NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Baik dari Kota

“Azizah!”

Azizah yang sedang fokus menyapu debu di teras rumahnya seketika tersentak. Ia menghentikan gerakan sapu di tangannya dan menoleh cepat ke arah pekarangan. Dari arah rumah sebelah, tampak Dewi sedang berlari tergesa-gesa menghampirinya.

Dewi tiba di depan teras dengan napas yang terengah-engah, memegangi lututnya untuk menstabilkan diri. Wajahnya tampak memerah, namun ada binar kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.

“Zah... Bibi... Bibi punya kabar baik,” ucap Dewi terbata-bata di antara deru napasnya yang memburu.

Azizah meletakkan sapunya ke dinding, menatap sang bibi dengan jantung yang mendadak berdebar kencang. Ia menunggu dengan cemas.

Setelah berhasil mengatur napasnya, Dewi langsung menggenggam kedua bahu Azizah, “Bibi sudah menghubungi Nyonya besarku di kota tadi. Dan kau tahu apa katanya? Beliau setuju, Zah! Beliau sama sekali tidak mempermasalahkan keterbatasanmu yang tidak bisa bicara, asalkan kau rajin dan jujur dalam bekerja!”

Mendengar kalimat itu, Azizah merasa seolah dunia di sekitarnya mendadak dipenuhi bunga yang bermekaran. Rasa senang yang membuncah membuat pertahanannya runtuh. Tanpa aba-aba, ia langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Dewi.

“Eh—Zah!” Dewi berseru kaget. Tubuhnya sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah karena belum siap menerima tubrukan pelukan keponakannya yang begitu tiba-tiba.

Namun sedetik kemudian Dewi terkekeh geli. Ia melingkarkan lengannya, mengelus lembut punggung Azizah yang masih mendekapnya erat, menyalurkan rasa bahagia yang sama. Bagi Azizah, ini bukan sekadar pekerjaan biasa, melainkan pintu gerbang pertama untuk mengubah nasibnya dan Laksmi.

Setelah beberapa saat, Dewi perlahan merenggangkan pelukan mereka. Ia menatap wajah Azizah dengan ekspresi yang berubah sedikit serius.

“Oh ya, Zah. Mana Nenekmu? Apa kau sudah memberitahunya soal rencana ini?” tanya Dewi sambil melirik ke arah pintu rumah yang terbuka.

Azizah perlahan menurunkan pelukannya, lalu jemarinya bergerak lincah menerangkan situasi yang sebenarnya.

‘Aku sudah memberitahu Nenek tadi subuh. Tapi Nenek belum memberikan jawaban pasti. Dari reaksinya, Nenek terlihat sangat berat hati dan tidak setuju kalau aku pergi ke kota.’

Mendengar hal itu, raut wajah Dewi yang semula riang seketika berubah sedih. Kebahagiaan yang baru saja membubung kini sedikit meredup.

“Nenekmu tidak setuju, ya?” gumam Dewi dengan nada penuh sesal. Ia menatap lekat keponakannya itu, lalu menawarkan bantuan, “Bagaimana kalau Bibi saja yang bicara dan membantu membujuk Nenekmu nanti? Biar Bibi jelaskan kalau di sana kau akan aman karena ada Bibi.”

Azizah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya kembali bergerak menolak dengan halus.

‘Tidak usah, Bi. Biar aku sendiri saja yang bicara lagi dengannya. Nanti setelah Nenek pulang dari ladang tetangga, aku akan membujuknya pelan-pelan.’

Dewi menghela napas panjang, lalu mengangguk mengerti. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pundak Azizah, mencoba menyalurkan kekuatan. Sebagai sesama keluarga, Dewi tentu sangat paham apa yang berkecamuk di dalam dada Laksmi. Mengirim cucu perempuan satu-satunya, yang memiliki keterbatasan pula, untuk merantau ke kerasnya kota besar pasti menjadi keputusan yang paling berat dan menakutkan bagi wanita tua itu.

“Ya sudah kalau begitu, Zah. Nanti kalau kau butuh bantuan Bibi untuk meyakinkan Nenek, bilang saja, ya,” ucap Dewi lembut, mencoba membesarkan hati keponakannya.

Azizah tersenyum tulus dan mengangguk patuh, meski di dalam hatinya, ia mulai menyusun strategi dan kata-kata terbaik untuk kembali meluluhkan hati sang nenek.

Dewi menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya menatap sekeliling pelataran sebelum akhirnya mendongak menatap langit cerah berawan di atas mereka.

“Suasana desa memang tidak pernah berubah, ya. Selalu membuat tenang,” gumam Dewi dengan senyum kerinduan, “Bibi sudah lama sekali tidak berkeliling desa. Rasanya kangen ingin pergi ke sungai bawah atau ke tempat-tempat yang dulu sering Bibi pakai bermain waktu kecil. Mau mengenang masa lalu rasanya.”

Melihat gurat kerinduan di wajah bibinya, Azizah langsung menggerakkan tangannya, menawarkan diri.

‘Kalau begitu, biar aku temani Bibi berkeliling hari ini.’

Dewi sempat mengernyit bingung menatap keponakannya itu, “Eh, kau tidak pergi ke kebun teh hari ini, Zah? Nanti malah dicari pengepul kalau membolos.”

Azizah menggelengkan kepalanya cepat seraya tersenyum.

‘Tidak, Bi. Hari ini jadwal buruh petik teh libur total karena ada pemeliharaan lahan dari pengelola.’

“Wah, pas sekali kalau begitu!” sahut Dewi dengan mata berbinar. Namun sedetik kemudian ia berubah pikiran setelah menatap hamparan hijau di kejauhan, “Tapi... sepertinya kalau kita pergi berfoto-foto di area perkebunan teh yang dekat tebing itu bagus juga, ya? Bibi mau ambil foto yang banyak, lalu menunjukkannya pada Nyonya besar di kota nanti. Biar beliau lihat kalau hidup di desa itu sangat asri dan menyenangkan.”

Azizah tersenyum lebar menyetujui ide seru bibinya. Ia segera menyimpan sapu lidinya ke tempat semula, lalu melangkah ke ambang pintu untuk mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Setelah memastikan semuanya aman, ia berbalik menghampiri Dewi dengan langkah ringan.

Wanita itu sudah siap menemani sang bibi berjalan-jalan, bernostalgia sekaligus mengabadikan momen-momen indah di tanah kelahiran mereka sebelum nantinya mereka berdua harus berjuang di riuhnya kota besar.

Sesampainya di area kebun teh yang paling indah. Angin pegunungan berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan pucuk teh yang menenangkan. Tidak terhitung berapa kali Azizah menekan tombol potret pada ponsel Dewi. Ia sibuk mengabadikan wanita itu yang tampak begitu antusias berpose di antara hamparan tanaman teh yang menghijau. Dewi tertawa riang, berputar-putar layaknya model profesional di depan kamera.

Setelah puas, Dewi turun ke jalan setapak dan mengambil ponselnya dari tangan Azizah untuk memeriksa hasil jepretan wanita itu.

“Wah, Zah! Kamu pintar sekali mengambil sudut pandang foto. Hasilnya bagus sekali, tidak ada yang miring atau buram,” puji Dewi dengan nada kagum.

Azizah tersenyum tipis. Ia menggerakkan tangannya.

‘Dulu saat masih sekolah, aku sering dipercaya teman-teman sebagai tim dokumentasi untuk acara-acara sekolah.’

Dewi mengangguk mengerti, merasa bangga pada keponakannya yang multitalenta, “Pantas saja. Bakatmu terbuang kalau cuma untuk memotret pemandangan, Zah. Sekarang giliranmu, sini ponselnya biar kupotret.”

Azizah refleks menggeleng, wajahnya memerah karena canggung.

‘Tidak usah, Bi. Aku tidak terbiasa berpose di depan kamera. Lagipula, aku tidak membawa ponselku sendiri.’

“Justru karena kau tidak punya ponsel yang kameranya bagus, harus pakai ponselku ini. Hasilnya jauh lebih tajam daripada ponselmu yang sudah buram itu. Ayo, jangan menolak!” Dewi memaksa dengan gemas.

Azizah akhirnya menurut. Ia berdiri kaku di tengah hamparan teh, tangannya menggantung di samping tubuh dengan posisi lurus dan wajah datar seperti patung.

Dewi yang melihat itu sontak berdecak kesal, “Astaga, Azizah! Jangan kaku begitu! Senyum sedikit, miringkan kepalamu, atau gerakkan sedikit bahumu!”

Azizah kembali menurut, kali ini ia mengikuti setiap petunjuk pose yang diberikan Dewi dengan kaku namun telaten. Dewi kembali mengecek layar ponselnya, dan seketika ia terpaku takjub. Di balik kamera, Azizah tampak begitu anggun dan memukau.

“Ya ampun, Zah...” Dewi menatap layar ponselnya lalu beralih ke Azizah, “Kau tidak hanya jago memotret, tapi kamu juga sangat cocok menjadi model. Lihat ini, tinggi semampaimu dan postur tubuhmu ini sangat fotogenik. Kalau kamu di kota nanti, majikanku pasti senang melihatmu!”

Azizah tersenyum malu hingga menundukkan kepala. Jemarinya bergerak malu-malu.

‘Bibi ada-ada saja, aku kan hanya wanita desa biasa.’

Dewi hanya terkekeh, membayangkan masa depan cerah yang mungkin akan menghampiri wanita itu di kota nanti.

Mereka berdua larut dalam kebersamaan, sibuk berkeliling menyusuri sudut-sudut desa yang penuh kenangan sampai akhirnya gema azan zuhur berkumandang dari pengeras suara masjid. Suara panggilan salat yang sahut-menyahut itu membuat mereka tersadar bahwa hari sudah siang. Mendengar waktu azan telah tiba, mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Lagipula, Azizah yakin Laksmi pasti sudah berada di rumah, karena biasanya waktu bekerja sebagai buruh di ladang tetangga hanya berlangsung setengah hari, dari pagi hingga menjelang zuhur.

Sesampainya mereka di pelataran pekarangan yang menyatukan kedua rumah itu, Dewi menghentikan langkahnya di dekat gerbang bambu.

“Zah, Bibi langsung masuk ke rumah ya, mau bersiap salat zuhur juga,” pamit Dewi. Ia menatap Azizah dengan pandangan hangat dan penuh rasa syukur, “Terima kasih banyak ya untuk hari ini. Kau sudah dengan sukarela dan sabar sekali menemani Bibi bernostalgia keliling desa.”

Azizah tersenyum manis, raut wajahnya tampak begitu ceria setelah seharian melepas penat. Jemarinya bergerak lincah membentuk gerakan isyarat.

‘Sama-sama, Bi. Aku yang justru harus berterima kasih banyak pada Bibi atas info tawaran pekerjaan di kota itu. Lagipula, aku juga sangat senang bisa berkeliling desa hari ini. Kalau biasanya aku hanya jalan sendirian, hari ini rasanya seru sekali karena ada Bibi yang bisa kuajak bicara.’

Dewi mengangguk paham, hatinya tersentuh mendengar penuturan polos keponakannya yang selama ini mungkin sering merasa kesepian di desa karena keterbatasannya.

“Iya, Zah. Ya sudah, Bibi masuk dulu ya. Dah, Azizah!” Dewi melambaikan tangannya dengan ceria, lalu membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.

Begitu pula dengan Azizah. Sambil membawa kunci yang sejak pagi melingkar di pergelangan tangannya, ia berjalan menuju pintu rumah sederhananya.

Saat sedang memutar anak kunci di lubang pintu, suara langkah kaki di atas kerikil membuat Azizah menoleh. Di ujung pelataran, Laksmi baru saja berjalan masuk melewati pagar bambu dengan topi caping yang sudah dilepas dan digenggam di tangannya. Wajah tua itu tampak agak kelelahan setelah setengah hari berada di bawah terik matahari.

“Zah, kau juga baru pulang? Dari mana?” panggil Laksmi sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung jilbab.

Azizah tersenyum menyambut kedatangan sang nenek. Jemarinya bergerak cepat.

‘Aku baru saja menemani Bibi Dewi berjalan-jalan keliling desa.’

Setelah itu, Azizah membuka daun pintu rumah mereka lebar-lebar, lalu dengan penuh kasih sayang merangkul bahu ringkih Laksmi untuk mengajaknya masuk ke dalam agar bisa segera melepas lelah.

Begitu berada di dalam kesejukan rumah, Azizah menatap neneknya kembali dan menggerakkan tangan.

‘Aku akan membuatkan teh untuk Nenek.’

Namun Laksmi menggeleng pelan sambil mengibaskan capingnya, “Tidak usah teh, Zah. Nenek sedang haus sekali, ambilkan air putih saja di dapur.”

Azizah mengangguk patuh. Sebelum melangkah, ia meminta sang nenek untuk duduk beristirahat terlebih dahulu di kursi kayu ruang tamu. Setelah memastikan neneknya duduk dengan nyaman, Azizah langsung berbalik menuju dapur untuk mengambilkan air minum yang diminta.

Setelah menuangkan air putih dingin ke dalam gelas kaca, Azizah tidak langsung melangkah kembali ke ruang tamu. Ia berdiri mematung di ambang batas antara dapur dan ruang tengah sambil meremas gelas di genggamannya. Dadanya bergemuruh hebat. Rasa ragu dan takut seketika menyergap. Ia bingung harus menyusun kata dan bujukan seperti apa lagi agar tidak kembali melukai hati sang nenek.

Namun bayangan punggung ringkih Laksmi yang membungkuk di ladang tetangga mendadak melintas di benaknya. Tekadnya kembali menebal.

Azizah menarik napas dalam-dalam, mengulas senyum terbaiknya, lalu melangkah ke ruang tamu. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kayu, tepat di hadapan Laksmi yang sedang memijat kaki kirinya yang tampak kaku.

Begitu Laksmi selesai meneguk air putihnya hingga tandas, Azizah langsung mengambil posisi berlutut di lantai, tepat di depan lutut sang nenek. Ia mendongak, menatap lekat sepasang mata tua yang sarat akan gurat keletihan itu. Jemarinya mulai bergerak, perlahan namun sarat akan ketulusan yang mendalam.

‘Nek, restui Azizah pergi,’ isyarat Azizah, matanya mulai berkaca-kaca, ‘Azizah janji akan menjaga diri dengan baik di sana. Majikan Bibi Dewi orang baik, mereka tidak mempermasalahkan kondisi Azizah. Ini kesempatan buat Azizah untuk bisa mengubah kondisi hidup kita dan memastikan Nenek tidak perlu bekerja lagi di usia senja. Izinkan Azizah berbakti, Nek. Tolong percaya pada Azizah.’

Laksmi terpaku. Ia menatap gerakan tangan cucunya yang bergetar hebat, lalu beralih menatap sepasang mata jernih yang memancarkan kesungguhan luar biasa. Ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan detak jam dinding tua yang usang.

Melihat keteguhan hati sang cucu yang tidak tergoyahkan sejak subuh tadi, pertahanan terakhir di hati Laksmi akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia menyadari, ia tidak bisa terus-menerus mengurung Azizah di desa ini hanya karena ketakutannya sendiri.

Laksmi menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu mengulurkan tangannya yang gemetar untuk mengusap pipi Azizah yang mulai basah oleh air mata.

“Baiklah, Nak... Nenek izinkan kau pergi ke kota,” ucap Laksmi dengan suara yang parau.

Mata Azizah seketika membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Tapi ada satu syarat yang tidak boleh kau langgar,” lanjut Nenek Laksmi, menatap cucunya dengan tatapan yang sangat tegas namun penuh kasih, “Kau harus rutin mengabari Nenek tentang keadaanmu di sana. Jangan pernah menyembunyikan apa pun. Setiap minggu, kau atau bibimu harus menelepon ke sini agar Nenek tahu kau baik-baik saja. Kalau kau melanggarnya, Nenek akan menjemputmu pulang saat itu juga.”

Azizah mengangguk dengan sangat antusias. Air mata bahagianya tumpah tidak terbendung. Ia merasa begitu terharu dan bersyukur karena impian mulianya akhirnya mendapatkan restu paling berharga dalam hidupnya.

Tanpa membuang waktu, Azizah langsung menghambur ke dalam dekapan sang nenek. Ia memeluk erat tubuh tua yang selalu menjadi pelindungnya itu. Laksmi pun balas mendekap cucu semata wayangnya tidak kalah erat. Di ruang tamu yang sederhana itu, keduanya larut dalam keheningan yang pecah oleh suara isak tangis, saling menukar air mata perpisahan sekaligus harapan baru demi masa depan yang lebih baik.

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!