Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Serangan Balik dari Masa Lalu
Selasa siang di kantin fakultas teknik terasa sangat menyengat. Kinar duduk di sudut meja kayu sambil mengaduk es jeruknya dengan pandangan malas, mengabaikan tumpukan kertas draf skripsi yang sudah penuh dengan coretan tinta merah dari dosen pembimbingnya. Di sebelahnya, Arga sedang asyik melahap bakso urat dengan kuah yang merah pekat penuh sambal.
"Ga, lo bisa gak kalau makan jangan berisik? Suara kunyahan lo bikin fokus gue buyar tahu," gerutu Kinar sambil menumpukan dagunya di atas telapak tangan.
Arga menelan baksonya lalu mendongak. "Heh, Mak Lampir. Kantin sekencang ini suara orang ngobrol, lo malah nyalahin bunyi kunyahan gue. Bilang aja lo lagi pusing gara-gara bab tiga lo disuruh rombak total sama Pak Bambang kan?"
"Itu juga salah satu faktornya sih," Kinar menghela napas panjang, bahunya merosot pasrah. "Tapi yang lebih bikin pusing itu..."
Belum sempat Kinar menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan tinggi mendadak menghalangi sorot cahaya matahari di meja mereka. Kinar mendongak, dan sedetik kemudian matanya langsung melebar. Rendi sudah berdiri di sana, memakai kemeja rapi dan membawa sebuah map jepit plastik berwarna biru. Di wajahnya terpasang senyum manis yang dulu sempat membuat Kinar klepek-klepek—sebelum tahu kalau cowok itu hobi tebar pesona.
"Hai, Nar. Kebetulan banget ketemu di sini," sapa Rendi, suaranya dibuat selembut mungkin, mengabaikan keberadaan Arga yang duduk tepat di sebelah Kinar.
Arga yang sedang memegang garpu mendadak menghentikan gerakannya. Matanya langsung menyipit tajam, menatap Rendi dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan tidak bersahabat.
Kinar berdeham canggung, mencoba bersikap biasa saja. "Eh, Ren. Ada apa ya?"
"Ini, aku cuma mau nganterin buku referensi metodologi penelitian yang waktu itu kamu cari," kata Rendi sambil menyodorkan map biru itu ke atas meja, tepat di depan Kinar. "Aku inget kamu kesusahan nyari buku ini di perpus pusat. Kemarin pas aku mampir ke toko buku loakan, aku nemu ini. Langsung kepikiran kamu, jadi aku beliin."
Kinar tertegun sejenak. "Oh... itu... makasih, Ren. Tapi sebenernya gue udah—"
"Sebenarnya istri gue udah punya buku yang jauh lebih lengkap, Bro," potong Arga cepat dengan suara rendah yang terdengar sangat dingin. Dia meletakkan sendok dan garpunya ke mangkok hingga menimbulkan bunyi denting yang cukup keras. Arga menggeser map dari Rendi menjauh dari jangkauan tangan Kinar. "Kemarin gue udah beliin dia versi e-book internasional terbaru yang langsung dikirim dari penerbitnya. Jadi, buku loakan lo itu mending bawa pulang aja lagi."
Rendi menaikkan sebelah alisnya, memandang Arga dengan tatapan menantang. "Gue cuma mau bantu Kinar sebagai temen seangkatan, Ga. Lagian, Kinar biasanya lebih suka baca buku fisik daripada e-book. Bener kan, Nar?" Rendi beralih menatap Kinar dengan pandangan mencari pembelaan.
Kinar mendadak merasa terjepit di antara dua singa yang sedang berebut wilayah kekuasaan. Dia melirik Arga, dan demi apa pun, dia belum pernah melihat rahang Arga mengeras sampai seperti itu selama belasan tahun mereka berteman. Aura di sekitar Arga mendadak terasa sangat mengintimidasi.
Arga berdiri dari kursinya, membuat tinggi badannya kini sejajar dengan Rendi. Dia meraih tangan Kinar, menggenggamnya dengan sangat erat di bawah meja sebelum akhirnya mengangkat tautan tangan mereka ke atas meja agar Rendi bisa melihat cincin pernikahan polos yang melingkar di jari manis mereka berdua.
"Temen seangkatan yang baik itu tahu batas, Ren," ujar Arga dengan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya. "Gue suaminya. Urusan kuliah, referensi skripsi, sampai urusan makan siang dia, itu udah jadi tanggung jawab penuh gue. Lo gak usah repot-repot caper lagi di depan istri orang. Paham?"
Rendi mengepalkan tangannya di balik saku celana, wajahnya memerah menahan malu karena beberapa mahasiswa di meja sebelah mulai berbisik-bisik melihat ketegangan mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rendi langsung menyambar kembali map birunya dan berbalik badan, melangkah pergi meninggalkan kantin dengan kekalahan telak untuk kedua kalinya.
Begitu Rendi menghilang dari pandangan, Arga kembali duduk di kursinya. Dia langsung melepas genggaman tangannya dari Kinar, lalu kembali mengambil sendoknya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kinar memperhatikan Arga dengan jantung yang masih berdegup ugal-ugalan. "Ga... lo barusan... cemburu beneran ya?" tanya Kinar dengan nada menyelidiki yang super pelan.
Arga sempat tertegun selama setengah detik. Dia berdeham keras, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya yang mendadak salah tingkah. "C-cemburu pala lo peyang! Kan udah dibilang di aturan, kita harus jaga harga diri di depan publik! Gue cuma gak sudi liat lo dikasih barang loakan sama mantan buaya darat kaya dia. Udah ah, buruan abisin es jeruk lo, kita balik ke kontrakan!" omel Arga sengaja mengeraskan suaranya untuk menutupi rasa gugupnya yang sudah hampir jebol.
Kinar hanya bisa tersenyum tipis, mengaduk kembali es jeruknya dengan perasaan yang mendadak terasa jauh lebih ringan dan... sedikit manis.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/