Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tubuh Evelyn terus gemetar di atas ranjang rumah sakit yang melaju cepat melewati lorong UGD.
Wajahnya pucat pasi.
Gaun yang dikenakannya sudah ternoda darah, sementara tangannya terus memegang perutnya dengan panik.
“Evelyn, bertahanlah!” seru Lucy sambil menangis dan berlari mengikuti ranjang putrinya.
“Ma…” suara Evelyn lirih dan bergetar.
Air matanya terus mengalir di sudut matanya.
“Tolong… selamatkan anakku…”
“Tidak akan terjadi apa-apa! Kau harus kuat!” jawab Lucy sambil menggenggam tangan putrinya erat.
Para dokter dan perawat terus mendorong ranjang menuju ruang UGD.
“Tekanan darah pasien turun!”
“Siapkan ruang operasi!”
“Cepat!”
Suasana rumah sakit dipenuhi kepanikan.
Ronald yang biasanya keras kini hanya bisa berdiri membeku melihat darah yang terus mengalir dari tubuh putrinya.
Untuk pertama kalinya…
Pria itu mulai merasa takut kehilangan Evelyn.
Pintu ruang UGD akhirnya tertutup.
Brak!
Lucy langsung menangis di depan pintu ruangan.
“Evelyn… kau harus selamat…”
Bandara internasional.
Seorang pria tinggi mengenakan mantel hitam berjalan melewati keramaian sambil membawa tas pakaian di tangannya.
Wajah tampannya terlihat dingin dan tenang seperti biasa.
Namun sorot matanya menyimpan rasa sakit yang dalam.
Damien Lu.
Calon suami Evelyn yang menghilang di hari pernikahan mereka.
Langkah pria itu perlahan terhenti tepat sebelum memasuki pintu keberangkatan.
Ia menoleh ke belakang.
Tatapannya terasa berat… penuh penyesalan.
Angin malam berhembus pelan menerbangkan sedikit rambut hitamnya.
Damien perlahan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Evelyn…” gumamnya lirih.
“Aku akan kembali.”
“Tunggu aku…”
“Pada saat itu… aku akan menebus semua kesalahanku.”
Namun Damien tidak tahu…
Di saat dirinya pergi meninggalkan negara itu—
Wanita yang dicintainya sedang berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit.
Beberapa jam berlalu dengan suasana mencekam di depan ruang UGD.
Lucy terus menangis sambil duduk di kursi lorong rumah sakit.
Sementara Ronald berdiri diam dengan wajah pucat dan pikiran kacau.
Lampu ruang operasi masih menyala.
Setiap detik terasa begitu menyiksa.
Tak lama kemudian...
Ceklek.
Pintu ruang UGD akhirnya terbuka.
Seorang dokter keluar sambil melepas masker wajahnya. Ekspresinya terlihat berat.
Lucy langsung berdiri dan menghampiri dokter itu dengan panik.
“Dokter! Bagaimana keadaan putri saya?!”
Ronald juga segera mendekat dengan wajah tegang.
Dokter terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Pasien berhasil kami selamatkan…”
Lucy langsung menghela napas lega sambil menangis.
Namun ekspresi dokter belum berubah.
“Tapi…” lanjutnya berat.
“Kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”
Tubuh Lucy langsung melemas.
“Apa…?” bibirnya bergetar.
Ronald membeku di tempat.
Dokter menundukkan pandangannya.
“Pasien mengalami pendarahan hebat akibat benturan keras. Kandungan pasien tidak berhasil dipertahankan.”
Tangisan Lucy langsung pecah.
“Tidak… tidak mungkin…”
Sementara Ronald berdiri diam seperti kehilangan suara.
Pikirannya kosong.
Anak itu…
Adalah cucunya.
Dan tanpa sadar…
Ia sendiri yang menyebabkan semua itu terjadi.
Dokter kembali berkata pelan,
“Kondisi mental pasien juga sangat buruk. Kami harap keluarga tidak memberikan tekanan berlebihan setelah ia sadar nanti.”
Setelah mengatakan itu, dokter pun pergi meninggalkan mereka.
“Evelyn selama ini selalu baik pada semua orang…” ucap Lucy dengan suara bergetar.
“Kenapa dia harus mengalami semua ini…? Damien pergi dan membuat Evelyn dihina seluruh kota. Sekarang bahkan anaknya juga tidak bisa dipertahankan…”
“Ada baiknya anak itu memang tidak bisa dipertahankan,” kata Ronald.
Lucy langsung menoleh tidak percaya.
“Ronald!”
Pria itu menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
“Damien sudah meninggalkan putri kita. Jadi untuk apa mempertahankan darah daging pria itu?”
Kalimat itu membuat Lucy semakin marah dan sedih.
“Kau tidak bisa berkata seperti itu!” bentaknya. “Bagaimanapun anak itu tidak bersalah! Itu tetap cucu kita. Dia hanya datang di waktu yang salah…”
Namun Ronald terlihat frustrasi dan penuh tekanan.
“Lalu menurutmu kita harus bagaimana?!” balasnya dengan nada meninggi. “Apa belum cukup keluarga kita dipermalukan?”
Ia menatap Lucy dengan wajah penuh emosi.
“Tanpa seorang suami, apakah Evelyn harus melahirkan seorang anak? Apa kata orang-orang nanti? Bagaimana dia bisa mengejar masa depannya lagi?!”
“Kejadian ini sudah memengaruhi perusahaan kita. Kerugian yang harus kita tanggung bukan sedikit. Karena itu…”
Ronald menarik napas panjang sebelum berkata dengan tegas,
“Mulai detik ini, Evelyn tidak bisa kembali ke rumah keluarga Shen.”
Lucy langsung membeku.
Matanya membesar penuh keterkejutan.
“Kau ingin membuang putri kita sendiri…? saat ini Evelyn sangat membutuhkan kita. Kita tidak bisa meninggalkan dia sendirian."
Namun Ronald tidak menjawab.
Ia hanya membalikkan badan dan melangkah pergi dari lorong rumah sakit itu.
Keesokan harinya.
Cahaya matahari pagi masuk samar melalui jendela ruang rawat inap.
Evelyn perlahan membuka matanya.
Wajahnya terlihat pucat dan lemah. Bibirnya kering, sementara matanya masih sembab akibat menangis semalaman.
Perlahan tangannya bergerak menyentuh perutnya sendiri.
Lucy yang berdiri di samping ranjang segera menggenggam tangan putrinya.
“Evelyn…” suaranya lembu, “Jangan terlalu sedih… kau masih muda.”
“Mungkin… anak ini memang belum berjodoh denganmu.”
Mendengar itu, air mata Evelyn langsung jatuh perlahan.
Ia menunduk sambil memegang selimut erat.
“Ma…” suaranya serak. “Apa yang harus aku lakukan sekarang…?”
Lucy terdiam.
Tatapan Evelyn kosong dan penuh kehancuran.
“Dalam dua hari… aku kehilangan pria yang kucintai dan sekarang aku juga kehilangan anakku…”
Tangisnya kembali pecah.
Lucy langsung memeluk putrinya dengan hati hancur.
Namun tiba-tiba...
Suara televisi di sudut kamar rumah sakit menyala menyiarkan berita pagi.
“Berita terbaru.”
“Jaksa Evelyn Shen resmi diberhentikan dari jabatannya.”
Tubuh Evelyn langsung membeku.
Matanya perlahan menoleh ke arah televisi.
Di layar terlihat foto dirinya saat mengenakan seragam kejaksaan.
“Pihak kejaksaan menyatakan bahwa kegagalan pernikahan Evelyn Shen telah menimbulkan kontroversi besar dan memengaruhi citra institusi.”
“Publik menilai kejaksaan telah dipermalukan akibat skandal tersebut.”
“Kami mendapat informasi bahwa keputusan pemecatan telah disetujui pagi ini.”
Wajah Evelyn langsung pucat.
Tangannya gemetar hebat.
“Tidak…” bisiknya pelan.
Lucy segera mengambil remote dan mematikan televisi itu.
"Kenapa mereka harus melakukan ini padaku? Tidak mudah bagiku untuk menjadi seorang jaksa," ujar Evelyn yang semakin emosi.