"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang di Ruang Kuasa
Gedung Danuarta Group berdiri kokoh di pusat bisnis Jakarta, sebuah menara kaca yang memantulkan kemewahan dan dominasi. Di lobi utama, Rendra berdiri dengan napas memburu.
Kemejanya sedikit lecek dan ia terus-menerus memperbaiki letak jam tangannya. Ia baru saja diusir dari ruang rapat kantornya sendiri karena tidak bisa mempresentasikan data proyek yang terkunci di laptopnya. Satu-satunya harapan adalah memohon pada Elang Danuarta untuk memberikan perpanjangan waktu.
"Saya ada janji dengan Pak Elang. Nama saya Rendra Wijaya, CEO Wijaya Corp," ucap Rendra pada resepsionis dengan nada sombong yang dipaksakan.
Resepsionis itu tersenyum sopan. "Mohon tunggu sebentar, Pak. Pak Elang sedang bersama Konsultan Strategis kami. Beliau yang memutuskan siapa yang boleh masuk hari ini."
Rendra menggerutu. "Konsultan Strategis? Sejak kapan Elang butuh bantuan orang lain?"
Tak lama kemudian, pintu lift eksekutif terbuka. Seorang wanita keluar dengan langkah yang mantap. Suara ketukan sepatu hak tingginya terdengar ritmis dan tegas di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam pas badan dengan celana bahan senada, rambutnya yang biasa dikuncir asal kini tertata rapi dalam sanggul modern yang elegan.
Rendra membelalak. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. "Rania?"
Rania berhenti tepat tiga langkah di depan Rendra. Ia tidak tersenyum, tapi juga tidak marah. Wajahnya datar, seolah ia sedang menatap benda mati yang menghalangi jalannya.
"Rania! Syukurlah kamu di sini! Kamu kerja di sini jadi apa? Bagian administrasi? Baguslah, cepat bantu aku masuk dan buka kunci laptop ini sekarang juga. Jangan mempermalukan aku di kantor orang lain!" bentak Rendra, masih merasa memiliki kuasa penuh atas wanita di depannya.
Rania hanya menatap tangan Rendra yang mencoba menyentuh lengannya, kemudian menarik diri dengan gerakan halus yang sangat menghina.
"Jaga bicaramu, Tuan Rendra Wijaya," suara Rania terdengar tenang tapi berwibawa. "Anda sedang berada di wilayah Danuarta Group. Dan di sini, saya bukan Rania yang biasa mencuci kaos kakimu yang berbau itu."
"Apa maksudmu?! Jangan sok hebat!"
"Saya adalah Konsultan Strategis yang menentukan apakah perusahaan kecil seperti Wijaya Corp masih layak menjadi mitra kami atau harus kami depak ke jurang kebangkrutan sore ini juga," lanjut Rania sambil melipat tangan di dada.
Rendra tertawa sumbang, meski hatinya mulai gelisah. "Jangan bercanda! Kamu itu cuma lulusan sarjana yang sudah lima tahun otaknya tumpul karena cuma mengurus dapur. Kamu mau menipu aku?"
"Otakku tumpul?" Rania maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Rendra yang mulai bergetar. "Mari kita bicara logika, Mas. Kamu bisa duduk di kursi CEO itu karena siapa? Karena aku yang membedah laporan keuanganmu setiap malam. Kamu bisa memenangkan tender pemerintah tahun lalu karena siapa? Karena aku yang menulis naskah pidatomu. Tanpa aku, kamu hanyalah pria dengan ego besar tapi kapasitas nol."
"Kamu—"
"Soal Ibu dan Tyas," potong Rania dengan senyum tipis yang mematikan. "Baru saja aku memutus akses kartu kredit tambahan yang terhubung dengan akun utamaku. Aku tidak memblokirnya, aku hanya menurunkan limitnya menjadi seratus ribu rupiah sehari. Cukup untuk membeli martabak, tapi tidak cukup untuk gaya hidup sosialita palsu mereka."
Ponsel Rendra tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah panggilan dari Tyas. Rendra mengangkatnya dengan kasar.
"Mas! Mas Rendra! Ini gimana?! Aku lagi di butik mau ambil tas yang udah di-DP, tapi kartunya ditolak! Malu banget aku ditonton orang-orang, Mas! Mana Ibu juga teriak-teriak karena langganan katering dietnya tiba-tiba berhenti karena tagihannya dianggap fraud!"
Rendra mematikan telepon itu dengan wajah merah padam. Ia menatap Rania dengan penuh kebencian.
"Kamu keterlaluan, Rania! Kamu mau menyiksa keluargaku?!"
"Menyiksa?" Rania menaikkan satu alisnya. "Aku hanya mengembalikan kalian ke realita. Selama ini kalian hidup mewah dari hasil memeras keringatku yang tidak pernah kalian hargai. Sekarang, saat aku menarik semua fasilitas itu, kalian panik? Itu namanya bukan siksaan, Rendra. Itu namanya keadilan."
"Berikan kodenya, Rania. Aku mohon ... ini demi Abid juga," Rendra mencoba melembutkan suaranya, jurus terakhir yang selalu ia gunakan untuk meluluhkan hati Rania.
Rania terdiam sejenak, membuat Rendra berpikir ia menang. Namun, detik berikutnya, kalimat yang keluar dari bibir Rania justru lebih pedas dari sebelumnya.
"Jangan pernah bawa nama Abid dari mulutmu yang penuh kebohongan itu. Semalam, saat aku memohon kunci mobil, kamu lebih memilih bisnis dengan selingkuhanmu. Sekarang, saat bisnismu hancur, kamu baru ingat punya anak?" Rania mendekat ke telinga Rendra, membisikkan kalimat yang membuat pria itu membeku.
"Asal kamu tahu, Mas ... Elang sudah memindahkan Abid ke ruang perawatan terbaik. Tanpa sepeser pun uang darimu. Jadi, mulai sekarang, kamu tidak punya hak apa pun atas dia. Kamu bukan ayahnya, kamu hanyalah pendonor sperma yang gagal menjalankan tugasnya."
"Rania!" Rendra hendak berteriak, tapi dua orang petugas keamanan bertubuh besar sudah berdiri di belakang Rania.
"Tuan Rendra, waktu audensi Anda sudah habis," ucap Rania sambil kembali berdiri tegak.
"Proposal Wijaya Corp secara resmi saya tolak karena tidak memenuhi standar kelayakan intelektual. Silakan keluar lewat pintu yang sama saat Anda masuk tadi. Dan jangan lupa ... siapkan mentalmu. Karena setelah ini, aset kantormu akan mulai disita satu per satu untuk menutupi kerugian yang kamu buat sendiri."
Rania berbalik, meninggalkan Rendra yang berdiri mematung di lobi. Ia melangkah menuju lift dengan kepala tegak. Di dalam lift, ia melihat pantulan dirinya. Ada sedikit rasa pedih, namun tertutup rapat oleh rasa puas yang luar biasa.
Ia tidak lagi merasa gemetar. Ia tidak lagi merasa takut. Ia telah menemukan kembali taringnya yang selama ini ia tumpulkan demi cinta yang salah.
Di dalam kantornya, Elang Danuarta sudah menunggu sambil memutar kursi kebesarannya.
"Bagaimana rasanya?"
Rania duduk di kursi depan meja Elang, menyilangkan kakinya dengan elegan. "Rasanya? Seperti membuang sampah pada tempatnya, El."
Elang terkekeh. "Itu baru permulaan. Aku punya informasi menarik soal Gisela. Ternyata, dia bukan hanya selingkuhan Rendra, tapi dia juga diam-diam bekerja untuk kompetitor Rendra. Dia akan menjadi paku terakhir di peti mati Rendra Wijaya."
Rania tersenyum dingin. "Biarkan saja. Aku ingin melihat seberapa jauh Rendra akan memuja wanita itu saat dia sadar bahwa Gisela-lah yang akan menghabisi sisa hartanya."
pst dapat cap pelakor😄🤭