Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Calon Suami
"Aku tutup dulu. Ada dinner dengan keluargaku," kata Rakha setelah mendapati Amaia berdiri di ambang pintu. "Hei, sejak kapan di situ?"
Pria berperawakan agak kurus dengan kacamata berbingkai tipis itu mendekati Amaia. Tiba-tiba saja seluruh kalimat yang terekam dalam kepala Amaia langsung menghilang. Wajah Rakha selalu bisa membuat Amaia kalah setiap kali ingin berbicara membahas sesuatu yang penting. Seperti rasa penasarannya terhadap hal tadi.
"Maaf, tadi aku lupa ketuk pintu. Aku nggak tau kalau kamu lagi teleponan," ucap Amaia.
Lidahnya kelu untuk bertanya lebih jauh tentang orang yang baru saja bertelepon dengan sang calon suami. Amaia tak mau merusak suasana. Setelah beberapa hari terlibat perang dingin dengan Rakha, ia tak mau suasana menjadi semakin runyam.
Pertengkaran mereka awalnya bermula dari perbedaan pendapat tentang tanggal pernikahan. Amaia ingin menikah selepas lulus kulia. Namun, Rakha bersikeras menikah secepatnya karena sang papa, Ferdian Tedjakusuma, sudah menanyakan progres hubungan mereka. Hari ini sepasang tunangan itu kembali bicara lagi.
"Nggak masalah, Amaia."
Rakha mendekat, lalu menarik pergelangan tangan Amaia, sehingga gadis itu masuk ke ruangan tersebut. Sang calon suami menentukan tubuh Amaia ke daun pintu dengan pelan. Tubuh Amaia terhimpit oleh tubuh pria yang sudah dijodohkan dengannya saat berusia tujuh belas tahun, sebelum kematian sang ayah.
Amaia mendongak kaget menyaksikan Rakha dari jarak yang sangat dekat. Ia pikir sang tunangan akan langsung marah karena tiba-tiba Amaia datang dengan Widitama hari ini.
Meski sudah beberapa tahun hubungannya Rakha dan selama bertahun-tahun mencintainya, tapi Amaia selalu merasa gugup setiap kali mereka berdekatan. Belakangan ini saat mereka mengumumkan rencana pernikahan pada kedua belah pihak keluarga, Rakha jarang sekali bersikap romantis. Dia jarang menghabiskan waktu dengan Amaia dan beralasan sibuk membantu papanya di kantor.
Keduanya justru sering terlibat cek-cok karena perbedaan pendapat. Amaia menganggap bahwa itu bentuk ujian sebelum mereka resmi menjadi suami-istri. Ia berusaha memahami kesibukan Rakha sebagai salah satu calon penerus Ferdian Tedjakusuma.
"K-kak, ada apa?" tanya Amaia setengah gugup.
"Aku nggak tau, Amaia. Aku cuma kesal karena kamu tiba-tiba datang bersama Mas Widi. Kamu tau kan dia suka bicara seenaknya? Sekarang kita semua sudah dewasa dan aku nggak mau Mas Widi punya pikiran untuk menganggu hubungan kita," katanya.
"Maksud kamu?"
"Dia dari dulu terlihat seperti kakak yang baik untuk kita semua. Bahkan untuk kamu yang bukan saudaranya. Dia terlalu protektif, padahal dia nggak begitu ke Denara. Dulu saat masih kecil, aku memakluminya. Tapi sekarang nggak bisa, Amaia. Aku takut dia berusaha merebut kamu dariku," jelasnya.
Penuturan itu membuat Amaia terkesiap. Ingatannya terlempar pada kejadian beberapa saat lalu saat berbicara dengan Widitama dalam perjalanan ke rumah utama. Tak mungkin Widitama punya niat seperti itu, kan?
"Kak, jangan berpikir yang bukan-bukan. Mas Widi cuma ...."
Kalimat Amaia tertahan saat Rakha mencium bibirnya dengan lembut. Meski agak kaget, ia membalas ciuman Rakha dengan sepelan mungkin sambil memejamkan mata. Kedua tangannya terkalung di leher pria berusia 27 tahun itu. Ciuman Rakha yang tadinya lembut berubah agak menuntut. Amaia bisa merasakan bibir pria itu melumatnya dengan kasar.
Deru napas mereka bertumbukan tatkala ciuman itu berhenti. Amaia membuka mata dan menyaksikan Rakha tersenyum lebar. Pria itu mengusap lembut pipinya.
"Maafin aku, Sayang. Karena aku khawatir dan takut, aku juga belakangan nggak ada waktu buat kamu. Aku benar-benar nggak mau ada yang merebut milikku seenaknya," ucap Rakha dengan suara berat. Jemarinya turun menyapu bibir Amaia dengan gerakan pelan.
"Itu nggak akan terjadi. Aku juga minta maaf karena sering ngajak kamu berdebat, Kak."
Rakha menempelkan kening dengan kening Amaia. "Sebagai gantinya, akhir pekan ini kita pergi berdua, mau? Udah lama nggak pergi bareng. Aku kangen kamu, Amaia Rembulan."
Perempuan bertubuh ramping itu tak punya pilihan lain, selain mengangguk setuju. Karena ia juga belakangan mendambakan bepergian berdua dengan tunangannya itu. Amaia merasa ada angin segar menerpa ke arahnya. Ia singkirkan jauh-jauh omongan kurang ajar Widitama tentang rencana pernikahan Amaia dengan Rakha yang akan batal. Pria itu pasti sengaja datang untuk menganggu mereka. Ia akan menganggap itu juga bagian dari ujian menjelang pernikahan.
Kendati sudah berbaikan dengan Rakha, Amaia masih terusik oleh si penelpon yang berbicara dengan calon suaminya berapa saat lalu.
—oOo—
Acara makan malam berlangsung tenang beberapa saat setelah Rakha mengumumkan acara liburan dengan Amaia. Pembahasan yang belum menyentuh rencana pernikahan pun hanya diisi tengang perjalanan itu. Bikin Amaia sedikit menahan salah tingkah tatkala calon ibu mertuanya menggoda sesekali. Malam itu Ferdian sebagai kepala keluarga tidak ikut hadir, mengingat bisnis di luar kota yang sedang dia hadiri.
Namun, setelah beberapa saat pembicaraan mengalir, Amaia merasa mulai tak nyaman. Karena sepasang matanya tak sengaja bertemu dengan sorot mata Widitama. Pria itu duduk tepat di sisi kanan kursi Denara. Amaia sesekali meneguk minumannya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Baiklah, kalian bisa pergi bersama. Tapi jangan buat papamu menunggu, Rakha. Dia ingin kalian menikah secepatnya. Apa lagi yang mau ditunggu? Toh, kalian juga sudah lama saling mengenal. Begitu pula dengan keluarga kita. Sudah begitu, Amaia adalah gadis yang baik, cocok untuk menjadi istrimu," kata Sasti.
Rakha tersenyum kalem. "Ya, begitulah, Ma. Aku juga nggak sabar menikahi Amaia. Tapi aku kepikiran karena Amaia ingin menika setelah lulus. Aku ngerti ia harus fokus menyelesaikan pekerjannya."
Cepat atau lambat, Amaia paham Rakha akan membawa permasalahan itu. Namun, ia tak menyangka akan dibahas saat di meja makan begini.
"Setelah menikah kamu kan bisa tetap fokus kuliah, Mai. Kami nggak membatasi keinginan kamu untuk melanjutkan pendidikan. Kamu dan Rakha saling mencintai dan kamu nggak lupa, kan, mendiang ayahmu membuat permintaan agar kalian menikah?"
Amaia tersenyum tipis. "Ya, Tante. Aku nggak lupa."
Barangkali memang ini saatnya Amaia benar-benar meresmikan hubungan dengan Rakha ke jenjang pernikahan. Terlebih Widitama mulai kembali dan entah ... mungkin saja untuk membuat kekacauan.
Kemudian terdengar suara Sasti yang membahas hal lain. Sepasang matanya mengarah pada si putra paling tua di keluarga Tedjakusuma. "Oh ya, kebetulan kamu di sini, Widi. Kamu kan sudah 30 tahun, kapan kamu akan menikah? Sudah waktunya kamu berumah tangga. Mama mengatakan ini karena peduli padamu. Lihat adikmu, dia sebentar lagi akan jadi seorang suami. Mama juga ingin melihat kamu membawa calon menantu untuk kita semua. Mau coba Mama carikan calon?"
Meski Widitama bukan anak kandungnya, tapi Sasti tetap peduli dan bersikap hangat.
Denara menyela, "Mama kenapa bahas itu? Biarin Mas Widi yang menentukan sendiri kapan dia akan menikah."
Amaia menganggap ucapan Denara seperti tak rela Widitama menikah dengan perempuan lain. Karena mungkin saja ia merasa hanya dirinyalah yang pantas bersanding dengan pria itu.
"Mama nggak bicara denganmu, Dena."
Widitama berdeham. "Saya sudah punya calon. Nanti saya kenalkan pada kalian," katanya.
Semua orang saling berpandangan, lalu menatap Widitama. Tanpa terkecuali Amaia.
Rakha merasa tertarik. "Wah, seperti apa dia, Mas?"
Seringai terlihat jelas di bibir pria itu ketika sepasang matanya mencuri tatap pada Amaia yang duduk tepat di depannya. Dari balik gelasnya, Widitama melinat Amaia memalingkan wajah. Sementara Amaia lagi-lagi lagi tak nyaman dengan tatapan dan ekspresi calon kakak iparnya.
Perempuan itu terkesiap ketika merasakan tulang keringnya disentuh ujung sepatu seseorang. Tanpa harus mencari tahu, Amaia yakin pelakunya adalah pria yang sedang memamerkan senyum pada semua orang di meja makan.
Widitama lantas berkata, "Yang jelas dia lebih muda dari saya. Kalau waktunya sudah tiba, saya akan mengenalkan kepada kalian semua." Widitama memalingkan tatapan dari Amaia yang terlihat sangat gelisah.