Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
Langkah kaki berayun buru-buru. Menapaki tanah berhiaskan rumput liar. Gemericik daun kering yang terinjak tak berperasaan. Menjadi melodi syahdu, bersama angin yang menggesekkan dedaunan.
Naysilla berjalan cepat, dengan debaran yang begitu kuat. Ia terus melangkah tanpa jeda, mengekor cowok disampingnya.
Kebisingan siswa mulai sirna. Arah pandang meliar, dan seketika ia dilanda kebingungan.
Kakinya berdiri ditengah halaman tak berpenghuni. Di depannya, sederet bangunan terbengkalai bekas pakai. Ia menyentuh debaran dada dibalik bajunya yang basah.
Perasaan ragu sedikit mengusik hatinya. Kakinya mundur selangkah, tapi tanpa aba-aba, tangannya ditarik paksa memasuki salah satu pintu bertuliskan UKS.
"Aaaaaahh...." Pekiknya spontan, dan seketika mulutnya langsung dibekap dari belakang. Cowok itu membalik tubuh kecil si gadis, lantas mendorong pelan ke sudut ruangan.
"Ssstttt... Jangan berisik!" Bisik seseorang yang baru sempat ia pandangi wajahnya.
"Oh, jadi elo si cupu?"
"Siapa yang cupu? gue ini yang nolongin lo!" Ia menunjuk gadis yang meringkuk di sudut ruangan dengan satu tangan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu memecahkan ketegangan. Seorang siswa berseragam sama dengannya tampak memasuki ruangan dengan nafas terengah-engah.
Ia mengintip interaksi dua cowok itu dibalik sela-sela jarinya. Hatinya terhentak saat mendapati kedua cowok itu saling bertransaksi. Saling menukar barang yang dibalut keresek hitam.
Ia semakin ketakutan, ketika cowok berpenampilan cupu itu mendekat perlahan.
"Ternyata penampilan cupu itu cuma kedok doang. Buat nutupin kehidupan aslinya yang seorang pengguna narkoboy. Atau jangan-jangan dia pengedarnya juga?" Ia menggelengkan kepala, memukul-mukul kecil untuk menghilangkan pikiran buruknya.
"Kenapa lo? Nih pake, cepetan!" Ucap si cowok sambil melempar barang yang dibalut keresek hitam.
"Ngga, ngga mau. Gue ngga mau pake itu!" pekiknya setengah histeris. Ia menepis kasar bungkusan itu, yang ia kira berisi barang terlarang.
"Pake ngga!"
"Enggaaaa...."
Cowok itu meremas rambutnya kasar, lantas membuka bungkusan keresek hitam yang ternyata isinya adalah seragam baru. Ia bentangkan lebar-lebar didepan mata si gadis, hingga membuatnya menganga tak percaya.
"Sepuluh menit, gue tunggu didepan. Kalo ngga keluar, gue tinggal"
"Gue perlu mandi, mana cukup sepuluh menit"
"Lima belas"
"Oke, dua puluh menit. Tungguin yah cupu! Bye"
Naysilla berlari kecil menuju toilet yang terletak di sudut ruangan. Walau gedung ini seperti terbengkalai, tapi toilet di dalamnya terlihat bersih dan wangi.
Dan anehnya ada sederet sabun dan sampo dengan berbagai aroma. Tanpa menunggu lama, ia segera membersihkan tubuhnya.
Waktu berlalu, kurang dari dua puluh menit Naysilla sudah terlihat rapih dan wangi. Ia melangkah keluar, mendekati cowok yang terlihat tengah menghisap nikotinnya.
Langkahnya sunyi, hingga setangkai ranting yang terinjak mengagetkan cowok itu. Ia lantas menegakkan punggungnya dan membuang rokok yang baru terbakar setengah.
"Lho, kenapa dibuang?" Tanyanya heran. Ia mendudukkan diri disamping cowok itu. Pada sebuah kursi panjang didepan ruang UKS terbengkalai.
"Nih!"
"Apaan?"
"Makan!"
Aroma kuat khas rempah menyembur di hidupnya. Naysilla mengernyitkan dahi, sedikit ragu membuka bungkusan hangat yang cowok itu letakkan tepat di pangkuan.
"Ini apa?"
"Buka ajah"
" Rawon? Kenapa bisa ada nasi rawon di sekolah?"
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, sedikit heran karena ngga biasa"
"Ya udah, makan!"
"Gue, mesih kenyang"
Kruyuk-kruyuk
Naysilla memegangi perutnya yang bersuara. Ia membuang muka ke samping, menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Makan!"
"Buat lo ajah"
"Kan lo yang laper"
"Tapi..."
"Lo ngga suka rawon?" Ia tersenyum miring, memandang gadis yang mengangguk lemah disamping. Lantas membuka ransel hitamnya. Dikeluarkannya sekotak donat dan satu susu coklat kotak.
"Makan ini dulu! Buat mengganjal" ucapnya, menyodorkan sekotak donat yang tinggal dua.
Donat berukuran jumbo dengan toping keju dan coklat. Naysilla tak menghabiskan semuanya, ia hanya memakan donat toping keju, sisanya ia kembalikan pada si cowok cupu.
"Ah, kenyangnya..." Ia mengelus pelan perut ratanya, sambil menyeruput susu coklat.
"Makasih yah cupu, lo baik banget deh. Padahal kita ngga kenal," sambungnya dengan tulus, sambil tersenyum manis.
"Siapa yang lo maksud si cupu itu?" ucapannya sarkas. Manik matanya menatap tajam gadis yang tengah tersenyum di sampingnya.
"Eh, sorry deh. Kita belum kenalan kan? siapa nama lo?"
"Gue Mohan, Raynor Mohan"
"Cakep amat nama lo, ngga kaya..."
"Ngga kaya apa?"
"Engga engga, hehe... Siapa tadi nama lo, Momon ?"
"Mohan, gue Mohan bukan Momon!" ucapnya dengan penuh penekanan.
"Ah ribet, momon ajah biar simpel" jawabnya enteng dengan senyum kecil.
"Terserah"
"Kalo gue, nama gue Naysilla Violetta. Lo bisa panggil gue..."
"Nasa" jawab Mohan cepat. Naysilla membulatkan matanya. Bukan karena tak suka, tapi julukan Nasa terdengar sedikit familiar ditelinga nya.
"Gue Naysilla bukan Nasa"
"Ribet, Nasa ajah biar simpel"
"Ah terserah lo deh..." ucapnya jengah, dengan bibir mengerucut kedepan. Lucu sekali dilihatnya.
"Lo kok ngga nangis na?"
"Aneh banget didenger, lagian ngapain gue nangis?" jawabnya heran, masih dengan wajah sebel.
"Kan lo habis di-bully"
"Oh Iya, gue sampe lupa"
"Aneh banget"
"Iya yah aneh banget, baru beberapa jam gue sekolah udah banyak haters ajah. Kira-kira kenapa yah? Emangnya gue salah apa coba?"
"Oon banget sih nih cewek" bisiknya lirih.
"Hah, Lo ngomong apa Momon?"
"Ngga ada"
"Oh"
Samar-samar terdengar bunyi bel dari gedung utama. Naysilla menilik jam tangan yang sialnya sudah mati.
"Momon, udah bel lho. Ayo buruan kita balik ke kelas!" ia bangkit dari kursi, tapi tangannya ditarik Mohan hingga ia terduduk kembali.
"Ih apaan sih?"
"Mau kemana?"
"Balik kelas lah, lo ngga denger tadi bunyi bel?"
"Sinih ajah"
"Tapi kan udah bel. Asal lo tau yah, ini tuh hari pertama gue sekolah disini. Tadi pagi gue udah telat, masa sekarang mau bolos juga. Gue ngga mau masuk ruang BK"
"Lo nurut, Lo aman"
"Emang Lo siapa? Kayak yang punya sekolah ajah"
"Bawel" Mohan melempar sebuah novel tebal dipangkuan gadis itu, yang seketika membuatnya berbinar.
"Wah... Apa ini...? Novel...? Eh, ini kan novel best seller yang gue incar. Aaah... Pengen banget baca!"
"Buka ajah"
"Makasih Momon"
Dibalik ransel hitam, ada senyum samar yang berusaha disembunyikan. Dipandanginya gadis yang tengah fokus pada dunia halu. Lantas mengaktifkan ponsel, memainkan game online kesukaan.
Siang ini, dibawah sorot matahari yang mulai meredup. Angin berhembus kencang, menerbangkan daun kering yang semakin berserakan.
Awan putih bertransisi, langit kelabu mendominasi. Didepan sebuah gedung terbengkalai, dua remaja duduk bersisian, dengan masing-masing kesibukan ditangan.
Bruk...
Sebuah novel terjatuh dengan halaman terbuka. Naysilla menegakkan duduknya dengan sedikit terkejut, lantas mengutip kembali novelnya.
"Ngantuk?" Ucap Mohan dengan nada menyindir.
"Hehe"
"Ayo balik"
"Balik kemana?"
"Ke asrama lah, Lo mau tidur di sini?"
"Tapi, tas gue masih di kelas"
Terlambat, cowok itu sudah melangkah jauh tanpa menghiraukan, apalagi berbalik arah. Naysilla berlari kecil mengikuti langkah Mohan, tapi sayangnya jejak itu menghilang.
"Kemana sih tuh cowok, perasaan jalannya cepet banget. Ah bodo amat, gue mau ambil tas dulu"
Hampir sepuluh menit ia menyusuri koridor sekolah. Ia bahkan sempat tersesat mencari kelasnya. Untungnya ada seorang petugas kebersihan sebagai penunjuk jalan baginya.
"Makasih yah pak"
"Sama-sama neng, kalo ada yang masih bingung, bisa tanya ke bapak ajah"
"Oke pak" ia mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. Lantas melangkah pelan menuju kelas tujuan.
Suasana sekolah sepi sekali, mungkin tidak ada murid yang tersisa. Padahal waktu belum ada jam dua belas siang.
Sayup-sayup ia mendengar rintihan pelan. Ia melambatkan langkahnya, menyisir suara yang ternyata berasal dari dalam salah satu kelas.
Jantungnya berdebar, antara ingin menunggu atau lanjut pulang. Tapi didalam tas nya banyak barang berharga yang tak mungkin ia tinggal. Di tengah situasi menegangkan, tiba-tiba.
Bruk...!
cupu tuh apaan ?