Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Keputusan
Gita menghela nafas, Gita harap ini adalah keputusan yang bagus.
Gita Larasati menatap gedung di depannya penuh kekaguman. LE PARC THAMRIN NINE.
Gedung dengan gaya Mediterania klasik yang sangat indah, dominan warna putih dan krem. Gita berjalan perlahan , ada petugas di depan pintu lobby. Pintu kaca dengan tinggi sekitar 3 meter itu di bingkai cantik dengan solid wood warna hitam Dove.
"maaf kak, kalau boleh tau mau bertemu dengan siapa?" tanya penjaga. lalu ada dua security yang juga mendatangi Gita.
"saya sudah ada janji pak dengan...." belum selesai ucapan Gita.
"Gita...." itu suara Andra menginterupsi. Gita bernafas lega.
"Dia tamu saya pak" jelas Andra
" oh tamu nya mas, silahkan." penjaga mempersilahkan Andra dan Gita masuk.
mereka memasuki lobby apartemen, mewah memiliki konsep seperti hotel dengan meja bulat ditengah dan diletakkan pot besar dengan bunga warna ungu yang cantik. Gita tidak tahu apa nama bunga itu, tapi terlihat sangat cantik dan elegan.
setelah memasuki lobby, mereka belok ke kanan ada pintu setinggi pintu yang sebelumnya terdapat indoor court.
yard garden yang dibuat semi indor dengan air mancur 2 tingkat di tengah-tengah. Terasa sejuk dan menenangkan. Gita menerka-nerka berapa harga apartemen disini.
mereka memasuki lift, TING . Pintu lift terbuka, ruangan dengan nuansa hitam putih memanjakan mata Gita. apa itu tadi private lift, Gita menutup mulutnya terkesan. Pantas saja, pasti 5 milyar angka yang kecil bagi Rafael.
"tunggu disini, Rafael masih mandi." kata Andra
"mau kopi, orange juice, ...."
"air putih saja." sela Gita.
ruangan ini, terlihat tidak ada AC-nya tapi kenapa dingin sekali.
"aku yakin kamu pasti bakalan setuju dengan penawaran ini." suara bariton menggema dari belakang Gita. spontan Gita menoleh ke asal suara itu.
Laki-laki dengan tubuh atletis, dengan tinggi sekitar 180cm berjalan kearah Gita. yang Gita yakini adalah Rafael. Gita memperhatikan gerak-gerik Rafael, ini pertama kalinya Gita bertemu dengan Rafael secara langsung. Tampan, sangat tampan menurut Gita. Gita perikir bagaiman bisa dia yang dipilih jadi istri kontrak Rafael.
Rafael meneliti perempuan di depannya. Tidak terlalu cantik dan bukan tipenya. Agak pendek mungkin sekitar 160cm. Dan badannya sedikit berisi, tidak ideal. Tak masalah Rafael bisa merubah penampilan Gita dengan uangnya.
" ini poin-poin perjanjian, jika ada yang kurang tambahkan saja. kita sepakati sesuai kesepakatan bersama." Andra menyodorkan selembar kertas yang sudah di tempel materai.
Gita membaca perjanjian tersebut dengan seksama, Gita setuju dengan semua poin yang Rafael buat termasuk tidak memiliki kekasih saat masih terikat kontrak.
"ok... deal, jadi kapan uangnya di transfer?" tanya to the point. Andra tersenyum remeh.
Andra menyodorkan bolpoin " tentu saja setelah anda tanda tangan nona Gita." Andra sengaja menekankan kata nona sambil tersenyum miring.
Gita tidak menghiraukan ejekan Andra, Gita tahu ia sudah menjilat ludah sendiri. masa bodoh yang penting hutangnya lunas. Gita segera tanda tangan di atas materai.
"kamu emang kaku kayak gini ya?" Rafael memecah keheningan. Gita hanya mengangkat alis.
"kamu bahkan gak tanya kenapa aku cari istri kontrak. Dari cerita Andra kemarin kamu bahkan ngusir dia sebelum menjelaskan semuanya." Rafael menyunggar rambutnya yang hampir kering, tatapannya intens. Membuat Gita sedikit gugup.
"untuk menutupi skandal kamu mungkin..." Gita mengangkat bahu.
"kamu tau?"
"seluruh Indonesia tau skandal kamu sama Maya."jawab Gita enteng.
"itu fitnah," Gita mengangkat bahunya tidak peduli, jujur saja ia sebenarnya tidak mau tau urusan orang, tapi malah sekarang akan jadi urusannya juga
"lalu setelah ini, aku harus gimana?" Gita menanyakan rencana selanjutnya.
"izin kedua orang tua kalian untuk menikah pastinya."jawab Andra "uangnya sudah saya transfer ke rekening kamu." tambahnya. Gita mengecek ponselnya, ada satu notifikasi m-banking masuk.
"sudah masuk. Aku pulang dulu sudah larut." Gita memasukkan ponselnya ke dalam tas. Rafael mengangguk, Andra mengantar Gita sampai area parkir.
***
Rafael memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya hari ini, sudah sekitar 5 tahun Rafael tinggal sendiri di apartemen. Rumahnya terlalu jauh dari kantor agensinya. butuh sekitar 1,5 jam perjalanan kalau macet bisa lebih lama.
gerbang tinggi menjulang berwarna hitam terbuka. Di suguhi dengan halaman luas dan tanaman yang tertata rapi. Sudah lama Rafael tidak pulang sekitar 5 bulan, mawar milik mamanya terlihat subur padahal 5 bulan lalu masih bibit.
"pagi pak Yatno..." sapa Rafael pada tukang kebun keluarganya.
"den Rafael, lama gak pulang. Ibu dari kemarin khawatir dengan den Rafael ." Rafael mengangguk tersenyum.
" kalau gitu, aku masuk dulu ya pak." kata Rafael sambil menepuk pundak pak Yatno akrab.
"assalamu'alaikum...... mamaaa........" teriak Rafael.
Wanita paruh baya keluar dari dapur, Dengan celemek warna hijau. Mama Sekar, diusia kepala 6 mama Rafael terlihat masih sangat muda. Cantik, langsing dan elegan. tidak heran jika Rafael tampan, gen mamanya mendominasi.
"kamu ya bikin mama khawatir, coba sini jelaskan sejelas-jelasnya." mama Rafael melepas celemek ya dan memberikan kepada bi asih yang kebetulan lewat.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu.
"kamu beneran menghamili anak orang? kamu tau karena kelakuan kamu, perusahaan papa merugi. Mama juga di cerca sama keluarga besar kita. Sudah bener kamu nerusin perusahaan papa." suara mama Sekar bergetar mencoba mengendalikan emosinya.
"maafin Rafael ma, sudah bikin mama sama papa malu. Tapi Rafael janji akan bereskan semua. Mama percaya kan, Rafael gak bakal ngelakuin hal semacam itu ma. Ini fitnah." jelas Rafael.
"terus foto-foto yang di berita itu?" tanya mama Sekar.
"itu emang Rafael, tapi demi Allah Rafael gak pernah ngelakuin hal kayak gitu ma. Mama percaya kan sama Rafael." Rafael meraih tangan mamanya lembut. menepuknya pelan. Ia tahu benar bagaiman perasaan mamanya.
"tujuan Rafael kesini,Rafael mau minta restu akan menikah."
"bagus kalo kamu mau tanggung jawab jangan jadi laki-laki pengecut." suara menggelegar khas bapak-bapak menginterupsi.
"papa..." Rafael mencium tangan papanya.
"Rafael nikah bukan dengan Maya ma...pa..., tapi dengan orang yang Rafael cintai." akting dimulai pikir Rafael, aktingnya kali ini harus sangat meyakinkan karena dia berhadapan dengan orang yang pasti tau kalau ia berbohong.
"maksud kamu? kamu lari dari tanggung jawab dan malah nikah sama perempuan lain?" papa Rafael melotot.
"papa dengerin Rafael." mama Sekar meredam amarah suaminya.
" Rafael gak pernah melakukan itu pa. dan kejadian ini pasti akan Rafael bawa ke jalur hukum sebagai pencemaran nama baik." papa Rafael mendengarkan penjelasan Rafael.
" jadi siapa perempuan yang kamu akan nikahi?" tanya papa Rafael.
" ya pacar Rafael dong pa..."
"kamu kok gak bilang punya pacar." mama Sekar menginterupsi.
"nah ini bilang." jawab Rafael enteng.
"kenapa gak dibawa kerumah?" tanya mama Sekar.
Rafael senyum ganteng, "besok, makanya Rafael izin dulu biar mama sama papa gak kaget kalau Gita aku ajak kesini." jelas Rafael.
"namanya Gita?" tanya mama Sekar lagi, papa Rafael hanya diam sambil mendengarkan kedua orang di hadapannya.
"iya ma,"
"malam ini kamu menginap kan?" tanya papa Rafael akhirnya. "iya pa"
"baik, kita bisa bicara banyak nanti. Papa mandi dulu." Rafael mengangguk.
Rafael berharap misinya sukses hari ini. Rafael harus gerak cepat agar skandalnya tidak menjadi-jadi. Maya juga masih belum bisa di telpon, managernya sama saja.
**