⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekarang, dan Zayna berdiri hendak menghampiri Disty yang juga sudah duluan melangkah keluar.
Zaffar menarik tangan Zayna, menahan gadis itu keluar dari kelas dan memberi ancaman dari tatapan.
"Jangan ganggu Disty lagi atau lo yang bakal kena akibatnya, Zayna," desis Zaffar. Menginginkan agar Zayna patuh.
"Tuh kan, gue udah duga dari awal kalau sifat ramah dan polos lo itu cuma topeng doang! Nyatanya lo emang berbahaya Zaffar," kata Zayna dengan berani.
Zaffar tersenyum miring. "Gue.. memang berbahaya," katanya mengakui sebelum pergi dari kelas dan berlari mendekati Disty.
"Disty," panggil Zaffar sudah berjalan di samping Disty yang acuh dan malah hendak memakai headset lagi.
Zaffar segera mengambil alat itu dan menyimpannya di saku celana tanpa persetujuan dari pemiliknya. Lancang!
Disty berhenti dan menatap tajam pada Zaffar yang malah tersenyum manis. Zaffar menyembunyikan sifatnya dari balik senyuman manis itu.
Disty mengepalkan tangan sebentar. "Ingat Disty, jangan di respon, atau lo yang bakal kena hukumannya," batinnya sebelum melanjutkan langkah.
"Disty, ayo aku antar kamu pulang. Selama ini aku belum tau di mana alamat rumah kamu, aku mau tau. Biar bisa antar jemput kamu juga setiap hari," ucap Zaffar mengajak.
Seperti ini lah Zaffar. Dia akan bersikap lembut di hadapan semua orang, tapi jika ia mau, ia akan berubah menyeramkan yang membuat orang langsung mundur.
Disty tidak menanggapi, ia berhenti di dekat gerbang, menunggu supir yang akan menjemput dirinya seperti yang Javeno katakan.
"Mending sama aku aja ayo, aku bakal antar kamu," ucap Zaffar sambil memegang pergelangan tangan Disty.
Disty memberontak hingga lepas, ia menatap tajam Zaffar, memberi peringatan melalui mata agar Zaffar tidak mengganggunya lagi. Rasanya Disty ingin berteriak memaki Zaffar sekarang, tapi ia tidak bisa melakukan itu.
Zaffar tersenyum smirk, merubah raut wajahnya dengan cepat. Karena sekolah juga sudah sepi, hanya ada beberapa murid lagi di dalam sana yang akan latihan basket bersama Javeno.
"Cih, lo seolah nolak kalau sama gue. Lo selalu diam setiap kali ada yang berusaha untuk sapa dan deketin lo, bahkan Zayna yang beneran tulus pun lo abaikan gitu aja. Tapi..."
Zaffar menggantung kalimatnya, lalu mengambil selangkah dan menangkap pinggang kecil Disty.
Disty memberontak tapi Zaffar semakin merapatkan tubuh hingga mereka berdua benar-benar menempel sekarang ini. Disty risih dan takut.
"Lepas Zaf!" tegas Disty tanpa perlu berteriak.
Wajahnya panik. Bukan hanya takut Zaffar akan berbuat hal nekat tapi Disty juga takut kalau Javeno melihat ini semua maka tamat lah riwayat nya.
"Lo nggak pernah nolak setiap kali Javeno dekat bahkan.. sentuh lo kan?" tanya Zaffar tersenyum miring.
Zaffar tau, karena beberapa kali ia sempat melihat. Seperti tadi siang, saat dirinya keluar kelas, ia tidak langsung pergi, tapi melihat dari jendela yang tembus pandang dari luar.
Beberapa murid juga mengetahuinya tapi memilih diam, karena itu adalah Javeno.
"Lepas!" Disty masih bisa menggunakan kedua tangannya untuk melindungi tubuhnya.
"Kenapa gue nggak boleh coba juga hm?" tanya Zaffar sambil menatap bibir Disty dan mulai menunduk untuk—
Brukkk!!
"Shit!"
Zaffar melepas Disty secara spontan karena dirinya yang tersungkur ke samping. Dengan lemparan helm yang kuat di kepalanya dari arah yang berbeda.
Disty mengatur napasnya yang tidak beraturan lalu menoleh juga kearah helm melayang tadi.
Di sana, dari jarak yang lumayan jauh, berdiri Javeno dengan tenang. Dan dia lah pelakunya. Membantu Disty lepas dari Zaffar tanpa perlu menyentuh.
Zaffar berdiri sambil memegang kepalanya yang sudah berdarah karena hantaman kuat beberapa detik lalu.
"Sial, dia selalu punya cara untuk batalin gue yang mau sentuh Disty," batin Zaffar menatap Javeno.
Javeno yang perlahan mendekat dengan tenang.
Dan Disty yang melangkah mundur teratur. Gadis itu takut.
Javeno terus menatap mata Disty yang juga menatapnya sambil mundur tanpa sadar kalau ia sudah di dekat jalan.
Tinnnnn..
Javeno menarik kuat tangan Disty sebelum sebuah mobil menabrak gadisnya. Jantung nya berdebar, kalau telat sedikit saja, maka gadisnya akan terluka parah.
"Kamu ingin mati?" Javeno bertanya tajam dan Disty yang diam tidak bisa menjawab. Dirinya juga syok.
Javeno menatap Zaffar yang segera pergi dari sana sebelum Javeno berbuat lebih padanya.
"Aku udah bilang untuk jangan respon atau keluar suara Disty," geram Javeno mencengkram kuat pinggang Disty.
Sebuah mobil berhenti di dekat keduanya. Javeno membuka pintu mobil.
"Masuk," titah Javeno dingin.
"Jav...."
"Masuk." Javeno menatap tajam Disty yang segera masuk dan duduk.
"Tunggu hukuman mu di rumah," bisik Javeno sambil menjilat telinga gadis itu sebelum menutup pintu mobil dengan kuat.
Disty menurunkan kaca mobil dengan mata berkaca-kaca. Dan mukanya yang juga memucat. "Jav, aku..."
"Jalan," perintah Javeno menatap supir dengan datar.
Supir itu tentu menurut pada sang majikan. Mobil melaju tanpa memberi kesempatan Disty untuk bersuara menjelaskan dan membela diri.