus permen lolipop murah berbungkus plastik merah, lalu meletakkannya di atas meja persis di sebelah gelas bunga liar tadi.
"Kalau dia bangun nanti, Kakak kasih tahu ya," kata Hana, tidak bisa menahan tawa kecilnya melihat kepolosan dan ketulusan Rani yang ingin berbagi camilan dengan orang asing yang sakit.
Wajah Rani langsung berseri-seri, senyumnya melebar hingga menampilkan deretan giginya ompong nya. Janji sederhana dari sang dokter tampak seperti angin segar baginya.
Tak lama kemudian, dari arah luar terdengar suara parau seorang wanita setengah baya memanggil-manggil nama Rani, menyuruhnya pulang karena makan malam sudah siap. Rani segera melambaikan tangannya yang mungil kepada Hana sebelum berbalik dan berlari kencang menembus kegelapan malam.
Poskesdes kembali sunyi senyap. Namun entah mengapa, sudut ruangan yang tadinya terasa dingin dan steril kini terasa sedikit lebih hangat dan hidup, berkat kehadiran warna-warni bunga liar dan sebutir permen pemberian Rani.
Waktu terus bergulir, merayap melewati sunyinya malam hingga jarum jam dinding berkarat menunjukkan pukul sembilan malam tepat. Hana baru saja selesai memeriksa kelancaran aliran infus dan mengganti botol cairan yang hampir habis.
Ia kemudian menyeret kursinya lebih dekat ke lampu neon, duduk dengan menyilangkan kaki sambil membuka sebuah buku jurnal medis tebal untuk mengusir rasa kantuk yang mulai terasa berat menggelayuti kelopak matanya.
Sesekali, fokusnya terpecah. Matanya secara refleks melirik ke arah ranjang periksa di depannya.
Kondisi pria itu memang belum mengalami lonjakan yang baik, ia masih berada di fase koma. Namun, jika diperhatikan dengan jeli, tubuhnya malam ini terlihat jauh lebih baik dan bertenaga dibanding dua hari yang lalu saat pertama kali diseret dari pecahan ombak.
Warna pucat pasi yang menyerupai mayat di wajahnya perlahan mulai memudar, digantikan oleh rona samar aliran darah yang kembali normal. Luka-luka jahitannya yang sempat meradang juga mulai menutup dan mengering tanpa menunjukkan tanda-tanda infeksi sekunder.
Hana menutup buku medisnya perlahan, tersenyum lega di balik lelahnya. Ia merasa seluruh peluh dan malam-malam tanpa tidur yang ia lalui selama dua hari terakhir sama sekali tidak sia-sia. Tepat saat ia hendak menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan bersiap memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, sebuah gerakan tak biasa di atas seprai menyentak seluruh kesadarannya.
Jari-jari tangan pria itu bergerak kembali. Kali ini, gerakannya tidak lagi berupa kedutan halus yang ambigu. Gerakannya jauh lebih tegas, sangat pelan namun bertenaga, seolah jemari kekar yang dipenuhi kapalan itu sedang berusaha keras mencengkeram kain seprai atau mencari pegangan di tengah kegelapan yang mengurungnya.
"Bagus... Jangan menyerah. Mungkin tidak lama lagi," gumam Hana, detak jantungnya mendadak berpacu.
Ia segera melempar bukunya ke meja dan berhamburan menghampiri sisi ranjang, mengunci pandangan matanya pada setiap jengkal pergerakan otot tangan sang pasien. Namun, setelah beberapa detik yang menegangkan, ketegangan itu mengendur tangan itu kembali rileks, jatuh terkulai diam, dan pria tersebut tetap tidak membuka matanya.
Hana buru-buru menempelkan jarinya ke nadi karotis di leher pria itu, lalu memeriksa ritme dadanya. Semuanya masih terpantau stabil dan kuat.
Perlahan, sebuah senyuman penuh kelegaan dan harapan baru terukir di wajah Hana. Sebagai seorang praktisi medis, ia sangat memahami bahwa fase pemulihan trauma berat tidak pernah berjalan lurus dan instan itu adalah proses grafik yang naik-turun.
Gerakan-gerakan motorik kecil yang repetitif ini adalah sinyal tak terbantahkan bahwa sistem saraf pusat sang pasien sedang berjuang hebat di dalam sana, meretas jalan keluar dari kegelapan koma untuk kembali pulih.
Hana kembali mendudukkan diri di kursinya dengan perasaan yang jauh lebih optimis.
Sementara itu, pria misterius tersebut tetap terbaring pulas dalam tidur panjangnya, sama sekali tidak menyadari bahwa selama tiga hari terakhir, ada seorang dokter muda yang mengorbankan waktu istirahatnya, berdiri sebagai benteng pembatas antara dirinya dan kematian demi memastikan detak jantungnya tidak berhenti.
Malam ini, untuk pertama kalinya sejak tubuhnya terhempas di pantai Desa Sekar, harapan bagi pria asing itu untuk kembali melihat dunia luar terasa semakin dekat dan nyata.
Bersambung.....
Kata medis 'Karotis'\= sepasang pembuluh darah nadi (arteri) utama yang terletak di kedua sisi leher.