Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
"Lepaskan saya! Kita tidak saling mengenal, lalu mengapa anda melakukan hal ini terhadap saya?." Tubuh Zira gemetar ketakutan ketika mobil yang dikemudikan oleh pria itu mulai melaju. Suara teriakannya pun seolah lenyap begitu saja, tak seorangpun yang dapat mendengarnya. Beberapa mahasiswa yang masih tersisa di kampus, berada di dalam gedung hingga tak dapat mendengar usahanya untuk meminta tolong.
Zira semakin diselimuti rasa ketakutan saat mobil mewah tersebut memasuki halaman sebuah mansion megah. Tanpa banyak bicara pria itu kembali menggendong tubuhnya keluar dari mobil dan memasuki mansion, melewati beberapa pria bertubuh tinggi besar yang berjaga di depan pintu utama mansion. Pria itu terus berjalan menapaki anak tangga dengan menggendong tubuh Zira yang terus meronta-ronta. Namun kekuatan yang tidak berimbang membuat Zira akhirnya kehabisan tenaga dengan sendirinya.
Pria itu menjatuhkan tubuh Zira di ranjang berukuran king size. Untungnya kasur di tempat tidur itu begitu lembut hingga tak sampai membuat tubuh Zira kesakitan.
"Diam!." Suara bentakan yang menggema hingga ke langit-langit kamar, mampu membungkam tangis Zira.
"Apa kau pikir dengan menyusul ke negara ini, saya akan menerima perjodohan konyol kita? Jangan mimpi!."
Zira tak paham dengan ucapan pria asing dihadapannya itu.
"Apa maksud anda, saya sama sekali tidak mengerti?." Ia datang jauh-jauh ke negara itu murni untuk urusan pendidikan, bukan seperti yang dituduhkan oleh pria itu. Dan yang paling penting, hingga detik ini tidak ada sedikit pun niat orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan pria manapun, maka tak heran jika Zira tidak paham dengan maksud dari ucapan pria asing itu.
Raut bingung di wajah Zira malah membuat pria itu tersenyum sinis.
"Apa ini cara anak gadis zaman sekarang untuk meraih hati pria? Berpura-pura menolak, tapi faktanya malah sebaliknya."
Zira yang merasa tersinggung dengan ucapan pria itu tanpa sadar bangkit dari posisinya dan menampar wajah pria asing itu dengan sekuat tenaga.
Awalnya ia hanya ingin memberi pelajaran kepada gadis yang telah dijodohkan dengannya karena sudah berani menginjakan kaki di negara itu, padahal sebelumnya telah diberi peringatan keras olehnya. Tetapi karena geram akibat tamparan keras Zira di wajah tampannya, pria itu tanpa sadar mendorong tubuh Zira dengan kasarnya ke ranjang hingga rok yang dikenakan Zira spontan tersingkap. Buru-buru Zira merapikan posisi roknya. Tapi sayangnya, pemandangan itu sudah terlanjur membangkitkan sesuatu dalam diri pria itu. Sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, bahkan oleh pria itu sendiri. Ia yang biasanya tidak mudah tergoda, kini justru merasakan hal aneh pada dirinya saat melihat bagian tu-buh gadis cantik dihadapannya itu.
"Si-al." Pria itu mengumpat dalam hati. Berusaha menekan perasaan ingin menik-mati tubuh gadis cantik yang kini tergeletak di ranjang kamarnya. Sungguh, ini tidak terlintas sedikitpun di dalam rencananya.
"Apa yang ingin anda lakukan?." Dengan perasaan cemas, Zira memundurkan tubuhnya ke belakang saat pria itu mendekat padanya.
"Kau sangat ingin menjadi istriku, bukan? Lalu apa salahnya jika aku menginginkanmu sekarang." Balas pria itu dengan santainya. Pria itu seolah mentulikan telinganya, suara tangisan serta penolakan Zira justru semakin membuatnya berha-srat. Postur tubuh yang tidak seimbang membuat Zira pada akhirnya hanya bisa pasrah, ketika pria itu merenggut sesuatu yang paling berharga dalam dirinya.
Pagi menjelang, Zira bangun dengan kondisi tubuh yang serasa mau remuk semua. Dipandangnya pria yang semalam telah merenggut kesuciannya. Pria itu nampak masih terlelap.
"Aku tidak mengenal anda, tapi mengapa anda tega melakukan hal sejahat ini padaku?." Batin Zira. Semangat dalam diri Zira seolah lenyap tak berbekas.
Dengan penuh kehati-hatian Zira turun dari tempat tidur, memunguti satu-persatu pakaiannya yang teronggok tak berharga di lantai kamar yang menjadi saksi bisu bagaimana pria itu mengg-agahi tubuhnya dengan sesuka hati. Dengan usaha yang tidak mudah akhirnya Zira berhasil meninggalkan mansion dengan penjagaan cukup ketat tersebut. Hari itu adalah hari terakhir Zira menginjakkan kaki di negara paman Sam, ia memesan tiket keberangkatan pagi untuk kembali ke tanah air.
Dreet.... dreet.... dreet.....
Suara getar ponselnya sekaligus menarik kesadaran Zira dari lamunannya pada masa lalu tersuram dalam hidupnya.
Rupanya panggilan telepon dari Leon.
"Aku sudah sampai rumah sejak beberapa saat lalu, Leon. Aku ingin beristirahat, besok jadwal jaga pagi soalnya." Baru saja menerima panggilan telepon dari Leon, Zira langsung memberi informasi yang sekiranya menjadi alasan hingga Leon menghubunginya. Zira ingin segera menyudahi panggilan telepon karena sedang tidak mood untuk berlama-lama mengobrol.
"Kalau begitu beristirahat lah, sayang!." Sebenarnya Leon masih ingin mengobrol namun mendengar suara lelah Zira, akhirnya Leon pun paham. Ya, Leon adalah pria spek sempurna, tak banyak tuntutan dan juga pengertian.
"Terima kasih atas pengertian kamu, Leon." Setelahnya, Zira pun pamit untuk menyudahi obrolan dan memutuskan sambungan telepon.
*
"Lexi, tadi orang tua Reka menelepon, rupanya mereka sudah tahu kalau hari ini kamu kembali ke tanah air, nak." Baru saja memasuki pintu utama, ibu tirinya sudah menyambut Lexi dengan penyampaian yang tidak ingin didengar oleh pria itu.
"Harus berapa kali saya katakan, bahwa saya tidak tidak menginginkan perjodohan itu?."
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu pada mommy, Lexi! Mommy bersikap seperti itu karena mommy peduli padamu, nak." Timpal sang Daddy.
"Aku tidak butuh kepedulian dari siapapun, Dad. So, berhenti menjodohkan aku dengan wanita manapun, jika tidak ingin sampai sikapku justru membuat kalian malu nantinya!." Sang Daddy terdiam atas jawaban putra sulungnya itu. Jika Lexi sudah berkata tidak, maka sampai kapanpun keputusan itu tidak akan pernah berubah.
Setelahnya, Lexi kembali mengayunkan langkahnya.
"Sebentar lagi Leon akan segera menikah, dan mommy mau kamu juga bersedia membuka hati dan mulai memikirkan tentang pernikahan, Lexi."
Lexi yang kini sudah menapaki anak tangga pertama lantas kembali menghentikan langkahnya. "Tidak perlu sibuk memikirkan jodoh untukku." Ujar Lexi tanpa menoleh. Setelahnya, pria itu kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga berikutnya.
Setibanya di kamar ponsel Lexi bergetar. Pria itu menggulir ke atas icon hijau di ponselnya untuk menerima panggilan telepon.
"Sesuai instruksi dari anda, kami tidak melakukan tindakan berlebihan, tuan."
"Bagus." Balas Lexi. Selanjutnya, Lexi langsung memutuskan sambungan telepon dan mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Sungguh, ia tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan gadis itu dengan statusnya sebagai calon adik ipar.
Lexi menyandarkan tubuhnya pada hearboard ranjang, memijat pangkal hidungnya untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya. Teringat akan kesalahannya di masa lalu membuat kepala pria itu tiba-tiba berdenyut nyeri. Penyampaian dari asisten pribadinya tiga tahun lalu kembali melintas diingatan Lexi. Pagi itu, saat pertama kali membuka mata, Lexi langsung mengarahkan pandangannya ke sisi tempat tidur di sampingnya. Menyadari sisi tempat tidur tersebut telah kosong tak berpenghuni, Lexi langsung beranjak turun dari tempat tidur, mengambil jubah untuk menutupi tubuh pol-osnya sebelum keluar dari kamar.
"Selamat pagi, tuan." Kebetulan sang asisten pribadi baru saja tiba di mansion untuk memulai tugasnya pagi ini.
"Di mana gadis itu?."
"Maaf, gadis mana yang anda maksud, tuan?."Semalam pria itu meninggalkan mansion lebih awal maka tak heran jika ia tidak paham dengan gadis yang dimaksud oleh tuannya.
"Gadis mana lagi kalau bukan gadis yang dijodohkan Daddy denganku." Sang asisten pribadi nampak kebingungan. Bukan bingung dengan pertanyaan Lexi, namun bingung dengan mimik wajah Lexi saat menyebut wanita itu dengan mimik wajah yang nampak berbeda dari biasanya. Ya, kali ini tak terlihat kemarahan sedikitpun di wajah tuannya itu saat menyebut gadis itu.
"Kebetulan beliau ada di bawah, tuan."
Lexi langsung berlalu menuruni anak tangga.
"Selamat pagi, tuan." Seorang gadis cantik bangkit dari duduknya ketika menyadari kedatangan Lexi.
"Anda ini siapa? Dan apa yang anda lakukan di sini?."
Belum sempat gadis itu menjawab, sang asisten pribadi terlebih dahulu menjawab.
"Beliau ini adalah nona Reka, gadis yang dijodohkan dengan anda, tuan."
"APA?." Kedua bola mata Lexi seperti ingin keluar dari rongganya. Rupanya semalam ia sudah salah orang. Gadis yang dibawanya ke mansion ternyata bukanlah gadis yang dijodohkan dengannya.
"Keluar dari sini!." Lexi menuding ke arah pintu utama, meminta gadis yang tengah menatapnya dengan wajah bingung tersebut untuk segera enyah dari hadapannya.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣