Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Darah dan Pengkhianatan
Bab 3 — Darah dan Pengkhianatan
Malam kembali menyelimuti kota Palermo. Lampu-lampu kota berkilau di balik rintik hujan tipis yang turun sejak sore, menciptakan suasana dingin dan suram. Di jalanan, mobil-mobil mewah melintas tanpa peduli pada apa pun di luar jendela. Namun jauh di balik gemerlapnya kota itu, dunia gelap sedang bergerak.
Di sebuah gedung kasino eksklusif milik keluarga Moretti, alunan musik klasik terdengar lembut di antara keramaian tamu yang berpakaian mewah. Mereka tertawa dan menikmati anggur tanpa menyadari bahwa di lantai paling atas gedung itu, kematian sedang menanti seseorang.
“Dia sudah tiba, Bos.”
Marco De Luca berdiri di dekat pintu sambil berbicara pelan. Di dalam ruangan luas yang bernuansa gelap, Lorenzo Moretti duduk tenang di atas sofa kulit hitam. Tatapannya sedingin biasa. Ia memutar gelas wiski di tangannya perlahan, namun tak setetes pun ia cicipi.
“Suruh dia masuk.”
Marco mengangguk. Beberapa saat kemudian, seorang pria tua melangkah masuk dengan langkah gugup. Tubuhnya besar, namun wajahnya basah oleh keringat dingin. Namanya Carlo Bianchi — salah satu pengusaha pelabuhan yang selama ini bekerja sama dengan keluarga Moretti. Namun malam ini, ia datang bukan sebagai mitra, melainkan sebagai pengkhianat.
“Duduk,” perintah Lorenzo singkat.
Carlo menuruti perintah itu dengan gerakan kaku, tangannya terlihat gemetar. Ia tahu rumor tentang Lorenzo bukan sekadar cerita belaka. Pria di hadapannya bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan jika amarahnya meledak.
“A-Aku dengar kau ingin bertemu denganku,” ucapnya berusaha menenangkan diri.
Lorenzo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Carlo dalam diam, hingga suasana ruangan terasa semakin mencekam.
“Berapa banyak uang yang diberikan Romano untuk membelimu?”
Pertanyaan itu seketika membuat wajah Carlo memucat. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Jangan coba berbohong di hadapanku.”
Suara Lorenzo terdengar sangat tenang, namun justru itulah yang membuat ketakutan Carlo semakin memuncak. Marco melemparkan beberapa lembar foto ke atas meja — bukti transaksi rahasia yang menghubungkan Carlo dengan kelompok saingan, Romano.
Napas Carlo memburu. “Aku bisa menjelaskan—”
“Tidak perlu.”
Lorenzo berdiri perlahan, dan seketika aura dingin memenuhi seluruh ruangan.
“Aku memberimu kekayaan, perlindungan, dan kekuasaan. Tapi kau memilih menusukku dari belakang.”
Carlo panik dan berusaha membela diri. “Aku dipaksa! Romano mengancam keselamatan keluargaku!”
“Dan menurutmu itu cukup menjadi alasan?”
Lorenzo melangkah mendekat. Suara langkah sepatu kulitnya terdengar berat dan jelas di atas lantai marmer.
“Aku masih bisa berguna! Aku punya koneksi di pelabuhan—”
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan. Carlo membelalakkan matanya, darah segar langsung mengalir dari luka di bahunya. Ia menjerit kesakitan sebelum terjatuh dari kursi. Lorenzo menurunkan pistolnya perlahan, raut wajahnya tetap datar tanpa perasaan.
“Peluru pertama,” ucapnya dingin, “karena kau berani berbohong.”
Carlo menggigil hebat sambil memohon ampun. “Ampuni aku… tolong ampunilah aku…”
Lorenzo berjongkok tepat di hadapannya, tatapan matanya yang berwarna abu-abu terasa menusuk hingga ke tulang.
“Orang-orang selalu baru memohon ampun setelah ketahuan. Tapi anehnya… mereka tidak pernah berpikir dua kali sebelum melakukan pengkhianatan.”
Carlo mencoba meraih kaki Lorenzo, namun segera ditendang kasar hingga terpelanting kembali. Marco hanya berdiri diam, tanpa ekspresi sedikit pun. Pemandangan seperti ini sudah menjadi hal biasa baginya — di dunia yang mereka jalani, pengkhianatan hanya memiliki satu akhir: kematian.
“Buang dia,” perintah Lorenzo sambil berjalan menjauh.
“Tunggu! TOLONG—!”
Dor!
Salah satu anak buahnya segera melepaskan tembakan tepat ke kepala Carlo, tanpa ragu sedikit pun. Ruangan kembali sunyi, hanya alunan musik klasik dari lantai bawah yang masih terdengar samar.
Lorenzo berdiri di depan jendela besar, memandangi gemerlap lampu kota Palermo.
“Romano mulai berani melampaui batas,” gumam Marco pelan.
Lorenzo terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada tegas: “Bukan hanya dia. Ada tikus yang bersembunyi di dalam lingkaran keluargaku sendiri.”
Marco mengernyit. “Kau yakin masih ada pengkhianat lain?”
Lorenzo baru menyesap wiskinya untuk pertama kalinya malam itu. “Instingku tidak pernah salah.”
Dan Marco tahu betul itu. Lorenzo selalu bisa mencium bahaya dan pengkhianatan bahkan sebelum semuanya terungkap. Itulah alasan mengapa ia bisa bertahan dan memegang kendali selama ini di dunia gelap yang penuh tipu daya.
Di tempat lain, sebuah rumah megah berdiri kokoh di pinggiran kota, jauh berbeda dengan kediaman Moretti yang terasa dingin dan suram. Rumah ini dipenuhi kemewahan dan cahaya yang terang. Di dalam salah satu ruangan, seorang wanita cantik sedang memegang sebuah foto.
Namanya Sofia Bellini. Gaun merah mahal membalut tubuhnya dengan sempurna, wajahnya tampak anggun dan elegan, namun di balik tatapan matanya tersembunyi obsesi yang mengerikan. Foto yang dipegangnya adalah potret Lorenzo Moretti.
“Sudah tujuh tahun berlalu…” gumamnya pelan sambil menyentuh wajah dalam foto itu dengan lembut. “Namun aku masih tak bisa melupakanmu.”
Tok… tok…
Seorang pelayan masuk dengan kepala tertunduk hormat. “Nona Sofia, Tuan Vittorio telah tiba.”
Sofia tersenyum tipis. “Suruh dia masuk.”
Tak lama kemudian, seorang pria tua melangkah masuk sambil menopang tubuhnya dengan tongkat hitam. Ia adalah Vittorio Moretti — paman Lorenzo, dan pria yang diam-diam mendambakan posisi serta kekuasaan keponakannya.
“Masih terus memikirkan dia?” sindir Vittorio dengan nada mengejek.
Sofia hanya tersenyum santai. “Bukankah kita memiliki tujuan yang sama?”
Vittorio tertawa pelan lalu duduk di kursi empuk. “Aku dengar Lorenzo sedang sibuk membersihkan para pengkhianat di sekitarnya.”
“Membosankan,” jawab Sofia sambil menuangkan anggur ke dalam gelas. “Dia selalu terlalu sempurna, terlalu terjaga.”
Tatapan Vittorio berubah menjadi licik. “Itulah sebabnya dia harus dijatuhkan. Semakin kuat seseorang, semakin mudah dia hancur jika diserang dari titik lemahnya.”
Ruangan kembali hening sejenak.
“Lalu apa rencanamu?” tanya Sofia dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.
Vittorio tersenyum samar. “Monster sebesar Lorenzo takkan bisa dikalahkan hanya dengan peluru semata. Kita harus menghancurkannya perlahan-lahan, sampai dia kehilangan segalanya — kekuasaan, kepercayaan, bahkan ketenangannya sendiri.”
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi darah dan intrik itu, di sebuah desa kecil yang tenang, Amelia Santoso duduk sendirian di depan rumah kayu sederhananya. Matanya kosong menatap selembar kartu nama yang diberikan oleh seorang pria asing tadi siang.
Angin malam berhembus terasa dingin, namun pikirannya jauh lebih kacau dari itu. Ia tidak ingin pergi dan meninggalkan neneknya yang sedang sakit, namun situasinya sudah tak memberi banyak pilihan. Biaya pengobatan semakin membengkak, dan waktunya semakin sempit.
“Jika aku pergi… mungkin Nenek bisa mendapatkan biaya yang cukup untuk sembuh,” gumamnya pelan pada diri sendiri.
Tanpa disadarinya, keputusan kecil yang sedang ia pertimbangkan malam itu akan menjadi titik balik yang mengubah seluruh jalan hidupnya — membawanya masuk ke dalam dunia yang sama sekali tidak ia ketahui, entah menuju kehidupan yang lebih baik, atau justru terjerumus ke dalam bahaya yang tak terbayangkan.
Di kediaman Moretti, Lorenzo berjalan keluar dari ruangan itu tanpa ekspresi sedikit pun. Langkahnya tenang melintasi koridor panjang yang remang-remang, cahaya lampu dinding menerangi bayangan tubuhnya yang tinggi tegap. Di belakangnya, beberapa anak buah segera membersihkan sisa darah dan mayat Carlo, seolah itu adalah pekerjaan rutin yang harus diselesaikan.
Marco mengikuti dari belakang, lalu memperhatikan luka gores kecil di tangan Lorenzo. “Aku akan memanggil dokter untuk merawatnya.”
“Tidak perlu.”
“Kau selalu menjawab hal yang sama setiap kali terluka,” sanggah Marco sambil menggeleng.
Lorenzo membuka kancing jasnya perlahan. “Aku takkan mati hanya karena luka sekecil ini.”
Marco hanya bisa menghela napas panjang. Kadang ia benar-benar tak tahu apakah Lorenzo memang memiliki tubuh yang sekuat baja, atau justru sudah tidak lagi memedulikan keselamatan dirinya sendiri.
Keduanya masuk ke ruang kerja utama — ruangan luas yang bernuansa gelap namun elegan, dikelilingi rak buku tinggi dan dihiasi aroma wiski serta cerutu yang samar. Lorenzo berdiri di depan jendela besar yang menghadap langsung ke arah laut malam. Tatapannya tampak kosong, namun pikirannya dipenuhi berbagai rencana dan kewaspadaan.
“Bos,” kata Marco memecah keheningan, “akhir-akhir ini kasus pengkhianatan makin sering terjadi.”
Lorenzo terdiam sesaat sebelum menjawab. “Karena mereka mulai merasa terlalu lama menikmati kekuasaan, hingga lupa posisi mereka. Ketika seseorang sudah merasa cukup kuat, ia akan mulai berpikir untuk mengambil segalanya.”
Ia menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tenang.
“Kau masih mencurigai seseorang secara khusus?” tanya Marco lagi.
Lorenzo menyesap minumannya perlahan, lalu menjawab datar: “Aku mencurigai semua orang.”
Jawaban itu membuat ruangan kembali hening. Marco tahu betul — sejak kematian ayahnya bertahun-tahun lalu, Lorenzo tak pernah lagi benar-benar percaya pada siapa pun, bahkan pada anggota keluarganya sendiri.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
“Masuk.”
Seorang kepala pelayan melangkah masuk dengan kepala tertunduk hormat. “Tuan Lorenzo, Tuan Vittorio ingin bertemu dengan alasan ada urusan keluarga yang penting.”
Seketika raut wajah Lorenzo berubah menjadi lebih dingin. “Untuk apa dia datang?”
“Beliau tidak menjelaskan lebih lanjut, Tuan.”
Marco mengernyit diam-diam. Ia sangat tidak menyukai Vittorio Moretti — pria tua itu terlalu pandai bersandiwara dan terlalu haus akan kekuasaan.
“Suruh dia menunggu di ruang tamu,” perintah Lorenzo singkat.
“Baik, Tuan.”
Setelah pelayan itu pergi, Marco kembali berbicara dengan nada hati-hati. “Kau masih menganggapnya mencurigakan?”
Lorenzo tertawa pelan, namun tawanya tak mengandung kehangatan sedikit pun. “Pamanku tidak pernah menyukaiku sejak pertama kali aku duduk di posisi ini.”
“Karena dia merasa seharusnya dia yang memegang kendali?”
“Karena dia tahu aku lebih kuat darinya, dan itu membuatnya iri serta takut.”
Lorenzo kembali menatap kegelapan laut di luar jendela. Angin malam menggerakkan tirai kain perlahan.
“Aku tumbuh dan besar di dunia ini, Marco. Satu hal yang sudah kupelajari dengan baik selama ini… orang-orang tidak takut pada pria yang baik dan lembut. Mereka hanya takut pada sosok yang dianggap sebagai monster.”
Tatapannya berubah menjadi tajam dan menusuk.
“Dan aku sudah lama memilih untuk menjadi monster itu.”