NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Hanif

Arista menatap adiknya sekilas. Dia tidak mengiyakan atau menolak ketika adiknya mengatakan akan menginap.

"Bagaimana dengan suamimu , apakah kamu sudah minta ijin? "

"Akhir-akhir ini mas Restu sering menginap di rumah orang tuanya , mbak. Dengan alasan mereka udah sepuh, nggak ada yang jagain" Anisa menunduk lesu.

"Bukankah ada Lina adik iparnya yang ikut tinggal di situ?". Arista mengernyitkan dahinya.

Anisa mengangkat ke dua bahunya enggan menjawab. Lantas dia mendekat ke tempat tidur.

" Lihat mbak, dia mirip sekali sama mas Pram. Apa mbak sudah mempersiapkan nama buat dia." Anisa menatap kakaknya .

Arista menggeleng pelan. Dia merasa bersalah, dirinya terlalu sibuk meratapi nasib sampai lupa memberi nama.

" Lucu aja mbak, nggak mungkin kan, kita manggil si bayi " Anisa tertawa pelan.

"Mbak belum menemukan nama yang baik buat dia." Arista menatap sendu.

Anisa menghela nafas. Sebenarnya dia tak ada maksud membuat kakaknya bersedih.

"Kalau mbak ijinin biar aku yang kasih nama , gimana ?". Anisa tersenyum ke arah kakaknya.

"Boleh. Tapi jangan asal kasih nama, harus punya arti yang baik."

"Tenang aja mbak, aku nemu nama yang bagus buat dia."

"Sejak kapan?." Arista menatap heran.

"Emm...maaf. Jadi waktu mbak bilang katanya mas Pram suruh aku yang merawat, diam-diam aku sibuk browsing nama." Anisa menunduk merasa tak enak hati. Dia tak ingin menambah kesedihan kakaknya.

"Siapa namanya?." Arista menatap lurus ke arah bayinya dengan tatapan entah.

" Hanif mbak. Yang mempunyai arti lurus, teguh pada pendirian." Anisa tersenyum.

"Semoga kelak Hanif benar-benar menjadi anak yang lurus , teguh pendirian dan berakhlak mulia." Arista dengan suara parau menahan kesedihan.

"Aamiin." ucap Anisa mengaminkan doa kakaknya.

" Tapii..."

" Tapi apa mbak? Apa mbak mau mengganti nama Hanif?".

Arista menggeleng pelan.

" Ketiga kakaknya semua namanya berawalan huruf "D". A..apa nanti dia tidak akan protes kalau udah besar."

Anisa terdiam. Seperti di ketahui, semua anak kakaknya mempunyai nama berawal huruf "D". Dirga, Dimas dan Dityan.

" Tapi ngomong-ngomong mereka bertiga ke mana, dari kemarin nggak ada yang nongol sama sekali. Bapak sama anaknya sama aja." Anisa menggerutu dalam hati.

" Mereka ke mana mbak. Kenapa dari kemarin nggak ada yang nongol. Sudah tahu ibunya melahirkan , bukannya bantuin malah nggak ada yang kelihatan " kata Anisa kesal.

" Dua hari yang lalu mereka minta ijin naik gunung , sekalian camping . Katanya di rumah suntuk ."

"Harusnya mereka jangan ikut semua, salah satu harus jadi kakak siaga. Dirga sebagai yang tertua kenapa malah ikut pergi." dengus Anisa kesal.

" Justru kalau Dirga nggak ikut, aku yang jadi khawatir melepaskan Dimas dan Dityan berdua. Mereka masih labil, rasa ingin tahunya banyak, belum bisa mengendalikan emosi. Sangat riskan buat Dimas dan Dityan yang belum banyak pengalaman naik gunung."

Anisa mengangguk mengerti.

"Tapi mereka tahu kan, kalau mbak hplnya sudah dekat?".

Arista terdiam.

" Mereka tahu. Mereka berpikir ada ayahnya yang akan menjaga ibunya.Karena mereka melihat ayahnya begitu perhatian dan telaten. Tapi setelah mereka berangkat, malamnya mas Pram nggak pulang. Handphonenya juga nggak aktif."

" Sudahlah mbak, aku tau mbak pasti sedih,marah. Sekarang mbak harus ambil keputusan yang menurut mbak baik. Jangan sampai merugikan masa depan mbak sendiri. Anak-anak udah besar, mereka pasti akan menjaga mbak."

"Maksudmu apa, Nis."

"Nggak ada maksud apa-apa, mbak. Aku cuma nggak mau melihat mbak terpuruk. Kalau memang benar mas Pram menginginkan Hanif aku yang merawat, dengan tangan terbuka dan senang hati mbak. Nanti aku akan bicarakan dengan mas Restu, mungkin dengan adanya Hanif di antara kami, mas Restu jadi lebih sering di rumah."

Arista menatap adiknya penuh selidik. Anisa merasa kikuk.

"Mbak jangan khawatir dengan nama yang nggak sama inisial depannya. Hanif akan masuk KK aku mbak. Biar nanti aku minta tolong sama pihak kelurahan , agar Hanif tercatat jadi anak pertamaku."

"Apakah nanti aku boleh sering-sering mengunjungi Hanif?."

" Pintu rumahku terbuka mbak, silahkan mbak datang kapan aja menemui Hanif."

Tiba-tiba Arista memeluk adiknya , menangis sejadi jadinya. Anisa membiarkan kakaknya menangis, mungkin dengan tangisnya segala beban di dadanya sedikit terobati.

Tok..tok..tok..

"Arista buka pintunya...

Arista yang sedang menangis terkejut mendengar ketukan pintu dan teriakan yang kencang memanggil namanya.

Sesaat kakak beradik saling berpandangan. Arista heran tidak biasanya ada orang mengetuk pintu dan berteriak keras. Yang biasanya di lakukan oleh Mak Mak penagih utang. Tapi Arista tidak pernah merasa punya utang sama siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!